Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 178.


__ADS_3

Beno sudah kembali ke kamarnya, dia duduk di sisi ranjang sambil mematut Reni dengan tatapan tajam seperti mata elang. Air muka Reni nampak memucat saat memandangi wajah Beno, karena tak sanggup dia pun menundukkan pandangannya.


"Dipaksa, terpaksa, menyesal, lalu apa lagi setelah itu? Apa sekarang menyesal juga telah mengandung darah daging Mas?"


Beno yang harusnya bahagia, kini malah terlihat sedih setelah mendengar kata-kata Reni tadi. Dia tidak menyangka bahwa Reni akan berkata seperti itu pada orang lain. Apa selama ini Beno terlalu berharap padanya? Apa itu artinya Reni tidak pernah mencintainya?


"Mas..." lirih Reni sambil menggenggam tangan Beno.


"Mas...? Siapa Mas?" Beno mengerutkan keningnya. Dia berusaha menarik tangannya tapi Reni tidak mau melepaskannya.


Reni beringsut dari duduknya dan merebahkan pipinya di bahu Beno. "Jangan marah-marah dong Mas! Nanti bayinya takut,"


"Bagaimana tidak marah? Istri sendiri berkata seperti itu di hadapan suaminya. Mikir tidak bagaimana perasaan Mas mendengar itu? Coba kamu yang di posisi Mas, kebayang gak bagaimana rasanya?" geram Beno.


"Tapi memang kenyataannya begitu kan Mas. Salahnya dimana? Aku juga tidak tau kenapa bisa berkata seperti itu? Siapa tau itu kemauan anak Mas, aku cuma menyampaikan." lirih Reni.


"Jangan bawa-bawa anak, dia tidak tau apa-apa!" ketus Beno.


"Ya sudah, terserah Mas saja kalau begitu." Reni menjauhkan diri dari Beno, lalu menurunkan kakinya dari ranjang. Saat dia ingin berdiri, Beno dengan cepat mencegahnya.


"Mau kemana kamu?" tanya Beno sambil meraih tangan Reni.


"Apa urusannya sama Mas?" Reni menepis tangan Beno dengan kasar, matanya memerah dan bibirnya mengerucut.


"Reni..." Beno menggertakkan giginya.


"Aku mau pulang ke rumahku, puas." Reni menajamkan tatapannya seperti seekor serigala yang tengah kelaparan. Nada bicaranya meninggi dan matanya berkaca.


"Deg!"

__ADS_1


Beno tersentak kaget mendengar itu, jantungnya berguncang dengan sedikit denyutan yang menyiksa. Segera Beno menarik tangan Reni dan membawanya ke dalam dekapan dadanya.


"Maafin Mas ya, Mas yang salah. Kamu jangan pergi ya, jangan tinggalin Mas! Rumah kamu di sini, tempatmu ada di sisi Mas." bujuk Beno yang terlihat ketakutan sekali setelah mendengar ucapan Reni tadi.


"Tidak mau, Mas jahat. Mas tidak sayang sama aku." Reni mencoba meronta tapi Beno semakin memeluknya dengan erat.


"Sssttt... Siapa bilang Mas tidak sayang? Mas sayang sekali sama kamu, apalagi sekarang ada anak Mas di dalam sini."


Beno merenggangkan pelukannya dan mengusap perut Reni dengan lembut. Tidak ternilai betapa bahagianya dia setelah mengetahui kehamilan istrinya. Hanya saja ucapan Reni tadi sedikit menggoreskan luka di hatinya.


"Bohong, tadi Mas marah-marah sama aku. Sayang dari mananya?" Reni menepuk tangan Beno, bibirnya mengerucut.


"Hehehe... Tadi Mas cuma bercanda kok sayang, mana mungkin Mas marah sama kamu. Maafin Mas ya, jangan ngambek lagi! Kasihan dedek bayinya nanti sedih." bujuk Beno.


Sepertinya kali ini dia harus lebih banyak bersabar menghadapi sikap istrinya. Beno mulai curiga perubahan Reni berasal dari kehamilannya, dia pernah membaca sebuah artikel yang menyatakan bahwa wanita hamil terkadang lebih sensitif dari biasanya.


"Janji dulu," timpal Reni.


"Hmm..." gumam Reni, lalu naik kembali ke kasur dan berbaring dengan posisi membelakangi Beno.


Beno yang melihat itu hanya bisa mengurut dada. Aneh memang, seperti tengah berhadapan dengan anak kecil. Mau tidak mau, suka tidak suka Beno terpaksa harus bersabar menghadapi ini.


Beno kemudian menarik selimut dan menutupi sebagian tubuh Reni. Setelah melayangkan kecupan sayang di kening istrinya itu, dia meninggalkan kamar dan berjalan menuju rumah kecil yang ada di belakang.


Beno menemui Pak Zul dan memintanya ke apotik untuk menebus resep yang diberikan dokter Siska. Beno juga memintanya membeli susu untuk ibu hamil dan membeli berbagai macam buah-buahan sesuai anjuran dokter Siska saat berpamitan tadi.


Menurut dokter Siska, Reni mengalami morning sickness hingga harus mendapatkan asupan vitamin dari buah-buahan dan susu ibu hamil saat perutnya mulai menolak beberapa macam makanan.


Di rumah sakit, Elena sudah dipindahkan ke ruang inap. Namun kondisinya masih terlalu lemah dan belum bisa diganggu.

__ADS_1


Setelah Elkan dan Yuna melihat keadaan Elena, mereka berdua izin pamit karena sudah terlalu lama meninggalkan si kembar. Edward yang mengerti itu sama sekali tidak keberatan. Melihat Elkan dan Yuna yang sudah bersedia membesuk Elena saja sudah membuatnya sangat bahagia.


Pukul tiga sore, mobil yang dikendarai Elkan sudah masuk ke gerbang hotel. Elkan memarkirkannya sembarangan dan turun berbarengan dengan Yuna lalu memberikan kunci mobil itu pada satpam.


Keduanya memasuki hotel seperti sepasang kekasih yang sedang kasmaran. Yuna melingkarkan tangannya di lengan Elkan sambil sesekali merebahkan kepalanya di sana. Beberapa pegawai hotel menyapa mereka sambil membungkukkan punggung.


Sesampainya di lantai dua puluh lima, keduanya mendapati si kembar yang tengah bermain di ruangan yang ada di depan kamar utama. Lantai itu memang didesain khusus seperti sebuah apartemen yang memiliki lima kamar. Kamarnya sengaja dibuat berjejer agar ruangan itu tampak luas. Hanya orang-orang tertentu yang bisa naik ke lantai itu.


"Halo sayang. Elga, Edgar, Mama pulang." sapa Yuna sambil melepaskan tangannya dari lengan Elkan, lalu bergegas menghampiri kedua buah hatinya itu.


"Nananana..." oceh Elga saat menangkap kedatangan sang mama.


"Dadadada..." Edgar pun ikut mengoceh mengikuti adiknya.


Saking gemesnya, Yuna langsung berjongkok dan menggigit pipi keduanya secara bergantian. Elkan pun tak mau kalah, dia duduk bersila dan mengecup pipi keduanya secara bergiliran.


"Si cantik dan si ganteng Papa tidak rewel kan saat ditinggal?" tanya Elkan sambil mengusap kepala keduanya bersamaan.


"Tidak kok Tuan, mereka anteng-anteng saja. Cuma tadi sempat nangis sebentar karena Lili kelamaan bikin susu. Pas di gendong sama Amit, mereka langsung diam. Dikira Papanya kali, hehehe..." jawab Diah menjelaskan, lalu tertawa kecil mengingat kelucuan mereka.


Setelah mendengar itu, Elkan meminta Diah dan Lili untuk beristirahat. Begitu juga dengan Amit dan Sari. Tapi mereka semua tidak mau karena keempatnya sudah berjanji untuk melakukan spa dan pijat refleksi di bawah sana, mereka juga ingin berenang sambil menikmati makanan dari restoran. Kapan lagi menikmati semua fasilitas yang disediakan hotel itu? Kalau sudah pulang mana bisa lagi.


Selepas dapat izin dari Elkan, keempatnya berhamburan meninggalkan ruangan itu. Elkan dan Yuna hanya bisa tertawa melihat keceriaan mereka semua.


Lalu Elkan menggendong kedua buah hatinya dan meminta Yuna membukakan pintu kamar.


Elkan menaruh keduanya di atas kasur dan bergegas membuka pakaian yang melekat di tubuhnya hingga menyisakan celana pendek saja.


Sembari menunggu Yuna keluar dari kamar mandi, Elkan mengajak kedua buah hatinya itu bermain mobil-mobilan dengan mendudukkan keduanya di atas perutnya. Lalu Elkan menirukan suara mobil dan menggerakkan badannya hingga membuat Elga dan Edgar tertawa terkekeh-kekeh, bahkan air liur Elga sampai menetes di perut Elkan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2