Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 106.


__ADS_3

Usai mengenakan pakaian kantor, Elkan kembali ke kamar si kembar dan duduk di ujung sofa. Yuna yang masih duduk di sana sengaja berpura-pura tidak melihat. Untuk apa juga memperhatikan orang yang belum tentu memperhatikan dirinya.


Seulas senyum terukir jelas di bibir Elkan saat memperhatikan air muka cemberut istrinya. Sangat manis dan menggemaskan sehingga Elkan ingin sekali menggigit bibir tebal Yuna yang kenyal itu, tapi urung dia lakukan karena masih ingin melihat mode kesal istrinya.


Yuna yang sudah selesai menyusui si kembar langsung bangkit dari duduknya dan melangkah menuju pintu. Dia ingin ke dapur menyiapkan sarapan untuk suaminya itu, namun suara Elkan seketika membuat langkahnya terhenti.


"Mau kemana? Duduk dulu di sini!" seru Elkan sembari merentangkan tangannya di kepala sofa.


Yuna berbalik dan menilik muka Elkan dengan tajam. "Nanti aja, aku mau menyiapkan sarapan dulu untukmu."


Elkan menggertakkan gigi dengan air muka kesal sebab Yuna seperti tak menghargai dirinya. Segera Elkan berdiri dan mendekati Yuna dengan tatapan nakal, lalu menekan dada Yuna hingga tersandar di daun pintu.


"Elkan, apa yang kamu lakukan? Lepasin aku!" ketus Yuna sembari menundukkan wajahnya.


"Mmm..."


Bibir seksi Elkan nan tipis berlabuh di bibir Yuna saat Elkan mengangkat dagu istrinya itu. Elkan melu*matnya dengan penuh kelembutan dan menyelami rongga mulut Yuna hingga keduanya saling membelit lidah. Setelah menghisap dalam lidah Yuna, Elkan memberikan sedikit gigitan hingga Yuna mengeluh kesakitan dan mendorong wajah Elkan dengan kasar.


"Sakit Elkan, kamu mau motong lidahku?" geram Yuna, lalu menggerakkan lidahnya keluar masuk.


"Sekali lagi memanggil namaku, aku putuskan lidahmu detik itu juga!" ancam Elkan dengan air muka kesal.


Yuna terperanjat dan menilik muka Elkan dengan sendu. "Maaf, Abang. Abang Elkan."


Mendengar itu, Elkan langsung tersenyum dan meraih tangan Yuna lalu membawanya menuju sofa. Elkan menekuk kakinya dan menarik tangan Yuna hingga terjatuh di atas pangkuannya, kemudian melingkarkan tangannya di pinggang Yuna.


"Ambil itu!" seru Elkan sembari menoleh ke arah paper bag yang ada di sebelahnya.


"Apa itu?" tanya Yuna menautkan alisnya.


"Banyak tanya, gimana bisa tau kalau gak dibuka?" gerutu Elkan.


Elkan memang bukan tipe pria yang romantis seperti Beno. Jadi dia tidak mengerti bagaimana cara meluluhkan hati seorang wanita. Elkan hanya bisa bersikap sesuai kemampuannya sendiri, mungkin hal itulah yang terkadang membuat Yuna seperti asing di mata suaminya.


Yuna mengulurkan tangannya dan mengambil salah satu paper bag tersebut.


"Buka!" suruh Elkan.

__ADS_1


"Kenapa aku yang harus membukanya? Ini bukan milikku," sahut Yuna.


"Mau digigit lagi?" gertak Elkan.


"Jangan! Aku buka sekarang ya,"


Karena takut mendapatkan gigitan harimau itu lagi, Yuna pun membuka paper bag tersebut dan mendapati sebuah kotak merah berbentuk hati dan sebuah kotak bulat yang cukup besar di dalamnya.


"Apa ini?" tanya Yuna dengan lugunya.


"Buka aja!" jawab Elkan sembari mempererat pelukannya lalu menumpukan dagunya di pundak Yuna.


Sesuai perintah Elkan, Yuna pun membuka kotak merah berbentuk hati tersebut. Seketika mata Yuna dibuat silau hingga mengerinyam beberapa saat.


Dua buah cincin terpampang di depan mata Yuna, satu cincin pria dengan taburan berlian kecil biru muda di setiap sisi dan satu lagi cincin wanita dengan berlian yang lebih besar di bagian tengah, berjejer pula berlian kecil di setiap sisinya.


Mata Yuna membulat dengan sempurna, bibirnya pun menganga dibuatnya. "Punya siapa ini?"


"Teg!"


Elkan mengetuk kening Yuna saking kesalnya mendengar pertanyaan membagongkan istrinya itu. Untuk siapa? Ya tentu saja untuk dirinya dan Elkan. Memangnya Elkan punya istri lain di luar sana?


Mendengar itu, air muka Yuna mendadak keruh. Dia menutup kotak itu dan memasukkannya lagi ke dalam paper bag.


"Kalau ingin memberikannya pada wanita lain, kenapa memintaku membukanya? Aku tau aku gak berharga di matamu, tapi gak perlu juga memamerkan ini padaku!" lirih Yuna dengan mata berkaca.


"Pergilah, berikan itu padanya!" Yuna meremasi jemarinya yang kosong sembari menahan air matanya.


Yuna kemudian mencoba bangkit karena tak sanggup lagi menahan air hujan yang akan segera meluncur bebas di sudut netra nya. Dia tau cincin yang dia lihat barusan memiliki harga yang fantastis, betapa beruntungnya wanita yang mendapatkan itu dari suaminya.


Elkan menahan pinggang Yuna sehingga istrinya itu tak bisa menjauh darinya. Akhirnya cairan bening itu mengalir juga tanpa Yuna sadari.


"Lepasin aku! Biarkan aku pergi, aku-"


Yuna tak sanggup lagi melanjutkan kata-katanya hingga membuat Elkan merasa bersalah dan menarik Yuna ke dalam dekapan dadanya.


"Jangan nangis sayang! Cincin itu untukmu, untuk istriku yang sangat aku cintai." ungkap Elkan sembari menyapu wajah Yuna yang sudah basah.

__ADS_1


Tangisan Yuna tiba-tiba pecah mendengar itu, kemudian memukuli dada Elkan berulang kali.


"Jahat kamu Elkan, kamu mengerjai aku?" isak Yuna yang tak hentinya memukuli dada suaminya itu.


"Nah, Elkan lagi Elkan lagi." keluh Elkan sembari mencubit hidung Yuna geram.


Yuna memutar manik matanya menilik wajah Elkan dan memeluknya erat. "Abisnya kamu jahat, kenapa mengatakan cincin itu untuk wanita lain? Apa aku aja gak cukup buat kamu?"


"Cukup dong sayang, siapa bilang gak cukup? Yang penting jatah aku dikasih double aja tiap hari, hehe..." seloroh Elkan.


"Gak mau, Abang harus dihukum karena udah ngerjain aku. Seminggu ini puasa dulu!" rengek Yuna dengan bibir mengerucut.


"Emangnya kamu sanggup? Baru dicium aja udah minta lebih," goda Elkan sembari menahan tawanya.


Sejenak Yuna terdiam dengan pipi bersemu merah. Benar juga yang dikatakan Elkan barusan. Jika Elkan sanggup justru dia lah yang tidak akan sanggup menahan diri.


Yuna melepaskan pelukannya dan menatap Elkan dalam-dalam. "Udahlah, aku mau ke dapur dulu."


"Ngapain? Di dapur udah ada Diah sama Lili. Kamu di sini aja nemenin suamimu ini, pakai cincinnya dulu!"


Elkan mengambil paper bag tadi dan mengeluarkan kotak cincin itu lalu membukanya dan memasangkan cincin itu di jari manis Yuna, kemudian Yuna juga memakaikan cincin satunya lagi di jari manis Elkan.


Tak berhenti di sana, Elkan juga mengeluarkan kotak lainnya dan membukanya. Yuna yang melihat itu langsung terperangah. Sebuah kalung berlian dengan warna yang sama terlihat begitu mewah dan elegan di mata Yuna.


Segera Elkan mengambil kalung itu dan melingkarkan nya di leher Yuna. Sangat manis, cocok sekali di kulit istrinya yang putih mulus itu.


Yuna tak sanggup lagi menahan tangisannya hingga pecah di telinga Elkan. Elkan yang melihat itu langsung menarik Yuna ke dalam dekapan dadanya.


"Jangan nangis lagi! Maaf jika suamimu ini belum bisa memberikan apa-apa selama ini. Keadaannya berbeda sayang, aku juga ingin membuatmu bahagia, tapi hubungan kita lain dari pada yang lain. Waktu itu aku udah bilang kan ingin meresmikan hubungan kita di depan publik, tapi sebelum itu terjadi kamu udah terbaring di rumah sakit. Pikiranku udah gak sehat lagi sejak saat itu. Sekali lagi maaf ya, aku emang gak seromantis pria lain tapi aku akan melakukan apapun asalkan kamu bahagia. Jika kamu menginginkan sesuatu bilang aja, jangan dipendam!" jelas Elkan, lalu mengecup kening Yuna dengan lembut.


"Aku gak mau apa-apa lagi. Cukup cintai aku dan perlakukan aku dengan layak, itu udah cukup membuatku bahagia." lirih Yuna sembari memeluk Elkan dengan erat.


Seulas senyum terukir jelas di bibir Elkan, dia mengerti bagaimana karakter istrinya itu. Yuna memang tidak pernah meminta apa-apa ataupun menuntut apa-apa darinya, hal itulah yang membuat Elkan semakin cinta terhadap Yuna.


"Ya udah, sekarang bersihkan mukamu dulu! Abis itu buka akun pribadimu, kita akan melakukan live sebelum aku berangkat ke kantor!" pinta Elkan, dia ingin meluruskan tudingan orang-orang terhadap istrinya yang dianggap melahirkan anak di luar nikah.


"Tapi Bang-"

__ADS_1


"Gak ada tapi tapi, semua ini harus diluruskan!" tegas Elkan yang membuat Yuna mengangguk lemah.


Bersambung...


__ADS_2