
Siang hari, Yuna terbangun dari tidurnya. Dia mengernyitkan kening saat mendapati pemandangan asing yang tertangkap sorot matanya.
Perasaan tadi pagi dia tengah berbaring di atas sofa yang ada di kamar si kembar, tapi kenapa sekarang dia bisa berada di tempat yang tidak dia kenal? Bukan kamar si kembar dan bukan pula kamarnya.
Yuna segera turun dari tempat tidur dan berjalan menuju jendela yang menganga di tengah dinding, hembusan angin terasa sejuk menerpa tubuhnya seperti merasakan udara pedesaan yang begitu asri.
Lalu Yuna berdiri di sisi jendela dan mengeluarkan kepalanya. Nampak pepohonan nan menghijau dan menjulang tinggi dengan daunnya yang rindang. Sangat sejuk dan sedap di pandang mata.
Yuna kemudian merentangkan tangannya dan menghirup udara sebanyak-banyaknya sambil memejamkan mata. Rasanya begitu nyaman hingga menyejukkan kalbu.
"Ceklek!"
Yuna tersadar saat mendengar suara kenop pintu yang ditekan dan didorong. Dia menurunkan tangannya sambil membuka mata, lalu berbalik dan menangkap keberadaan seorang pria yang tengah tersenyum menatapnya. Ada stroller di hadapannya dan ada dua orang bayi lucu yang tengah mengoceh dengan bahasa planet nya.
"Mama sudah bangun?" sapa Elkan, lalu mendorong stroller si kembar ke hadapan Yuna.
Yuna menekuk kakinya dan mengecup pipi gembul Edgar dan Elga secara bergantian, lalu mendongakkan kepalanya menilik wajah Elkan dengan tatapan tajam menuntut penjelasan.
"Kenapa melihat Abang seperti itu?" tanya Elkan dengan kening mengkerut.
"Tolong jelaskan sama Yuna! Ini dimana dan kenapa kita bisa berada di tempat ini?" jawab Yuna dengan pertanyaan pula.
"Biasa saja sayang, Abang akan menjelaskannya. Tapi sebelum itu, Abang mau membawa si kembar ke kamar sebelah terlebih dahulu. Mereka sudah mengantuk, biar nanti tidur sama Diah saja."
Elkan memutar stroller si kembar dan berjalan meninggalkan Yuna yang masih terpaku dalam mode kesalnya. Yuna pun mendengus kesal dan bangkit dari jongkoknya dengan bibir mengerucut.
Tidak mungkin dia diculik sama suaminya sendiri, tapi kenapa tiba-tiba dia sudah berada di tempat lain. Bagaimana bisa Yuna tidak menyadari itu? Apa tidurnya sudah seperti orang mati hingga tidak tau seseorang sudah menggendongnya?
Yuna menautkan alisnya dan memijat keningnya yang mulai terasa pusing. Entah permainan apa yang tengah diperankan suaminya itu.
__ADS_1
Tidak berselang lama, Elkan kembali ke kamar dan segera mengunci pintu. Dia mendekati Yuna yang tengah berdiri di sisi jendela, lalu melingkarkan tangannya di pinggang Yuna.
"Bagaimana? Yuna suka dengan tempat ini," bisik Elkan tepat di telinga Yuna, hal itu membuat bulu kuduk Yuna meremang saat merasakan hembusan nafas Elkan yang begitu hangat.
"Suka... Tapi kenapa kita bisa berada di tempat ini? Ini dimana?" gumam Yuna dengan suara sayup-sayup sampai.
Elkan mengukir senyum di bibirnya dan segera membalikkan tubuh Yuna hingga keduanya saling berhadap-hadapan. "Ini di villa, villa milik Yuna. Maaf kalau Abang belum bisa memberikan apa-apa untuk Yuna, Abang juga belum sempat membawa Yuna kemana-mana. Sebenarnya Abang juga ingin, tapi keadaannya tidak memungkinkan. Si kembar masih terlalu kecil untuk dibawa, jadi maaf kalau Abang hanya bisa membawa Yuna ke sini." jelas Elkan dengan mata berkaca.
Mendengar itu, Yuna langsung mengerucutkan bibirnya dan memeluk Elkan dengan erat. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa Elkan akan melakukan ini untuknya.
"Tidak apa-apa, Yuna senang walaupun hanya di villa ini saja." lirih Yuna sambil membenamkan wajahnya di leher Elkan. "Maafin Yuna ya," imbuhnya.
Elkan mengusap rambut Yuna dengan lembut dan mengecup keningnya dengan sayang. "Abang yang harusnya minta maaf sama Yuna, Abang terlalu banyak kekurangan. Abang tidak pernah tau apa yang Yuna inginkan, Abang juga tidak tau bagaimana caranya menjadi suami yang romantis. Abang sadar ternyata hal-hal kecil seperti ini sangat dibutuhkan dalam sebuah hubungan. Abang pikir dengan mencintai Yuna saja sudah cukup, tapi ternyata Abang salah."
Yuna menggelengkan kepalanya. "Tidak, Abang gak salah. Yuna lah yang harusnya mengerti, selama ini Yuna terlalu banyak menuntut."
Yuna mendongakkan kepalanya. "Iya, Abang memang aneh. Tapi Yuna sayang,"
Mendengar itu, Elkan langsung tertawa dan menundukkan kepalanya. Dia kemudian mengesap bibir Yuna dengan penuh kelembutan.
"Abang juga sayang sama Yuna." Elkan kembali memeluk Yuna dengan erat. "Tunggu si kembar bisa jalan dulu ya, Abang janji akan membawa kalian kemana pun yang kalian mau. Bahkan ke benua terjauh sekalipun."
"Tidak perlu, Yuna tidak menginginkan itu lagi. Berada di sisi Abang saja sudah cukup membuat Yuna bahagia. Abang harus janji tidak akan pernah meninggalkan Yuna apapun yang terjadi."
"Abang janji, justru Abang lah yang sangat takut ditinggalkan."
"Tidak, Yuna tidak akan meninggalkan Abang. Abang cinta pertama dan terakhir Yuna, Yuna ingin selamanya di sisi Abang."
"Iya, Abang tau itu." Elkan mengukir senyum di bibirnya dan mengacak rambut Yuna hingga berantakan.
__ADS_1
Tiba-tiba obrolan mereka terhenti saat Elkan mendengar suara aneh yang keluar dari tubuh Yuna. Matanya menyipit dengan hidung kembang kempis mengendus sesuatu.
"Yuna kentut?" tuduh Elkan dengan tatapan aneh.
"Tidak, Abang jangan fitnah!" sanggah Yuna sambil menjauhkan diri, lalu memajukan bibirnya beberapa senti.
"Lalu tadi itu bunyi apaan? Seperti suara kentut," Elkan menilik wajah Yuna dengan intim. Hal itu membuat Yuna kesal karena Elkan seakan menuduhnya kentut sembarangan.
"Sudah dibilang Yuna tidak kentut, itu bunyi perut. Yuna lapar," jelas Yuna penuh kekesalan, lalu berbalik dan berjalan menuju pintu.
Melihat air muka Yuna yang begitu, Elkan langsung tertawa terbahak-bahak. Dia kemudian menyusul Yuna dan menarik tangannya. Saat langkah Yuna terhenti, Elkan pun menggendongnya.
"Abang... Turunin Yuna!" Yuna memelototi Elkan dengan tatapan tajam.
"Malas," jawab Elkan singkat, lalu membawa Yuna menuruni anak tangga.
"Malu tau Bang, kalau dilihat orang bagaimana?" bisik Yuna dengan pipi merona merah.
"Untuk apa malu? Apa ada larangan yang mengatakan bahwa suami tidak boleh menggendong istrinya?" jawab Elkan enteng.
"Ada saja jawabannya, Abang itu kadang-kadang ya-" Yuna mencibir dengan hidung menukik ke atas.
"Hahahaha... Manis sekali, ulangi lagi dong!" pinta Elkan dengan tawanya yang menggelegar.
"Tidak ada siaran ulang," ketus Yuna sambil mengulum senyumannya.
Lama-lama dia bisa gila sendiri melihat kelakuan suaminya itu. Kadang dingin dan kadang bisa hangat hingga mampu melelehkan hatinya.
Bersambung...
__ADS_1