
Pagi hari, Elkan bangun dan kembali ke kamar. Melihat Yuna yang masih tidur, dia langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setengah jam kemudian, Elkan keluar dengan handuk yang melingkar di pinggang. Matanya menangkap keberadaan Yuna yang sudah duduk di sisi ranjang.
"Kemana semalaman?" ketus Yuna dengan tatapan mematikan.
Elkan tak menyahut, dia malah sibuk mencari pakaian di dalam lemari.
"Kemana semalaman?" ulang Yuna meninggikan suara. Dia bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Elkan. "Jawab, jangan diam saja!" geram Yuna dengan mata melotot tajam.
"Apaan sih, bukankah semalam sudah dibilangin?" Elkan mencoba menghindar tapi Yuna malah menarik handuk yang melingkar di pinggangnya. Sontak handuk itu melorot hingga mempertontonkan ulat bulu Elkan yang tengah bersembunyi.
"Sreet...
"Astaga..." Elkan memelototi bagian intinya yang menganga. "Kalau mau minta baik-baik, jangan main tarik-tarik begitu!" Elkan berjongkok mengambil handuknya, lalu melingkarkan nya kembali di pinggang.
Yuna memalingkan wajah. Dia mendorong dada Elkan dan membuka pintu lemari dengan cepat. Sebuah koper keluar dari dalam sana.
"Untuk apa mengeluarkan koper?" Elkan mengerutkan kening.
Kini giliran Yuna yang tak menyahut. Dia membuka resleting koper itu dan mengambil pakaian dari dalam lemari lalu memasukkannya ke dalam koper. Sontak Elkan terperanjat melihatnya.
"Jangan bodoh! Yuna mau kemana?" Elkan berjongkok dan menarik Yuna untuk berdiri. Setelah posisi mereka berdua sejajar, Elkan membawa Yuna ke dalam pelukannya.
"Lepasin! Yuna mau pulang ke rumah Ayah, anak-anak biar ikut Yuna saja. Lakukan apa yang Abang suka setelah ini!" Yuna berusaha membebaskan diri tapi Elkan tak mau melepaskannya.
"Hahahaha... Bodoh banget sih istri Abang ini." Tawa Elkan menggelegar memenuhi seisi kamar.
Yuna menautkan alis mendengar itu. "Kenapa ketawa?"
"Tentu saja Abang ketawa, habisnya punya istri sebodoh Yuna. Abang semalam tidur di kamar si kembar sayang. Abang tidak kemana-mana," jelas Elkan terkekeh.
"Bohong..." Yuna mengerucutkan bibir.
"Tidak sayang, Abang tidak bohong. Kalau Yuna tidak percaya, lihat saja rekaman CCTV di kamar si kembar!"
Elkan mengangkat tubuh montok Yuna dan mendudukkannya di sisi ranjang, lalu mengambil ponsel dan membuka aplikasi yang terhubung ke CCTV kamar si kembar.
"Ini, Yuna lihat saja sendiri!" Elkan menyodorkan iPhone miliknya ke tangan Yuna.
Yuna mencebik saat melihat rekaman itu. Di sana nampak jelas Elkan tengah meringkuk di atas kasur santai.
__ADS_1
"Abang tidak pergi mencari-"
"Tidak sayang, mana mungkin Abang melakukan itu. Satu ini saja tidak mau habis," Elkan mengacak rambut Yuna dan menariknya ke dalam dekapan dadanya lalu mengecup kening Yuna dengan sayang.
"Jahat," Yuna mengerucutkan bibir dan menarik handuk Elkan hingga terlepas.
"Aish, jangan diganggu kalau tidak mau diganggu balik!" tegas Elkan. Dia tidak ingin kejadian semalam terulang lagi.
Elkan melepaskan pelukannya dan menarik handuk itu. Setelah mengikatkannya di pinggang, dia beranjak dari duduknya. Dia mau bersiap-siap untuk ke kantor.
"Bang..." panggil Yuna.
"Hmm... Abang mau siap-siap dulu, hari ini ada rapat dadakan di kantor." sahut Elkan tanpa menoleh. Dia sengaja mengatakan demikian untuk menghindari perdebatan.
"Bang..." panggil Yuna lagi, kali ini suaranya terdengar sedikit manja.
"Iya, kenapa? Ngomong saja, Abang dengar kok!" sahut Elkan dengan santai.
"Yuna pengen," ungkap Yuna malu-malu, pipinya bersemu merah seketika itu juga.
Elkan mengerutkan kening. "Nanti malam saja, Abang harus-"
Yuna kemudian mendorong tubuh Elkan hingga terduduk di atas sofa, lalu Yuna menaikinya dan duduk di atas pangkuan Elkan.
"Yuna..." gumam Elkan tergugu. Dia berusaha keras menahan diri sambil meneguk air liur dengan susah payah.
Beberapa detik kemudian tubuh Yuna ikut polos menyusul Elkan.
"Sayang, Abang-"
Ucapan Elkan mendadak terhenti saat Yuna memagut bibirnya dan mengesap nya dengan lembut. Elkan mematung dengan jantung berdegup kencang.
Meski ini bukan pertama kali baginya, tapi sensasi yang dia rasakan sungguh luar biasa saat Yuna berinisiatif memintanya lebih dulu.
"Sayang..."
Elkan memicingkan mata, suara lenguhan lolos dari mulutnya saat Yuna tiba-tiba sudah berjongkok di kakinya. Juniornya beraksi saat Yuna mengesap ujung benda itu dan mengulumnya.
"Yahh... Sayang..."
Elkan tak bisa menahan diri untuk tidak meracau, sensasi yang diciptakan Yuna membuat sekujur tubuhnya merinding.
__ADS_1
"Cukup sayang, gantian ya!" Elkan mengesap bibir Yuna, kemudian bangkit dan mendudukkan Yuna seperti yang dia lakukan tadi. Kaki Yuna di tekuk ke sisi sofa dan Elkan mengecup kelopak bunga berwarna pink itu dengan lembut.
Belum apa-apa saja Yuna sudah menggeliat menikmati sentuhan bibir Elkan, apalagi saat Elkan menjulurkan lidah dan memainkan inti Yuna.
"Aughhh... Enak Bang..." racau Yuna dengan mata terpejam, sesekali dia menggigit bibir meresapi rasa yang entah. Sulit diucapkan dengan kata-kata.
Semakin cepat Elkan memainkan lidahnya, semakin tak berdaya pula Yuna dibuatnya. Apalagi saat Elkan menghisapnya, sekujur tubuh Yuna bergetar hebat tak tentu arah.
"Bang... Yuna mau keluar..." gumam Yuna dengan suara bergetar.
"Keluarkan saja, sayang!" sahut Elkan, lalu melu*mat inti Yuna tanpa jeda.
"Akhhh..."
Yuna menjerit kecil sambil meremas rambut Elkan dan menekan kepalanya. Elkan menyedot cairan panas itu dan meneguknya.
"Aughhh..." Yuna mengulum bibir dengan nafas terengah.
Setelah Yuna menikmati pelepasannya yang pertama, Elkan bangkit dan duduk di samping Yuna. Dia menyandarkan punggung pada kepala sofa dan menuntun Yuna duduk di atasnya.
"Aughhh..."
Yuna mende*sah manja saat junior Elkan menyatu dengan dirinya. Perlahan pinggul Yuna mulai mengayun yang membuat benda keras itu keluar masuk dengan leluasa.
Sembari Yuna bergerak sesuka hati, tangan Elkan tak tinggal diam. Dia meremas gundukan kenyal yang berguncang di depan matanya, sesekali melahapnya dengan sedikit gigitan kecil.
"Aughhh... Yah..." racau Yuna yang masih berjibaku mengejar pelepasannya.
Yuna kemudian berbalik, dia memunggungi Elkan. Pinggulnya kembali berayun memanjakan junior suaminya yang semakin menuntut. Saking gemasnya melihat bokong semok Yuna, Elkan menepuknya beberapa kali.
Pada akhirnya Elkan menyerah dan mengerang dengan dahsyat. "Aakhh..."
Disaat bersamaan Yuna ikut menjerit. "Aughhh..."
Elkan menggigit kecil tengkuk Yuna dan memeluknya erat. Seringai tipis melengkung di sudut bibir keduanya.
Kali ini Elkan benar-benar puas dengan pelayanan istrinya. Apalagi saat Yuna berinisiatif memintanya lebih dulu, hal itulah yang diinginkan Elkan sebenarnya.
Lama saling memeluk, akhirnya Elkan bangkit dan menggendong Yuna ke kamar mandi. Keduanya berendam di dalam bathtub menggunakan air hangat untuk menyegarkan diri.
Bersambung...
__ADS_1