Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 82.


__ADS_3

"Sayang, kamu udah bersih kan?" bisik Elkan tepat di telinga Yuna.


"Hmmm..." gumam Yuna tanpa membuka matanya.


"Sayang, aku tau kamu udah bersih. Apa kamu gak kangen sama suamimu ini?" lirih Elkan dengan suara serak menahan li*bi*do nya. Hampir sembilan bulan dia tak memasuki lubang kenikmatan istrinya. Sudah saatnya melepaskan hasrat yang selama ini tak bisa dia salurkan.


"Besok aja ya, aku capek." jawab Yuna sembari mengulum senyumannya.


"Mana ada capek? Ntar kalau udah masuk pasti capeknya hilang. Ayolah sayang, aku udah gak tahan nih!"


Elkan memainkan lidahnya di telinga Yuna hingga membuat istrinya itu tertawa geli. "Hahaha... Geli Elkan,"


Segera Elkan bangkit dan menindih tubuh Yuna di bawah kungkungan nya. Dalam hitungan detik tubuh Elkan sudah polos tanpa sehelai benang pun.


"Elkan, kamu gak malu ya. Liat tuh adikmu kedinginan." Yuna mencoba tenang saat menyaksikan tongkat ajaib suaminya yang sudah mengeras dengan sempurna. Besar, panjang dan berurat, membuat Yuna kesulitan meneguk liur.


"Untuk apa malu sama pemiliknya sendiri?" jawab Elkan santai.


Elkan menggesekkan tongkatnya di inti Yuna, hal itu membuat Yuna melenguh hingga mengangkat bokongnya.


"Kenapa sayang? Katanya capek," goda Elkan yang suka sekali melihat raut wajah Yuna yang tengah menahan.


Seketika pipi Yuna dibuat memerah bak tomat. Dia juga sudah lama menginginkan suaminya, tapi keadaan tidak membolehkan mereka untuk melakukan penyatuan.


Elkan mendekatkan wajahnya dan melu*mat bibir Yuna dengan rakus, mengobrak-abrik rongga mulut istrinya hingga keduanya saling membelit lidah. Dengan nafas yang kian memburu, Yuna mengalungkan tangannya di tengkuk Elkan sembari terus mengesap bibir suaminya dengan lembut.


Puas bertukar liur, Elkan berpindah ke tengkuk Yuna. Menjilatinya dan menggigitnya hingga meninggalkan jejak sejarah berwarna merah pekat yang begitu banyak.


"Elkan... Aughhhh..."


Yuna mulai kelimpungan dengan de*sahan yang lolos dari mulutnya. Elkan yang mendengar itu semakin tak sabar untuk memasuki liang hangat istrinya. Segera Elkan melucuti pakaian Yuna hingga tak bersisa.


Kembali Elkan melu*mat bibir Yuna dengan rakus, sementara tangannya mulai bergerak liar meremas sepasang benda kenyal yang menggantung indah di dada istrinya hingga ASI si kembar muncrat mengenai dadanya.


"Aughhhh..."


Yuna mende*sah manja saat lidah Elkan bermain di ujung dadanya. Gigitan kecil yang dilakukan Elkan membuat Yuna semakin tak kuasa menahan gairah kewanitaannya.


Elkan semakin turun dan menjilati perut rata istrinya, tak lupa Elkan mengecup bekas luka caesar yang masih terukir jelas di perut Yuna.


Yuna memicingkan matanya, bokongnya seketika terangkat saat lidah Elkan menari-nari di luar intinya. Bahkan saat jari Elkan memasuki liang sempitnya, jeritan kecil lolos dari mulut Yuna. Benar-benar nikmat hingga Yuna tak hentinya mende*sah.


"Aughhh... Aughhhh... Ya... Elkan..."

__ADS_1


Yuna kembali menjerit saat cairan hangat keluar dari intinya, kakinya bergetar hebat dengan mata melek merem menikmati pelepasannya.


"Kenapa sayang?" goda Elkan yang suka sekali melihat pipi Yuna saat memerah.


"Enak," gumam Yuna dengan nafas tersengal.


Elkan tersenyum lebar melihat istrinya yang sudah mencapai puncaknya. Kembali Elkan melu*mat bibir Yuna penuh kelembutan.


"Gantian ya," pinta Elkan yang juga ingin tongkatnya dimanjakan dengan bibir istrinya.


Yuna mengangguk lemah dan segera bangkit dari tidurnya. Kini gilirannya yang mengulum tongkat Elkan hingga menghilang di dalam tenggorokannya.


"Ahhhh..."


Nafas Yuna tercekat hingga terbatuk-batuk saking besar dan panjang milik suaminya.


"Cukup sayang!" gumam Elkan yang kasihan melihat istrinya.


Segera Elkan membalikkan tubuh Yuna hingga membelakanginya, lalu menggesekkan ujung tongkatnya pada permukaan inti Yuna. Perlahan benda keras itu menerobos masuk hingga membuat Yuna menjerit, rasanya benar-benar sakit seperti pertama kali melakukannya. Elkan sampai kesulitan dan kembali membasahi inti Yuna dengan lidahnya.


"Pelan-pelan sayang, sakit." rengek Yuna dengan manja.


Elkan melebarkan kaki Yuna hingga posisinya sedikit menunggit, kembali Elkan menekan ujung tongkatnya hingga masuk secara perlahan.


Tak hentinya Yuna mende*sah saat pinggul Elkan bergerak maju mundur menekan intinya. Semakin lama, gerakan itu semakin cepat hingga membuat Yuna menjerit beberapa kali sembari meremas sprei.


Puas dengan posisi seperti itu, Elkan membalikkan Yuna dan memiringkan tubuhnya. Elkan pun berbaring di belakangnya dan mengangkat sebelah kaki Yuna.


"Sayang... Aughhh..."


De*sahan Yuna semakin menjadi-jadi saat menikmati pelepasannya yang entah ke berapa kali, Elkan benar-benar menciptakan kenikmatan yang tiada tara hingga sekujur tubuh mereka dipenuhi keringat.


Elkan sudah di ujung tanduk, satu jam menguras tenaga membuatnya tak sanggup lagi menahan. Dengan cepat Elkan mencabut tongkatnya dan berpindah menindih Yuna.


Dengan gerakan secepat kilat, Elkan menghantam inti Yuna bertubi-tubi hingga Yuna menjerit dengan kaki bergetar hebat. Elkan pun mengerang saat lumpur panasnya menyebar di dalam sana.


"Aahhhh..." Elkan terkulai lemas di atas tubuh Yuna. Keduanya saling melu*mat bibir dengan nafas tersengal.


Di bawah, Reni terbangun dari tidurnya. Perutnya terasa pedih karena belum makan sedikitpun. Reni bangkit dan membuka pintu, lalu melangkah menuju dapur.


Saat membuka kulkas, Reni menemukan mie instan di dalamnya. Reni pun memasaknya untuk mengganjal perut.


Reni duduk di dapur menikmati makanannya, rasa takut hilang berganti kekecewaan yang begitu mendalam. Tanpa disengaja air matanya jatuh begitu saja.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan di dapur malam-malam begini?"


Suara Beno mengagetkan Reni, dia segera menyapu wajahnya untuk menghilangkan jejak air mata yang baru saja mengalir.


Reni sengaja tak menyahut, bahkan menatap Beno saja dia tidak mau.


"Hei, aku bertanya padamu." ketus Beno yang merasa diacuhkan.


Reni meneguk segelas air putih, kemudian berbalik dan berjalan menuju kamar. Anggap saja tidak ada siapa-siapa di sana. Lagian untuk apa melihat orang yang sudah merendahkan dirinya?


Beno menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali, kemudian menyusul Reni yang sudah hampir tiba di pintu kamar.


"Hei, apa kau masih marah padaku?" tanya Beno yang lebih dulu menghadang pintu.


Sesaat tatapan mata keduanya saling bertemu, sedetik kemudian Reni melempar pandangannya ke arah lain sembari tersenyum kecut.


Apa pantas Beno bertanya seperti itu? Wanita mana yang tidak akan marah jika ciuman pertamanya dirampas dengan alasan hukuman?


Reni mendorong lengan Beno dan segera masuk ke dalam kamarnya. Namun Beno tak membiarkan dia lepas begitu saja, pria itu menyusul masuk dan langsung menutup pintu.


"Apa lagi yang kau inginkan dariku? Apa hukuman tadi belum membuatmu puas? Apa aku harus memberikan tubuhku juga sebagai hukuman?" bentak Reni meninggikan suaranya.


Reni melepaskan kaos yang dia kenakan hingga tubuh bagian atasnya ternganga dan hanya menyisakan bra saja. Rasa malunya hilang seiring kekecewaan yang begitu mengiris relung hatinya.


"Ayo lakukan! Kepalang tanggung dianggap murahan, lebih baik lakukan saja sekalian. Ambil hukuman ini, setelah itu jangan menampakkan wajahmu lagi di depanku!" teriak Reni lantang.


Tangisan Reni pecah menyembunyikan rasa malu yang begitu menyiksa.


"Reni, apa kau sudah gila?" Beno mengambil selimut dan membalutnya di tubuh Reni.


"Kenapa hah? Ayo, jamah tubuhku untuk melunasi hukumanku! Bukankah aku ini wanita murahan? Kenapa hanya bibirku saja yang kau rampas? Ambil semuanya!" pekik Reni berderai air mata.


"Cukup Reni! Kau benar-benar gila," geram Beno yang mulai tersulut emosi.


"Kau benar, aku memang gila. Dan itu semua karena mu." Reni terduduk lesu sembari mencengkram kedua lengannya, dia bahkan menarik rambutnya saking tak kuasa menahan diri.


"Pergilah, tolong tinggalkan aku sendiri! Mulai hari ini jangan menemui ku lagi, aku tidak ingin melihat wajahmu lagi. Biarkan aku bekerja dengan tenang, aku butuh pekerjaan ini. Dan anggap diantara kita tak pernah saling mengenal." lirih Reni sembari menyembunyikan wajahnya di atas lutut.


"Reni, aku-"


"Tolong pergilah, aku mohon!" Reni menyatukan kedua telapak tangannya tanpa menatap Beno sedikitpun.


Beno menghela nafas berat dan mengusap wajahnya berkali-kali. Dia pun membuka pintu dan berlalu meninggalkan kamar gadis itu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2