
Usai makan malam bersama, semua orang berkumpul di ruang keluarga. Amit dan Sari duduk di atas permadani memangku si kembar. Amit memangku si tampan Edgar sementara Sari memangku si cantik Elga. Keduanya memang suka sekali dengan anak kecil apalagi bayi yang super aktif seperti kedua tuyul kecil itu.
Di sofa, Yuna duduk di samping Elkan sedangkan Reni duduk di samping Beno. Dua pasang suami istri itu nampak sangat serasi, jelas sekali manik mata mereka menatap penuh cinta kepada pasangan masing-masing.
Saat Elkan dan Beno tengah asik mengobrol perihal Elena, Yuna pun menyibukkan diri dengan membuka ponselnya. Sejak pagi tadi dia belum sempat membuka akun nya karena sibuk mengurusi si kembar.
Baru saja layar ponsel itu menyala, air muka Yuna mendadak berubah. Kaget, tentu saja. Bingung, apalagi. Dia sama sekali tak menyangka bahwa Elkan akan mengomentari postingannya, apalagi jelas tertulis bahwa Elkan mengaku sebagai orang tua dari kedua buah hatinya.
Apa mata Yuna sudah mulai kabur? Dia tidak salah baca kan? Apa itu artinya Elkan mengakui bahwa Yuna adalah istrinya kepada publik. Bahkan hal itu langsung viral di jejaring sosial manapun.
Yuna mengalihkan pandangannya ke arah Elkan, sedetik kemudian dia kembali fokus pada layar ponselnya. Tentu saja Yuna mulai kepo dibuatnya, Yuna menggulir layar ponselnya dan membaca beberapa komentar Elkan yang melakukan pembelaan terhadap dirinya.
Seketika mata Yuna dibuat berkaca, percaya tak percaya tapi begitulah kenyataannya. Pikiran negatif yang bersarang di benaknya selama ini ternyata salah terhadap Elkan, buktinya Elkan menggunakan akun pribadinya untuk menjawab cemoohan netizen yang mengatakan bahwa dirinya hamil di luar nikah.
Setelah melihat banyaknya akun lain yang memposting ulang unggahannya, Yuna pun menghela nafas dan membuangnya dengan kasar.
Apa hal ini tidak akan menjadi masalah nantinya? Secara, Elkan adalah seorang Ceo di perusahaannya. Pemegang brand kosmetik yang saat ini tengah booming di kalangan masyarakat luas. Yuna tidak ingin kenyataan ini mempengaruhi reputasi suaminya.
"Liatin apaan sayang? Serius banget sih," ucap Elkan saat menoleh ke arah Yuna yang masih memegangi ponselnya.
"Gak ada apa-apa," jawab Yuna enteng.
Segera Yuna mematikan ponselnya dan menaruhnya di atas meja, lalu melingkarkan tangannya di lengan Elkan dan merebahkan kepalanya.
Seulas senyum terurai indah di bibir Elkan. Dia kemudian mengacak rambut Yuna dan mengapit kepala istrinya itu di belahan ketiaknya.
"Elkan, jangan!" seru Yuna sembari meronta melepaskan diri.
__ADS_1
"Huh, manggil Elkan lagi." geram Elkan sembari mempererat dekapan ketiaknya.
"Elkan, lepasin! Sesak tau," ketus Yuna dengan nafas tersengal.
"Abang sayang, kok Elkan lagi sih?" keluh Elkan dengan gigi menggertak kuat.
Semua orang yang melihat itu hanya bisa tersenyum apalagi Beno. Aneh saja melihat Elkan yang biasanya dingin ternyata bisa juga sehangat itu kepada istrinya. Elkan benar-benar berubah 180 derajat sejak menyadari perasaannya terhadap Yuna, apalagi sejak kecelakaan itu terjadi.
"Cie cie, Abang... Hahahaha..." Beno tertawa terbahak-bahak mendengar Elkan meminta Yuna memanggilnya dengan sebutan abang.
Elkan mengalihkan pandangannya ke arah Beno dan menilik nya dengan tajam.
"Bisa diam gak?" ketus Elkan dengan mata melotot tajam.
"Gak bisa Bang, Abang Elkan." seloroh Beno sembari menyandarkan punggungnya di lengan Reni, lalu memegangi perutnya yang terasa menggelitik.
Reni yang melihat itu ikut tertawa dibuatnya, ternyata suaminya juga bisa bercanda seperti itu. Dia pikir Beno hanya bisa menekan, memaksa dan mengerjai orang saja.
"Udah Mas, jangan gitu ih!" timpal Reni sembari membungkam mulut Beno agar tak lagi tertawa seperti itu.
"Noh, dengar tuh apa yang dibilang istrimu! Dasar somplak," ketus Elkan sembari mengulum senyumannya.
Setelah tawa Beno menghilang, dia kembali fokus pada mode seriusnya. Kelamaan ketawa membuat perutnya terasa sakit.
"Pak, Bu, Kak Beno, Kak Reni. Kami ke kamar dulu ya, mau istirahat." seru Amit yang sudah mulai mengantuk, lagian dia merasa tidak enak duduk berlama-lama di sana.
Amit mencolek lengan Sari, bermaksud mengajak adiknya ikut pergi dari sana. Kemudian Amit memberikan Edgar pada Reni dan Sari pun memberikan Elga pada Beno.
__ADS_1
Setelah keduanya berlalu, Yuna kembali bersuara meminta Elkan melepaskan dirinya. "Sayang, lepasin dong! Aku mau ke atas menidurkan si kembar,"
Mendengar itu, Elkan pun tersenyum lalu melepaskan Yuna. Segera Yuna mengambil Elga dari tangan Beno dan meminta Reni mengantarkan Edgar ke kamar.
Kini tinggal Elkan dan Beno saja di sana, keduanya kembali fokus membicarakan tindakan apa yang akan Elkan ambil jika Elena masih saja ngeyel mengganggu ketenangan keluarga mereka.
Elkan sendiri sebenarnya sangat malas membicarakan itu. Ada atau tidaknya Elena baginya sama saja. Meskipun dia terlahir dari rahim wanita itu tetapi dia sama sekali tidak pernah merasakan kasih sayang dari seorang ibu. Lalu untuk apa menerima wanita itu di dalam hidupnya. Elkan sudah sangat bahagia dengan kehidupannya saat ini, jadi persetan dengan wanita itu.
Beno sendiri sangat memahami bagaimana perasaan Elkan saat ini. Jika dia yang berada di posisi itu, dia juga akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Elkan.
Memang tidak mudah menjalani hidup tanpa seorang ibu di samping kita, Beno sendiri merasakan itu. Tapi posisi Elkan berbeda dengan dirinya, Beno jelas ditinggal mati oleh kedua orang tuanya sementara Elkan ditinggal pergi hanya karena sang ibu ingin mengejar pria yang dicintainya.
Jika saja Elena kembali saat Elkan masih membutuhkan sosok seorang ibu, mungkin ceritanya akan berbeda. Kini semua sudah terlambat, nasi sudah menjadi bubur. Mana mungkin bisa kembali menjadi beras.
Fokus Elkan saat ini hanya untuk keluarga kecilnya saja, untuk orang-orang yang benar-benar menyayanginya dan menganggap dirinya ada.
Elkan ingat betul saat menguping pembicaraan kakek Bram dan Beno kala itu. Air mata pria tua itu tumpah menceritakan penderitaan putranya yang tak lain adalah ayah kandung Elkan.
Ulah wanita itu, putra semata wayang kakek Bram harus meregang nyawa. Walaupun pernikahan mereka terjadi karena perjodohan tetapi apa harus meninggalkan Sandi dan Elkan yang saat itu masih berumur satu tahun setengah.
Tidak mudah bagi Sandi menerima itu apalagi dia sudah mulai mencintai Elena kala itu. Tapi sedikitpun tidak ada belas kasih dari wanita itu saat meninggalkan Elkan yang masih sangat membutuhkan kasih sayang seorang ibu.
Elkan menyapu wajahnya dengan kasar lalu menghirup udara sebanyak-banyaknya.
Baginya hidup adalah pilihan dan pilihannya adalah kehidupannya sekarang. Dia ingin menghabiskan sisa umurnya bersama wanita yang sangat dia cintai dan membesarkan kedua anaknya dengan penuh kasih sayang. Menjadikan mereka anak-anak yang beruntung karena memiliki kedua orang tua yang lengkap.
Cukup Elkan saja yang menderita karena harus kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya, dia tidak ingin si kembar merasakan hal yang sama. Apapun akan dia lakukan agar Yuna tetap berada di sisinya hingga ajal menjemputnya.
__ADS_1
Bersambung...