Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 110.


__ADS_3

Malam ini cuaca sedikit mendung, bahkan gerimis mulai berjatuhan membasahi pekarangan rumah. Elkan dan Beno masih saja duduk di gazebo taman samping sembari mendengarkan nyanyian hujan yang bersentuhan dengan air kolam.


"Ben, lusa aku mau mengadakan syukuran buat si kembar. Sekalian memperingati satu tahun pernikahan kami. Aku juga sudah berjanji kepada dewan direksi dan pemegang saham untuk menjamu mereka. Menurutku sekalian aja kau dan Reni mengumumkan pernikahan kalian. Menurutmu gimana?" ucap Elkan meminta pendapat Beno.


"Hmm..." Beno menatap Elkan dengan intens. "Boleh juga, tapi sebaiknya syukuran si kembar diadakan siang hari aja. Malamnya lanjut acara kita biar istirahat si kembar gak terganggu."


"Gak masalah, yang penting semua acara bisa selesai di hari yang sama. Aku agak sangsi sejak kedatangan wanita menyebalkan itu. Aku takut dia bertindak nekat terhadap keluarga ini." Elkan menjeda ucapannya dan menghirup udara sebanyak-banyaknya.


Elkan tiba-tiba teringat saat menguping pembicaraan Beno dan kakek Bram saat itu. Menurut yang dia dengar, Elena bukanlah wanita yang baik. Kakek Bram sangat menyesal karena sudah memilih wanita itu menjadi menantu satu-satunya penerus keluarga Bramasta.


Hal itulah yang membuat kakek Bram mengajukan syarat di dalam surat wasiatnya. Dia tidak ingin Elkan memiliki nasib yang sama seperti sang ayah. Hal itu juga yang membuat kakek Bram mewanti-wanti Beno untuk terus mengawasi Elkan sampai menemukan wanita yang benar-benar layak untuknya. Dia tidak ingin kekuasaan Elkan jatuh ke tangan wanita yang salah.


Sebenarnya tidak masalah jika Elena tidak mencintai Sandi yang tak lain adalah ayah kandung Elkan sendiri, putra semata wayang kakek Bram yang dia besarkan dengan segenap jiwa.


Tapi apakah harus menelantarkan putra yang jelas-jelas terlahir dari rahimnya sendiri?


Tidak hanya menelantarkan dan meninggalkan Elkan di usia yang masih sangat kecil, Elena bahkan tidak pernah memberikan air susunya setetes pun kepada Elkan.


Ibu macam apa itu? Sejahat-jahatnya seorang wanita, pasti ada rasa sayang dan kasihan terhadap anaknya sendiri. Tapi Elena berbeda, dia tidak menginginkan Sandi sehingga dia juga tidak menginginkan Elkan di dalam hidupnya.


Lalu untuk apa dia kembali? Kehadirannya hanya menimbulkan luka di hati Elkan.


Bukannya Elkan ingin menjadi anak durhaka, tapi apa yang bisa dia lakukan saat ini? Dia tidak merasakan kontak batin sedikitpun terhadap wanita itu. Mungkin benar Elena lah yang sudah melahirkannya, tapi air susu wanita itu tidak pernah menjadi darah daging di tubuh Elkan. Tak ada perasaan apa-apa saat Elkan menatap wajahnya.


"Elkan... Hey..."


Elkan tersentak dari lamunannya saat tangan Beno melayang di depan wajahnya.


"Apa yang kau pikirkan?" Beno mengerutkan keningnya.

__ADS_1


Elkan mengusap wajahnya berkali-kali, hembusan nafasnya terdengar berat. "Gak apa-apa, aku hanya lelah."


"Kalau begitu masuklah! Sebaiknya istirahat dulu, besok aku akan mengurus semua persiapan untuk syukuran si kembar." Beno menepuk pundak Elkan.


"Makasih Ben, hanya kau yang selalu ada saat aku membutuhkan seseorang untuk berbagi."


Elkan menatap Beno dengan intens. Ternyata darah tak selamanya kental, tanpa ikatan darah pun dia masih bisa menemukan seseorang melebihi saudara kandung sendiri.


"Sudahlah, gak perlu banyak drama! Sekarang ada Yuna juga di sisimu. Apapun keadaannya, aku yakin Yuna akan mendukungmu asalkan kau terbuka padanya." Lagi-lagi Beno menepuk pundak Elkan.


"Kau benar, aku menyesal pernah menyia-nyiakan istri sebaik dia. Meski perlakuanku selama ini sudah keterlaluan, dia masih bersedia memaafkan ku dan memberiku kesempatan kedua." lirih Elkan dengan mata berkaca.


"Semua sudah berlalu, menyesal pun gak ada gunanya. Berjanjilah untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama, cintai dan sayangi dia sepenuh hatimu! Aku bisa lihat bahwa cintanya begitu besar padamu, jangan sampai mengecewakannya untuk yang kedua kalinya! Belum tentu kesempatan itu datang lagi." jelas Beno.


Elkan manggut-manggut pertanda mengerti maksud perkataan Beno. "Aku gak akan pernah melakukan kesalahan itu lagi, aku sangat mencintainya. Aku gak akan sanggup kehilangan dia."


"Ya, aku tau itu."


Dikarenakan hari yang sudah larut, keduanya berpisah dan masuk ke kamar masing-masing. Beno menuju kamarnya yang ada di lantai dasar sedangkan Elkan harus menaiki anak tangga menuju kamarnya yang ada di lantai dua.


Baru saja Beno menginjakkan kaki di dalam kamar, deru nafasnya sudah menggelora saat mengendus aroma wewangian yang membuat insangnya memanas. Apalagi saat mendapati lingerie Reni yang tersingkap sehingga memamerkan kemulusan kulit pahanya.


Segera Beno mengunci pintu dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu dia keluar dan berbaring tepat di samping Reni yang sudah lebih dulu masuk ke alam mimpinya.


"Sayang..." gumam Beno sambil merapatkan tubuhnya hingga tak ada jarak diantara keduanya.


Tangan Beno mulai berselancar menyentuh permukaan paha Reni, lalu semakin naik menuju lipatan sensitif yang menjadi bagian terfavorit Beno.


Saat tangan Beno berlabuh di atas gundukan itu, tiba-tiba Reni menggeliat dan melenguh tanpa sadar. Tentu saja hal itu membuat jantung Beno berdetak tak tentu arah.

__ADS_1


"Sayang... Mas pengen," pinta Beno dengan suara tertahan. Sayangnya Reni masih belum sadar hingga tak merespon permintaan suaminya itu.


Beno menghela nafas berat dan membuangnya dengan kasar. Hasrat di dirinya sudah tak bisa ditahan lagi, apalagi tongkat ajaibnya sudah membengkak di bawah sana.


Dalam hitungan detik tiba-tiba tubuh Beno sudah polos, pakaiannya berserakan dimana-mana. Sedetik kemudian Reni sudah terkunci di bawah kungkungan nya.


Reni kembali menggeliat saat merasakan kehangatan di bagian lehernya, kemudian turun mengitari area dadanya.


Ketika Beno menghisap pucuk dadanya, disitulah Reni tersadar dan membuka matanya perlahan.


"Mas-"


Belum sempat Reni berbicara, Beno sudah membungkam mulutnya dan mengesap bibir ranum istrinya itu dengan rakus.


Mata Reni membulat dengan sempurna saat lidah Beno menyelam merenangi rongga mulutnya. Bahkan dadanya terasa sesak menerima serangan mendadak suaminya itu.


"Mas..."


Gumaman Reni membuat kesadaran Beno kembali hingga dengan cepat melepaskan pagutan nya.


"Maaf sayang, Mas gak ada maksud-"


Belum selesai Beno menjelaskan, Reni sudah mengalungkan tangannya di tengkuk Beno dan melu*mat bibir suaminya itu dengan lembut.


Kali ini permainan semakin memanas hingga penyatuan mereka pun dimulai.


Seiring rintik hujan yang berjatuhan di luar sana, desa*han Reni pun mengalun merdu memecah kesunyian kamar.


Keduanya berpacu memperagakan berbagai macam gerakan intim hingga mencapai titik kenikmatan.

__ADS_1


Di waktu yang bersamaan, Elkan dan Yuna pun tengah melakukan hal sama di atas sana. Semakin ke sini keringat keduanya semakin mengucur deras setelah melewati proses yang cukup panjang. Keduanya terbaring lemas dalam posisi saling berpelukan.


Bersambung...


__ADS_2