
Setelah cukup lama berperang dengan keinginan hatinya, Yuna pun lelah sendiri dan tertidur di pelukan Elkan.
Sedih, tentu saja. Elkan benar-benar terenyuh melihat Yuna se histeris tadi. Mungkin Yuna syok karena kenyataan ini di luar kendalinya, Elkan yakin esok Yuna akan berdamai dengan keadaan. Bagaimanapun, ini adalah anugerah untuk Yuna dan dirinya.
Elkan melepaskan pelukannya dan beranjak menuju kamar mandi. Memilih membersihkan diri dan mencuci wajahnya yang sudah sembab, hari ini terlalu banyak drama hingga menguras tenaga dan air mata.
Usai mandi, Elkan menggenakan pakaian kasual dan meninggalkan ruangan untuk sesaat. Dia pun berjalan menuju ruang bayi untuk melihat kondisi terkini kedua buah hatinya.
"Permisi Sus, bagaimana keadaan putra putri saya?" tanya Elkan dari balik pintu yang sudah terbuka.
Suster itu terlonjak karena tidak menyadari kedatangan Elkan. "Pak Elkan, mengagetkan saja." gumam suster sembari memegangi dadanya.
"Hehe, maaf ya Sus. Saya terlalu senang hari ini," ucap Elkan dengan seulas senyuman di bibirnya.
"Ya, ya, saya mengerti." angguk suster itu sembari tersenyum.
"Boleh saya masuk?" tanya Elkan meminta izin.
"Ya, silahkan! Tapi sebentar saja ya Pak," sahut suster.
"Ok, suster tenang saja! Saya tidak akan menyulitkan pekerjaan suster."
Elkan mengayunkan langkahnya dan berdiri tepat di samping box bayi, lalu mencium keduanya secara bergantian. "Sayang Papa udah pada tidur ya? Gemes banget sih kalian,"
Begitu bahagianya Elkan mendapatkan kedua darah dagingnya secara bersamaan. Tak pernah terbayang dan tak pernah terpikirkan olehnya akan sebahagia ini sebelumnya. Lelah itu akhirnya terlerai, sakit itu akhirnya terobati.
"Sus, bagaimana perkembangan putra putri saya? Apa mereka sudah bisa di bawa ke ruangan istri saya?" tanya Elkan.
"Baik Pak, sangat baik. Tidak seperti bayi pada umumnya yang terlahir secara prematur. Keduanya juga sehat, hanya saja mereka sepertinya kurang suka dengan susu formula." jelas suster.
"Jadi?" Elkan menautkan alisnya.
"Besok pagi, kita coba langsung memberinya ASI. Tapi masalahnya, apa ASI Ibu Yuna sudah keluar?" tanya suster.
"Entahlah, saya belum sempat menanyakan itu. Ya sudah, nanti saya cari tau. Titip putra putri saya ya, Sus! Saya harus kembali ke ruangan, takut Yuna terbangun. Kondisinya belum stabil,"
Kembali Elkan mencium putra putrinya dengan sayang, kemudian meninggalkan mereka bersama suster.
__ADS_1
Sebelum kembali ke ruangan Yuna, Elkan mengarahkan langkahnya menuju ruang inap Aditama. Sudah dua hari mertuanya di rawat di rumah sakit yang sama, tapi belum sekalipun Elkan sempat melihatnya.
Sesampainya di depan pintu, Elkan mengetuknya terlebih dahulu, kemudian mendorongnya hingga terbuka sedikit.
"Malam Rey, bagaimana keadaan Ayah?" tanya Elkan, lalu melanjutkan langkahnya mendekati brankar.
"Elkan, kenapa ke sini? Kau meninggalkan Yuna sendirian?" tanya Reynold dengan kening mengkerut.
"Sebentar saja, aku ingin menyampaikan sesuatu pada kalian." jawab Elkan.
"Ada apa? Yuna baik-baik saja kan?" tanya Reynold penasaran.
"Iya, Yuna baik, sangat baik malahan. Jika Ayah bangun, tolong sampaikan bahwa Yuna sudah sadar. Ayah tidak perlu takut lagi, Yuna hanya butuh istirahat." jelas Elkan.
Reynold membulatkan matanya dengan sempurna, bibirnya sampai menganga saking kagetnya mendengar berita bahagia ini.
"Elkan, kau serius?" tanya Reynold memastikan.
Ada rasa tak percaya di hati Reynold mengingat sudah cukup lama Yuna terbaring dalam komanya.
"Ya, aku mengerti. Kau melakukan hal yang tepat. Kalau begitu kembalilah ke ruangan Yuna, besok aku akan membawa Ayah ke sana!" ucap Reynold.
"Ok, baiklah. Aku pamit ya, sampaikan salam ku pada Ayah!"
Elkan menyentuh kaki mertuanya, lalu berbalik dan berjalan meninggalkan ruangan. Kembali Elkan mengarahkan kakinya menuju ruangan Yuna.
Sesampainya di ruangan, ternyata sudah ada Beno yang tengah duduk di sofa. Matanya menilik tajam ke arah Elkan. "Kenapa meninggalkan istrimu sendirian? Lalu, kemana alat medis yang biasa terpasang di tubuhnya?" cerca Beno dengan berbagai macam pertanyaan.
"Datang-datang langsung marah, apa darah tinggi mu naik?" seloroh Elkan dengan tatapan tak kalah tajam.
"Sejak kapan aku menderita darah tinggi? Yang ada ambeien kali," canda Beno sembari tertawa geli.
"Ih, pantes aja gak ada yang mau denganmu. Ternyata itu penyebabnya," cela Elkan sembari mengulum senyumannya.
"Kampret, aku hanya bercanda woi." Beno melempar bantal ke arah Elkan.
Saat ingin duduk di sisi ranjang, mata Elkan mengarah pada meja. Ada rantang yang terletak di atasnya. "Kau bawa makanan?"
__ADS_1
"Iya, titipan Diah. Makan gih, keburu dingin nanti!" seru Beno.
Elkan menganggukkan kepalanya dan urung menghampiri Yuna. Perutnya memang terasa lapar karena hampir seharian tak bertemu makanan. Melihat senyuman Yuna tadi saja sudah membuatnya sangat kenyang.
Setelah menempelkan bokongnya di sofa, Elkan pun membuka rantang yang ada di hadapannya. Ada nasi putih, ayam bumbu, telur balado, sayur bening dan kerupuk kulit sebagai pelengkapnya.
"Kau tidak makan?" tanya Elkan sembari menyalin beberapa sendok nasi ke piring.
"Makan aja, aku udah kenyang!" sahut Beno.
Karena Beno menolak, Elkan pun melanjutkan makannya. Saat tengah asik mengunyah makanan, Elkan teringat kembali pernyataan suster tadi.
"Apa ASI Yuna sudah keluar?" gumam Elkan tanpa sadar.
Beno terlonjak dan mengerutkan keningnya. "ASI apa?"
Kini giliran Elkan yang terlonjak. "Gak ada, siapa yang ngomong ASI?" sanggah Elkan sedikit malu.
"Kau pikir aku tuli? Aku mendengarnya sendiri, jangan bilang kau mau membeli Ibu susu untuk si kembar!" tebak Beno.
"Jangan asal tuduh! Untuk apa membeli Ibu susu? ASI ibunya kan ada," jelas Elkan.
"Kau gila, gimana caranya menyusui si kembar dalam keadaan seperti itu?" gerutu Beno.
"Aku tidak segila itu Beno. Yuna sudah sadar, syukurnya tidak ada satupun memori yang hilang. Aku pikir Yuna akan kehilangan ingatannya seperti di film-film." terang Elkan.
"Hahaha... Kebanyakan nonton sinetron sih lu," Beno tertawa terbahak-bahak, sedetik kemudian langsung terdiam dengan mata dan mulut terbuka lebar.
"Kau bilang apa tadi? Sadar?" imbuh Beno seakan tak percaya.
"Makanya kalau orang ngomong tuh didengar dulu, jangan main telan aja!" Elkan menyentil telinga Beno hingga memerah.
Sakit karena satu sentilan tak lagi terasa bagi Beno. Yang ada hanya rasa syukur dan bahagia mendengar berita baik ini.
Ingin rasanya Beno menangis, namun tak berani mengeluarkan air matanya. Ternyata Tuhan masih memberi Elkan kesempatan untuk bersama dengan Yuna, Beno hanya bisa berharap yang terbaik untuk mereka berdua. Beno juga berharap, Elkan benar-benar menepati janjinya untuk kali ini.
Bersambung...
__ADS_1