
Elkan memarkirkan mobilnya di parkiran rumah sakit. Dia segera turun setelah mematikan mesin mobil, kemudian berlari menuju IGD. Panik, takut, sedih, semua bercampur jadi satu.
Jika dikatakan bersalah, Elkan memang mengakui dirinya salah. Namun yang dilihat Yuna tak sama dengan apa yang dia pikirkan. Pelukan itu hanyalah pelukan perpisahan, Elkan mengatakan kalau dirinya sudah memiliki kehidupan baru, tak ada tempat lagi di hatinya untuk Laura.
Tapi nasi sudah berubah jadi bubur, mana mungkin kembali jadi beras. Elkan berharap keadaan istrinya baik-baik saja, tidak terbayangkan bagaimana jadinya dia tanpa Yuna. Dia mengakui cintanya hanyalah untuk Yuna, wanita yang sudah mengobati lukanya yang tak berdarah.
Sebelum sampai di depan IGD, sorot mata Beno sudah mengarah pada Elkan. Dengan tatapan penuh kebencian, Beno menyusul Elkan dengan tangan mengepal erat.
Tak kuat menahan diri, Beno melayangkan bogem mentahnya tepat di wajah Elkan.
"Bug!"
Elkan tersungkur tanpa perlawanan, setetes darah segar mengalir di sudut bibirnya.
"Sudah puas? Atau malah senang melihat istrimu seperti ini. Untuk apa kau di sini? Pergi saja bersenang-senang dengan mantanmu itu!" bentak Beno meluapkan kemarahan di hatinya.
"Ben, aku-"
"Tidak perlu memberikan alasan apa-apa padaku! Jika niatmu hanya ingin menyakitinya, maka aku lah yang akan menjadi lawan mu!" ancam Beno yang benar-benar kehilangan kesabarannya.
"Kau salah paham Ben, aku tidak-"
"Bug!"
Lagi-lagi Beno melayangkan bogem mentahnya di wajah Elkan. Apapun alasannya, Elkan tetap saja bersalah dan dia lah yang bertanggung jawab atas kejadian ini.
"Aku tidak ingin mendengar apa-apa lagi dari mulutmu. Jika aku harus kehilangan, maka aku lebih baik kehilangan dirimu. Pergilah sebelum aku benar-benar kehilangan batasan ku!"
Beno berusaha keras menahan air matanya, berat memang menyudahi hubungan yang sudah terjalin bertahun-tahun lamanya. Tapi mungkin ini lah jalan terbaik yang harus dia pilih, bertahan hanya membuat dadanya semakin sesak. Sudah saatnya Beno berjalan di bawah kakinya sendiri, berharap sang kakek mengerti kenapa Beno mengambil keputusan ini.
Setelah Beno menjauh, tangis Elkan pecah menyadari kebodohannya. Beno bahkan sudah berkali-kali memperingatkan dirinya, kenapa hatinya masih saja keras bagai batu. Sulit dijinakkan meski selalu ditetesi air hujan.
Elkan hanya bisa menangis menatap ruangan IGD dari kejauhan, tak mau beranjak karena dirinya ingin tau keadaan Yuna. Istri yang sudah dinikahi dengan paksa, disakiti dengan siksa, kini dilukai dengan rasa. Apa Elkan pantas disebut manusia?
Tiga jam sudah berlalu, namun Elkan masih saja duduk menunggu kabar Yuna. Apa istrinya bisa diselamatkan? Atau malah meregang nyawa setelah kehabisan begitu banyak darah.
Selang beberapa menit, seorang suster keluar dari ruangan. Elkan yang melihat itu dengan cepat menghampiri Beno.
"Sus, bagaimana operasinya?" tanya Beno penuh kekhawatiran.
"Maaf Pak, biar Dokter saja yang menjelaskannya nanti!"
__ADS_1
Suster itu berjalan meninggalkan Beno dan Elkan yang masih terpaku menunggu jawaban.
Elkan mengusap wajahnya berkali-kali. Seketika itu juga Beno menatapnya dengan penuh kebencian.
"Kenapa masih di sini? Pergilah bersenang-senang dengan mantanmu itu! Bukankah kau masih mencintainya?" ketus Beno.
"Cukup Ben, biarkan aku di sini! Yuna istriku, aku berhak mendampinginya." sahut Elkan.
"Cuih! Setelah dia meregang nyawa seperti ini, barulah kau sadar bahwa dia istrimu?" kesal Beno.
"Sudah aku bilang kau salah paham, aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Laura. Dia datang menemui ku, aku menolaknya dan mengatakan bahwa aku sudah menikah. Hanya Yuna yang aku cintai, bukan dia. Jika sebelumnya aku ragu, itu hanya karena aku terkejut akan kehadirannya yang begitu tiba-tiba." jelas Elkan.
"Itu menurutmu, tapi tidak untuk Yuna. Kau tau kenapa dia pergi tadi pagi? Itu karena dia merasa dibodohi. Dia tau mantanmu kembali, dia merasa seperti orang ketiga diantara kalian. Apa kau pernah memikirkan bagaimana perasaannya? Semalaman dia menangis hanya untukmu, dia kecewa karena kau masih mencintai mantanmu." ungkap Beno.
"Tapi aku-"
Belum selesai Elkan bicara, seorang dokter keluar dari dalam ruangan.
"Dok, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Elkan segera.
"Operasi berjalan lancar, namun sepertinya pasien dalam keadaan stres berat. Detak jantungnya sangat lemah, tak ada semangat untuk hidup. Jika sampai besok pagi pasien masih tidak sadarkan diri, kemungkinan dia akan koma."
"Deg!"
"Apa kami bisa menemui pasien, Dok?" tanya Beno.
"Bisa, tapi nanti. Sekarang para suster masih di dalam, sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang rawat."
"Baiklah, terima kasih Dok."
Setelah Dokter Adi pergi, Elkan terduduk lesu di dasar lantai. Ingin menangis tapi air matanya sudah tak sanggup untuk keluar, hanya ada penyesalan yang mencabik raganya.
"Puas kau sekarang?" Lagi-lagi Beno menatap Elkan penuh kebencian.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam hari, Beno memutuskan untuk pulang ke rumah. Membersihkan diri dan mengganti pakaian yang sudah berlumuran darah.
Beno masih saja kesal pada Elkan, ingin sekali dia pergi meninggalkan kediaman tempat dia dibesarkan itu. Tapi mengingat Elkan yang masih dalam keterpurukan, Beno mengurungkan niatnya untuk sementara waktu.
Di rumah sakit, Elkan duduk di samping ranjang sembari terus memegangi tangan Yuna. Tak ingin melepaskan meski hanya sedetik saja.
__ADS_1
"Sayang, bangun ya! Aku emang salah karena gak berani jujur tentang ini, aku takut kamu salah paham. Aku gak pernah bohong, cintaku hanya untukmu seorang. Wanita itu hanya masa lalu bagiku, aku hanya terkejut dengan kedatangannya. Tolong maafkan aku, bangun ya! Aku mohon,"
Akhirnya tangisan Elkan pecah melihat keadaan Yuna. Penyesalan memang selalu datang belakangan. Jika waktu bisa diputar, Elkan pasti akan menceritakan semuanya kepada Yuna, menghadapi segalanya bersama-sama.
Dalam ketidakberdayaan Yuna yang kini tengah bernafas dengan alat bantu, matanya mendadak mengeluarkan cairan bening. Tak bisa melihat, tapi bisa mendengarkan. Tak bisa menyentuh, tapi bisa merasakan.
Yuna seperti tengah berada di sebuah tempat yang sangat asing. Tempat dimana seseorang bisa merasakan kedamaian yang hakiki, jauh dari penderitaan yang terus saja mendera tanpa henti.
Bunga-bunga bertaburan di mana-mana, kupu-kupu berterbangan di udara. Yuna pun berlarian mengejar kupu-kupu tanpa beban di hatinya. Tawanya begitu lepas menikmati keindahan layaknya surga.
"Yuna sayang," Seketika tawa wanita malang itu terhenti saat mendengar seseorang memanggil namanya.
"Anda siapa?"
"Ini Ibu Nak, Ibu rindu sama Yuna."
"Ibu?"
"Iya sayang, ini Ibu. Yuna ikut Ibu ya, kita akan pergi ke tempat yang sangat indah."
"Yuna masih ingin di sini Bu, kasihan Ayah."
"Tapi Yuna tidak bahagia di sana, lebih baik ikut Ibu."
"Tapi-"
Elkan terlonjak saat tubuh Yuna tiba-tiba mengejang, elektrokardiogram yang disambungkan ke jantung Yuna mendadak menunjukkan grafik lurus. Wajah Elkan memutih seketika itu juga. Apakah Yuna akan berakhir? Tidak, tidak, Elkan tidak akan sanggup kehilangan istrinya.
Setelah menekan tombol darurat, Elkan berhamburan keluar meneriaki dokter. Tak peduli meski harus tersungkur berkali-kali, yang terpenting Yuna harus segera ditangani.
"Dokter...," teriak Elkan bergemuruh layaknya petir.
Dua orang suster berlarian memasuki ruangan Yuna, dengan segera mengecek keadaan jantung pasien yang tiba-tiba menurun drastis.
Beberapa detik kemudian dokter pun menyusul ke ruangan.
"Dokter, tolong selamatkan istri saya! Saya mohon," pinta Elkan sembari menangkup kedua tangannya.
"Saya akan berusaha, tapi semua itu saya kembalikan lagi kepada Sang Pencipta. Bantulah dengan doa!"
Setelah dokter memasuki ruangan dan menutup pintu, Elkan tersungkur lesu di dasar lantai. Berkali-kali dia memukulkan kepalanya ke dinding menyesali kebodohannya yang hakiki.
__ADS_1
"Yuna, jangan tinggalkan aku! Aku tidak bisa hidup tanpamu, kembalilah sayang! Aku mohon, kembalilah!" isak Elkan pecah, bahkan darah segar mengalir begitu saja di dahinya.
Bersambung...