Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 74.


__ADS_3

Usai membersihkan diri dan mengenakan pakaian, Yuna duduk di depan meja hias sambil menyisir rambutnya. Tak lupa pula dia memoles wajahnya dengan sedikit riasan tipis. Rasanya sudah lama sekali Yuna tak melakukan aktivitas seperti ini, membuat tangannya terasa sedikit kaku.


Elkan berdiri tepat di belakang Yuna dan mematut wajah istrinya dari pantulan cermin. "Udah cantik, jangan diapa-apain lagi!"


Yuna tersipu malu mendengar pujian Elkan yang sudah lama sekali tidak terdengar di telinganya. Bahkan pipinya tiba-tiba bersemu merah padahal tidak pakai blushon sama sekali.


"Gombal," Yuna memalingkan pandangannya, sedetik kemudian dia pun bangkit dan berjalan menghampiri si kembar yang kini sudah terbangun.


"Elkan, tolong panggilkan Reni dong! Udah saatnya si kembar mandi, aku belum tau cara mandiin mereka." pinta Yuna, dia masih takut memandikan kedua bayinya yang masih terlalu lembut.


"Iya, tapi kita pindahin dulu si kembar ke kamar mereka. Aku tidak mau kamar kita dimasuki orang lain lagi."


Elkan masih teguh dengan pendiriannya, sejak dulu hingga sekarang dia masih konsisten meskipun kemarin Reni sempat masuk mengantar putranya. Itu saja sebenarnya sudah membuat Elkan kesal, tapi dia mencoba menahan diri karena tak mungkin mengatakan itu langsung di depan Reni.


Segera Elkan menggendong satu persatu bayinya menuju kamar sebelah. Ada pintu yang menghubungkan kamar mereka. Kamar yang sudah dihias sedemikian cantik saat Yuna masih terbaring di rumah sakit. Segala perlengkapan si kembar juga sudah ada di sana.


Setelah memindahkan si kembar, Elkan turun memanggil Reni yang tengah sibuk membantu Diah dan Lili di dapur.


"Reni, tolong bantu mandiin si kembar ya! Yuna belum bisa katanya," seru Elkan yang sudah berdiri di pintu dapur.


"Iya Pak," angguk Reni.


Elkan meninggalkan dapur dan memilih duduk di ruang keluarga. Sementara Reni segera mengayunkan langkahnya menuju anak tangga.


"Reni, si kembar di kamar mereka. Tepat di sebelah kamar kami, jangan salah masuk!" tegas Elkan.


Reni mengangguk lemah, dia mengerti maksud ucapan Elkan. Mungkin majikannya itu tidak suka melihat orang lain memasuki kamar pribadinya. Reni pun melanjutkan langkahnya.


"Pagi Bu, Pak Elkan memintaku untuk memandikan si kembar." sapa Reni yang sudah berdiri di ambang pintu.


"Masuklah Reni! Aku yang minta, aku belum berani memandikan mereka." sahut Yuna mempersilahkan Reni masuk.

__ADS_1


Reni melanjutkan langkahnya dan segera mengambil salah satu bayi mungil itu. Sementara Yuna sendiri masih ingin di sana melihat cara Reni memandikan bayinya.


"Kamu lihai banget sih, beruntung sekali pria yang menjadi suamimu kelak. Udah cantik, sopan, lembut, cekatan lagi." puji Yuna.


"Jangan berlebihan gitu Bu? Biasa aja, namanya juga perawat. Beginilah pekerjaan yang aku lakukan setiap harinya." jawab Reni merendahkan diri, sanjungan Yuna tadi terlalu berlebihan menurutnya.


Entah siapa yang akan beruntung menikahi siapa. Reni bahkan tidak pernah berpikir sampai ke sana. Dia sadar siapa dirinya dan dimana posisinya, dia tidak pernah berharap mendapatkan suami tampan apalagi kaya. Cukup sederhana tapi bisa mengerti dirinya, menyayanginya dan bisa menerima kedua adiknya. Karena hidupnya tak bisa lepas dari adik-adiknya itu.


Setelah si kembar rapi dan wangi, Yuna mengajak Reni turun untuk sarapan. Reni kembali menolak dan memilih menjaga kedua bayi itu di kamar mereka. Reni tidak ingin hidup enak sementara kedua adiknya entah makan atau tidak di rumah kecilnya.


Yuna menatap wajah gadis itu dengan intim, ada sesuatu yang dia tangkap dari pancaran wajahnya yang terlihat begitu sendu. Sorot matanya menyiratkan adanya beban yang dia pikul sendiri tanpa tau kemana harus bersandar.


"Reni, apa kamu ada masalah?" tanya Yuna penasaran, dia bisa merasakan adanya tekanan batin yang dipendam gadis itu.


"Gak ada Bu, aku baik-baik aja kok." jawab Reni berbohong, dia tidak mungkin menceritakan kisah hidupnya kepada majikan yang baru saja mempekerjakan dirinya. Dia juga tidak ingin dianggap pecundang yang memanfaatkan keadaan agar dikasihani.


"Reni, sekarang kamu sudah menjadi bagian dari keluarga ini. Jika kamu ada masalah, kamu bisa cerita sama aku. Sesama wanita, aku bisa merasakan bahwa kamu tuh gak baik-baik aja. Tidak baik memendam masalah sendirian, aku bersedia menjadi tempat curhat untukmu. Anggap aku ini kakakmu, semua akan terasa ringan jika kamu mau berbagi." ucap Yuna.


Reni menekuk wajahnya, dia berusaha keras agar tangisannya tidak tumpah di depan Yuna. Sekuat tenaga dia harus berusaha tegar agar tak ada yang tau beban apa yang tengah dia pikul saat ini.


Yuna menghela nafas berat, dia tau bukan itu saja yang mengganggu pikiran Reni. Tapi Yuna juga tidak mungkin mendesak gadis itu untuk bercerita. Mungkin akan lebih baik jika Yuna memberikan waktu untuk Reni.


"Ya udah, kamu jangan sedih lagi ya! Hubungi aja mereka jika kamu kangen!"


Yuna meninggalkan kamar si kembar dan turun menuju ruang makan, perutnya sudah sangat lapar minta diisi. Sejak menyusui, nafsu makannya sedikit meningkat. Mungkin karena dia harus berbagi dengan dua malaikat kecil yang kini jadi penyemangat di hidupnya.


"Lama banget sih turunnya, aku udah lapar sayang." keluh Elkan saat menangkap kedatangan istrinya.


"Kalau lapar kenapa gak makan duluan aja? Aku kan masih ngurusin si kembar," sahut Yuna.


"Gak enak makan sendirian, maunya sama kamu." Elkan bangkit dari duduknya dan melingkarkan tangannya di pinggang Yuna, lalu mengecup tengkuk istrinya itu.

__ADS_1


"Elkan, apaan sih kamu nih? Malu dikit napa? Ini di bawah loh," gerutu Yuna sembari menghalau tangan suaminya. Lama-lama Elkan sudah seperti kehilangan akal sehat karena tak lagi mengenal tempat saat bermesraan dengan istrinya.


"Untuk apa malu? Yang dipeluk istri sendiri kok, lain halnya kalau yang dipeluk tuh istri orang." seloroh Elkan dengan entengnya.


"Oh, jadi ada niat mau meluk istri orang?" Yuna menggertakkan giginya geram.


"Gak lah sayang, mending meluk istri sendiri. Lebih empuk dan hangat," sahut Elkan sembari mengedipkan sebelah matanya.


"Empuk, empuk, emangnya kasur?" Yuna mengulum senyumannya. "Ayo cepat, katanya lapar!" imbuh Yuna.


Elkan mencuri ciuman bibir istrinya sebelum akhirnya melangkah menuju meja makan.


"Pagi," sapa Beno yang baru keluar dari kamar.


"Pagi Beno," sahut Yuna.


Beno menarik kursi dan duduk di tempat biasanya. Tanpa mempedulikan sekelilingnya, Beno langsung saja mengambil makanan dan mengisi perutnya.


Usai sarapan, Elkan mengajak Yuna duduk di ruang keluarga untuk membicarakan nama si kembar yang tadi sudah dia persiapkan. Elkan juga ingin mendengar pendapat Yuna, barangkali istrinya itu juga sudah memiliki nama yang cocok untuk kedua bayinya.


"Elkan, Yuna, si kembar mana?" tanya Beno yang tak melihat keponakannya sejak tadi.


"Di kamar mereka, tadi abis mandi keduanya kembali tidur." sahut Yuna.


"Aku izin ke kamar mereka ya, kangen soalnya." imbuh Beno.


"Iya, pergilah! Gangguin aja," geram Elkan dengan tatapan tajamnya.


Beno tersenyum kecut, kemudian berbalik hendak melangkah menuju anak tangga.


"Beno, sekalian tolong suruh Reni turun ya! Kasihan, dia belum sarapan." pinta Yuna.

__ADS_1


"Ok," angguk Beno, lalu melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga.


Bersambung...


__ADS_2