
Setelah meneguk kopi yang dibuatkan Yuna hingga tandas, Elkan mengajak istrinya itu ke kamar untuk beristirahat. Matanya terasa berat karena semalam cuma dapat tidur selama dua jam ulah Reynold yang terus saja menahannya minum.
Reynold yang juga mengantuk kemudian membawa Laura ke kamar mereka. Kali ini Laura tidak mau digendong dan malah meminta Reynold memapahnya saja.
Setibanya di kamar, Reynold membaringkan Laura di atas kasur. Dia kemudian membuka kaos yang melekat di tubuhnya dan berbaring di samping istrinya itu. Tanpa diminta, Laura langsung memeluk Reynold hingga mengikis jarak diantara keduanya.
"Tumben, ada angin apa nih?" Reynold mengerutkan keningnya.
"Memangnya tidak boleh?" Laura melepaskan pelukannya dan beringsut menjauhkan diri.
"Boleh sayang, jangan ngambek gitu dong! Sini, peluk lagi!"
Reynold bergeser dan meraih tangan Laura, lalu melingkarkan nya kembali di pinggangnya. Dia kemudian mengusap rambut Laura ke belakang dan mengecup kening istrinya itu dengan penuh kasih sayang.
Laura yang mendapat perlakuan hangat seperti itu merasa sangat nyaman. Dia memeluk Reynold dengan erat dan menenggelamkan wajahnya di dada suaminya itu.
"Mas..." panggil Laura sambil memejamkan matanya.
"Hmm..." gumam Reynold.
"Makasih ya," ucap Laura.
"Makasih untuk apa?" Reynold mengerutkan keningnya.
"Untuk semuanya, makasih juga karena Mas sudah memilih aku menjadi istri Mas. Aku sadar Mas adalah pria terbaik yang dikirim Tuhan untukku, aku janji akan menjadi istri yang baik untuk Mas. Setelah kakiku sembuh, aku akan melayani Mas dengan sungguh-sungguh!" ucap Laura.
"Sudah, tidak usah dipikirkan! Jalani saja seperti air yang mengalir, lagian Mas tidak akan menuntut apa-apa dari kamu. Yang penting tetaplah di sisi Mas apapun yang terjadi!" sahut Reynold.
__ADS_1
"Iya, aku janji!" angguk Laura, lalu mengecup permukaan dada bidang Reynold dengan lembut.
"Hehe... Geli sayang, jangan begitu!" Reynold tertawa geli sambil menggeliat.
"Hahaha... Maaf," Laura ikut tertawa dibuatnya.
Sekitar seperempat jam berlalu, mereka berdua akhirnya tertidur dalam posisi saling berpelukan.
Di kamar lain, Elkan baru saja berbaring setelah membersihkan diri di kamar mandi. Dia memeluk Yuna dari belakang dan mengecup pundak istrinya itu dengan lembut.
"Bang..." panggil Yuna yang masih setia dengan posisinya.
"Iya sayang," jawab Elkan sambil mempererat pelukannya.
"Bagaimana perasaan Abang setelah bertemu kembali dengan Laura? Apa perasaan itu masih ada?" tanya Yuna yang membuat Elkan tersentak kaget.
"Apanya yang aneh? Wajar kan kalau Yuna bertanya seperti ini, bagaimanapun kalian berdua dulunya saling mencintai. Lima tahun bukan waktu yang singkat, banyak kenangan indah yang pernah kalian lalui bersama. Tidak mungkin terlupakan begitu saja kan?" lirih Yuna dengan mata berkaca.
Setelah setengah hari menahan diri, akhirnya Yuna memberanikan diri menanyakan itu. Katakanlah Elkan tak ada hubungan apa-apa lagi dengan Laura, tapi sebagai seorang istri tetap saja ada perasaan cemburu di hati Yuna mengingat hubungan keduanya yang pernah terjalin lama.
Yuna hanya tertawa di luar saja, tapi di dalam hatinya ada bongkahan batu yang mengganjal hingga menyesakkan dada. Seperti kata pepatah, cinta pertama sangat sulit dilupakan. Mungkin saja suaminya juga mengalami hal yang sama.
Apa dia salah membiarkan mereka berdua bertemu kembali? Jika perasaan itu kembali tumbuh bagaimana? Tentunya dia dan Reynold lah yang akan terluka setelah ini.
"Sayang, jangan mikir aneh-aneh gitu ih! Semua itu hanya masa lalu, masa depan Abang adalah Yuna." jelas Elkan sembari mengusap lengan Yuna.
"Yuna tau itu hanya masa lalu, tapi kalau perasaan itu datang kembali bagaimana? Kebersamaan kita kalah jauh dengan kebersamaan kalian, diantara kita tidak ada kenangan yang tercipta, berbeda dengan kalian." Akhirnya bongkahan bening itu jatuh membasahi pipi Yuna.
__ADS_1
Elkan menghela nafas berat dan membuangnya dengan kasar. Dia menarik lengan Yuna dan memutar tubuh istrinya itu hingga saling berhadapan.
Mata Elkan seketika membulat saat mendapati pipi Yuna yang sudah basah sebab air matanya yang terus mengalir.
"Jangan nangis sayang! Bodoh banget sih," Elkan menyapu pipi Yuna dan mengecup keningnya dengan sayang.
"Yuna takut Bang, apa yang harus Yuna lakukan kalau sampai hal itu terjadi? Yuna tidak sanggup, Yuna tidak bisa hidup tanpa Abang." isak Yuna pecah di pelukan Elkan.
"Itu tidak akan pernah terjadi, Abang milik Yuna dan selamanya akan tetap menjadi milik Yuna. Yuna harus ingat, Laura itu istrinya Reynold. Dia kakak ipar Yuna, mana mungkin Abang mau sama dia. Abang berbasa-basi semata-mata karena menghargai Reynold sebagai kakak ipar Abang, itu saja." jelas Elkan.
Setelah mendengar penjelasan Elkan barusan, Yuna mulai merasa sedikit tenang. Dia memeluk Elkan dengan erat dan mengecup dagu suaminya itu dengan lembut, lalu memejamkan matanya.
Elkan yang melihat itu hanya bisa tersenyum dan balas mengecup bibir Yuna. "Benar-benar bodoh, satu ini saja tidak habis-habis." Lalu Elkan mengusap punggung Yuna dan mengecup keningnya.
Jangankan untuk mendekati wanita lain, berpikir sampai ke sana saja Elkan tidak pernah. Baginya Yuna sudah lebih dari cukup, Yuna sudah sangat sempurna untuknya. Apa lagi yang dia cari?
Cantik sudah, lembut juga sudah, baik sudah, penurut juga sudah, penyayang sudah, tubuh bahenol juga sudah, ditambah hanya dia lah yang pernah menyentuh Yuna. Untuk apa lagi wanita lain?
Elkan tau bagaimana berharga nya dia di mata Yuna, mana mungkin dia tega mengkhianati istrinya itu. Apalagi ada si kembar di tengah-tengah mereka, Elkan tidak mau kedua buah hatinya itu kehilangan kasih sayang salah satu diantara mereka berdua.
Elkan sudah merasakan bagaimana rasanya kehilangan kedua orang tua sejak dirinya masih balita, meski ada kakek Bram yang sangat menyayanginya tapi tetap saja rasanya berbeda antara kasih sayang kedua orang tua dan kasih sayang seorang kakek.
Meski pada akhirnya dia harus menelan pil pahit karena kenyataan yang ada. Elkan kecil tidak serta merta ditinggal mati oleh kedua orang tuanya melainkan ditinggal pergi oleh sang ibu yang lebih memilih pria lain dibanding anak dan suaminya sendiri.
Lalu bagaimana mungkin Elkan tega melakukan hal itu pada Yuna. Elkan sendiri sudah merasakan bagaimana sakitnya dikhianati, ditinggalkan dan diabaikan.
Sangat tidak mungkin Elkan melakukan itu pada Yuna yang jelas-jelas adalah istrinya dan satu satunya wanita yang sangat dia cintai di dunia ini. Wanita yang sudah meluruskan jalannya dan memberikan kebahagiaan berlimpah di dalam hidupnya. Wanita yang sudah bersabar menghadapi segala kekurangan dan menerimanya apa adanya. Wanita yang juga sudah memberikan anugrah teringat yaitu dua malaikat kecil yang menjadi penyempurna hidupnya. Tidak ada alasan bagi Elkan untuk meninggalkannya ataupun mengkhianatinya, hanya laki-laki bodoh yang tega melakukan itu.
__ADS_1
Bersambung...