
Tak terasa sudah dua hari saja mereka berada di hotel itu dan kini sudah saatnya mereka semua pulang ke kediaman Bramasta. Segala fasilitas yang ada sudah mereka nikmati, sekarang sudah waktunya kembali ke pengaturan awal.
Seluruh barang sudah masuk ke dalam bagasi mobil, satunya mobil yang dikendarai Elkan dan satunya lagi mobil yang dikendarai Pak Zul. Pak Zul tiba beberapa menit sebelum mereka semua turun, satu jam yang lalu Elkan menghubunginya dan memintanya menjemput mereka. Satu mobil saja tidak mampu menampung mereka semua karena mobil yang dibawa Elkan hanya memiliki dua baris tempat duduk.
Elkan, Yuna dan Amit ada di dalam satu mobil yang sama, ditambah si kembar yang ada di pangkuan Yuna dan remaja tampan itu. Sedangkan di mobil satunya lagi ada Pak Zul, Diah, Lili dan juga Sari. Setelah semuanya duduk, dua mobil mewah itu melesat pergi meninggalkan gerbang hotel.
Setelah setengah jam menempuh perjalanan, tibalah mobil yang mereka tumpangi di depan kediaman Bramasta. Satu persatu turun dari mobil itu dan memasuki rumah sambil menarik koper masing-masing. Sedangkan Elga dan Edgar sendiri tampak bergelayut di gendongan Elkan sambil tersenyum dengan lucunya.
"Tumben sendirian, mana istrimu?" Suara Elkan sontak membuat Beno memutar leher ke arah sumber suara.
"Sudah pulang?" tanya Beno. Dia menyahut dengan tatapan malas, lalu fokus kembali pada layar televisi yang tengah menyala di hadapannya. Beno sengaja meninggalkan kamar mencari ketenangan untuk sesaat, dia tidak ingin mengganggu tidur Reni yang membutuhkan istirahat cukup sesuai anjuran dokter.
"Reni mana Beno?" timpal Yuna sambil memposisikan bokongnya pada sofa.
"Ada di kamar, lagi tidur." sahut Beno.
"Tumben?" Yuna menautkan alisnya.
"Kurang sehat, kata dokter harus banyak istirahat. Tidak boleh capek," jelas Beno.
"Reni sakit? Kenapa tidak memberitahu kami?" Yuna lagi-lagi menautkan alisnya. Dia sedikit marah karena Beno mendiamkan sakit istrinya tanpa memberitahu siapa pun.
"Begitulah kira-kira. Cuma kecapean doang, rencananya sore ini mau periksa ke klinik dokter Siska." jawab Beno.
"Dokter Siska?" Elkan menimpali, keningnya mengerut. "Bukankah beliau itu seorang dokter kandungan?" imbuh Elkan.
"Ya, kau benar." jawab Beno enteng, tatapannya masih fokus pada layar televisi.
__ADS_1
"Jangan bilang-" Elkan menjeda ucapannya. "Apa Reni hamil?" sambung Elkan.
"Apa?" Yuna membelalakkan mata antara percaya tak percaya mendengar pertanyaan suaminya barusan. "Jawab Beno! Apa yang ditanyakan suamiku itu benar?" Yuna terlihat sangat antusias. Dia berharap yang dikatakan Elkan barusan benar adanya. Dengan begitu rumah mereka akan semakin ramai dengan suara tangisan dan gelak tawa anak-anak. Si kembar akan memiliki adek bayi dan mendapat gelar kakak.
Beno mengukir senyum tanpa menjawab sepatah kata pun, hal itu membuat Yuna semakin penasaran. Ada sesuatu yang dia tangkap dari senyuman itu, ada makna yang tersirat di dalamnya.
"Jawab Beno! Kenapa diam saja?" imbuh Yuna yang sudah tidak sabar mendengar jawaban Beno.
"Tanya sendiri saja sama orangnya!" Bukannya menjawab, Beno malah menyuruh Yuna menanyakan itu langsung pada Reni. Hal itu makin menimbulkan kecurigaan di hati Yuna.
"Kau ini, jangan main teka-teki di hadapan Yuna! Kau ingin membuat istriku mati penasaran?" sambung Elkan dengan tatapan tak biasa.
"Kok mati sih Bang, Abang sengaja ya doain Yuna agar cepat mati? Biar Abang bisa nikah lagi, iya?" Yuna menajamkan tatapannya ke arah Elkan seakan ingin menelan suaminya itu hidup-hidup.
Belum sempat Elkan menyahut, derap langkah kaki sudah membuat mereka semua mengalihkan pandangan ke arah sumber suara.
"Kak Beno, Kak Reni manggil. Katanya mau ke kamar mandi, sudah aku tawarkan bantuan tapi Kak Reni malah nolak. Maunya sama Kak Beno saja katanya." Amit berbicara dengan nafas tersengal.
"Ya, kembalilah ke kamarmu!" Beno langsung bangkit dari duduknya dan masuk ke dalam kamar. Sari yang berada di dalam segera keluar setelah melihat kedatangan Beno.
Beno mengukir senyum dan duduk di tepi ranjang lalu membantu Reni duduk dan menggendongnya ke kamar mandi.
"Mas tunggu di luar saja ya! Aku mau buang air besar sebentar, aku tidak bisa ditungguin." ucap Reni setelah turun dari gendongan Beno. Dia nampak malu-malu, pipinya bersemu merah mengatakan itu.
"Kenapa pipinya jadi seperti kena tonjok begitu sih? Masa' sama suami sendiri masih malu?"
Beno mencoba menggoda Reni, semakin digoda semburat merah di pipinya semakin terlihat memerah. Dia bahkan tidak masalah jika harus mencebokkan istrinya sekali pun, apalagi dalam keadaan seperti ini. Apapun akan dia lakukan agar Reni bisa merasakan kenyamanan saat melewati kehamilannya.
__ADS_1
"Mas..." Reni mencubit perut Beno dengan bibir mengerucut.
"Hehehe... Iya, iya, Mas tunggu di luar ya. Kalau ada apa-apa teriak saja, Mas pasti datang!" Beno tertawa kecil, senang rasanya menggoda istrinya itu.
"Hm... Iya, pergilah!" Reni mendorongnya keluar dan segera menutup pintu. Rasanya sungguh luar biasa saat diperlakukan begitu istimewa seperti ini. Apalagi selama beberapa hari ini mood Reni terkadang suka berubah-ubah tanpa dia sadari.
Tidak lama setelah Beno keluar, Yuna datang bersama Elkan. Ada si kembar juga di gendongan keduanya.
"Tok Tok Tok"
"Boleh kami masuk?" seru Yuna setelah mengetuk pintu.
Dia rasanya sudah tidak sabar ingin mendengar pengakuan Reni tentang kehamilannya. Momen yang membahagiakan bagi seorang istri termasuk dirinya yang sangat mendambakan kehamilan kedua dalam pernikahannya.
Bukan tanpa sebab. Saat mengandung si kembar tempo hari, Yuna tidak bisa merasakan momen itu. Dia melewatkan semua proses kehamilannya dan dia ingin sekali tau bagaimana perasaan Reni saat mengetahui kabar bahagia ini untuk pertama kalinya.
"Yuna, Elkan, masuklah!" Beno bangkit dari duduknya dan mengajak keduanya duduk di sofa yang ada di sudut kamar.
"Mana Reni? Kenapa kamarmu sepi begini? Kayak kuburan saja," tanya Elkan dengan manik mata berputar-putar menyisir setiap sudut kamar tapi batang hidung Reni tak tampak di matanya.
"Kuburan bacot mu, kau pikir aku tinggal bersama setan? Istriku masih di kamar mandi, perutnya mules." Beno menajamkan tatapannya, kesal mendengar candaan Elkan yang tidak berada pada tempatnya.
"Hahahaha... Sensitif sekali kau ini," Elkan tertawa terbahak-bahak melihat reaksi Beno yang agak berlebihan menurutnya.
"Bang, sudah ih! Kita ke sini untuk melihat keadaan Reni. Kalau Abang mau nyari gara-gara, mending Abang keluar saja! Tidak ada gunanya juga berada di sini kalau hanya untuk mencari keributan."
Yuna menempatkan dua jarinya di pinggang Elkan, seketika Elkan langsung terdiam tanpa kata. Dia tidak berani berkutik kalau ibu negara yang satu itu sudah bertindak. Dunia seakan berguncang kalau kemarahan wanita itu sudah memuncak.
__ADS_1
Seperti kucing yang dihalau dengan lidi, Elkan menurut saja tanpa melakukan perlawanan. Dia tidak ingin berdebat lagi dengan istrinya, terakhir berdebat dia sendiri yang harus menanggung konsekuensinya.
Bersambung...