Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 179.


__ADS_3

Di rumah sakit yang sama, Reynold keluar dari ruangan dokter sambil memapah Laura yang kini sudah bisa berjalan beberapa langkah. Meskipun begitu, Reynold masih belum mau melepaskan istrinya itu berjalan sendirian. Kalau pun dilepas, Laura harus menggunakan tongkat untuk menopang tubuhnya yang kini terlihat sedikit gemuk dari biasanya.


Sebenarnya saat mengantri tadi keduanya sempat melihat keberadaan Elkan dan Yuna. Ketika Reynold ingin menghampiri mereka, Laura sudah lebih dulu dipanggil oleh suster. Reynold pun urung menemui mereka dan memilih menemani Laura melakukan pemeriksaan.


Sesampainya di rumah, Reynold langsung menceritakan itu pada Aditama. Karena penasaran, Aditama bergegas menghubungi Yuna untuk mengetahui keadaan putrinya. Sebagai seorang ayah dia tentu saja khawatir karena Yuna tidak memberitahu apa-apa padanya. Aditama takut ada sesuatu yang disembunyikan Yuna darinya.


Saat ponsel Yuna berdering, dia tengah berbaring di atas tempat tidur dengan tubuh yang terbuka di bagian atas. Dua tuyul gembul itu tengah asik menghisap ujung dada sang mama seperti anak kucing yang tengah menyusu.


"Bang, tolong ambilkan hp Yuna dalam tas dong!" seru Yuna saat menangkap kedatangan Elkan yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Untuk apa sayang? Susui saja si kembar dulu!" jawab Elkan yang tidak mendengar apa-apa. Dia pikir Yuna ingin main hp sambil menyusui si kembar.


"Hp Yuna barusan bunyi Bang, siapa tau penting." balas Yuna.


Setelah mendengar penjelasan Yuna, Elkan segera berjalan menuju sofa dan membuka tas istrinya lalu mengeluarkan sebuah ponsel dari dalam sana. Saat menyalakannya, mata Elkan menyipit seketika. "Dari Ayah, sayang."


"Hubungi lagi Bang! Siapa tau penting," pinta Yuna. Air mukanya berubah cemas, takut terjadi sesuatu pada ayahnya itu.


Sesuai permintaan Yuna, Elkan segera menghubungi mertuanya itu. Padahal dia masih bertelanjang dada dengan sebagian tubuh yang hanya ditutupi handuk usai mandi barusan. Tapi dia sendiri juga khawatir memikirkan keadaan ayah mertuanya.


Satu kali panggilan saja, Aditama sudah mengangkatnya.


"Halo Yuna," ucap Aditama.


"Halo Yah, ini Elkan. Yuna lagi nyusuin si kembar. Ada apa Yah? Kenapa Ayah menelepon? Apa Ayah sakit?" tanya Elkan dengan berbagai macam pertanyaan.

__ADS_1


"Tidak Elkan, Ayah baik-baik saja Nak. Justru Ayah mau menanyakan keadaan kalian. Tadi Reynold tidak sengaja melihat kalian berdua di rumah sakit, ada apa Nak? Siapa yang sakit?" Aditama balik bertanya.


"Ayah tidak perlu khawatir, tidak ada yang sakit Yah. Tadi kami membesuk..., teman Elkan Yah." jelas Elkan. Dia terpaksa berbohong karena belum siap menceritakan tentang ibu dan adiknya pada Aditama. Selain malu, dia juga takut Aditama tidak bisa menerima itu.


"Oh, Ayah pikir... Ya sudah, teleponnya Ayah tutup dulu ya. Salam untuk Yuna dan si kembar." Aditama mematikan sambungan telepon itu. Dia merasa lega setelah mendengar jawaban dari Elkan barusan.


Setelah menaruh ponsel Yuna di atas meja, Elkan berjalan menuju lemari dan mengambil celana pendek yang akan dia kenakan. Setelah itu dia mengeringkan rambutnya yang masih basah, lalu menghampiri Yuna dan berbaring di sampingnya dengan posisi miring sambil menatap Yuna.


"Maafin Abang ya, Abang tidak bermaksud membohongi Ayah. Abang belum siap menceritakan tentang keluarga Abang pada Ayah. Abang malu," lirih Elkan.


"Tidak apa-apa Bang, Yuna ngerti kok. Sudah, tidak usah dipikirkan!" sahut Yuna.


Elkan mengukir senyum mendengar itu. Dia kemudian memperbaiki posisi tidur si kembar yang sudah terlelap di atas dada Yuna, lalu merapatkan tubuhnya dan memeluk Yuna dengan erat.


Tidak lama, keduanya ikut tertidur dalam posisi sama-sama miring. Tangan Elkan melingkar erat di pinggang Yuna dan wajahnya menempel di pundak istrinya itu.


Sore hari, Elkan menceburkan diri di dalam kolam renang yang ada di kamar itu. Kamar utama dan kamar kedua memang memiliki fasilitas yang lengkap, hal itu sesuai permintaan Elkan dan Beno saat membangun hotel itu. Keduanya sudah membayangkan jika mereka sudah sama-sama menikah, kamar itulah yang akan mereka tempati saat berkunjung ke hotel dan itupun menjadi kenyataan.


"Sini sayang, berenang sama Abang!" panggil Elkan saat Yuna membuka pintu kaca yang jadi pembatas antara kamar dan kolam renang.


Elkan menepi dan menaiki tangga, tubuh atletisnya terpampang indah di depan mata Yuna. Terlihat sangat menggoda di mata ibu beranak dua itu, apalagi Elkan hanya mengenakan segitiga pengaman saja. Benda yang ada di dalam sana nampak menonjol seperti pisang ambon.


"Ayo sayang, berenang sama Abang yuk! Mumpung si kembar belum bangun," ajak Elkan sambil meraih tangan Yuna.


Yuna menautkan alisnya dan menatap Elkan dengan intim. "Abang ini gimana sih? Mana mungkin Yuna berenang? Yuna masih haid Bang, nanti warna airnya berubah jadi merah."

__ADS_1


"Oh iya, Abang lupa. Hehehe..." Elkan menyeringai sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


"Lupa, lupa, belum tua udah pikun." gerutu Yuna dengan tatapan tajam.


"Sssttt... Kok ngomongnya gitu sih sayang? Namanya juga manusia, pasti ada kurangnya. Jangan disumpahi gitu dong!" Elkan mengernyitkan keningnya.


Karena malas berdebat dengan Elkan, Yuna kembali masuk ke dalam kamar meninggalkan suaminya yang masih mematung di tempatnya berdiri.


Kebetulan di dalam sana Edgar baru saja bangun dan merengek meminta susu. Segera Yuna berbaring di samping putranya itu dan membuka kancing bajunya. Edgar mengangakan mulut mungilnya dan menghisap ujung dada Yuna dengan lahap.


Tidak lama, Elkan menyusul masuk mengenakan jubah mandi yang membungkus tubuhnya. Melihat Yuna yang tengah asik bersama Edgar, Elkan tidak mau mengganggunya. Dia memilih masuk ke kamar mandi untuk membilas diri.


Seperempat jam kemudian, Elkan keluar dengan handuk yang melingkar di pinggangnya. Belum sempat Elkan mengenakan pakaian, dia harus masuk kembali setelah Yuna memintanya menyiapkan air mandi buat si kembar.


Usai menyiapkan air mandi, Elkan keluar dan urung mengenakan pakaiannya. Dia menggendong si kembar dan membawa keduanya masuk ke kamar mandi. Yuna pun menyusul di belakang.


Setelah kedua bayi bontot itu dimandikan, Elkan menggendong mereka lagi dan membaringkan keduanya di atas kasur. Lalu Elkan membalurkan minyak telon di tubuh keduanya dan memakaikan pakaian mereka berdua secara bergiliran.


"Gantian ya sayang, sekarang giliran Papa yang pakai baju." Sebelum menjauh, Elkan mengecup pipi keduanya terlebih dahulu lalu meninggalkan keduanya bersama Yuna dan bergegas membuka pintu lemari.


Setelah mendapatkan apa yang dia cari, Elkan segera memakai pakaian itu dan merapikannya di depan cermin sambil menyisir rambutnya.


Lalu Elkan mendekati Yuna dan menyuruhnya mandi terlebih dahulu. Kini giliran Elkan yang menjaga si kembar saat istrinya tengah berjibaku di kamar mandi.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2