
Sebuah mobil Mini Clubman John Cooper Works seharga 1,36 milyar melaju di sepanjang jalan raya. Tentu saja hal itu menjadi pusat perhatian para pengendara lainnya. Selain harga yang lumayan menguras kantong, mobil tersebut terlihat unik dengan desain klasik yang menjadi keunggulannya.
Di bangku depan bagian kiri, nampak Yuna tengah asik memainkan ponselnya. Sementara di bangku sebelahnya, Elkan nampak fokus mengendarai mobil itu. Pandangannya lurus menghadap jalanan yang dia lalui.
Satu jam kemudian, mobil tersebut memasuki kawasan perumahan elit. Elkan mengarahkan kepala mobil itu ke gerbang dan menekan klakson. Baru saja kaca bagian samping kiri terbuka, seorang penjaga sudah berhamburan membuka gerbang setinggi dua meter itu.
Elkan kembali menginjak pedal gas saat pintu gerbang sudah terbuka lebar.
Usai memarkirkan mobil, Elkan segera turun dan mengitarinya lalu membukakan pintu untuk Yuna. Setelah kaki Yuna menginjak tanah, Elkan pun menggenggam tangannya dan melenggang masuk sambil bergandengan.
Rumah kediaman Reynold itu memang tak kalah mewah dari rumah Elkan, hanya saja ukurannya sedikit lebih kecil dibanding kediaman Elkan yang memiliki luas sepuluh kali lipat rumah Reynold. Furnitur dan pernak-pernik di dalamnya pun tak kalah mahal dari punya Elkan.
Sesampainya di dalam, Yuna langsung berhamburan saat menangkap keberadaan Aditama yang tengah duduk di ruang keluarga. Yuna memeluknya erat seakan sudah lama sekali tak bertemu dengannya, padahal minggu lalu Aditama baru saja berkunjung untuk melihat kedua cucunya.
Setelah Yuna melepaskan pelukannya, Elkan segera menyalami dan mencium punggung tangan mertuanya itu.
"Bagaimana kabar Ayah?" tanya Elkan dan Yuna bersamaan, keduanya duduk di samping Aditama.
"Seperti yang kalian lihat. Ayah sehat, sangat sehat malahan." sahut Aditama sambil tersenyum bahagia.
"Syukurlah, kami senang mendengarnya. Oh ya, Reynold mana Yah?" tanya Elkan menimpali.
"Reynold ada urusan di luar kota, katanya akan kembali malam ini. Kalian kok tumben main ke sini? Kenapa si kembar gak dibawa?" jawab Aditama dengan pertanyaan pula.
"Si kembar sengaja kami tinggal di rumah, repot kalau dibawa. Lagian kedatangan kami ke sini mau menjemput Ayah, besok acara syukuran si kembar. Sebagai Kakek satu-satunya, Ayah gak mau ketinggalan kan?" balas Yuna.
"Tentu saja gak mau, emangnya kamu sudah kuat?" tanya Aditama mengkhawatirkan keadaan Yuna.
"Kuat dong Yah, lagian ada pawangnya yang selalu nempel sama Yuna." Yuna melengkungkan sudut bibirnya sembari menatap Elkan dengan intim.
__ADS_1
"Ya, tepatnya pawang harimau." imbuh Elkan sembari mengulum senyumannya.
"Kok harimau sih Bang? Emangnya Yuna terlihat seperti binatang?" keluh Yuna dengan bibir mengerucut.
"Dikit," jawab Elkan enteng.
"Ihhhh..." Yuna yang merasa kesal disebut begitu langsung mengambil bantal dan melemparkannya ke wajah Elkan.
"Tuh kan, sekarang bukan kayak harimau lagi tapi sudah seperti singa." seloroh Elkan sembari tertawa terpingkal-pingkal. Keduanya saling melempar bantal hingga membuat Aditama mengerutkan keningnya.
Aditama yang melihat kelakuan mereka hanya bisa tersenyum, tentu saja dia sangat bahagia melihat kehangatan putri dan menantunya itu. Kini Aditama benar-benar lega melihat Yuna yang sudah bahagia bersama Elkan. Meski pernikahan mereka diawali dengan kontrak dan keterpaksaan, tapi akhirnya cinta mampu mengalahkan aral yang melintang.
"Silahkan baku hantam sepuasnya, Ayah ke kamar dulu siap-siap!" Aditama bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar.
"Tidak perlu terburu-buru Yah, Elkan mau menghukum anak Ayah dulu!" sorak Elkan sembari tersenyum licik.
Yuna menaiki anak tangga menuju kamar yang ada di lantai atas, sudah lama sekali dia tidak melihat kamar yang pernah ditempatinya itu. Meski hanya beberapa minggu saja, namun kamar itu memiliki kenangan yang cukup sulit bagi Yuna kala itu.
Di sana lah dia selalu menangis menumpahkan kesedihan saat berpisah dengan Elkan. Di sana juga dia menyadari bahwa dia telah jatuh cinta kepada suaminya itu dan akhirnya membuat konspirasi bersama Reynold untuk membuat Elkan cemburu.
Pada akhirnya konspirasi yang mereka lakukan berhasil membuat Elkan memanas hingga menculik Yuna pada acara malam itu.
Kalau diingat-ingat lagi, Yuna rasanya ingin tertawa dan berguling-guling di atas kasur. Lucu memang, tapi begitulah kenyataannya. Jika Yuna tidak melakukan itu, mungkin saja hingga saat ini dia belum tau bagaimana perasaan Elkan terhadap dirinya.
Yuna menekuk kakinya di sisi ranjang dan mengamati kamar tersebut dengan seksama. Seringai tipis melengkung di sudut bibirnya.
Elkan muncul dari balik pintu hingga membuat Yuna menarik senyumannya kembali. "Kenapa senyum-senyum sendiri?"
"Mana ada senyum, perasaan Abang aja kali." jawab Yuna enteng tanpa ekspresi sedikitpun.
__ADS_1
Elkan menaikkan alisnya, air mukanya nampak keruh. "Perasaan apanya? Jelas-jelas Abang lihat Yuna senyum tadi, mata Abang masih sehat loh sayang,"
"Hahahaha... Pengen tau aja, dasar kepo." Yuna bangkit dan berjalan menuju meja rias, lalu duduk di sana sambil menatap tubuh Elkan dari pantulan cermin. Seringai tipis kembali melengkung di sudut bibirnya.
Elkan mengerutkan keningnya. Entah apa yang terjadi dengan istrinya itu, seperti memancing tapi sok jual mahal. Elkan yang menyadari itu tentu saja mengerti maksud istrinya. Elkan kemudian berdiri dan berjalan meninggalkan kamar tanpa mempedulikan Yuna.
Yuna yang melihat itu langsung mendengus kesal. Berani sekali Elkan mengabaikannya, bahkan tidak menatapnya sedikitpun. Yuna menggembungkan pipinya dengan bibir mengerucut.
"Dasar suami dingin, tembok beton!" umpat Yuna penuh kekesalan.
Padahal dia berharap Elkan akan mendekatinya dan menanyakan apa yang membuatnya tersenyum. Nyatanya tidak ada respon sedikitpun dari suaminya itu.
Terpaksa Yuna mengikutinya dan turun menuju lantai bawah. Kebetulan Aditama sudah keluar dari kamar dan menjinjing sebuah tas kecil berisikan pakaian ganti.
Elkan langsung mengambil tas itu dari tangan mertuanya, lalu berjalan ke luar dan memasukkannya ke dalam mobil.
Tidak lama, Yuna menyusul sembari menggandeng tangan sang ayah. Saat keduanya tiba di dekat mobil, Elkan langsung membukakan pintu depan sebelah kiri. "Silahkan Yah!" Lalu Elkan membantu Aditama menaiki mobil.
Yuna menggertakkan giginya dan menatap Elkan dengan penuh kemarahan. Dia merasa sikap Elkan mendadak acuh tak acuh kepada dirinya. Elkan bahkan tidak membukakan pintu untuknya dan malah langsung duduk di bangku kemudi.
Yuna kemudian memelototi Elkan dan membuka pintu dengan kesal. Setelah Yuna duduk, Elkan segera menginjak pedal gas hingga mobil itu melaju meninggalkan pekarangan rumah.
Sepanjang perjalanan menuju kediaman Elkan, Yuna hanya diam sambil memainkan ponselnya. Dia masih kesal dengan perlakuan Elkan hingga berniat membalas suaminya itu.
Sementara Elkan sendiri terlihat santai melajukan mobilnya sambil mengobrol dengan Aditama, keduanya nampak akrab layaknya ayah dan anak. Tidak ada canggung sedikitpun diantara keduanya.
Elkan merasa seperti tengah berbicara dengan ayahnya sendiri. Ada sisi lain yang dia temukan dari diri Aditama.
Bersambung...
__ADS_1