
Pukul tiga dini hari Laura terbangun dari tidurnya, tenggorokannya terasa kering dan ingin minum saat ini juga. Karena di kamar tidak ada air minum, Laura langsung bangkit dan berjalan menuju pintu.
Setelah pintu terbuka, dia langsung melenggang menuju dapur. Karena lampu di ruangan itu mati dan hanya menyisakan lampu dapur saja, dia tidak bisa melihat dengan jelas bahwa ada seseorang yang tengah berbaring di atas sofa. Mata pria itu tertuju padanya, sementara Laura sendiri masih tak menyadari keberadaan pria itu.
Laura menuang air ke dalam gelas, lalu meneguknya seperti orang yang sudah lama tidak minum. Suara tegukan nya seketika membuat tubuh pria itu semakin kepanasan. Dalam pantulan cahaya remang-remang, Laura terlihat sangat menggoda apalagi mempertontonkan belahan dadanya yang bergerak turun naik.
Saat Laura ingin kembali ke kamar, tiba-tiba tubuhnya terasa melayang saat tangan seseorang menariknya hingga terjatuh di atas sofa. Sontak saja Laura panik dan berteriak sangat lantang.
"Aaaaaa... Tolo-"
Teriakan Laura langsung terhenti disaat bibir pria itu mendarat di bibirnya. Terasa lembut dan hangat, untungnya Laura cepat tersadar dan mencoba melakukan perlawanan. Sayangnya tenaga gadis itu tak cukup kuat untuk melawan.
"Jangan... Aku mohon," lirih Laura terisak.
Namun Reynold tak mendengarnya dan malah semakin berani melu*mat bibirnya hingga masuk semakin dalam.
Sebelum pulang ke apartemen, Reynold sempat bertemu dengan rekan bisnisnya. Tak disangka Reynold terjebak dalam situasi yang sangat rumit. Dia disuguhi minuman yang sudah dicampur obat perangsang. Beruntung Reynold cepat sadar saat beberapa ja*lang datang mendekatinya.
Awalnya Reynold tidak berniat untuk melepaskan hasrat yang sudah bergejolak di dirinya. Dia masih sanggup menahannya dan memilih menenangkan diri di sofa. Tapi siapa sangka Laura akan keluar di saat seperti ini, tubuh putih mulusnya hanya dibaluti lingerie tipis hingga membuat Reynold benar-benar tergoda.
Di dalam kegelapan yang tidak menampakkan wajahnya dengan sempurna, Reynold melampiaskan hasratnya yang sudah menggelora.
Laura menjerit sejadi-jadinya saat mahkotanya direnggut secara paksa. Bahkan tangisan gadis itu seakan tak berarti apa-apa untuknya. Reynold terus saja menekan inti Laura sambil menggigit leher dan dadanya hingga meninggalkan begitu banyak tanda merah. Reynold benar-benar menggila hingga membuat Laura tak berdaya di bawah kungkungan nya.
Usai menikmati puncak kepuasannya, Reynold terjatuh tak sadarkan diri di atas tubuh Laura. Laura mendorongnya hingga terguling di dasar lantai, kemudian dia menguatkan diri untuk bisa mencapai kamar sebelum Reynold terbangun.
Tiba di kamar, Laura langsung mengunci pintu dan meraung sejadi-jadinya sambil bersandar di daun pintu. Apalagi yang bisa dia banggakan dari dirinya, semua sudah hilang diambil paksa oleh pria bajingan yang sama sekali tidak dia kenal.
"Aaaaaa..."
Laura berjongkok dan menarik rambutnya hingga rontok. Teriakannya yang lantang membuat seisi kamar menggema.
"Siapa pun kau, aku mengutuk mu karena sudah mengambil kesucian ku dengan paksa. Kau tidak akan pernah bahagia, aku membencimu. Sampai mati pun aku tidak akan memaafkan mu."
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Laura mencoba bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Sayang sekali tubuhnya mendadak oleng, tatapan matanya nanar hingga terjatuh di ambang pintu. Kepalanya membentur kaki meja yang tajam, darah segar pun mengalir di dahinya hingga membuatnya tidak sadarkan diri.
Tiga jam kemudian, Reynold terbangun sambil memegangi kepalanya yang masih terasa pusing. Dia mencoba mengingat apa yang terjadi, lalu tersentak saat menyadari tubuhnya yang sudah polos tanpa sehelai benang pun.
Tentu saja Reynold sangat syok saat mengingat apa yang sudah dia lakukan terhadap Laura. Kenapa dia harus kehilangan kendali hingga menghancurkan masa depan seorang gadis?
Reynold memunguti pakaiannya dan mengenakannya dengan cepat, lalu berlari menuju pintu kamar. Air mukanya nampak begitu gelisah.
Hampir sepuluh menit Reynold menggedor pintu, tapi tak ada sahutan sama sekali dari dalam sana. Akhirnya dia pun mendobrak pintu tersebut hingga terbuka lebar.
Mata Reynold seketika membulat saat mendapati tubuh polos Laura yang tergeletak di dasar lantai. Panik, tentu saja. Reynold sama sekali tidak pernah berpikir untuk melakukan hal sekeji itu. Apalagi terhadap gadis yang sudah mencuri perhatiannya. Reynold memang menginginkannya, tapi bukan dengan cara seperti itu.
Dengan langkah tertatih, Reynold segera menghampiri Laura. Dia berjongkok dan membopongnya, lalu membaringkannya di atas kasur. Mata Reynold berkaca melihat darah yang sudah membeku di dahi Laura. Belum lagi banyaknya tanda merah yang sudah dia ukir di leher dan dada gadis itu.
"Maafkan aku, maaf." lirih Reynold sambil menutupi tubuh Laura dengan selimut. Dia sungguh menyesal karena tak bisa mengendalikan diri.
Kenapa Reynold jadi sekejam itu? Ini bukan dia, Reynold tidak begitu. Lalu kenapa Reynold melakukan hal menjijikkan seperti itu kepada gadis malang itu?
Seketika Reynold kembali tersadar, dia teringat dengan kejadian semalam saat menjamu rekan bisnisnya di sebuah klub malam. Satu diantara mereka sudah bermain curang, atau mungkin hal itu sudah mereka rencanakan sebelumnya.
Reynold meninggalkan kamar dan segera membereskan sofa. Dia bergegas mengelap bercak darah yang menempel di dudukan sofa agar Mbok Ati tidak melihatnya, lalu Reynold menyiapkan air panas dan handuk kecil untuk mengelap tubuh Laura. Tak lupa pula dia membawa kotak P3K ke dalam kamar.
Sesampainya di kamar, Reynold menyingkap selimut yang menutupi tubuh Laura lalu mengelapnya dengan penuh kelembutan. Nampak raut penyesalan yang begitu dalam di matanya menyaksikan dampak perbuatannya dini hari tadi.
Reynold berjanji akan bertanggung jawab atas perbuatannya. Dia akan menikahi Laura secepat mungkin, bila perlu hari ini juga.
Setelah mengelap tubuh Laura, Reynold memakaikan pakaian di tubuh gadis itu, lalu membersihkan darah beku di dahi Laura dan menempelnya dengan plester.
Sebelum Laura sadar, Reynold segera membersihkan diri di kamar mandi. Setengah jam kemudian dia keluar dan mendapati Laura yang sudah bangun dan hendak turun dari ranjang.
Segera Reynold menghampirinya dan berkata. "Kamu mau kemana?" Lalu Reynold pun menahannya.
Laura menatap wajah Reynold dengan tatapan pilu yang begitu menyayat hati. Hal itu membuat Reynold tertegun tanpa kata, dia sangat menyadari kesalahannya.
__ADS_1
"Bajingan... Brengsek... Cepat lepaskan aku! Jangan berani-beraninya menyentuhku dengan tangan kotor mu itu!" bentak Laura dengan suara serak menahan air mata yang nyaris tumpah membasahi pipinya.
"Maaf, aku-"
"Plaaak!"
Sebelum Reynold selesai berbicara, tamparan keras sudah lebih dulu mendarat di wajahnya hingga menyisakan lukisan indah berbentuk lima jari.
"Ayo, pukul lagi sampai kamu puas!" pinta Reynold sambil meraih tangan Laura, lalu mengayunkannya ke pipinya.
"Jika dengan memukulmu bisa mengembalikan kesucian ku, maka aku akan melakukannya sampai kau mati." lirih Laura menitikkan air matanya, lalu membuang pandangannya ke arah lain.
"Tolong maafkan aku, aku tidak bermaksud mengambil paksa milikmu dengan cara seperti tadi. Semalam aku dijebak, aku tidak tau kenapa aku sampai melakukan itu padamu. Aku sudah berusaha menahannya, tapi tiba-tiba kamu keluar. Aku tidak mampu mengendalikan diriku sendiri. Aku akan bertanggung jawab, aku akan menikahi mu." jelas Reynold penuh keyakinan.
Laura memutar lehernya hingga pandangan mereka kembali bertemu. "Tidak perlu! Jika kau dijebak, berarti itu bukan salahmu. Sekarang biarkan aku pergi, aku-"
"Laura, aku mohon. Jangan pergi, kita akan menikah. Aku janji akan memperlakukanmu selayaknya istri, aku tidak akan menyakitimu." tegas Reynold.
Mendengar itu, air mata Laura semakin mengucur deras tak terbendung. "Tapi aku tidak mau jadi istrimu, biarkan aku pergi!"
Laura mendorong dada Reynold, dia mencoba menjauh namun Reynold dengan cepat memeluknya.
"Aku mohon Laura, jangan pergi!" pinta Reynold dengan suara lembutnya. Tubuh Reynold yang hangat membuat Laura bergeming untuk sesaat.
"Jadilah istriku, aku janji akan menjagamu dan membahagiakanmu." imbuh Reynold.
Permintaan Reynold itu membuat Laura semakin kacau hingga tangisannya pecah memenuhi seisi kamar.
"Aku tidak mau menjadi istrimu, aku tidak mau merebut suami orang. Tolong biarkan aku pergi, aku tidak akan menuntut apa-apa darimu. Anggap saja kecelakaan itu tidak pernah ada!" isak Laura di dalam dekapan dada Reynold.
"Deg!"
Reynold mengerutkan keningnya dengan mata menyipit, dadanya berdetak kencang mendengar ucapan Laura barusan. Merebut suami orang? Siapa yang merebut suami siapa? Reynold benar-benar tidak mengerti maksud ucapan gadis itu.
__ADS_1
Bersambung...