
Setelah memasuki kamar dan menutup pintu, Reynold membaringkan Laura di atas ranjang lalu membuka kancing kemeja yang melekat di tubuhnya. Setelah melepaskan kemeja itu, Reynold membuka celananya.
Reynold kemudian melangkah memasuki kamar mandi, tubuhnya terasa gerah hingga membutuhkan waktu untuk berendam beberapa saat.
Setengah jam kemudian, Reynold keluar dengan balutan handuk yang melingkar di pinggangnya. Wajahnya nampak segar dengan tetesan air yang masih menempel di ujung rambutnya. Laura yang melihat itu segera memalingkan pandangannya.
Tak dipungkiri bahwa Reynold terlihat begitu gagah di mata Laura, hatinya selalu bergetar melihat perawakan suaminya yang begitu mempesona. Apakah Laura sudah mulai jatuh cinta pada Reynold? Entahlah, Laura belum bisa memastikan perasaannya sendiri.
Setelah mengenakan pakaian tidur dan mengeringkan rambutnya, Reynold merangkak menaiki ranjang dan berbaring di samping Laura lalu melingkarkan tangannya di perut istrinya itu. Tidak lama, mereka berdua pun tertidur saking lelahnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di tempat lain, Elkan dan Yuna tengah duduk di taman depan villa. Yuna melingkarkan tangannya di pinggang Elkan dan merebahkan kepalanya di bahu suaminya itu. Tidak terasa sudah seminggu mereka berlibur di sana dan besok mereka harus kembali ke kediaman Bramasta.
Sore tadi Elkan baru saja menerima telepon dari Andin yang merupakan sekretaris Beno. Wanita itu mengatakan bahwa di perusahaan ada masalah sejak tiga hari terakhir. Andin sudah berusaha menghubungi Beno tapi panggilannya selalu ditolak, akhirnya dia terpaksa menghubungi Elkan.
Elkan menghela nafas berat sambil mengelus rambut Yuna yang terurai panjang, sesekali dia mengecup kening istrinya itu dengan sayang. Tapi pikirannya tengah berada entah dimana.
Yuna mendongakkan kepalanya. "Abang kenapa?"
"Tidak apa-apa, Abang hanya lelah." jawab Elkan sambil memaksakan diri untuk tersenyum.
"Bohong, Abang sama sekali tidak terlihat seperti orang lelah. Yuna tau Abang lagi memikirkan sesuatu, apa Abang masih mengkhawatirkan Laura?" Yuna memanyunkan bibirnya, lalu menjauh dari Elkan.
"Apaan sih sayang, siapa juga yang mikirin dia?" Elkan menyipitkan matanya, kemudian menarik Yuna ke dalam dekapannya. "Jangan bodoh! Wanita Abang cuma Yuna seorang. Yuna lupa bahwa dia itu milik Reynold, mana mungkin Abang mikirin dia?"
"Siapa tau saja, namanya juga laki-laki. Mana puas hanya sama satu wanita saja?" Yuna ingin mengatakan itu tapi tidak berani menyuarakannya.
Elkan menghela nafas. "Ada sedikit masalah di perusahaan, sepertinya ada yang sengaja menyabotase produk kita. Kata Andin produk tersebut gagal uji coba kelayakan, telah ditemukan zat kimia berbahaya di dalamnya. Untung saja produk tersebut belum didistribusikan, tapi kita mengalami kerugian yang cukup besar."
__ADS_1
Elkan menjelaskan sambil menumpukan dagunya di pundak Yuna. Bukan masalah kerugian yang jadi pemikirannya, tapi siapa orang yang sudah tega melakukan hal tersebut. Tentu saja ada musuh yang tengah menyusup ke dalam perusahaan, tapi siapa?
"Siapa orang yang tega melakukan itu Bang?" Yuna menautkan alisnya.
"Abang juga tidak tau," Elkan mengusap wajahnya kasar. "Besok kita kembali pagi-pagi sekali ya, Yuna gak marah kan?"
"Gak kok Bang, kita sudah seminggu di sini. Memang sudah waktunya kembali, lagian Abang harus menyelesaikan ini segera kan?"
"Iya, maafin Abang ya."
"Gak usah minta maaf, seminggu ini Yuna sudah cukup bahagia di sisi Abang. Abang yang sabar ya, semoga masalah ini cepat selesai."
"Makasih atas pengertiannya, Abang beruntung memiliki istri seperti Yuna. Abang janji lain kali akan memberikan waktu Abang lebih banyak lagi untuk Yuna. Semua ini diluar kendali Abang."
"Gak apa-apa Bang, Yuna bisa mengerti."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mau tidak mau, Yuna terpaksa melayani suaminya di pagi buta seperti ini. Suasana kamar mandi menjadi gaduh seiring pergulatan panas yang mereka lakukan. Suara rintihan dan desa*han mengalun merdu di dalam sana.
Satu jam berlalu, keduanya keluar dengan tubuh yang sudah segar bugar. Setelah mengenakan pakaian, Yuna duduk di depan meja rias dan memoles wajahnya dengan sedikit riasan tipis.
"Sudah cantik sayang, tidak perlu dandan aneh-aneh." ucap Elkan sambil tersenyum, lalu merapikan pakaiannya dan berdiri di belakang Yuna.
"Cuma pakai lipstik doang kok Bang biar bibir Yuna gak pucat,"
Yuna memanyunkan bibirnya beberapa senti. Hal itu membuat Elkan gemas dan mengangkat dagu Yuna, lalu mengesap bibirnya dari belakang.
"Percuma pakai lipstik, ujung-ujungnya habis juga sama Abang." gumam Elkan setelah melepaskan tautan bibir mereka.
__ADS_1
"Itu sih maunya Abang," Yuna mengulum senyumannya.
"Mau gimana lagi sayang, atas bawah sama tebalnya sih. Bikin candu, hahahaha..." Elkan malah tertawa terbahak-bahak, hal itu membuat pipi Yuna bersemu merah.
"Ngomong apa sih? Kotor terus pikirannya," Yuna bangkit dari duduknya dan menyikut perut Elkan, lalu berjalan meninggalkan kamar.
Yuna melanjutkan langkahnya menuju kamar Diah. Setelah membuka pintu, dia langsung tersenyum melihat si kembar yang masih terlelap di dalam box mereka.
"Sayang Mama belum pada bangun ya," ucap Yuna sambil mendekat, lalu menciumi pipi gembul Edgar dan Elga secara bergantian. "Diah, kamu siap-siap ya, kita kembali sekarang!" imbuh Yuna.
"Baik Nyonya," angguk Diah.
Yuna kemudian memindahkan si kembar ke dalam stroller, lalu mendorong stroller itu ke kamarnya. Sesampainya di kamar, Elkan langsung menghampiri anak dan istrinya itu.
"Belum pada bangun?" Elkan mengerutkan keningnya, lalu berjongkok dan mengecup pipi si kembar secara bergiliran.
"Masih jam lima Bang, biarkan saja mereka tidur. Kalau dibangunin sekarang, takutnya rewel saat di mobil nanti." jelas Yuna.
Elkan manggut-manggut mendengar itu. Benar juga yang dikatakan Yuna barusan, biarlah mereka tidur dulu.
Setengah jam kemudian, mereka semua sudah berada di luar villa. Elkan memanaskan mobil dan menyusun barang-barang si kembar di bagasi. Sebelum keluar tadi, mereka sempat mengganjal perut dengan sepotong roti dan secangkir teh. Lumayan untuk satu jam ke depan.
Kini Elkan sudah duduk di bangku kemudi, Yuna duduk di sebelahnya memangku Elga sementara Diah duduk di bangku belakang memangku Edgar. Karena semuanya sudah siap, Elkan langsung mengemudikan mobilnya menuju kota.
Sepanjang perjalanan pulang, Elkan hanya fokus mengendarai mobilnya. Tidak ada percakapan diantara mereka sebab Yuna sendiri sudah terlelap saking letih nya. Begitu juga dengan Diah yang memilih tidur untuk menghindari mabuk perjalanan.
Elkan sesekali melirik ke arah Yuna, seringai tipis melengkung di sudut bibirnya melihat air muka polos istrinya itu. Benar-benar cantik sehingga membuat jantung Elkan berdenyut kencang setiap memandanginya.
Bersambung...
__ADS_1