Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 48.


__ADS_3

Saat jam makan siang tiba, Yuna keluar dari ruang ganti. Untuk hari ini pekerjaannya sudah selesai, semua berjalan dengan baik sesuai keinginan. Semua file sudah ada di tangan Ferry, dia hanya perlu mengedit beberapa part agar terlihat lebih menarik.


"Semua, bagaimana kalau siang ini kita makan di kantin bawah saja! Itung-itung untuk menyambut kembalinya Yuna, sekaligus mempererat kekompakan tim kita." seru Ferry dengan penuh semangat.


Yuna mendongak dengan mata terbuka lebar. "Tapi Fer...,"


"Ayolah Yuna, kali ini saja!" ajak Ferry.


"Iya Yuna, aku setuju. Kapan lagi kita bisa makan siang bersama?" tambah Maya.


"Yang lain setuju kan?" seru Ferry.


Semua tim mengangguk setuju, membuat Yuna bingung harus menjawab apa. Sebenarnya siang ini dia ingin makan siang bersama Elkan, dia juga sudah berjanji akan menemui Elkan setelah pekerjaannya selesai.


Tak enak menolak ajakan Ferry dan yang lainnya, Yuna akhirnya mengangguk. Saat mereka semua berjalan meninggalkan ruangan, Yuna dengan cepat mengeluarkan ponselnya lalu mengirim pesan untuk Elkan.


Yuna : [Elkan, aku makan siang di kantin bawah ya. Aku tidak enak menolak ajakan mereka. Aku janji akan menemui mu setelah makan siang usai.]


Elkan menatap ponselnya yang tengah bergetar di atas meja. Seulas senyum terukir jelas di bibirnya mendapati pesan masuk dari sang istri.


Elkan : [Ya sudah, makan yang banyak ya sayang!]


Yuna tersenyum sumringah membaca balasan dari Elkan, dia pikir Elkan akan marah nyatanya tidak sama sekali.


Yuna : [Kamu dimana? Apa kamu tidak makan siang?]


Elkan : [Malas ah, selera makan ku sudah hilang.]


Yuna : [Loh, kok gitu sih? Kamu marah ya?]


Elkan : [Tidak, untuk apa aku marah?]


Yuna : [Tunggu aku ya! Aku akan membawakan makan siang untukmu. Love you]


Kali ini Elkan tak mau lagi membalas pesan dari Yuna, setidaknya kata-kata yang ditulis Yuna barusan sudah membuatnya begitu bahagia.


"Aku juga mencintaimu sayang," batin Elkan sembari tersenyum sumringah, lalu meletakkan ponselnya di atas meja.


Di kantin, semua orang tengah mengantri menunggu giliran. Kantin tersebut menghidangkan prasmanan di atas meja, jadi semua karyawan yang makan di sana bisa leluasa mengambil makanan yang diinginkan.


Setelah piring mereka terisi, semuanya duduk di sebuah bangku panjang yang saling berhadapan. Cukup untuk menampung mereka yang berjumlah 10 orang.

__ADS_1


"Yuna, ceritain pada kami dong! Sejak kapan kamu dan Tuan Elkan menikah?" tanya Maya penasaran, dia adalah salah satu karyawan dari tim mereka yang agak berisik dari yang lainnya.


"Kepo ya?" celetuk Yuna dengan senyum tipis.


"Sedikit, awalnya kami hanya mendengar desas-desus dari mulut ke mulut. Tapi setelah melihat kedekatan kalian tadi pagi, aku baru yakin." tambah Maya menuntut penjelasan.


"Iya Yuna, ceritakan saja pada kami! Kami ini kan temanmu," sambung Ferry yang juga penasaran, dia sudah ikhlas karena menyadari dirinya tak layak untuk Yuna.


"Hehehe, kalian ini ya." Yuna terkekeh melihat ekspresi semua orang yang sudah tak sabar menunggu jawabannya.


"Sudah hampir 3 bulan, tepatnya 2 hari sebelum aku menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di perusahaan ini." jelas Yuna mengakui kebenarannya.


"Astaga, jadi selama ini kamu membohongi kami?" tanya Maya sembari menautkan alisnya.


"Tidak, kapan aku membohongi kalian? Diantara kalian tidak ada yang pernah bertanya, jadi mana mungkin aku mengatakan itu pada kalian?" sahut Yuna dengan santainya.


"Iya juga ya, berarti bukan salah siapa-siapa." Ferry mengangguk-angguk pelan.


"Kalau begitu selamat ya. Semoga rumah tangga kalian bahagia sampai kakek nenek. Kami ikut senang, ternyata teman kami adalah istri bos besar kami sendiri."


"Terima kasih untuk doanya."


Saat pintu lift terbuka lebar, Yuna melenggang menuju ruangan Elkan. Dipikirannya, Elkan mungkin tengah mengumpat menunggu dirinya yang tak kunjung datang. Sementara jam makan siang sudah terlewat beberapa menit.


"Tok Tok Tok"


Suara ketukan pintu membuat Elkan terperanjat di tempat duduknya. Setelah melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, Elkan tersenyum sinis sembari meluruskan posisi duduknya.


"Masuk!" seru Elkan dengan tegas dan lantang. Sekilas terdengar dingin membekukan hati.


Yuna mendorong pintu perlahan. Saat kepalanya menjulur masuk, Elkan berlagak cuek seakan tak menyadari kedatangan istrinya.


"Siang Tuan Elkan, boleh aku masuk?" ucap Yuna dengan suara lembut nan menggoda.


"Kenapa masih bertanya? Tidak dengar aku berteriak selantang tadi?" Elkan mendengus kesal. Bukannya langsung masuk, Yuna malah mengulur waktu hingga membuat Elkan geram.


"Hehehe," Yuna menyeringai seakan tak bersalah sedikitpun.


Setelah menutup pintu, Yuna melenggang masuk dengan santainya. Bukannya langsung menghampiri Elkan yang tengah merajuk, dia malah duduk di sofa dan menata makanan yang dia bawa di atas meja.


"Ya ampun, wanita ini benar-benar menguji kesabaran ku. Apa dia tidak peka melihat wajahku yang sudah kusut begini?" gerutu Elkan di dalam hati, kekesalannya semakin menjadi melihat sikap Yuna yang seakan mengabaikan dirinya.

__ADS_1


"Elkan, kemarilah! Kamu makan dulu ya," panggil Yuna tanpa beranjak dari posisinya.


"Astaga, dia malah diam saja seperti patung. Begini kah caranya memperlakukan aku?" Elkan mengeratkan rahangnya menahan kesal yang semakin menjalar hingga ubun-ubun.


"Elkan, kenapa diam saja? Ayo kemari!" panggil Yuna lagi.


"Gak mau," ketus Elkan sembari mengalihkan pandangannya.


Melihat sikap Elkan yang kekanak-kanakan seperti itu, Yuna tak kuasa menahan tawa yang menggelitik di perutnya. Dia segera bangkit dan melangkah menghampiri Elkan.


Yuna melebihi langkahnya. Kini dia sudah berdiri di belakang kursi Elkan. Tanpa ragu, Yuna melingkarkan tangannya di leher Elkan dan mengapitnya dengan manja.


"Jangan marah sayang! Maaf ya sudah membuatmu menunggu lama, aku tidak enak menolak ajakan mereka." bujuk Yuna meyakinkan Elkan, tangannya merayap pelan di dada Elkan.


"Deg"


Elkan nampak kesulitan meneguk ludahnya. Sentuhan yang dilayangkan Yuna barusan membuat bulu kuduknya meremang. Sebongkah jantungnya terasa melorot, bergemuruh membangkitkan gairah lelakinya yang membara.


"Jangan marah lagi sayang! Makan dulu yuk, aku gak mau suamiku sakit hanya gara-gara ini!" bisik Yuna tepat di telinga Elkan, hal itu semakin membangkitkan hasrat yang menggebu di dirinya. Sesuatu yang tadinya tengah terlelap, kini sudah terbangun dengan sendirinya, bahkan membuat celananya terasa menyempit.


"Sayang, bisakah aku memakan mu terlebih dahulu? Aku tidak bisa menahan ini lebih lama, rasanya begitu menyakitkan." pinta Elkan sembari menengadahkan kepalanya, wajahnya merah menyala bak singa kehausan.


"Deg"


Yuna terperanjat kaget, lalu melepaskan diri dan mundur satu langkah. "Elkan, apa yang kamu bicarakan?"


Elkan memutar kursi kebesarannya sehingga menghadap Yuna, dia segera bangkit dan meraih tangan istrinya, lalu meletakkannya diantara kedua pahanya.


"Deg"


Lagi-lagi Yuna terperanjat, kali ini jantungnya bergemuruh kencang seakan ingin melompat tanpa arah. Yuna bersusah payah menelan ludahnya, mana mungkin dia menuruti keinginan Elkan di kantor seperti ini.


"Elkan...,"


Belum selesai Yuna berbicara, bibir Elkan sudah mendarat di bibir Yuna. Elkan melu*matnya dengan rakus, dia benar-benar menggila memasuki mulut Yuna semakin dalam.


Permainan lidah Elkan membuat tubuh Yuna melemah, dia tak berdaya menolak keinginan suaminya. Gejolak hasrat di dirinya ikut memuncak, jiwa kewanitaannya meronta ronta meminta lebih.


Elkan melepaskan pagutannya. Dengan entengnya dia mengangkat tubuh semok istrinya, lalu membawanya ke kamar pribadi miliknya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2