
Yuna merebahkan kepalanya di lengan Elkan. Sebagai seorang wanita dia bisa merasakan bagaimana beratnya Laura menanggung penderitaan ini. Dia sendiri pernah berada di posisi yang sama, bahkan sampai koma berbulan-bulan lamanya.
"Apa Abang tidak ingin melihat Laura? Bagaimanapun kalian berdua pernah saling mencintai, Abang pasti khawatir kan dengan keadaannya Laura?" tanya Yuna.
Elkan mengerutkan keningnya, dia tidak menyangka Yuna akan berkata seperti itu padanya. "Dia istrinya Reynold, biarkan Reynold yang mengurusnya. Kalau mereka sudah kembali ke Jakarta, baru kita semua datang melihatnya." jawab Elkan enteng, dia tidak ingin salah bicara yang nantinya bisa menimbulkan perdebatan diantara mereka berdua.
"Benar kata Elkan, nanti saja kita melihatnya sama-sama. Untuk saat ini biarkan Reynold yang mengurusnya, dia sudah menjadi tanggung jawab Reynold sepenuhnya." timpal Beno.
Dia juga tidak ingin hal ini menimbulkan permasalahan dalam rumah tangga Yuna dan Elkan. Beno tau pasti kalau Yuna masih was was mengingat suaminya yang pernah mencintai Laura. Apalagi Elkan pernah menyakiti Yuna karena kekecewaannya terhadap Laura yang meninggalkannya kala itu.
Yuna menganggukkan kepalanya, dia mengerti maksud ucapan kedua pria itu. Dalam hati dia merasa sangat senang karena Elkan masih memikirkan perasaannya. Setidaknya Yuna bisa bernafas dengan lega.
Di waktu yang bersamaan, Laura terbangun dari tidurnya dan mendapati Reynold yang masih duduk di samping ranjangnya. Reynold masih menggenggam erat tangannya, hal itu membuat hati Laura terenyuh hingga meneteskan air matanya.
Kenapa Reynold masih saja menunggunya? Kenapa Reynold tidak pergi saja meninggalkannya? Apa yang suaminya itu harapkan dari wanita cacat sepertinya? Dia hanya akan menjadi beban untuk suaminya itu.
Reynold menatap manik mata Laura dengan intim, lalu tersenyum dan mengecup punggung tangan istrinya itu dengan lembut.
"Sudah bangun? Bagaimana tidurnya?" tanya Reynold dengan suara lembutnya, hal itu mampu menggetarkan hati Laura yang keras seperti batu karang di lautan luas.
"Hmm... Nyenyak," jawab Laura singkat dengan matanya yang sendu.
Reynold kemudian melepaskan genggaman tangannya, dia kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar mandi. Segera Reynold menyiapkan handuk kecil dan mengelap wajah Laura yang mulai berkeringat. Setelah itu Reynold mengambil nampan yang ada di atas nakas, lalu duduk di kursinya dan menyuapkannya makan.
Awalnya Laura menolak tapi Reynold berhasil meyakinkannya hingga Laura pun menurut dan membuka mulutnya. Air mata Laura kembali berguguran sambil mengunyah makanan yang ada di mulutnya.
Reynold yang melihat itu langsung menyeka pipi Laura dengan jemarinya. "Jangan nangis lagi, Mas janji tidak akan marah lagi sama kamu. Sekarang makan yang banyak biar cepat sembuh, biar kita bisa kembali ke Jakarta. Kali ini kita akan pulang ke rumah, bukan ke apartemen lagi. Mas akan mengenalkan kamu sama Ayah dan juga adik Mas."
"Tapi Mas-"
"Sudah, tidak ada tapi tapi. Makan saja yang banyak, tidak perlu mikir macam-macam!" Reynold kembali menyuapi Laura hingga habis tak bersisa.
__ADS_1
Selesai makan, Reynold mengambilkan obat dan membantu Laura meminumnya. Setelah itu Reynold masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah tubuhnya terasa segar, Reynold duduk di samping ranjang dan menatap Laura tanpa kedip. Entah kenapa dia begitu sangat menyukai istrinya itu meski dalam waktu yang begitu singkat, Laura memiliki aura yang berbeda sehingga tidak sulit membuat Reynold jatuh cinta padanya.
"Apa Mas boleh berbaring di sini?" tanya Reynold sambil mengusap permukaan kasur.
Laura mengangguk lemah pertanda dia mengizinkan Reynold berbaring di sampingnya. Lalu Reynold pun naik ke ranjang dan berbaring dengan posisi miring.
Reynold menangkup telapak tangannya di pipi Laura, lalu mengelusnya dengan lembut dan mengecup bagian lainnya dengan sayang. Hembusan nafasnya yang hangat membuat jantung Laura berdegup kencang seakan tengah berolahraga. Ada perasaan aneh hinggap di hatinya saat merasakan sentuhan Reynold tersebut.
Lalu Reynold merentangkan tangannya dan menjadikan lengannya sebagai bantalan untuk Laura, dia mendekap erat tubuh istrinya itu dalam dekapan dadanya.
"Mas sayang sama kamu, Mas mohon jangan tinggalkan Mas lagi!" lirih Reynold dengan mata berkaca.
Lagi-lagi Laura hanya mengangguk lemah tanpa berucap sepatah katapun. Dia merasa nyaman di sisi Reynold, apa itu artinya dia sudah bisa membuka hatinya untuk Reynold. Pria yang baru saja dia kenal dan menikahinya dalam waktu yang sangat singkat.
Laura membenamkan wajahnya di dada Reynold, lalu memejamkan matanya.
"Sayang..." panggil Reynold.
"Apa kamu pernah mencintai seseorang?" tanya Reynold yang membuat Laura terperanjat dan kembali membuka matanya.
"Kenapa Mas bertanya seperti itu?" jawab Laura dengan pertanyaan pula.
"Hehe... Tidak apa-apa, Mas hanya ingin tau saja." sahut Reynold.
Laura menghela nafas dan mendongakkan kepalanya. Tatapan keduanya saling bertemu dan menyatu untuk sesaat.
"Pernah sekali," ucap Laura jujur hingga membuat dada Reynold berdenyut ngilu. Meski dia sendiri sebenarnya sudah tau tapi tetap saja pengakuan Laura itu membuat hatinya teriris. "Tapi itu dulu, sekarang tidak lagi." imbuh Laura, tentu saja hal itu membuat Reynold bisa bernafas dengan lega.
"Kenapa tidak lagi?" tanya Reynold mencari tau.
__ADS_1
"Itu hanya masa lalu, sekarang dia sudah menikah. Jalan kami sudah berbeda," jawab Laura.
"Jika suatu hari kalian bertemu lagi bagaimana? Apa perasaan itu akan muncul kembali?" tanya Reynold berandai-andai.
"Tidak akan, aku sudah ikhlas dan sudah melupakannya. Dia pasti sudah bahagia bersama istrinya, aku pun harus bahagia dengan hidupku sendiri." jawab Laura.
Mendengar itu, tentu saja Reynold merasa sangat bahagia. Seringai tipis melengkung di sudut bibirnya, dia kemudian mempererat pelukannya.
"Ada yang ingin Mas sampaikan, tapi kamu harus janji tidak akan marah atau pun mencurigai Mas. Semua ini diluar kendali Mas, Mas juga baru tau saat tiba di Jakarta beberapa hari lalu." ucap Reynold mewanti-wanti.
"Apa itu?" tanya Laura.
"Jadi gini," Reynold menghirup udara sebanyak-banyaknya dan mencoba mengatur nafas. "Sebenarnya Mas kenal dengan mantan kekasihmu itu,"
"Deg!"
Mendadak jantung Laura berdetak kencang, dia terlonjak dan menjauhkan diri dari suamimu itu. Air mukanya berubah gelap dan menilik manik mata Reynold dengan intim.
"Jangan marah, Mas benar-benar tidak tau." Reynold menatap Laura dengan sendu. "Sepulang dari Bali, Mas mampir ke rumah adik Mas. Saat itu Mas menceritakan pada mereka kalau Mas menyukai seorang gadis dari perusahaan cabang, mereka sangat senang mendengarnya. Tapi saat Mas bilang nama kamu Laura Fransiska, mereka semua terkejut, lalu-"
"Kenapa mereka terkejut?" timpal Laura menautkan alisnya.
"Karena suami adik Mas itu adalah Elkan, mantan kekasih kamu." jawab Reynold jujur.
Laura membulatkan matanya dengan mulut sedikit menganga, dia terdiam untuk beberapa saat. Kenapa dunia ini begitu sempit? Kenapa dia harus dihadapkan kembali dengan pria yang sudah menjadi masa lalunya itu.
"Mas mohon, kamu jangan marah sama Mas! Ini hanya kebetulan, Mas sungguh tidak tau cerita ini sebelumnya. Tadi yang memberitahu Mas kalau kereta api yang kamu tumpangi kecelakaan adalah mereka. Mereka yang menelepon Mas setelah melihat berita di sosial media. Tolong jangan salah paham, Mas tidak ada niat mempermainkan perasaan kamu. Mas-"
Ucapan Reynold tiba-tiba terhenti saat bibir Laura mendarat di bibirnya. Untuk apa lagi memikirkan pria itu, Laura sudah tidak ada perasaan apa-apa lagi padanya. Sekarang sudah ada pria tampan yang berbaring di sampingnya itu dan Laura sudah mulai membuka hatinya.
"Aku tidak menginginkan dia lagi, aku-"
__ADS_1
Kini giliran ucapan Laura yang terhenti saat Reynold melu*mat bibirnya dengan penuh kelembutan. Hawa di ruangan itu tiba-tiba menjadi panas, deru nafas keduanya berpacu memecah keheningan malam.
Bersambung...