Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 171.


__ADS_3

Semua orang sudah bersiap-siap di kamar masing-masing. Para wanita berdandan secantik mungkin termasuk Diah dan Lili, meski hanya berstatus pelayan tapi keduanya tidak pernah dibedakan di dalam keluarga itu. Derajat mereka sama saja, hal itulah yang membuat mereka berdua betah bekerja dengan keluarga itu.


Usai merapikan penampilan mereka di depan cermin, keduanya keluar dari kamar dan mengetuk pintu kamar utama. Setelah Yuna membukakan pintu, keduanya masuk dan mengambil si kembar lalu membawa mereka turun lebih dulu. Dua bayi mungil itu juga memakai pakaian dengan warna yang sama, terlihat sangat imut dan lucu.


Setelah Diah dan Lili menghilang, Yuna segera menutup pintu dan membantu Elkan merapikan pakaiannya. Yuna mengikatkan dasi kupu-kupu di kerah kemeja suaminya itu, tak lupa memasangkan bros di jas yang melekat di tubuh Elkan.


"Makasih sayang," gumam Elkan, lalu mengecup kening Yuna dan turun ke bibirnya. Sedikit luma*tan membuat Yuna terpaku untuk sejenak.


"Uhm..."


"Sudah dong Bang, Yuna udah capek nambah lipstik terus dari tadi!" keluh Yuna dengan bibir mengerucut. Sejak tadi entah sudah berapa kali Elkan melu*mat bibirnya tanpa bosan sedikit pun. Yuna sudah lelah bolak-balik duduk di depan meja rias memperbaiki dandanannya.


"Hehehehe... Maaf sayang, habisnya enak sih." seloroh Elkan, tawanya menggelegar memenuhi seisi kamar. Keduanya kemudian meninggalkan kamar dan turun menuju aula.


Di kamar kedua, Reni masih duduk di depan meja rias. Beno menghampiri setelah merapikan pakaian dan berdiri di belakangnya.


"Turun yuk!" ajak Beno sambil menatap Reni dari pantulan cermin.


Reni ikut menatap Beno. "Mas, boleh tidak aku di kamar saja? Aku lagi malas kemana-mana,"


Seketika mata Beno menyipit, keningnya mengkerut mendengar permintaan istrinya itu. "Reni, kamu yang benar saja. Masa' Mas turun sendirian? Apa kata orang-orang nanti?"


"Tidak usah di dengar!" timpal Reni.


"Deg!"


Beno terperangah dan sontak mengurut dada. Dia tak menyangka Reni akan berkata seperti itu padanya. Lagi-lagi Beno merasa aneh dengan perubahan istrinya itu. "Mas mohon Reni, kali ini saja temani Mas! Elkan ditemani Yuna, mana mungkin Mas turun sendirian? Kamu sengaja ingin mempermalukan Mas?"


Mau tidak mau Reni terpaksa menurut, dia bangkit dari duduknya dan melangkah menuju pintu. Beno pun mengikutinya dari belakang.


Di dalam aula, para tamu sudah mulai berdatangan. Elkan dan Yuna berdiri di depan koridor menyambut kedatangan tamu penting perusahaan. Sementara Amit, Sari, Diah dan Lili sudah duduk di meja VIP yang khusus disediakan untuk keluarga besar. Elga dan Edgar sendiri terlihat anteng di atas pangkuan Sari dan Amit.


Tidak berselang lama, Beno dan Reni pun muncul. Keduanya ikut berdiri di depan koridor menyambut tamu penting yang sengaja diundang untuk memeriahkan acara.

__ADS_1


Setelah para tamu mengambil tempat duduk. Elkan dan Beno menyusul duduk di meja VIP, begitu juga dengan Yuna dan Reni yang ikut duduk di samping suami masing-masing.


Acara dimulai, Elkan dipanggil untuk memberikan kata sambutan.


Segera Elkan menggenggam tangan Yuna dan membawanya naik ke atas podium. Sebelum memberikan kata sambutan, Elkan terlebih dahulu memperkenalkan istri cantiknya kepada semua tamu. Sontak aula tersebut bergemuruh dengan suara tepuk tangan.


Kemudian Elkan menyampaikan sepatah dua patah kata, tak lupa pula dia memanjatkan rasa syukur atas pencapaian yang diraihnya hingga detik ini. Dia juga memberikan motivasi agar semua orang bisa sukses seperti dirinya. Semua itu tak luput dari kerja keras dan dukungan dari orang-orang yang dia cintai. Apalagi sang istri dan kedua buah hatinya yang sudah menjadi penyemangat di dalam hidupnya.


Usai memberikan kata sambutan, Elkan dan Yuna turun dari podium dan bergabung kembali bersama Amit dan yang lainnya.


Sekarang giliran Beno dan Reni yang diminta naik untuk memberikan beberapa kata sambutan.


Beno menggenggam tangan Reni dan naik ke atas podium. Dia juga memperkenalkan istrinya pada seluruh tamu undangan, lalu memberikan kata sambutan. Tidak banyak yang disampaikan Beno, dia hanya berharap produk baru mereka akan diterima di pasaran dan kembali menjadi brand andalan di ibukota.


Setelah Beno dan Reni turun, acara dilanjutkan. Kali ini beberapa orang model berdiri sambil memegangi masing-masing produk di tangan mereka. Launching pun di mulai, salah seorang staf khusus mulai memperkenalkan satu persatu produk terbaru mereka dan menjelaskannya secara detail.


Waktu terus berjalan, acara masih berlangsung di depan sana. Sementara di pintu masuk tampak seorang wanita paruh baya dengan jaket tebal yang membungkus tubuhnya dan memilih duduk di sudut aula.


Setelah launching selesai, mereka semua dihibur oleh seorang musisi ternama tanah air. Para tamu mulai sibuk mencicipi hidangan yang sudah disediakan. Para pelayan nampak mondar-mandir dari satu meja ke meja lainnya. Ada juga beberapa staf perusahaan yang sibuk membagikan souvenir dari meja ke meja.


"Abang temani!" sahut Elkan yang langsung bangkit dari duduknya.


Yuna menautkan alisnya. "Yuna bisa sendiri kok Bang,"


"No sayang, pokoknya Abang temani!" Elkan menggenggam tangan Yuna dan berjalan menuju toilet.


"Dasar lebay, ke toilet saja pakai acara ditemani segala." cibir Yuna sambil memeluk lengan Elkan.


"Biarin, dari pada nanti ketemu om-om nakal. Yuna tidak tau saja, di sini banyak pria hidung belang yang berkeliaran." terang Elkan.


"Apa hubungannya?" Yuna mengerlingkan manik matanya.


"Jelas ada dong sayang, Yuna pikir Abang tidak memperhatikan mereka semua. Dari tadi banyak sekali yang memperhatikan Yuna, Yuna saja yang tidak sadar." jelas Elkan.

__ADS_1


"Oh, jadi ceritanya Abang cemburu?" Yuna mengulum senyumannya.


"Ya iya lah Abang cemburu, suami mana yang mau melihat istrinya dilirik pria lain?" Elkan menajamkan tatapannya.


"Hehehe... Dasar aneh!" Yuna tertawa kecil dan memeluk pinggang Elkan.


Sesampainya di toilet, Elkan ikut masuk tanpa peduli dengan pandangan orang lain. Yang penting baginya Yuna tidak lepas dari pengawasannya.


Yuna hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan suaminya itu.


Setelah membuang apa yang seharusnya dia buang, Yuna mengambil pembalut baru di dalam tas dan segera menggantinya. Dia kemudian mencuci pembalut bekasnya sampai bersih dan itu terlihat jelas di mata Elkan.


"Banyak sekali darahnya," Elkan mengerutkan keningnya.


"Namanya juga darah haid, tentu saja banyak." sahut Yuna.


"Apa Yuna tidak lelah kehilangan darah sebanyak itu?" tanya Elkan penasaran.


"Tidak, itu kan darah kotor sayang. Paling kehilangan mood doang, makanya wanita haid itu lebih sensitif dari hari biasanya." Yuna membuang pembalut yang sudah bersih itu ke dalam tong sampah, lalu membilas tangannya dengan sabun dan mengeringkannya dengan tisu.


"Sudah?" Elkan menyipitkan matanya.


"Sudah, ayo keluar!" ajak Yuna sambil menggenggam tangan Elkan dan mengayunkan langkahnya.


"Tunggu bentar sayang!" Elkan menahan langkahnya dan menyentuh dagu Yuna. "Ada kotoran," imbuh Elkan.


"Dimana?" Yuna membulatkan matanya.


"Di sini," Bibir Elkan langsung berlabuh di bibir Yuna, dia melu*matnya dengan lembut hingga membuat Yuna mendengus kesal.


"Modus," ketus Yuna dengan air muka menggelap.


"Hehe... Habisnya manis banget sih," Elkan tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi menggemaskan istrinya itu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2