Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 70.


__ADS_3

Waktu terus berlalu, hari ini tepat satu minggu setelah Yuna bangun dari koma. Dokter sudah mengizinkan Yuna untuk rawat jalan, Elkan pun mulai berkemas karena sore ini dia akan membawa Yuna pulang ke kediamannya.


Sebelum pulang, Elkan mendatangi pihak rumah sakit. Sepertinya dia membutuhkan seorang suster untuk membantu merawat kedua bayinya. Kondisi Yuna belum memungkinkan untuk bergerak terlalu banyak. Elkan tidak ingin Yuna stres karena bisa berpengaruh untuk kesehatan dan juga produksi ASI nya.


Setelah melalui proses yang cukup panjang, Elkan berhasil menarik suster Reni sebagai pengasuh kedua bayinya. Suster Reni pun dengan senang hati mengiyakan karena Elkan menjanjikan gaji yang lumayan besar padanya. Kebetulan dia sangat membutuhkan uang untuk biaya sekolah dua orang adiknya.


Suster Reni berasal dari keluar kurang mampu, namun karena kegigihannya dia berhasil meraih beasiswa hingga kuliahnya selesai. Sementara kedua orang tuanya sudah bercerai dan tidak tau entah kemana, mereka meninggalkan ketiganya dan tak pernah kembali hingga detik ini.


Sebuah mobil mewah keluaran terbaru sudah terparkir di depan rumah sakit. Pak Usup turun dari mobil dan berjalan menuju ruangan majikannya.


"Sore Tuan, Nyonya, selamat ya atas status barunya sebagai Ayah dan Ibu." sapa Pak Usup sembari mengulurkan tangannya.


"Makasih Pak Usup," sahut Elkan dan Yuna bersamaan, lalu menyambut uluran tangan Pak Usup bergantian.


"Pak, tolong bawa barang-barang ini ke mobil ya. Saya masih menunggu Beno," seru Elkan sembari menunjuk dua koper, tas kecil dan beberapa peralatan bayi yang sudah tersusun rapi di dasar lantai.


Pak Usup mengangguk cepat. "Baik Tuan,"


Sesuai perintah Elkan, Pak Usup pun membawa barang-barang tersebut ke mobil.


Pukul 4 sore, Beno tiba di rumah sakit. Segera dia menuju ruangan Yuna setelah tadi siang mendapat telepon dari Elkan.


"Udah siap pulang sekarang?" sapa Beno yang sudah berdiri di ambang pintu.


"Iya, tapi kami sama Pak Usup aja. Kau pergilah bersama Suster Reni!" sahut Elkan.


Beno mengerutkan keningnya. "Kemana?"


"Mulai hari ini, suster Reni akan bekerja sebagai pengasuh si kembar. Antar dia mengambil pakaian ke rumahnya, lalu bawa dia ke rumah!" jelas Elkan.


"Oh, baiklah." jawab Beno singkat.


"Sus, pergilah bersama Beno! Kami tunggu di rumah ya." imbuh Elkan.


"Gak usah Pak, saya bisa sendiri. Berikan saja alamatnya, nanti saya ke sananya naik taksi saja!" tolak suster Reni, dia merasa tidak enak hati merepotkan majikannya.


"Gak papa, ini perintah!" Elkan memperlihatkan wajah seriusnya. Mau tak mau, suster Reni terpaksa mengangguk.


Elkan mendorong kursi roda yang diduduki istrinya, ada putri kecil mereka di pangkuan Yuna. Sementara putra mereka masih ada di gendongan suster Reni. Mereka semua meninggalkan ruangan bersamaan.


Sesampainya di parkiran, Elkan mengambil putrinya dari pangkuan Yuna dan memberikannya pada Beno. Dia pun mengangkat Yuna dan mendudukkannya di bangku belakang.


Setelah posisi duduk Yuna aman, Elkan kembali mengambil putrinya dari tangan Beno, lalu memberikannya pada Yuna. Setelah Elkan duduk, suster Reni pun memberikan sang putra ke tangan Elkan.

__ADS_1


"Makasih, kami tunggu di rumah ya!" ucap Elkan dengan senyuman kecil.


Setelah pintu bergeser dan tertutup rapat, Pak Usup pun melajukan kendaraannya menyusuri jalan raya.


Kini tinggal Beno dan suster Reni saja di sana. Sebenarnya gadis itu masih sedih karena harus meninggalkan rumah sakit secepat ini, tapi dia juga tidak punya pilihan lain. Pekerjaan ini sangat menjanjikan, dia hanya ingin memberikan yang terbaik untuk kedua adiknya.


Beno mengerutkan keningnya. "Kenapa masih berdiri? Ayo, masuk!"


Suster Reni terperanjat dan memutar lehernya menghadap Beno. Lalu mengangguk lemah tanpa sepatah kata pun.


Beno masuk lebih dulu dan duduk di bangku kemudi, sementara suster Reni nampak kebingungan mau membuka pintu yang mana. Rasanya sangat canggung karena ini adalah kali pertama baginya menaiki mobil mewah, apalagi bersama seorang pria yang belum dia kenal sebelumnya.


Tangan gadis itu bergerak membuka pintu belakang, segera Beno menoleh dengan mata melotot tajam.


"Hei, di depan! Kau pikir aku ini sopir?" ketus Beno sedikit kesal.


"Ma-maaf Pak," Suster Reni menutup kembali pintu tersebut dan beralih membuka pintu depan.


Setelah pintu terbuka, gadis itu tidak langsung masuk. Dia malah membungkukkan punggungnya sembari menatap manik mata Beno dengan intens. "Pak, saya naik taksi saja ya."


Beno mengeratkan rahangnya hingga terpahat dengan sempurna. "Masuk!"


Suster Reni membulatkan matanya, kaget mendengar suara Beno yang mendadak mencongkel gendang telinganya. "Tapi Pak-"


Kembali suster Reni mengangguk dengan lemah, lalu mengangkat sebelah kakinya dan duduk di samping Beno. Tidak lama, Beno pun melajukan kendaraannya meninggalkan rumah sakit.


Sepanjang perjalanan, keduanya hanya diam tanpa bersuara. Terlebih suster Reni yang nampak gelisah sembari memainkan ujung-ujung jarinya yang terletak di atas paha, sementara pandangannya fokus menatap jalanan.


Lima belas menit berlalu, suster Reni meminta Beno menghentikan laju kendaraannya. Keadaan di sekeliling membuat Beno mengerutkan keningnya kembali.


"Kau tinggal di sini?" tanya Beno sembari terus memutar manik matanya ke segala arah.


"Iya Pak, tapi jauh di dalam sana." Gadis itu menunjuk sebuah lorong sempit yang tak bisa dilewati kendaraan roda empat. "Saya turun dulu ya Pak, Bapak tunggu di sini saja!"


Suster Reni membuka pintu dan turun. Baru berjalan beberapa langkah, Beno berteriak hingga langkah gadis itu terhenti seketika. "Tunggu! Aku ikut,"


Suster Reni berbalik dan menautkan alisnya. Sementara Beno segera berlari menghampiri sembari menekan remote mobilnya. Mau tak mau, gadis itu terpaksa membiarkan Beno ikut bersamanya.


"Sejak kapan kau tinggal di sini?" tanya Beno membuka percakapan. Keduanya melenggang dengan santai memasuki lorong sempit itu.


"Sudah lama Pak," jawab suster Reni.


Beno mengangguk-angguk sembari terus memandangi keadaan sekelilingnya. Tidak lama, sampailah mereka di sebuah kontrakan kecil nan begitu sederhana.

__ADS_1


"Ini kontrakan saya Pak, maaf hanya gubuk sederhana. Kalau Bapak berkenan, silahkan masuk!" tawar gadis itu. Di pikirannya Beno tidak akan mau menginjakkan kaki di gubuk itu. Namanya juga orang kaya, mana bisa bertandang di tempat kumuh seperti ini.


Namun pikiran suster Reni ternyata salah, Beno malah masuk mengikutinya tanpa canggung sedikitpun. Dia juga duduk di dasar lantai yang hanya beralaskan tikar.


"Apa Bapak mau minum?" tanya suster Reni.


"Tidak usah, kemasi saja barang-barang yang kau perlukan!" tolak Beno dengan sopan.


Suster Reni mengangguk pelan, kemudian meninggalkan Beno dan masuk ke dalam kamar.


Seorang remaja laki-laki keluar dari kamar lainnya, tidak lama seorang remaja perempuan juga keluar dari dapur.


"Eh, ada tamu." Kedua remaja itu menatap Beno dari ujung kaki hingga ujung rambut, kemudian menyalaminya tanpa tau siapa tamu itu.


Beno hanya bisa tersenyum melihat sikap kedua remaja itu, sepertinya mereka dididik dengan sangat baik oleh kedua orang tuanya.


"Kakak siapa? Pacarnya Kak Reni ya?" seloroh Sari yang merupakan adik bungsu suster Reni.


"Hust, jaga bicaramu! Gak sopan tau," timpal Amit yang merupakan adik pertama suster Reni. Beno pun terkekeh melihat kelakuan kakak beradik itu.


Tidak lama, suster Reni keluar menenteng sebuah tas berukuran sedang. "Hei, ngapain kalian di sini? Jangan bilang gangguin Bapak ini!"


"Bapak?" Amit dan Sari membulatkan mata mereka lebar-lebar.


"Ini majikan Kakak. Mulai hari ini, Kakak bekerja di rumah Bapak ini. Kalian gak boleh nakal ya, setiap hari Minggu Kakak akan datang melihat kalian." jelas suster Reni.


"Hah, jadi Kakak gak tinggal sama kami lagi?" tanya Sari dengan mata berkaca.


"Ini hanya sementara, lagian semua ini untuk kalian juga." ucap suster Reni.


Amit dan Sari menatap kakaknya dengan sendu. Mereka tau Reni berjuang mati-matian hanya untuk memenuhi kebutuhan mereka.


Keduanya bangkit dan memeluk Reni dengan erat. "Kakak yang sabar ya! Setelah Amit lulus, Amit janji akan membahagiakan Kakak."


Suster Reni mengusap kepala kedua adiknya. "Tidak perlu, ini sudah menjadi tanggung jawab Kakak sebagai anak yang paling tua."


Entah apa yang terjadi dengan Beno hingga hatinya terenyuh melihat pemandangan itu, kata-kata yang dia dengar juga menjadi tanda tanya besar di benaknya.


"Ya udah, Kakak pergi dulu ya! Jangan nakal, jangan berantem! Belajar yang giat agar lulus dengan nilai terbaik!" ucap suster Reni.


Amit dan Sari mengangguk dan melambaikan tangannya. Beno dan Reni pun melangkah menuju mobil.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2