Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 183.


__ADS_3

Pukul satu siang mobil yang dikendarai Reynold masuk ke parkiran rumah sakit. Setelah mematikan mesin mobil, Reynold turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Laura.


Dengan mata sayu dan tubuh yang semakin melemah, Laura turun dan berpegangan di lengan Reynold lalu menahannya. "Mas, a-aku takut." lirih Laura terbata.


Reynold mengukir senyum dan mengusap kepala Laura. "Tidak apa-apa sayang, jangan takut! Kan ada Mas, kita harus memastikan keadaan kamu biar penyakit kamu jelas,"


"Tapi Mas-"


"Sssttt... Percaya sama Mas, Mas tidak akan meninggalkan kamu sendirian. Mas temani saat periksa ya," potong Reynold membujuk istrinya.


Sebenarnya Reynold penasaran sekali setelah mendengar ucapan Aditama pagi tadi, dia berharap Laura benar-benar hamil. Itu artinya dia akan menjadi seorang ayah dalam waktu dekat.


"Janji ya Mas," tegas Laura.


"Iya sayang, Mas janji." Reynold mengacak rambut Laura, lalu keduanya melangkah memasuki gedung rumah sakit.


Setelah mendaftar dan mengambil nomor antrian, Reynold dan Laura duduk di kursi tunggu. Tidak lama, Beno dan Reni juga tiba di rumah sakit itu dan ingin menemui dokter yang sama. Kemarin sore Beno batal membawa Reni ke klinik dan menggantinya hari ini.


"Reynold, Laura, kalian di sini juga? Jangan bilang-"


"Belum Beno, ini baru mau diperiksa. Kalian sendiri ngapain di sini?" potong Reynold.


"Reni hamil Rey, kami mau memastikan kondisi janinnya biar tidak penasaran." jawab Beno.


"Wah, selamat ya Beno, Reni, aku turut senang mendengarnya. Semoga bayi kalian sehat sampai lahiran nanti. Doain bisa menular sama Laura ya." ucap Reynold.


"Hehehe... Aamiin, tapi kayaknya sudah deh. Laura kelihatan pucat sekali." timpal Reni, lalu dia duduk di samping Laura dan Beno pun duduk di sebelahnya.


"Aamiin, semoga saja ya." ucap Laura.


Sembari menunggu nama mereka dipanggil, keempatnya asik mengobrol hingga membahas hal yang tidak penting sekalipun. Sesekali tawa mereka pecah hingga membuat pengantri lain melirik ke arah mereka. Reni dan Laura hanya tersenyum karena merasa tidak enak hati.


"Ibu Laura..." panggil seorang suster yang sudah berdiri di ambang pintu.


"Iya Sus, saya Laura." jawab istri Reynold itu sembari mengangkat sebelah tangan.


"Silahkan masuk Bu, giliran Anda!" ucap suster itu.


"Iya Sus," timpal Reynold. Dia bangkit dari duduknya dan membantu Laura berdiri dari tempat duduk.

__ADS_1


"Beno, Reni, kami duluan ya." ucap Reynold dan Laura bersamaan.


"Iya, masuklah! Semoga positif," sahut Reni sembari tersenyum.


"Semangat," sambung Beno.


"Aamiin, doain ya."


Setelah mengatakan itu, Laura memeluk lengan Reynold dengan erat. Detak jantungnya sedikit berulah karena kekhawatiran yang terlalu berlebihan. Dia takut hasilnya negatif, dia takut mengecewakan Reynold sebagai suaminya.


"Tidak apa-apa, santai saja." ucap Reynold sambil mengusap punggung tangan Laura yang masih menggaet lengannya.


"Hmm..." angguk Laura menguatkan dirinya.


Sesampainya di dalam ruangan, dokter Siska langsung tersenyum menyambut kedatangan mereka. Reynold dan Laura duduk di hadapan dokter itu.


Setelah menjelaskan keluhan yang dirasakan istrinya, dokter Siska menyarankan Laura untuk melakukan USG. Reynold menyetujuinya dan menemani Laura melakukan pemeriksaan.


Dibalik tirai biru yang ada di dalam sana, Laura berbaring di atas brankar dengan air muka pucat karena ketakutan. Reynold menenangkannya dengan menggenggam tangan dan mengusap kepalanya.


"Tidak apa-apa, Mas di sini." ucap Reynold.


Lalu dokter Siska mengangkat baju Laura dan mengolesinya dengan gel. Sebuah alat yang tersambung ke monitor pun ditempelkan di perutnya.


Seketika mata Reynold dan Laura tak berkedip menatap layar monitor itu. Tampak sebuah kantong dan ada bulatan sebesar biji kacang hijau di layar itu.


"Selamat ya, Ibu Laura positif hamil. Janinnya masih sangat kecil, umurnya kisaran tujuh minggu." jelas dokter Siska.


"Hah?" Mata Laura membulat dengan bibir sedikit menganga, berat sekali rasanya mengeluarkan suara.


"Ini benar kan Dok, saya tidak mimpi kan?" Reynold hampir saja menangis saking terkejutnya mendengar penjelasan dokter Siska barusan.


"Hehe... Benar Pak Reynold, Bapak tidak mimpi."


"Ya Tuhan, terima kasih atas anugerah terindah ini." lirih Reynold yang akhirnya menitikkan air mata, lalu mengecup punggung tangan dan kening Laura saking bahagianya. Bahkan kehadiran dokter Siska sudah tak berharga lagi di matanya.


"Mas, jangan cium-cium! Malu tau," keluh Laura dengan pipi merona merah.


"Hehe... Ma-Maaf ya Dok, saya terlalu bahagia." Reynold rasanya ingin melompat dan berteriak sekencangnya untuk mengekspresikan kebahagiaannya.

__ADS_1


Selepas melakukan USG, dokter Siska bangkit dari duduknya dan sengaja meninggalkan mereka lebih dulu. Lalu membuatkan resep obat dan vitamin untuk Laura.


Di dalam tirai sana, Reynold memeluk Laura dengan erat. Sulit baginya berkata-kata untuk melafazkan kegembiraannya.


Sesaat setelah Laura turun dari brankar, keduanya menyusul dokter Siska ke tempat duduknya. Dokter itu memberikan resep yang harus ditebus oleh Reynold. Lalu Reynold dan Laura berpamitan dan menyalami dokter itu sebelum meninggalkan ruangan.


Sesampainya di luar, mereka langsung disambut oleh Beno dan Reni. "Bagaimana?" tanya Reni penasaran.


"Positif," jawab Laura tanpa ragu.


"Aaaaa... Selamat ya Laura, Reynold, apa aku bilang." Reni hampir saja membuat rumah sakit itu roboh karena teriakannya.


"Terima kasih," Kedua bumil itu saling berpelukan seperti teletubbies.


"Ibu Reni..." panggil suster untuk antrian berikutnya.


"Iya, saya Sus." sahut Reni yang masih berada di pelukan Laura, lalu melepaskan pelukannya.


"Aku masuk dulu ya. Oh ya Bang Reynold, kapan-kapan bawalah Laura main ke rumah. Biar kami bisa sharing sesama bumil!" pinta Reni.


"Pasti. Kalau keadaan Laura sudah memungkinkan, kami akan main ke sana." jawab Reynold.


"Janji ya," tekan Reni.


"Iya, aku janji." tegas Reynold.


"Ok kalau begitu sampai jumpa, bye..."


Reni dan Beno masuk ke ruangan dokter Siska sedangkan Laura dan Reynold berjalan menuju lobby. Sebelum pulang, Reynold mampir dulu di apotik menebus resep dokter.


Ada beberapa obat dan vitamin yang harus dikonsumsi Laura semasa tahap awal kehamilan. Semua itu untuk memperkuat daya tahan tubuh, mencukupi asupan vitamin dan menekan angka mual di pagi hari.


Setelah itu, Reynold melajukan mobilnya menuju kediaman Aditama.


Di ruangan dokter, Reni tengah memeriksa kehamilannya seperti yang dilakukan dokter Siska pada Laura tadi. Sedikit berbeda dari Laura, janin Reni nampak lebih besar dan sudah memasuki usia sepuluh minggu. Itu artinya lebih dulu Reni tiga minggu dibanding Laura.


Selesai memeriksakan kehamilannya, Beno dan Reni meninggalkan rumah sakit dan pulang ke kediaman Bramasta. Reni tidak bisa berlama-lama menghirup aroma mobil yang membuatnya eneg dan pengen muntah.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2