Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 130.


__ADS_3

Setengah jam berlalu, Reynold keluar dari ruangannya. Raut penyesalan nampak jelas di matanya setelah mengatakan hal tadi kepada Laura. Dia ingin minta maaf tapi tak menemukan Laura di luar sana.


Air muka Reynold berubah gusar. Dia sadar tak seharusnya bersikap seperti tadi terhadap Laura, mungkin saja istrinya itu memiliki alasan tersendiri hingga berkata seperti tadi.


Tapi kemana Laura? Kenapa dia menghilang? Bukankah seharusnya dia masuk ke dalam ruangan Reynold?


"Nila, apa kau melihat istriku?" tanya Reynold yang terlihat sangat gelisah.


Nila adalah sekretaris umum Reynold, sementara Laura akan dia jadikan sekretaris pribadinya. Reynold juga sudah menyiapkan meja di ruangannya untuk Laura. Mulai hari ini Laura lah yang akan mengurus keperluan pribadinya sekaligus menemaninya jika ada rapat di kantor maupun di luar kantor.


"Istri?" Nila menautkan alisnya. Sejak kapan presdir perusahaan itu memiliki istri, dia sama sekali tidak tau. "Maaf Pak, siapa maksud Bapak?"


Reynold tersadar setelah mendengar ucapan Nila barusan, dia ingat belum sempat mengenalkan Laura kepada staf yang ada di lantai tersebut. Semua itu gara-gara emosi sesaat yang akhirnya menyulitkan dirinya sendiri.


"Maksudku wanita yang tadi datang bersamaku. Dia mengenakan sweater ketat putih lengan panjang dan celana coklat tua, rambutnya-"


"Oh, jadi wanita itu istri Bapak?" Nila memotong ucapan Reynold sambil tersenyum. "Tadi dia menanyakan letak toilet, mungkin masih di belakang." imbuhnya.


Mendengar itu, Reynold langsung mengayunkan langkah panjangnya menuju arah toilet. Dia bahkan tak mengacuhkan Nila yang masih menatapnya dengan heran.


Sesampainya di belakang, Reynold membuka satu persatu pintu toilet wanita tapi tak ada siapa-siapa di dalam sana. Wajahnya semakin kusut, apa Laura benar-benar tersinggung karena ucapannya tadi?


Reynold mengusap wajahnya dengan kasar, lalu menghirup udara sebanyak-banyaknya.


"Sayang, kamu kemana sih? Maafin Mas," gumam Reynold penuh penyesalan.


Reynold meninggalkan area toilet dan masuk ke dalam lift, barangkali saja Laura sudah turun ke bawah karena tak ingin bertemu dengannya.

__ADS_1


Sesampainya di lobby, Reynold berseru menanyakan keberadaan Laura kepada karyawannya yang ada di sana. Siapa tau ada diantara mereka yang melihatnya. "Apa kalian melihat istriku?" tanyanya.


Seorang karyawan wanita langsung berdiri dari duduknya. "Bu Laura baru saja keluar Pak," jawabnya.


Mata Reynold membulat sempurna mendengar itu. Tidak salah lagi, Laura pasti tersinggung dan bisa saja marah padanya. Kalau tidak, mana mungkin Laura meninggalkan kantor tanpa sepengetahuannya.


Segera Reynold berlari menyusul Laura, mungkin saja istrinya itu belum jauh dari kawasan kantor. Bisa-bisanya dia membuat istrinya sedih di hari pertamanya kerja, suami seperti apa dia. Pikirnya dalam hati.


Sekitar satu kilometer dari kantor, ada sebuah halte bus. Di belakangnya ada taman bunga dan sebuah pohon yang sangat rindang. Di bawah sanalah Laura duduk, sebuah kursi besi yang menjadi saksi bisu jatuhnya air mata Laura.


Entah kenapa ucapan Reynold di lift tadi membuat hatinya sakit. Setelah apa yang terjadi diantara mereka, bagaimana mungkin Laura tidak menganggapnya siapa-siapa? Apa Laura terlalu berharap sehingga hatinya sedih mendengar itu?


Laura bukannya tidak ingin mengakui Reynold sebagai suaminya. Tapi dia butuh waktu, dia tidak ingin dianggap memanfaatkan keadaan. Dia juga butuh waktu untuk menyesuaikan diri, bagaimanapun pernikahan mereka terjadi begitu mendadak. Apalagi dia tidak mengenal Reynold sebelumnya.


Tapi sekarang apa yang terjadi, Reynold marah dan mengatakan hal itu padanya. Lalu untuk apa lagi dia berada di sana, ternyata mereka berdua bukanlah siapa-siapa. Air mata Laura semakin berderai mengingat itu, padahal dia sudah mulai membuka hatinya untuk Reynold.


Kenapa hidupnya jadi hancur seperti ini? Apa kesalahan yang sudah dia perbuat di masa lalu sehingga harus menanggung hukuman seperti ini?


Kenapa saat dia sudah merelakan semuanya, kini datang lagi masalah yang berbeda. Kenapa hidupnya tak pernah lepas dari masalah? Haruskah dia pergi sejauh mungkin agar tak ada lagi yang membebani pikirannya.


Laura menyapu wajahnya untuk menghapus jejak air mata yang berjatuhan di pipinya. Dia menarik nafas dalam-dalam dan mencoba menguatkan dirinya sendiri.


Lalu Laura mengayunkan kakinya menuju halte bus dan menaiki bus yang tengah berhenti di sana. Entah kemana dia akan pergi, dia sendiri tidak tau. Kembali ke Bali tidak akan mungkin, jelas Reynold memiliki perusahaan cabang di sana.


Setengah jam berlalu, Laura turun di sebuah halte bus yang tak jauh dari stasiun kereta api. Mungkin akan lebih baik jika dia pergi agar Reynold tak perlu lagi memikirkan tanggung jawab terhadap dirinya.


Dengan uang yang tidak seberapa di dalam tasnya, Laura membeli tiket ke kota Yogyakarta. Dia bahkan tidak memikirkan bagaimana kehidupannya nanti di sana, matipun tidak apa asal tidak menyusahkan orang lain lagi.

__ADS_1


Dengan ditemani air mata, Laura membulatkan tekadnya dan masuk ke dalam kereta api yang akan berangkat beberapa menit lagi. Selamat tinggal kenangan, selamat tinggal kepedihan. Hanya kalimat itulah yang terngiang-ngiang di benak Laura saat ini.


Di waktu yang bersamaan, Reynold nampak panik karena tak menemukan Laura dimana-mana. Reynold bahkan sudah melihat CCTV di sekitar kantor tapi tak mendapatkan jawaban apa-apa.


Reynold mengendarai mobilnya menyisir setiap sudut jalanan ibukota, sudah lima jam dia berputar-putar tapi tak menemukan Laura juga hingga detik ini.


Tidak lama, ponsel Reynold berdering di dalam saku celananya. Dia menepikan mobilnya dan segera mengangkat panggilan yang ternyata dari adik sepupunya Yuna.


"Halo, ada apa Yun?" jawab Reynold setelah sambungan telepon mereka terhubung.


"Rey, kamu dimana?" tanya Yuna dari seberang sana.


"Di jalan, ada apa?" jawab Reynold santai seakan tak terjadi apa-apa dengan dirinya.


"Rey, kamu coba lihat berita. Barusan aku lihat di sosmed katanya ada kereta api jurusan Jogja yang mengalami kecelakaan, salah satu korbannya bernama-" Yuna menjeda ucapannya, dia tak sanggup melanjutkannya.


"Bernama siapa?" tanya Reynold tanpa curiga sedikitpun.


Yuna bergeming mendengar pertanyaan Reynold, dia benar-benar tidak sanggup mengatakannya sehingga memberikan ponselnya ke tangan Elkan.


"Yun, kenapa diam saja? Siapa nama korbannya? Apa aku mengenalnya?" cerca Reynold dengan pertanyaan beruntun.


Elkan yang mendengar itu langsung bersuara. "Maafkan aku Rey, aku harap kamu tidak akan terkejut mendengar ini. Salah satu korbannya bernama Laura Fransiska. Korban yang belum di temukan hingga detik ini. Petugas baru berhasil menemukan tasnya."


"Deg!"


Tubuh Reynold mendadak lemah hingga ponsel yang dia pegang jatuh di kakinya. Dadanya sesak dengan jantung bergemuruh kencang seakan separuh nyawanya terlepas dari raganya.

__ADS_1


Kenapa Laura bisa ada di dalam kereta api tersebut? Apa Laura ingin meninggalkannya? Reynold mengacak rambutnya dan berteriak sekencangnya. Apa yang sudah dia lakukan hingga membuat Laura harus mengalami kejadian tragis itu? Reynold benar-benar menyesal hingga menyalahkan dirinya sendiri.


Bersambung...


__ADS_2