Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 43.


__ADS_3

**Hai kak, salam kenal dari Author Kopii Hitam


Meskipun hitam, tetap manis seperti reader yang membaca novel ini kan**


**Jangan lupa tinggalkan jejak petualangannya ya


Happy Reading**


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Usai mandi dan mengenakan pakaian, Yuna duduk di depan cermin sembari menyisir rambut basahnya. Seketika, dia mengukir senyum menatap pantulan tubuh Elkan yang terbaring di atas ranjang.


"Elkan, Elkan," gumam Yuna sembari mengulum senyumannya.


Setelah penampilannya rapi, Yuna bangkit dari duduknya dan melangkah menuju pintu, membukanya dan menutupnya kembali.


Yuna melenggang menuruni anak tangga dan melanjutkan langkahnya menuju dapur.


"Sore Nyonya," sapa Diah dan Lili bersamaan.


"Sore Diah, Lili, lagi ngapain?" tanya Yuna sembari tersenyum lebar.


"Biasa Nyonya, apa Nyonya butuh sesuatu?" jawab Diah dengan pertanyaan pula.


"Gak kok, masak apa untuk malam nanti?" tanya Yuna sembari mematut kompor yang masih kosong.


"Belum kepikiran Nyonya, masak apa ya biar Tuan gak bosan?" tanya Lili meminta pendapat Yuna.


Yuna tersenyum kecil, lalu melenggang menuju kulkas. Setelah melihat bahan-bahan yang tersedia di dalam sana, Yuna mengeluarkan satu persatu bahan yang dia butuhkan, lalu meminta Diah mencucinya.


Sementara Diah tengah asik mencuci ayam dan sayuran, Lili nampak sibuk memotong kentang, wortel dan sayuran lainnya. Yuna sendiri asik menyiapkan bumbu.


Karena bahan-bahan di kulkas mulai menipis, Yuna pun memanfaatkan bahan yang ada saja.


Kali ini dia ingin memasak ayam pop, sayur sup, kentang goreng dan sambal terasi. Entah Elkan suka atau tidak, Yuna tak memikirkan sampai ke sana.


Pukul 7 malam, semua masakan sudah terhidang di atas meja. Yuna pun kembali ke kamar untuk membangunkan Elkan.


Setibanya di kamar, Yuna menggeleng-gelengkan kepalanya menyaksikan kaki Elkan yang sudah terjuntai di sisi ranjang.


"Astaga Elkan," gumam Yuna sembari tersenyum kecil.


Yuna menghampiri Elkan dan duduk di sampingnya, kemudian menepuk pipi Elkan untuk membangunkannya. "Elkan, hei, Elkan."


"Hmm," gumam Elkan yang masih memicingkan matanya.


"Elkan, bangun dulu yuk! Udah jam 7 malam nih," ucap Yuna sembari mengguncang tubuh Elkan.

__ADS_1


"Hmm, aku masih ngantuk sayang." sahut Elkan sembari menggeliat.


"Tapi ini udah malam Elkan, ayo bangun! Tidurnya disambung nanti aja!" bujuk Yuna sembari terus mengguncang tubuh Elkan.


"Lima menit lagi ya," Elkan mengacungkan 5 jarinya.


"Ya udah kalau gak mau bangun, nanti makan sendiri aja ya. Aku duluan, perutku sudah lapar." gertak Yuna sembari mengulum senyumannya.


Mendengar itu, Elkan bergegas membuka matanya.


"Jangan sayang! Masa' suaminya disuruh makan sendiri?" gumam Elkan sembari mengucek matanya.


"Nah, gitu dong. Cepat bangun, aku akan menyiapkan pakaian untukmu!"


Yuna bangkit dari duduknya dan melangkah menuju lemari. Saat memilihkan pakaian untuk Elkan, Yuna terperanjat merasakan sesuatu yang merayap di perutnya.


"Astaga Elkan, kenapa mengangetkan aku?" ketus Yuna gemetaran.


Elkan tak menyahut, dia menyibakkan rambut Yuna dan mengecup tengkuk istrinya. Aroma tubuh Yuna membuat jantungnya berdegup kencang. Gejolak hasrat di dirinya seketika memuncak. Tangannya mulai merayap menyentuh permukaan dada Yuna dan meremasnya perlahan.


Seketika, tubuh Yuna bergetar hebat bak tersengat aliran listrik. Bulu kuduknya meremang menikmati sentuhan demi sentuhan yang dilayangkan Elkan.


"Elkan, jangan sekarang!" gumam Yuna dengan suara beratnya.


"Aku menginginkanmu Yuna, aku sangat ingin." bisik Elkan dengan deru nafas kian memburu, bahkan tangannya sudah menyelinap masuk ke dalam pakaian Yuna.


"Elkan, jangan sekarang ya! Bersabarlah sebentar, kita belum makan malam." bujuk Yuna meyakinkan Elkan, dadanya berdenyut ngilu merasakan pergerakan tangan Elkan di dalam bra yang dia kenakan.


"Iya, boleh." sahut Yuna sembari menahan sesak di dadanya.


"Janji," desak Elkan.


"Iya, aku janji. Malam ini aku akan menjadi milikmu seutuhnya. Sekarang lepasin dulu!" pinta Yuna memelas.


Mendengar itu, Elkan tersenyum sumringah, kemudian mengeluarkan tangannya dari pakaian Yuna.


Yuna menghela nafas berat, tubuhnya seakan diguncang gempa berkekuatan besar. Hampir saja dia tumbang menikmati sentuhan Elkan yang membuatnya tak berdaya.


"Awas kalau bohong ya!" Elkan tersenyum sembari mengacak rambut Yuna hingga berantakan, kemudian berlalu memasuki kamar mandi.


Setelah Elkan menghilang dari pandangannya, Yuna tersandar lesu pada permukaan pintu lemari. Belum apa-apa saja, tubuhnya sudah gemetaran tak menentu. Bagaimana jika mereka benar-benar melakukannya, Yuna tak sanggup membayangkannya.


"Ya Tuhan, tolong beri aku kekuatan untuk melewati ini!" pinta Yuna sembari mendongakkan kepalanya menghadap langit-langit kamar.


Setengah jam sudah berlalu, Elkan keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar di pinggangnya. Yuna yang tengah duduk di ujung sofa menekuk wajahnya, dia tak kuasa melihat Elkan dalam keadaan seperti itu.


Setelah mengenakan pakaian yang disiapkan istrinya, Elkan menghampiri Yuna dan duduk di sampingnya, kemudian menarik Yuna ke dalam dekapan dadanya.

__ADS_1


"Kenapa wajahnya ditekuk begitu?" tanya Elkan sembari mengangkat dagu Yuna.


"Gak apa-apa, ayo turun!" ajak Yuna dengan wajah gusar.


Yuna bangkit dari duduknya dan melenggang menuju pintu, Elkan pun mengekorinya dari belakang.


Sesampainya di meja makan, keduanya mendapati Beno yang sudah lebih dulu duduk di bangkunya.


"Kenapa lama sekali turunnya? Cacing di perutku sudah memberontak sedari tadi," ucap Beno sembari mematut Elkan dan Yuna secara bergantian, kemudian mengerutkan keningnya melihat ekspresi Yuna yang tak biasa.


"Gak ada apa-apa, ayo makan!" sahut Yuna dengan datarnya.


Setelah duduk di bangku masing-masing, Yuna mengambilkan makanan dan menaruhnya di piring Elkan, kemudian mengisi piringnya dengan makanan secukupnya.


Sementara itu, Beno mengisi piringnya sendiri dan mulai mencicipi makanannya.


"Masakan siapa ini?" tanya Beno dengan mulut yang dipenuhi makanan.


"Kenapa? Gak enak ya?" sahut Yuna dengan keningnya yang mengkerut.


"Enak, enak banget malahan. Kamu yang masak?" tanya Beno menyanjung masakan tersebut.


"Iya, ya udah, lanjut aja makannya!" Yuna menekuk wajahnya dan mulai fokus dengan makanan yang ada di piringnya.


Sementara itu, Elkan menikmati sekali makanannya. Seulas senyum terpahat indah di wajahnya sembari mematut wajah istrinya. Dia merasa sangat beruntung memiliki istri seperti Yuna, tidak hanya cantik tapi juga pintar memanjakan lidahnya.


Usai makan malam, Elkan dan Beno berpindah ke ruang tengah. Keduanya nampak asik berdiskusi membahas masalah kantor.


Sementara itu, Yuna nampak sibuk membereskan meja dan merapikannya kembali.


Setelah semua pekerjaannya beres, Yuna meninggalkan semua orang dan melangkah menaiki anak tangga. Dia mulai resah memikirkan perkataan Elkan di kamar tadi.


Setibanya di kamar, Yuna bergegas masuk ke kamar mandi. Setelah mencuci muka dan menggosok gigi, Yuna keluar dan membuka pintu lemari.


"Kamu harus siap Yuna, bagaimanapun Elkan adalah suamimu. Dia berhak atas dirimu," batin Yuna menguatkan dirinya sendiri.


Yuna mengambil baju tidur dan bergegas mengganti pakaiannya. Mau tak mau, dia harus siap menyerahkan dirinya untuk Elkan.


Setelah merapikan rambut dan pakaiannya, Yuna merangkak naik ke kasur dan duduk sembari menyandarkan punggungnya pada tampuk ranjang.


Tidak berselang lama, Elkan masuk dan segera mengunci pintu, lalu melangkah menuju kamar mandi.


Yuna mulai gugup, wajahnya memerah menunggu Elkan keluar. Selang beberapa menit, suara pintu bergeser membuat Yuna terperanjat.



Yuna menghela nafas berat, entah kenapa jantungnya tiba-tiba berdegup secepat kilat.

__ADS_1


Elkan sudah berdiri di samping ranjang dengan tubuh atletisnya yang menganga, membuat Yuna kehilangan akal dan meneguk ludahnya dengan kasar.


Bersambung...


__ADS_2