Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 137.


__ADS_3

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Sore berganti malam, malam berganti pagi. Begitu pun seterusnya.


Di sebuah hotel berbintang di kota Istanbul, nampak sepasang anak manusia yang tengah bergumul di atas ranjang. Cuaca dingin di kota tersebut membuat mereka enggan keluar dari hotel dan memilih menciptakan kehangatan mereka sendiri.


Suara lenguhan dan desa*han mulai menyatu dengan alunan musik yang mendayu-dayu di kamar tersebut. Tidak hanya berpacu di atas ranjang, tapi keduanya berpindah-pindah hingga sofa bahkan sampai kolam renang khusus yang ada di area kamar itu.


"Mas... Udah dong, capek tau." keluh Reni dengan nafas tersengal. Sudah satu jam lebih tapi Beno masih belum mau menyudahi permainannya, sementara pinggangnya serasa mau copot mengimbangi permainan suaminya itu.


"Loh, kok udah sih? Mas masih betah sayang," jawab Beno yang terus saja mengayunkan pinggulnya keluar masuk di inti Reni. Rasanya begitu nikmat sehingga Beno masih ingin berpacu dengan kekuatannya.


Reni hanya bisa pasrah menerima tekanan yang dilayangkan Beno tanpa henti, sesekali dia menjerit saat mencapai puncaknya. Kakinya bergetar hingga sekujur tubuhnya merinding, dia kemudian mencengkram lengan Beno sambil menggigit bibir bawahnya.


Tidak lama, Beno akhirnya mengerang saat menyemburkan lahar panasnya di inti Reni. Berharap toge nya kali ini bisa membuahkan kebahagiaan untuk keluarga kecilnya.


Setengah jam kemudian, keduanya masuk ke dalam kolam renang untuk menyegarkan diri dan meregangkan otot-otot mereka yang terasa kaku.


Usai membilas diri di kamar mandi, Beno memesan makanan dari hotel. Cuaca yang dingin membuat perutnya keroncongan, begitu pun dengan Reni.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di waktu yang bersamaan, Reynold baru saja selesai mengurus administrasi. Keadaan Laura mulai membaik dan sudah diperbolehkan untuk pulang meski harus duduk di kursi roda.


Reynold mendorong kursi roda itu ke parkiran rumah sakit, kemudian menaiki sebuah taksi dan meminta sang sopir mengantar mereka ke bandara. Hari ini juga Reynold akan membawa istrinya pulang ke Jakarta dan melanjutkan pengobatan di sana.


Sekitar pukul delapan malam, pesawat yang mereka ditumpangi sudah mendarat dengan selamat. Pak Asep sudah menunggu di depan bandara setelah mendapatkan telepon dari Reynold beberapa jam yang lalu.


Reynold menggendong Laura ke dalam mobil, lalu duduk di sebelahnya dan mendekap tubuh ringkih istrinya itu dengan erat. Laura melingkarkan tangannya di perut Reynold kemudian memejamkan matanya.


"Jalan Pak, kita ke rumah saja!" perintah Reynold yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Pak Asep.


Pak Asep menyalakan mesin mobil dan menginjak pedal gas, mobil mewah itu melaju meninggalkan bandara dan masuk menyusuri jalan raya.

__ADS_1


Sekitar setengah jam berlalu, mobil itu tiba di kawasan perumahan elit lalu memasuki gerbang sebuah rumah mewah berlantai dua.


Pak Asep turun dan membukakan pintu mobil lalu menurunkan kursi roda dari dalam bagasi. Reynold lagi-lagi menggendong Laura dan mendudukkannya di atas kursi roda itu lalu mendorongnya ke dalam rumah.


"Mas..." Laura memutar lehernya beberapa derajat dan mendongakkan kepalanya. Seketika tatapan dia dan Reynold bertemu beberapa saat.


"Kenapa sayang?" tanya Reynold dengan suara lembut sambil menghentikan langkahnya, lalu maju dua langkah dan berjongkok di depan Laura.


Laura menautkan alisnya. "Mas, aku belum siap bertemu mereka. Kita ke apartemen saja ya!" pinta Laura dengan air muka memelas.


"Hehe..." Reynold tertawa kecil dan menggenggam tangan Laura dengan erat, lalu mengecupnya dan menaruhnya di pipi. "Tidak ada siapa-siapa di sini, ini rumah Ayah." imbuhnya.


"Tapi Mas-"


"Apalagi sayang? Percaya sama Mas ya, tidak ada yang perlu ditakutkan!" Reynold mencoba meyakinkan Laura.


"Bukannya takut, tapi tidak enak saja. Apalagi kondisi ku dalam keadaan seperti ini," lirih Laura.


"Memangnya kenapa kalau seperti ini? Tetap cantik kok, manis seperti gula." goda Reynold dengan senyuman nakalnya, hal itu sontak membuat pipi Laura bersemu merah.


"Aduh, sakit tau." keluh Reynold dengan wajah manyunnya.


"Makanya jangan nakal terus, istri lagi sakit juga." Laura malah tersenyum melihat wajah lucu suaminya itu.


"Tidak usah senyum-senyum! Awas saja nanti, jangan harap Mas akan melepaskan kamu. Tunggu saja jam mainnya!" Reynold bangkit dari jongkoknya dan kembali mendorong kursi roda yang diduduki Laura memasuki rumah mewah itu.


Baru saja Reynold menapakkan kakinya di ruang tamu, bayangan Aditama sudah tertangkap oleh matanya. Segera Reynold mendorong kursi roda Laura ke arahnya dan menyapa Ayahnya itu.


"Malam Yah, Reynold pulang." ucapnya sambil menyalami dan mencium punggung tangan Aditama.


"Rey..."

__ADS_1


Aditama tersenyum sumringah, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Laura.


"Yah, ini Laura. Menantu Ayah," imbuh Reynold memperkenalkan Laura kepada Ayahnya itu.


Laura mengukir senyum di bibirnya lalu mengulurkan tangan seperti yang dilakukan Reynold tadi. Saat Aditama menyambut tangannya, Laura pun menekuk kepalanya dan mencium punggung tangan mertuanya itu. "Malam Ayah," sapa nya dengan sopan dan lemah lembut.


"Malam Nak, jadi ini wanita cantik yang sudah mencuri hati putra Ayah. Pantesan saja Reynold begitu kekeh ingin memperjuangkan kamu, ternyata pilihannya sangat tepat." seloroh Aditama hingga membuat Laura tersipu malu.


"Apaan sih Yah? Jangan bikin malu!" keluh Reynold dengan tatapan aneh, seringai tipis melengkung di sudut bibirnya.


"Sejak kapan kamu memiliki rasa malu?" Aditama lagi-lagi membuat Reynold kikuk di depan istrinya.


"Oh, jadi selama ini Mas Reynold tidak punya rasa malu? Pantas saja sikapnya selalu menjengkelkan." timpal Laura sambil mengulum senyumannya.


"Kamu sudah tau kan? Lain kali berhati-hatilah!" Aditama semakin memperpanas suasana.


"Apaan sih Yah?" Reynold mengerutkan keningnya. "Jangan didengar sayang, Ayah memang begitu orangnya. Kamu seharusnya beruntung memiliki suami sepertiku," terang Reynold.


"Hahahaha... Beruntung sekali," Aditama tertawa terbahak-bahak hingga membuat Laura ikut ketularan. Tentu saja hal itu membuat batin Reynold menggerutu saking kesalnya.


Tapi dia juga senang melihat sang ayah dan istrinya yang langsung dekat walau baru bertemu beberapa menit saja.


Aditama memang memiliki sikap yang luwes, dia tidak pernah menuntut anak-anaknya untuk mengikuti kemauannya. Semua dia serahkan kepada mereka, apalagi masalah percintaan.


Siapa pun yang dipilih anak-anaknya, berarti itulah yang terbaik. Dia hanya bisa mendukung dan memberikan doa terbaik agar kedua anaknya bisa bahagia dengan pilihan mereka masing-masing.


Puas bercengkrama di bawah sana, Reynold kemudian membawa Laura ke kamarnya.


Saat pintu kamar terbuka, mata Laura tiba-tiba membulat dengan sempurna. Kamar tersebut terlihat indah dengan taburan bunga mawar seperti kamar pengantin pada umumnya. Tidak ada lampu yang menyala, namun diganti cahaya lilin yang menerangi. Ditambah dengan aroma terapi yang menyeruak hingga membuat nyaman penciuman.


"Mas..."

__ADS_1


Laura yang tengah berada di gendongan Reynold langsung menangis melihat itu. Dia kemudian mendekap erat tubuh Reynold dan menenggelamkan wajahnya di leher suaminya itu.


Bersambung...


__ADS_2