
Setelah sarapan, Reynold dan Laura meninggalkan apartemen. Keduanya masuk ke dalam mobil menuju kantor, tapi sebelum itu Reynold singgah dulu di sebuah butik sesuai ucapannya tadi.
"Ayo, turun dulu!" ajak Reynold setelah memarkirkan mobilnya. Reynold turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Laura.
"Mas, aku malu." ucap Laura yang nampak begitu canggung.
"Tidak usah malu," Reynold mengulurkan tangannya dan membantu Laura turun dari mobil. Setelah menutup pintu, dia merapikan rambut Laura sehingga terurai di depan bahu. Lumayan bisa menutupi jejak-jejak kebuasannya kemarin.
Reynold kemudian menggenggam tangan Laura dan membawanya masuk ke dalam butik. Seorang pelayan menyambut mereka dengan ramah.
"Selamat datang Bapak, Ibu, ada yang bisa kami bantu."
"Apa di sini menjual baju yang memiliki kerah panjang? Maksudnya yang bisa menutupi leher." tanya Reynold santai.
"Ada Pak, mari ikut saya!"
Pelayan itu membungkukkan punggungnya, lalu berjalan menuju rak yang ada di bagian samping ruangan. Reynold dan Laura mengikutinya dari belakang.
Di sana terpajang beberapa model baju yang mereka cari, ada varian warna juga yang bisa mereka pilih.
"Sayang, ayo pilih!" seru Reynold kepada istrinya itu.
"Terserah Mas saja, modelnya bagus-bagus kok. Mas saja yang pilih," sahut Laura.
Reynold mengerutkan keningnya. "Mbak, ambil tiap model dengan dua pilihan warna. Bedain warnanya biar lengkap!" ucap Reynold kepada pelayan itu.
Mendengar itu, pandangan Laura langsung tertuju pada Reynold. "Mas, gak usah banyak-banyak. Satu dua saja cukup,"
"Gak apa-apa sayang, biar nanti banyak pilihannya. Lagian mulai hari ini kamu pasti membutuhkan baju seperti ini setiap hari." jawab Reynold enteng, namun mampu membuat pipi Laura bersemu merah seketika itu juga.
"Mas..." Laura menyikut perut Reynold saking kesalnya.
"Hehehe... Gak usah malu, sayang." Reynold mengacak rambut Laura saking gemesnya.
Pelayan yang melihat itu ikut tersipu malu dibuatnya. Bisa-bisanya dia jadi nyamuk di hadapan sepasang suami istri itu. Lalu dia mengambilkan beberapa baju yang diminta Reynold tadi.
"Beli yang lain saja sekalian, celana, rok, apa kek?" tawar Reynold.
"Gak usah Mas, itu saja dulu. Nanti kita bisa telat ke kantor, lain kali saja belanjanya." tolak Laura dengan alasan yang cukup masuk akal. Reynold pun mengangguk lemah.
Reynold kemudian mengambil salah satu baju tersebut dari tangan pelayan lalu membawa Laura ke ruang ganti. Bukannya menunggu di luar, dia malah ikut masuk dan segera mengunci pintu.
"Mas, kenapa ikut masuk?" keluh Laura dengan tatapan aneh.
"Memangnya ada larangan yang mengatakan Mas gak boleh masuk?" tanya Reynold enteng.
__ADS_1
"Gak ada, tapi aku malu Mas." jawab Laura dengan pipi merona merah.
"Kenapa musti malu sama suami sendiri? Mas bahkan sudah melihat semuanya dan mencicipinya," Mata Reynold membesar hingga membuat nyali Laura langsung menciut.
"Jangan ngomong gitu terus, malu didengar orang!" keluh Laura.
"Biarkan saja, kalau mau hidup tenang gak perlu mendengarkan ocehan orang!" jelas Reynold.
"Ya udah, terserah Mas saja." Laura menghela nafas dan berbalik membelakangi Reynold. Saat pakaian yang dia kenakan terlepas dari tubuhnya, Reynold mendekat dan menyentuh pundaknya lalu mengecupnya dengan lembut.
"Jangan Mas, ini di tempat umum loh." gumam Laura dengan bibir bergetar, dia takut Reynold kehilangan kendali di tempat sempit seperti itu.
"Jangan takut, Mas gak segila itu. Mas hanya ingin meluk kamu sebentar," Reynold melingkarkan tangannya di perut Laura lalu mengecup tengkuknya hingga membuat Laura merinding saat merasakan hembusan nafas Reynold yang hangat. Dadanya mendadak sesak dengan deru nafas tersengal.
"Sudah ya Mas, Mas membuatku merinding." ucap Laura dengan polosnya.
"Merinding?" Reynold mengulangi kata itu sambil menyipitkan matanya. "Apa itu artinya-"
"Iya, cukup ya Mas. Nanti malam saja, oke." bujuk Laura agar Reynold mau melepaskannya. Dia takut terbawa suasana dan malah menginginkan suaminya di tempat seperti itu. Pasti sangat memalukan sekali, pikirnya.
Seringai tipis melengkung di sudut bibir Reynold. Apa ini awal dari hubungan mereka? Sepertinya Laura sudah mulai merespon dirinya.
Reynold kemudian melepaskan pelukannya dan membalikkan tubuh Laura, dia mengecup bibir ranum istrinya itu dan melu*matnya dengan lembut.
"Ya udah, pasang bajunya. Jangan sampai Mas berubah pikiran!" ucap Reynold setelah melepaskan pagutan nya.
Setelah membayar tagihan, Reynold menenteng tiga pack paper bag berukuran sedang itu dan menggenggam tangan Laura dengan sebelah tangannya. Keduanya masuk ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanan menuju kantor.
Seperempat jam kemudian, mobil Reynold sudah terparkir di parkiran kantor. Dia turun dan membukakan pintu untuk Laura. Laura nampak canggung, dia memilih menjauh setelah turun dari mobil.
"Mas duluan saja, nanti aku menyusul!" ucap Laura dari jarak beberapa meter. Hal itu tentu saja mengundang emosi Reynold, dia mengerutkan kening sambil menggertakkan giginya kuat.
"Mas hitung sampai lima, kalau kamu gak mendekat, jangan salahkan Mas bertindak nekat di depan semua orang!" ancam Reynold dengan tatapan tajam.
"Mas..." Laura memajukan bibirnya beberapa senti, matanya membulat dengan sempurna.
"Satu..."
"Dua..."
"Tiga..."
"Empat..."
"Li-..."
__ADS_1
"Iya, iya..." Laura terpaksa menurut dan berlari menghampiri Reynold.
"Lingkarkan tangannya di lengan Mas!" titah Reynold sambil merenggangkan ketiaknya.
"Tapi Mas-"
"Li-..."
"Iya, iya..." Lagi-lagi Laura terpaksa menurut dan segera melingkarkan tangannya di lengan Reynold. Keduanya berjalan memasuki lobby hingga mata semua orang tertuju pada mereka.
"Pagi Pak," sapa karyawan kantor secara berjamaah.
"Pagi semuanya. Kenalkan, ini Laura. Dia adalah-"
"Karyawan baru, pindahan dari Bali." potong Laura.
Reynold mengapit lengannya hingga membuat tangan Laura terjepit di dalamnya. Rahangnya mengerat kuat saking inginnya menyentil kepala istrinya itu.
"Ya, dia memang pindahan dari Bali. Tapi dia adalah istriku, itu artinya dia adalah atasan kalian juga." terang Reynold hingga membuat mata Laura membulat dengan sempurna. Tak disangka Reynold ternyata tak segan mengungkapkan kebenaran di depan semua karyawan kantornya.
"Selamat datang Bu Laura, senang bertemu dengan Anda." sapa semua karyawan secara berjamaah.
"Terima kasih," sahut Laura gugup dengan pipi bersemu merah. Tamatlah riwayatnya, pasti semua orang akan mencemooh dirinya yang dianggap memanfaatkan keadaan demi bisa bekerja di kantor tersebut.
Setelah memperkenalkan Laura, Reynold melanjutkan langkahnya menuju lift. Di dalam sana dia melepaskan kekesalannya dan mengunci tubuh Laura hingga tersandar di dinding lift.
Laura menekuk wajahnya, dia tidak berani menatap mata Reynold karena merasa bersalah atas kejadian tadi.
"Katakan apa yang kamu inginkan? Kamu malu mengakui ku sebagai suamimu? Apa kamu ingin menjaga jarak denganku? Kalau begitu anggap saja aku ini bukan siapa-siapa bagimu!" Reynold melepaskan Laura dan menjauh darinya.
"Mas..."
Saat Laura ingin meraih tangan Reynold, pintu lift pun terbuka. Reynold melangkahkan kakinya tanpa mempedulikan Laura yang ingin berbicara dengannya.
Laura berlari menyusulnya tapi Reynold sama sekali tidak mengacuhkannya. Dia masuk ke dalam ruangan dan membanting pintu dengan kasar. Laura yang baru saja tiba di ambang pintu langsung terperanjat hingga langkahnya terhenti.
Mendadak mata Laura berkaca dibuatnya, dia bingung harus bagaimana. Dia tidak berani masuk ke dalam ruangan Reynold, tapi dia juga malu mendapatkan tatapan sinis dari beberapa orang karyawan yang melihatnya.
Laura menundukkan pandangannya dan berjalan meninggalkan pintu ruangan Reynold.
"Maaf, toilet nya dimana ya?" tanya Laura kepada seorang karyawan wanita yang sepertinya adalah sekretaris Reynold.
"Di belakang, Anda lurus saja lalu belok kanan." jawab wanita itu.
"Terima kasih," Laura meninggalkan tempat itu dan berjalan menuju toilet tersebut.
__ADS_1
Bersambung...