Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 103.


__ADS_3

Di halaman rumah, Amit dan Sari baru saja turun dari mobil. Keduanya masih mengenakan seragam sekolah dan membawa beberapa kardus yang berisikan perlengkapan sekolah yang baru saja mereka ambil dari rumah mereka yang lama.


Sesuai arahan Yuna tadi pagi, keduanya mampir dulu ke rumah lama mengemasi barang-barang yang mereka butuhkan.


"Makasih ya Pak, maaf udah ngerepotin." ucap Amit dan Sari berjamaah, lalu menebar senyum kepada Pak Zul yang sudah berbaik hati mengantar dan menjemput mereka dari sekolah.


Pak zul mengangguk kecil sembari tersenyum. "Sama-sama Non Sari, Den Amit."


"Panggil Amit sama Sari aja ya Pak biar lebih akrab!" pinta Amit yang tidak enak hati dipanggil dengan sebutan itu. Mereka hanya numpang di rumah kakak ipar mereka, tidak pantas mereka dipanggil demikian.


"Oke, terserah kalian aja."


Setelah mengucapkan terima kasih, keduanya masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamar masing-masing.


Sebelum membersihkan diri, keduanya segera membereskan kamar dan menyusun buku-buku mereka di atas meja. Rasanya seperti mimpi, tiba-tiba saja hidup mereka berubah dalam sekejap mata. Beruntung sekali kakak mereka mendapatkan suami seperti Beno yang sangat bertanggung jawab terhadap keluarga.


Usai membersihkan diri, Amit dan Sari keluar dari kamar mereka. Kebetulan sekali Reni sudah turun bersama Beno dan berpapasan dengan mereka.


"Sore Kak Reni, sore Kak Beno." sapa keduanya bersamaan.


"Kalian udah pulang?" tanya Reni sembari tersenyum kepada keduanya.


"Udah Kak, baru aja sampai." sahut Sari.


"Makan dulu gih!" timpal Beno.


"Nanti aja Kak, kami masih kenyang." sahut Amit.


"Oh ya Kak, dede bayinya mana? Kok gak dibawa turun?" tanya Sari yang ingin sekali melihat kedua bayi itu.


"Masih di atas, kamu mau jagain mereka?" jawab Reni dengan pertanyaan pula.


"Mau Kak, bawa ke bawah dong!" pinta Amit yang juga ingin melihat kedua bayi itu.


"Mas, aku ke atas dulu ya. Mas duluan aja ke kamar, nanti aku nyusul!" ucap Reni kepada Beno suaminya.


Beno menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. "Ya udah, jangan lama-lama ya!"

__ADS_1


"Iya, gak lama kok." sahut Reni.


Setelah Beno memasuki kamarnya, Reni membawa Sari ke lantai atas. Sementara Amit menunggu mereka di ruang tengah. Manik mata Amit menggelinding menatap setiap sudut rumah itu. Benar-benar mewah hingga Amit tak sanggup berkata-kata.


Di kamar si kembar, Elkan baru saja ingin mendekati Yuna setelah kepergian Beno dan Reni tadi. Eh, baru saja ingin mengecup bibir istrinya, tiba-tiba ada saja yang mengganggu sehingga Elkan urung melakukan aksinya.


"Ups, maaf Kak." ucap Reni sembari menundukkan pandangannya.


Air muka Elkan berubah kesal sedangkan Yuna terlihat biasa-biasa saja.


Seulas senyum terukir indah di bibir Yuna. "Kenapa Reni?"


Reni mendongak dan menatap Yuna sedikit gugup. "Boleh gak aku bawa si kembar ke bawah? Amit sama Sari katanya mau main sama mereka."


Tiba-tiba air muka Elkan berubah lagi, tapi kali ini sudut bibirnya terangkat naik. "Ya udah, bawa aja! Biar mereka main di bawah dulu," sahut Elkan yang seakan mendapat kesempatan untuk membebaskan diri sejenak.


Reni mengangguk kecil dan segera mengambil Elga dari dalam box, lalu memberikannya kepada Sari. Setelah itu Reni mengambil Edgar dan membawanya ke bawah.


Setelah kedua wanita itu meninggalkan kamar si kembar, Elkan tersenyum sumringah dan kembali mendekati Yuna. "Hanya tinggal kita berdua, kali ini gak akan ada lagi yang menghalangi."


Langsung saja Elkan melingkarkan tangannya dan mengapit bokong Yuna, lalu mengangkatnya dan membawanya ke kamar mereka.


"Alasan aja, sekarang waktunya menenangkan otak suamimu ini. Kalau gak, bisa-bisa kepalaku pecah gara-gara memikirkan hal tadi." jelas Elkan dengan senyuman nakalnya.


Elkan membaringkan Yuna di atas kasur lalu berjalan menuju pintu. Segera Elkan menguncinya karena tak ingin kesenangannya kali ini diganggu oleh siapapun.


Setelah pintu terkunci, Elkan kembali menghampiri Yuna dan menindihnya di bawah kungkungan nya.


Tanpa basa basi, Elkan langsung saja melahap bibir ranum Yuna dan melu*matnya dengan rakus. Tidak ada obat yang lebih ampuh dari ini untuk menenangkan otaknya yang sempat stres ulah wanita menyebalkan tadi.


Yuna tidak berani menolak, dia pun membalas luma*tan Elkan hingga keduanya asik membelit lidah.


Setelah melepaskan pagutan nya, Elkan beranjak dan melucuti semua pakaian yang melekat di tubuhnya. Lalu membuka pakaian Yuna hingga keduanya benar-benar polos tanpa sehelai benang pun.


Lalu Elkan menenggelamkan wajahnya diantara sepasang gundukan kembar yang menghias di dada Yuna. Elkan mengecupnya, kemudian berpindah pada pucuk yang menempel di ujung sana.


Elkan menjilati biji kopi itu dan mengitarinya dengan lidah. Perlahan Yuna mulai menggeliat dan suara de*sahan kecil pun lolos dari mulutnya. Elkan yang mendengar itu kian tertantang dan menghisap pucuk dada Yuna seperti seorang bayi yang tengah kehausan lalu menggigitnya hingga tubuh Yuna semakin mengejang dibuatnya.

__ADS_1


Puas bermain-main dengan benda kenyal itu, Elkan turun dan langsung saja menekuk kedua kaki Yuna hingga inti istrinya itu nampak menonjol diantara sepasang pahanya.


Elkan menyelaminya dan menjilatinya tanpa ampun, perlahan tubuh Yuna mulai bergetar tak karuan. Hawa nafas Elkan yang hangat membuat sekujur tubuh Yuna merinding merasakan sensasi yang entah.


"Aughhhh... Elkan... Ya... Enak banget..."


Yuna meracau sembari meliuk-liukkan pinggulnya tak tentu arah. Manik matanya seketika menghilang dari tempatnya. Jeritan kecil pun lolos dari mulutnya saat menikmati pencapaiannya yang pertama hingga membuatnya melemah.


"Aahhhh..."


Melihat istrinya yang begitu, Elkan langsung bangkit dan melu*mat bibir ranum Yuna dengan lembut. Sementara sebelah tangannya bergerak di bawah sana menuntun ular buntet nya memasuki sarang.


"Aughhhh... Pelan-pelan Elkan!"


Mata Yuna langsung terpejam saat ular milik suaminya itu menerobos masuk dan menusuk sampai dalam.


Segera Elkan mengayunkan pinggulnya hingga de*sahan Yuna tak bisa dibendung lagi. Semakin kuat Elkan menekan pinggulnya semakin keras pula suara Yuna.


Kemudian Elkan membalikkan tubuh Yuna hingga tengkurap dan kembali menekan inti Yuna tanpa ampun. Lagi-lagi Yuna tak bisa menahan suaranya hingga menggema memenuhi seisi kamar.


Puas dengan posisi itu, Elkan pun mengangkat pinggang Yuna hingga posisinya seperti bayi yang tengah merangkak. Kembali Elkan menggempur milik Yuna hingga istrinya itu menjerit sembari meremas sprei.


"Elkan... Cukup!"


Yuna tak tahan lagi sehingga meminta Elkan menghentikan aksinya. Posisi seperti itu membuat Yuna kewalahan karena hampir sebatang benda keras itu masuk menekan intinya.


Kasihan melihat istrinya yang sudah tak berdaya, Elkan pun membaringkannya dan ikut berbaring di belakangnya lalu mengangkat sebelah kaki Yuna dan kembali menggempurnya dengan membabi buta. Bahkan sebelah tangannya tak henti menyentuh permukaan inti Yuna hingga membuat sekujur tubuh istrinya itu bergetar hebat.


"Aughhhh... Elkan..." pekik Yuna.


"Panggil Abang!" seru Elkan.


"A-Abang... Aughhhh..." de*sah Yuna yang sudah sampai pada puncaknya.


Elkan semakin mempercepat gerakannya sembari meremas dada Yuna dan menenggelamkan bibirnya di pundak istrinya itu. Tidak lama, tubuh Elkan ikut bergetar saat cairan kental miliknya mengisi inti Yuna.


"Aahhhh..." erang Elkan dengan dahsyatnya, lalu memeluk Yuna dengan erat.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2