
Di luar sana, Elkan menilik mata Yuna dengan tatapan kesal. Dia tak habis pikir kenapa Yuna jadi kekanak-kanakan seperti ini. Elkan sendiri tidak masalah meski Reynold menikahi Laura sekalipun. Reynold berhak bahagia dengan pilihannya begitu juga dengan Laura.
"Sayang, udah dong. Kenapa jadi lebay gini sih? Biarkan saja Reynold memilih siapa yang pantas untuk dirinya!" ucap Elkan berbicara dari hati ke hati.
"Aku bilang gak mau ya gak mau. Masih banyak wanita lain di luar sana yang lebih cantik, kenapa harus dia?" jawab Yuna yang terus saja bersikeras tidak mau menerima pilihan kakak sepupunya itu.
"Ini bukan masalah cantik gak cantik sayang, tapi ini masalah hati. Gak ada yang tau kemana hati kita akan berlabuh." Elkan mencoba meyakinkan Yuna.
"Yuna ingat gak bagaimana kita menikah dulu? Nikah kontrak, perjanjian, tapi akhirnya apa yang terjadi? Abang jatuh cinta sama Yuna hingga kita memiliki si kembar." Elkan menjeda ucapannya beberapa detik.
"Satu lagi, Yuna ingat kan siapa Reni? Dia hanya baby sister si kembar yang kita ambil dari rumah sakit, tapi Beno pun jatuh cinta padanya dan menikahinya." Elkan kembali menjeda ucapannya.
"Lalu apa yang salah jika Reynold menyukai wanita itu? Dia hanya mantan, semua itu hanya masa lalu bagi Abang. Gak ada perasaan apa-apa lagi sejak Yuna ada di hati ini." jelas Elkan panjang kali lebar.
Mendengar itu, Yuna pun memajukan bibirnya beberapa senti. "Tapi aku gak mau Abang dekat-dekat lagi sama dia. Siapa tau dia masih mengharapkan Abang sampai detik ini. Bagaimanapun kalian pernah punya hubungan spesial, pasti gak mudah melupakan semua itu saat kalian bertemu kembali. Jika Abang jatuh cinta lagi sama dia gimana? Lalu bagaimana dengan aku, apa aku harus pergi dari hidup Abang?" lirih Yuna dengan mata berkaca.
Elkan sangat mengerti bagaimana perasaan Yuna saat ini, dia pun mendekap erat tubuh Yuna di dadanya.
"Abang gak akan pernah mengkhianati Yuna. Hati dan cinta Abang cuma untuk Yuna seorang, gak ada tempat lagi untuk wanita lain." gumam Elkan sambil mengusap rambut Yuna.
"Tapi aku takut Bang, aku gak siap kalau sampai itu terjadi. Aku lebih baik mati dari pada harus kehilangan Abang." isak Yuna sambil memeluk Elkan dengan erat.
"Sssttt... Jangan ngomong begitu! Jika Yuna mati, Abang pasti juga mati." ucap Elkan, kemudian mengecup kening Yuna dengan sayang.
Sesaat, keduanya terdiam meresapi pelukan hangat tersebut. Baik Yuna maupun Elkan tak ada yang berbicara sepatah katapun.
__ADS_1
Lima menit kemudian, barulah Yuna membuka suara dan berkata. "Aku akan berusaha menerimanya. Tapi sebelum wanita itu jatuh cinta pada Reynold, kita gak boleh bertemu dengan dia. Biarkan saja Reynold berjuang untuk mendapatkan hatinya terlebih dahulu."
Mendengar itu, seringai tipis melengkung di sudut bibir Elkan. "Nah, gitu dong. Itu baru namanya istri Abang, lebih baik berdamai dengan keadaan agar gak jadi beban buat kita. Lagian sebenarnya Laura itu gadis yang baik, mungkin keadaan lah yang menuntutnya untuk meninggalkan Abang waktu itu."
Yuna menggertakkan gigi dan menggigit pucuk dada Elkan saking geramnya mendengar suaminya itu memuji wanita lain.
"Aduh... Sakit sayang," keluh Elkan meringis kesakitan.
"Puji saja terus wanita itu, anggap aja aku ini patung yang gak punya perasaan sama sekali!" ketus Yuna dengan air muka penuh kekesalan.
"Hehe... Bukannya memuji, tapi begitulah faktanya." Elkan menyeringai memperlihatkan barisan giginya yang rapi. "Tapi tetap saja istri Abang ini yang terbaik dari wanita manapun, apalagi kalau lagi di atas ranjang. Perfect deh pokoknya," goda Elkan dengan senyuman nakalnya.
"Mulai deh otak kotornya meraja lela," keluh Yuna, lalu menenggelamkan wajahnya di leher Elkan dan menggigitnya hingga meninggalkan tanda merah kecoklatan.
"Boleh, itupun kalau Abang udah kehilangan rasa malu." jawab Yuna sambil mengulum senyumannya.
"Hahahaha... Beruntung karena hari ini ada Ayah sama Reynold di rumah. Kalau gak, udah Abang bikin menjerit sampai nangis minta ampun." gertak Elkan, lalu mengangkat dagu Yuna dan mengesap bibir istrinya itu dengan lembut.
Setelah mendapatkan jawaban atas kegelisahan yang dirasakan Yuna saat ini, mereka berdua kembali masuk dan bergabung bersama Aditama, Reynold, Beno dan juga Reni.
Awalnya suasana nampak canggung karena tak ada seorang pun yang bersuara melihat kedatangan mereka. Namun setelah Elkan membuka suara dan berkata bahwa Yuna sudah memberi izin kepada Reynold, suasana berubah menjadi gaduh.
Reynold memutar lehernya beberapa derajat dan menatap Yuna dengan intens. Yuna pun membalasnya dengan tatapan tajam.
"Jangan senang dulu, aku punya syarat yang harus kamu turuti!" Yuna mengalihkan pandangannya ke arah Aditama, beberapa detik kemudian kembali menatap Reynold.
__ADS_1
"Kamu tidak boleh mengenalkan wanita itu kepada kami sebelum dia benar-benar jatuh cinta padamu. Tugasmu meyakinkan wanita itu sampai dia bertekuk lutut di hadapanmu dan mengatakan kalau kamulah pria yang dia cintai. Aku gak mau wanita itu masuk ke dalam kehidupanku sebelum dia melupakan suamiku." terang Yuna.
Mendengar itu, Reynold mengerutkan keningnya lalu memutar pandangannya ke arah Elkan. Elkan yang melihat itu hanya diam sambil mengangkat bahu dan memajukan bibirnya beberapa senti.
"Aku setuju,"
Tiba-tiba Beno berseru hingga membuat pandangan semua orang beralih padanya.
"Kenapa melihatku seperti itu?" Beno mengerutkan keningnya.
"Maksudku, itu syarat yang cukup masuk akal. Kalau Laura mencintai Reynold, itu artinya dia tidak akan berharap lagi pada Elkan. Maka yang ditakutkan Yuna gak akan terjadi. Kini semuanya tergantung Reynold, keputusan ada di tangannya. Mau berjuang atau mundur sebelum berperang?" jelas Beno enteng.
"Aku akan berjuang, kau pikir aku ini pria apaan? Tidak ada sejarahnya seorang Reynold mundur hanya karena masalah seperti ini. Dunia saja bisa aku taklukkan, apalagi hanya seorang wanita." jawab Reynold penuh keyakinan.
Setelah mengatakan itu, Reynold langsung mengalihkan pandangannya ke arah Elkan. "Kau yakin udah gak punya perasaan lagi sama dia? Jangan sampai kau menyesal setelah wanita itu jatuh ke tanganku!" tegas Reynold penuh penekanan.
"Dasar gila, apa kau gak lihat wanita cantik yang duduk di sampingku ini?" Elkan mengukir senyum di bibirnya dan melingkarkan tangannya di pinggang Yuna.
"Kalau kau menginginkan wanita itu, ambil saja olehmu. Aku gak ada perasaan apa-apa lagi padanya, hidupku sudah sangat bahagia bersama wanita bodoh ini. Untuk apa lagi wanita lain? Satu ini aja gak habis-habis," jawab Elkan santai, namun mampu membuat semua orang tertawa terbahak-bahak. Tak terkecuali Aditama, dia merasa sangat bahagia melihat menantunya yang begitu mencintai putri semata wayangnya itu.
Yuna yang mendengar itu nampak tersipu malu dengan pipi merona merah. Ada kalanya Elkan terlihat begitu menjengkelkan di matanya, tapi ada kalanya juga Elkan mampu mengobrak-abrik hatinya hingga berdetak tak tentu arah seperti saat ini.
Yuna hanya berharap Elkan mampu menepati janji yang sudah dia ucapkan.
Bersambung...
__ADS_1