
Beno dan Elkan masuk ke kamar masing-masing setelah Reni dan Yuna membukakan pintu untuk keduanya.
Sebelum menaiki ranjang, Beno memasuki kamar mandi terlebih dahulu dan mencuci wajah serta menggosok gigi. Setelah itu dia keluar dan berbaring di samping Reni.
Sesuai arahan dari Elkan tadi, Beno pun memeluk Reni dan menempelkan bibirnya di tengkuk wanita itu. Sedangkan tangannya nampak melingkar di pinggang Reni dan menyelinap masuk ke dalam baju yang dikenakan istrinya lalu memainkan ujung dada sebesar kelereng itu.
"Mas, jangan ganggu aku! Aku ngantuk," gumam Reni dengan suara serak, nyaris hampir tak terdengar di telinga Beno.
Beno yang mendengar itu langsung menghentikan aksinya dan segera berbalik badan. Nampaknya saran Elkan tadi sama sekali tak berlaku untuk Reni.
Dari pada pusing memikirkan itu, Beno akhirnya memejamkan mata tanpa bicara sepatah kata pun.
Di kamar sebelah, Elkan baru saja keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri. Dia berbaring di samping Yuna dan memeluk pinggang istrinya itu dengan erat. Yuna bisa merasakan ada yang salah dengan deru nafas suaminya itu.
Yuna langsung berbalik hingga wajah keduanya saling berhadapan. "Abang kenapa?"
Elkan mengukir senyum dan menarik nafas dalam-dalam. "Hanya sedikit lelah, tidak ada apa-apa kok sayang."
Yuna mengerutkan keningnya. "Bohong..." Bibir Yuna mengerucut setelah mengatakan itu.
"Hehehe..." Elkan tertawa kecil dan beringsut hingga tak ada jarak lagi diantara mereka. Elkan mengecup bibir Yuna dengan lembut lalu membenamkan wajahnya di dada Yuna. "Ada rahasia yang selama ini mereka tutupi dari Abang, antara percaya atau tidak tapi ini nyata."
"Rahasia apa Bang?" Yuna lagi-lagi mengerutkan keningnya.
Elkan menghela nafas berat dan membuangnya dengan kasar. "Yuna lihat tidak pria yang berdiri di samping wanita tadi?"
"Wanita mana maksud Abang, Ibu?" tanya Yuna.
"Iya sayang, siapa lagi?" jawab Elkan.
"Hm... Yuna lihat sekilas tapi tidak terlalu memperhatikan. Memangnya siapa pria itu?" tanya Yuna lagi.
"Namanya Edward, dia adik kandung Abang." ungkap Elkan lirih.
"Hah..." Mendadak mata Yuna melebar dengan mulut sedikit menganga. "Jangan bercanda Bang! Bukankah Abang keturunan Bramasta satu satunya? Mana mungkin-"
"Awalnya Abang juga tidak percaya sayang, tapi begitulah kenyataannya. Setelah Abang perhatikan, ada banyak kemiripan diantara kami berdua. Seperti ada kontak batin saat Abang melihatnya." jelas Elkan memotong perkataan Yuna.
__ADS_1
"Kenapa Abang segitu yakinnya? Apa ada bukti yang menguatkan semuanya? Yuna takut Abang terjebak lagi dalam permainan Ibu, bisa jadi ini akal-akalan mereka saja." Bukannya apa-apa, Yuna hanya tidak ingin Elkan salah dalam mengambil keputusan yang nantinya akan merugikan dirinya sendiri.
"Tidak ada bukti, tapi hati Abang meyakini itu. Dia juga baik, beda sama Ibunya. Dia bahkan tidak mau Abang mengetahui kenyataan ini karena takut menyakiti Abang." lirih Elkan.
"Kalau gitu Abang cari tau saja agar semuanya menjadi jelas, bila perlu lakukan tes DNA. Setidaknya untuk meyakinkan bahwa semua ini benar dan bukan jebakan. Jika dia memang adik kandung Abang, berarti dia juga berhak atas apa yang Abang miliki. Abang bisa menerima itu kan kalau fakta membuktikannya?" tegas Yuna.
"Hm... Tentu saja, Abang bukan orang yang serakah." gumam Elkan.
"Ya sudah, sekarang Abang istirahat dulu ya. Abang pasti lelah kan?" Yuna mengusap kepala Elkan seperti tengah menidurkan si kembar.
"Hm... Abang butuh obat lelahnya sayang," Elkan mendongak dan mengesap dagu belah Yuna dengan bibirnya yang hangat.
"Hahaha... Belum boleh sayang, puasa dulu ya!" Yuna tertawa kecil sambil menarik hidung Elkan dengan gemas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi hari, semua anggota keluarga sudah berkumpul di ruangan depan kamar. Tidak dengan Beno dan Reni yang tengah berkemas di kamar mereka.
Setelah penolakan beruntun tadi malam, Beno benar-benar kesal dan memilih kembali ke kediaman Bramasta. Percuma juga mereka berdua menetap di sana, tidak ada yang bisa dia nikmati.
Saat semua orang ingin melangkah menuju lift, Beno keluar dari kamar sembari menarik sebuah koper dan Reni pun menyusulnya di belakangnya.
"Beno, Reni, kalian mau kemana? Bukankah kita akan pulang lusa?" cerca Yuna dengan pertanyaan.
"Kalian saja, aku akan kembali hari ini juga." sahut Beno dengan tatapan yang sulit diartikan. Hal itu membuat kening Yuna mengkerut seketika itu juga.
Lalu Yuna mengalihkan pandangannya ke arah Reni, wanita itu hanya diam sambil mengangkat bahunya. Tentu saja tindakan Reni itu mampu membuat darah Beno mendidih hingga ubun-ubun. Sudah membuat suaminya marah tapi seakan tak berdosa sama sekali.
"Nikmati hari kalian, semoga menyenangkan." Setelah mengatakan itu, Beno memotong langkah semua orang dan disusul oleh Reni di belakangnya. Keduanya masuk ke dalam lift dan turun menuju lobby.
Setelah mereka berdua menghilang, Yuna mematut Elkan dengan intim. Dia curiga ada sesuatu yang disembunyikan suaminya itu. Dari tadi air mukanya terlihat santai seakan tak terkejut sedikitpun.
"Bang...?"
"Sssttt... Nanti saja! Sekarang kita semua turun dan sarapan dulu, Abang sangat lapar." potong Elkan. Dia sudah tau kemana arah pembicaraan Yuna sebenarnya. Lagian Elkan tidak mungkin mengatakan itu di hadapan Amit dan Sari. Sekarang saja keduanya sudah terlihat kebingungan setelah kepergian kakak dan kakak ipar mereka.
"Kak Elkan..."
__ADS_1
"Sudah Amit, cepat jalan! Cacing di perut Kak Elkan sudah marah-marah dari tadi." Kini Elkan memotong perkataan Amit.
Amit mengangguk lemah. Dia kemudian berjalan menuju lift dan langsung menekan tombol. Setelah pintu lift terbuka dan semua masuk ke dalamnya, Amit kembali menekan tombol menuju restoran yang ada di hotel itu.
Di parkiran, Beno menaruh kopernya di dalam bagasi dan masuk ke dalam mobil dengan tatapan tajam seperti mata elang. Dia sengaja tidak membukakan pintu untuk Reni saking jengkelnya pada wanita itu.
Sedangkan Reni sendiri terlihat begitu santai tanpa rasa bersalah sedikitpun. Dia malah membuka pintu belakang dan duduk seperti seorang nyonya yang akan pulang bersama seorang sopir. Tentu saja hal itu membuat kemarahan Beno semakin menjadi.
Beno mengepalkan tangannya dan menginjak pedal gas dalam kemarahan. Mobil itu melesat kencang seperti seorang pembalap yang tengah berusaha keras mencapai garis finish.
Meskipun Reni sebenarnya takut tapi dia berusaha tenang dan mencoba mengatur nafas. Namun di tengah perjalanan dia merasa mual karena guncangan hebat yang memutar seluruh isi perutnya, apalagi dia belum sempat sarapan pagi ini.
"Mas, tolong berhenti sebentar! Aku-"
"Nikmati saja!" potong Beno tanpa menoleh ke belakang.
"Mas... Aku pengen mun-"
Belum selesai Reni berbicara, isi perutnya sudah berhamburan keluar hingga berserakan di lantai mobil.
"Huweeek... Huweeek..."
Beno tersentak mendengar itu, dia menoleh ke belakang dan mendapati Reni yang sudah menunduk sambil menepuk tengkuknya. Segera Beno memperlambat laju mobilnya dan menepi di pinggir jalan.
"Sayang, kamu tidak apa-apa kan?"
Beno memanjat bangku kemudi dan berpindah ke belakang.
"Mas, aku pusing."
Reni menyeka mulutnya dan merebahkan kepalanya di bahu Beno.
"Huweeek..."
Reni tak bisa menahannya, isi perutnya kembali berhamburan hingga mengenai pakaian Beno.
Beno ingin sekali marah tapi tidak mungkin mengingat kondisi Reni yang sedang tidak baik.
__ADS_1
Lalu Beno mengusap punggungnya dan berkata. " Keluarkan saja semuanya jika itu bisa membuatmu nyaman."
Bersambung...