
Kali ini Laura kembali merasakan kehangatan tubuh Reynold, tapi rasanya jauh berbeda dengan dini hari tadi. Sangat lembut dan mampu membuat Laura melayang setinggi-tingginya.
Reynold menguasai permainan sepenuhnya, tidak ada yang dia lewatkan sedikit pun. Dia melahap habis tubuh Laura mulai dari bibir, leher, dada, perut, bahkan inti Laura sekali pun. Hal itu membuat Laura mati kutu dan hanya bisa pasrah menerima setiap gerakan yang dilayangkan suami bajingan nya itu.
Laura merasa malu akan kebodohannya sendiri, bisa-bisanya dia mende*sah dan menikmati permainan suami gilanya itu. Dia sampai tak berani menatap wajah Reynold hingga memilih menutup mata sambil menggigit bibir bawahnya.
Usai pertempuran panas itu, Laura berniat untuk kabur ke kamar mandi tapi Reynold malah memeluknya dengan erat seakan tak ingin melepaskannya.
Reynold mengusap pucuk kepala Laura dan mengecupnya dengan sayang. "Belajarlah menerimaku sebagai suamimu, aku janji akan menjagamu dan membuatmu bahagia di sisiku!"
Tentu saja Laura terkejut mendengar itu, apa maksudnya coba? Bagaimana bisa Reynold membahagiakan dirinya sementara dia sendiri sudah memiliki tiga istri lain di luar sana. Seadil-adilnya seorang suami memperlakukan istrinya, pasti akan ada cacatnya juga pikir Laura pilu.
"Pak, apa yang sebenarnya kau inginkan dariku? Kenapa menyeret ku dalam situasi rumit seperti ini? Aku malu, tidak seharusnya kita melakukan ini lagi apalagi dalam keadaan sadar seperti tadi." lirih Laura dengan mata berkaca.
"Pertanyaan aneh," Reynold mengerutkan keningnya dan membawa Laura ke dalam dekapan dadanya. Rasanya sangat nyaman, tapi tidak untuk Laura yang merasa takut terseret lebih dalam lagi dalam hubungan palsu ini.
Pukul enam sore, Laura terbangun setelah sempat tertidur dalam kehangatan pelukan Reynold. Dia mendongakkan kepalanya saat menyadari tubuhnya masih menempel dengan tubuh suaminya itu.
Laura menatap wajah Reynold dengan intim, memang sangat tampan tapi sayangnya pria itu bukan miliknya. Jika saja Reynold masih bujangan, dia pasti tidak akan menolaknya. Apa yang harus dia lakukan setelah ini? Kenapa situasinya jadi menakutkan seperti ini?
Laura menghela nafas berat dan membuangnya dengan kasar, lalu mendorong dada Reynold perlahan hingga tubuhnya terlepas dari pelukan suami gilanya itu.
Sesampainya di kamar mandi, Laura berdiri tegak sambil mematut wajahnya di depan cermin. Laura tidak bisa seperti ini, Reynold bahkan tidak mengindahkan syarat yang sudah dia ajukan sebelumnya. Air muka Laura mendadak gelap, dia harus menyusun rencana agar bisa kabur dari suaminya itu.
__ADS_1
Usai membersihkan diri, Laura keluar mengenakan daster rumahan. Dia ingin keluar dari kamar tapi sayangnya pintu masih terkunci dan dia tidak tau dimana Reynold menyembunyikan anak kunci tersebut. Dia juga tidak berani membangunkan Reynold hingga akhirnya memilih duduk di balkon sambil memegangi perutnya yang mulai keroncongan.
Satu jam berlalu, Reynold pun terbangun dan menyipitkan matanya saat menyadari Laura yang sudah tidak ada lagi di sampingnya. Reynold mengucek matanya pelan lalu turun dari tempat tidur.
Reynold berjalan menuju kamar mandi tapi tak melihat Laura di dalam sana. Dia kemudian memperhatikan sekelilingnya dan tersenyum saat mendapati pintu balkon yang menganga, dia pun melangkahkan kakinya. Saat matanya menangkap keberadaan Laura, dia langsung memeluknya dari belakang.
"Kenapa berdiri di sini? Kamu mau terjun bebas? Ini tinggi loh," seloroh Reynold sambil menopang dagunya di pundak Laura.
"Kau benar, harusnya aku sudah terjun dari tadi. Bodohnya aku karena masih berdiri di sini seperti patung." gumam Laura sesegukan.
Reynold terkejut mendengar suara Laura yang serak dan terbata, lalu dengan cepat memutar tubuh istrinya itu hingga mereka berdua saling berhadapan. Tatapan keduanya bertemu untuk beberapa saat sebelum Laura membuang pandangannya.
"Hei, kenapa kamu nangis? Apa aku melakukan kesalahan?" tanya Reynold dengan mata membulat sempurna, lalu menyapu pipi Laura dengan jemarinya.
"Deg!"
Jantung Reynold bergemuruh kencang mendengar itu. Setelah apa yang terjadi diantara mereka, kenapa Laura masih saja bersikeras ingin pergi darinya? Reynold benar-benar tidak mengerti, apa Laura pikir Reynold itu tidak punya hati dan perasaan?
"Sudah aku katakan kalau aku tidak akan pernah melepaskan mu, kenapa kamu begitu keras kepala?" geram Reynold dengan tatapan tajam.
"Tapi aku tidak mau jadi istrimu, aku tidak bisa hidup seperti ini." lirih Laura.
"Kenapa? Apa aku tidak cukup baik bagimu? Apa aku tidak menarik di matamu? Bahkan setelah apa yang terjadi diantara kita, kamu masih tidak mau menerimaku sebagai suamimu?" cerca Reynold dengan pertanyaan bertubi.
__ADS_1
"Aku tidak tau, aku bahkan tidak mengenalimu sebelumnya. Kenapa menjebak ku dalam kehidupanmu? Aku hanya ingin hidup tenang, aku tidak bisa menjalani hari-hariku bersamamu." sahut Laura.
Reynold mengusap wajahnya berkali-kali, lalu menghirup udara sebanyak-banyaknya. Nampaknya dia mulai kehilangan akal menghadapi sikap keras kepala wanita yang sudah dinikahinya itu.
"Sekali lagi aku tegaskan padamu. Hubungan ini nyata dan aku tidak pernah main-main dengan ucapan ku. Tidak ada kata perpisahan apalagi perceraian, maka belajarlah mencintaiku mulai detik ini!" tegas Reynold penuh penekanan.
"Kenapa aku harus mencintaimu? Kenapa?" bentak Laura yang mulai tersulut emosi.
Reynold menggertakkan giginya dan menyentuh tengkuk Laura, lalu menariknya dan mengesap bibir ranum istrinya itu dengan penuh kelembutan. "Pikirkan sendiri jawabannya, aku tidak akan pernah menyentuh apapun yang tidak aku sukai!"
Setelah mengatakan itu, Reynold berbalik dan berjalan meninggalkan balkon. Dia masuk ke dalam kamar mandi dan segera membersihkan diri. Dia pikir Laura akan menerimanya setelah apa yang mereka lakukan sebelumnya, tapi dugaannya ternyata salah. Gadis itu benar-benar membuat kepalanya pusing tujuh keliling.
Laura masih terpaku di tempatnya berdiri sambil menelaah kata-kata Reynold barusan. Apa maksudnya Reynold tidak akan pernah menyentuh apapun yang tidak dia sukai? Apa itu artinya Reynold menyukainya? Ah, mana mungkin? Mereka bahkan tidak pernah bertemu sebelumnya, kalau pun pernah Laura sama sekali tidak menyadarinya.
Laura kemudian menekuk kakinya di atas sofa, pikirannya sangat kacau. Otaknya seakan tak berfungsi lagi untuk berpikir. Kenapa dia harus dihadapkan dengan situasi serumit ini? Apa yang akan terjadi jika ketiga istri Reynold tau tentang ini? Apa Laura akan dibully?
Tidak, tidak, mereka pasti akan menyakitinya jika mengetahui kebenaran ini. Tentu saja Laura tidak berani menghadapi mereka. Bagaimanapun dia tetap bersalah karena sudah mengambil barang yang bukan miliknya.
Lalu apa yang harus dia lakukan setelah ini? Apa dia sanggup menghadapi situasi ini sendirian?
Laura kemudian mengusap wajahnya dengan kasar, lalu memijit dahinya yang mulai terasa pusing. Hanya keajaiban lah yang bisa membantunya agar terlepas dari belenggu pernikahan semu ini.
Bersambung...
__ADS_1