
Cukup lama keduanya terlelap. Saat membuka mata, Yuna terlonjak melihat jam yang terpajang di dinding. Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, segitu lelah kah hingga keduanya tak sadar lagi dengan waktu?!
"Astaga, tidur apaan seperti ini?" keluh Yuna sembari mengucek matanya.
Elkan masih pulas di pelukan istrinya, rasanya begitu nyaman hingga pelukannya tak pernah terlepas walau sedetik. Hati yang dulunya sangat keras perlahan melunak seiring rumah tangganya yang semakin hangat.
"Elkan, bangun sayang!" seru Yuna sembari menepuk pipi suaminya.
"Hm," gumam Elkan yang masih betah memeluk tubuh semok istrinya.
"Sayang, ayo bangun! Ini sudah malam loh, apa kita akan tidur di sini?" tanya Yuna. Kini dia pun mengguncang lengan Elkan sedikit keras.
"Aku masih ngantuk sayang, sebentar lagi ya." tawar Elkan sembari mengencangkan pelukannya.
Yuna hanya bisa mendesis, bangun pun tak akan bisa karena tubuhnya dililit erat oleh Elkan layaknya sebuah guling. Mau tidak mau, Yuna akhirnya pasrah menunggu suaminya benar-benar bangun.
Di rumah sana, Beno tengah gelisah sembari bolak-balik seperti setrikaan. Nampak kegalauan yang begitu mendalam di wajahnya, entah apa yang tengah dia pikirkan saat ini. Berkali-kali dia mencoba menghubungi Elkan, namun tak sekalipun panggilannya diterima.
"Dimana dia? Kenapa jam segini belum pulang juga?" batin Beno mempertanyakan keberadaan Elkan.
Pukul 8 malam, Elkan dan Yuna meninggalkan kantor. Beruntung Elkan menyimpan kunci serap, jika tidak keduanya tidak akan bisa keluar karena pintu utama sudah terkunci.
Sebelum pulang, Elkan mengajak Yuna makan malam terlebih dahulu. Tubuh yang sudah segar membuat perutnya mengeluarkan bunyi yang mengganggu. Bahkan Yuna sampai menertawakan dirinya dengan leluasa.
Di sebuah cafe, Elkan dan Yuna memilih duduk di meja outdoor. Menikmati suasana malam yang bertabur bintang, cahaya bulan sabit menambah indahnya malam ini.
Yuna duduk bersebelahan dengan Elkan, namun sedetik kemudian Elkan menarik Yuna dan mendudukkannya di atas pangkuannya.
"Elkan, jangan begini! Malu diliat orang," keluh Yuna sembari mengangkat bokongnya, berusaha menjauh dari kebucinan suaminya yang tak mengenal tempat.
"Untuk apa malu? Istri sendiri juga," jawab Elkan dengan santainya.
"Istri sih istri, tapi gak di tempat umum juga Elkan. Jaga wibawa mu! Apa kamu mau menjadi bahan omongan semua orang? CEO Bramasta Corp berbuat mesum bersama bawahannya di tempat umum! Kamu mau dibilang begitu?" ledek Yuna dengan bibir komat kamit maju mundur.
__ADS_1
"Hehe, iya juga ya. Kalau begitu aku akan meresmikan pernikahan kita, semua orang harus tau kalau wanita cantik ini adalah istriku. Milik Elkan seorang," jelas Elkan sembari mencubit hidung Yuna gemas. Jika tidak memikirkan keberadaan mereka yang masih di tempat umum, mungkin sudah dia lahap bibir istrinya dengan rakus.
"Terserah kamu aja, sekarang lepasin aku dulu!" pinta Yuna memelas.
"Baiklah, tapi dengan satu syarat ya." tawar Elkan sembari mengangkat telunjuknya.
"Syarat apa?" tanya Yuna yang mulai geram melihat kelakuan suaminya.
"Nanti malam lagi ya?" Elkan tersenyum lebar.
"Hah, apa kamu ini robot? Gak ada capek-capeknya," omel Yuna dengan wajah dinginnya.
"Siapa suruh kamu terlalu nikmat?" bisik Elkan tepat di telinga Yuna, membuat bulu kuduk Yuna meremang seketika.
"Dasar suami gila!" Yuna mencubit perut Elkan saking jengkelnya, lalu berpindah ke bangku yang ada di hadapan Elkan.
Elkan hanya bisa tersenyum melihat raut muka Yuna, sangat menggemaskan baginya. Apalagi mengingat de*sahan Yuna yang begitu menggoda, membuat gairahnya selalu meletup tanpa bosan sedikitpun.
Makanan yang dipesan sudah tiba, keduanya mulai menikmati meskipun Yuna masih enggan menatap wajah suami gilanya itu.
Baru saja keduanya turun dari mobil, Beno sudah menyambut mereka dengan tatapan aneh. Ada sesuatu yang mengganjal di hati Beno, entah apa hanya dialah yang tau.
"Kenapa pulangnya selarut ini? Dari mana saja kalian?" tanya Beno dengan tatapan yang sulit dimengerti.
"Hey, biasa aja kali. Kenapa menatap kami seperti itu? Kami ini bukan anak kecil yang harus lapor kemanapun kami pergi." gerutu Elkan sedikit kesal, tatapan Beno membuatnya risih.
"Kalian ngobrol aja dulu! Aku mau masuk, capek." Yuna melanjutkan langkahnya tanpa mempedulikan ketegangan diantara kedua pria itu.
"Sayang, jangan tidur dulu ya! Aku segera menyusul," teriak Elkan lantang agar Yuna bisa mendengarnya.
Yuna berbalik sembari tersenyum kecut, kemudian melanjutkan langkahnya menuju lantai dua.
Elkan melangkah masuk dan duduk di ruang tamu, begitupun dengan Beno yang mengikutinya dari belakang.
__ADS_1
"Ada apa? Aku perhatikan wajahmu sedikit aneh, apa yang terjadi?" tanya Elkan penasaran.
Beno menghela nafas sebanyak-banyaknya. Agak tegang memang, namun dia harus mengatakan apa yang seharusnya dia katakan. Selama ini tak ada yang ditutupi diantara mereka, begitupun hari ini. Pahit manisnya, susah senangnya, mereka harus saling terbuka demi hubungan yang sudah terjalin erat sedari kecil.
"Laura kembali," seru Beno langsung pada intinya.
"Deg!"
Elkan membulatkan matanya. Sedikit terkejut sekaligus tak percaya, namun mata Beno tak menunjukkan kebohongan sedikitpun.
"Apa yang kau katakan? Jangan bercanda!" seru Elkan dengan mata yang masih terbuka lebar.
"Untuk apa aku bercanda? Sore tadi dia ke sini, katanya ingin minta maaf padamu. Sebenarnya dia belum menikah, selama ini dia di luar negeri menyelesaikan studinya." jelas Beno.
"Deg!"
Lagi-lagi mata Elkan membulat sempurna diiringi detak jantung yang berdegup tak menentu. Apa-apaan ini? Kenapa wanita itu harus kembali setelah Elkan bersusah payah melupakannya. Lalu bagaimana dengan Yuna? Wanita yang sudah menjadi istri Elkan seutuhnya.
"Ben, tolong sembunyikan ini dari Yuna! Aku tidak ingin dia tau," pinta Elkan dengan wajah gusar, bingung harus apa setelah ini.
"Kenapa disembunyikan? Dia istrimu, dia berhak tau. Atau, apa kau masih mencintai Laura? Lalu bagaimana dengan Yuna? Ingat Elkan, dia sudah terlalu menderita selama ini. Jangan sampai kau menyakitinya lagi!" Beno mengusap wajahnya berkali-kali, dia juga bingung memikirkan situasi ini.
"Entahlah, aku juga tidak tau. Aku sangat mencintai Yuna, tapi di sisi lain aku juga belum sepenuhnya melupakan Laura."
"Deg!"
Kini giliran jantung Beno yang berdegup tak menentu.
"Elkan, aku ingatkan padamu. Lupakan Laura, fokus saja pada Yuna yang sekarang sudah sah menjadi istrimu! Jangan sampai Yuna mengetahui perasaanmu yang terbagi, kau akan menyesal jika Yuna meninggalkanmu sekali lagi! Laura hanya masa lalu bagimu, tapi Yuna lah yang berdiri di sampingmu saat ini. Dia masa depanmu," tandas Beno.
Elkan menyandarkan punggungnya pada tampuk sofa. Berkali-kali dia mengusap wajahnya, berkali-kali pula dadanya terasa sesak.
Dendam dan sakit hatinya terhadap Laura memang sangat besar, namun dia tidak bisa memungkiri bahwa masih ada sedikit rasa cinta yang tersisa.
__ADS_1
Ah, sudahlah. Mungkin saja itu hanya perasaannya saja. Sekarang sudah ada Yuna, wanita yang mampu mengubah sudut pandangnya. Namun apakah sebenarnya Yuna hanya pelarian saja baginya? Tidak mungkin! Jika Yuna hanya pelarian, kenapa dia bisa dibuat separuh gila saat Yuna meninggalkannya?! Sungguh keadaan Elkan tengah dilanda dilema yang mendalam.
Bersambung...