
Aditama tersandar lesu pada tampuk sofa. Raut wajahnya menyiratkan kebahagiaan, namun ada ketakutan yang bersarang di hatinya.
Bahagia, itu sudah jelas. Ayah mana yang tak bahagia mengetahui kabar kehamilan putrinya, mengandung calon cucunya yang akan menemani masa tuanya kelak.
Tapi Yuna begitu istimewa, dia tidak sama dengan wanita hamil pada umumnya. Apa Yuna bisa bertahan dengan kehamilannya ini? Sementara untuk membuka mata saja dia tidak bisa.
"Elkan, bagaimana kalau kita bawa saja Yuna ke luar negeri? Rumah sakit di sana lebih canggih. Jangan pikirkan masalah biaya, Reynold pasti bisa membantumu!" saran Aditama.
Elkan terperanjat mendengar pernyataan Aditama barusan. Luar negeri, mana mungkin? Bukan tidak memiliki uang, tapi banyak sekali kemungkinan yang harus dipertimbangkan.
"Maaf Yah, Elkan tidak setuju. Jika hanya Yuna saja, Elkan tidak masalah. Tolong pikirkan juga anak Elkan yang ada di perut Yuna Yah, Elkan ingin Yuna melahirkannya. Perjalanan ke luar negeri tentunya berisiko terhadap janin yang dikandung Yuna." tolak Elkan.
"Tapi Ayah tidak sanggup lagi melihat keadaan Yuna seperti ini. Lama-lama, Ayah bisa mati berdiri." keluh Aditama sembari memegangi dadanya yang mulai terasa sesak.
"Ayah...,"
Elkan segera mengambilkan air mineral dan membantu Aditama meneguknya.
"Ayah tidak perlu berpikir aneh-aneh! Ingat, jantung Ayah masih lemah. Jika Ayah ikut terbaring, siapa yang akan menguatkan Elkan?" Elkan mengusap punggung Aditama layaknya seorang putra yang menyayangi ayahnya.
"Sampai kapanpun, Elkan akan tetap menunggu Yuna. Elkan yakin Yuna akan sadar dan kembali ke pelukan Elkan. Cinta kami kuat Yah, cinta itulah yang akan menyatukan kami kembali." jelas Elkan meyakinkan mertuanya.
Aditama terdiam menelaah kata-kata Elkan barusan. Segitu besarkah cinta Elkan terhadap Yuna hingga rela menelantarkan pekerjaan dan tetap setia mendampingi istrinya.
Jika pria lain, mungkin akan begitu mudah meninggalkan istrinya yang sudah tak memiliki harapan sama sekali.
"Apa kau benar-benar mencintai Yuna?" tanya Aditama memastikan.
"Sangat Ayah, Elkan sangat mencintai Yuna. Apapun dan bagaimanapun keadaan Yuna nantinya, Elkan akan menerima Yuna setulus hati. Meski Yuna tak bisa berjalan sekalipun, Elkan akan tetap setia pada Yuna."
Aditama menghela nafas lega, kemudian mengusap wajahnya berkali-kali. Semoga saja apa yang dikatakan Elkan itu benar adanya.
Sore hari, Aditama pamit meninggalkan ruangan Yuna. Beberapa menit kemudian, Beno datang membawakan pakaian ganti untuk Elkan dan Yuna. Dia juga membawakan makanan kesukaan Elkan yang sudah disiapkan oleh Diah.
"Sore," sapa Beno dengan kepala yang menjulur di sela pintu.
"Masuk saja!" sahut Elkan yang tengah berbaring di samping Yuna.
Setelah Beno melangkah masuk, Elkan pun bangkit dari pembaringannya, kemudian beranjak menuju sofa.
"Ini, aku bawakan makanan untukmu. Kata Diah harus di makan, jika tidak dia bisa sedih." jelas Beno sembari menaruh rantang di atas meja.
__ADS_1
"Sampaikan ucapan terima kasih ku padanya! Aku akan memakannya nanti," ucap Elkan.
Sesaat, suasana di ruangan itu menjadi hening. Baik Elkan mau pun Beno tak satu pun yang bicara, hanya saling menatap lalu melempar pandangan ke arah lain. Begitulah sampai beberapa kali hingga pada akhirnya Elkan pun membuka suara.
"Bagaimana keadaan perusahaan?" tanya Elkan ingin tau.
"Seperti biasa, aman, lancar, tidak ada yang perlu dikhawatirkan!" jawab Beno dengan santainya.
"Maaf karena sudah merepotkan mu," ucap Elkan.
"Tidak masalah, asal kau benar-benar serius menebus kesalahanmu." balas Beno dengan dinginnya.
"Menurutmu aku sedang apa sekarang? Main ular tangga?" gerutu Elkan dengan tatapan mematikan.
"Hati orang siapa yang tau? Bisa aja kau bosan dan meninggalkan Yuna begitu saja." sindir Beno sembari tersenyum miring.
"Aku tidak sejahat yang kau pikirkan! Mana mungkin aku meninggalkan istri dan anakku?" sanggah Elkan.
"Anak?" Beno menautkan alisnya. "Anak apa maksudmu?" imbuh Beno.
"Anak apa, anak apa? Ya anakku lah," geram Elkan. "Ada anakku di perut Yuna, kembar." lirih Elkan dengan mata berkaca-kaca.
"Benarkah? Apa itu artinya aku akan jadi Paman?" tanya Beno begitu antusias.
"Hey, jangan sedih! Kau harus kuat! Jika kau sedih, Yuna pasti ikut-ikutan sedih. Bahaya buat kandungannya." tegas Beno menguatkan Elkan.
"Kau benar,"
Elkan kembali tersenyum meski terlihat kecut.
"Ben...," panggil Elkan.
"Ya...," sahut Beno.
"Apa kau sudah bertemu dengan Laura?" tanya Elkan penasaran.
"Belum, sejak kecelakaan itu dia tidak pernah lagi ke perusahaan." jelas Beno.
"Baguslah, memang sudah seharusnya seperti itu. Tapi jika kau bertemu dia, jangan lupa katakan kalau hubungan kami sudah berakhir!" pinta Elkan.
"Ok, sesuai keinginanmu saja." Beno pun menyibukkan diri dengan ponselnya.
__ADS_1
"Ben...," panggil Elkan lagi.
"Hm...," gumam Beno.
"Tolong cariin mangga muda dong!" pinta Elkan dengan wajah memelas.
"Mangga muda? Untuk apa?" tanya Beno sembari mendongak menatap Elkan.
"Awalnya aku hanya sekedar memanasi Yuna biar bangun, kok sekarang malah aku nya yang ingin." jelas Elkan, kemudian meneguk ludahnya dengan kasar. Mendadak lidahnya terasa kecut.
"Kau ini ada-ada saja ih. Apa ngidam Yuna pindah padamu?" tanya Beno.
"Sepertinya begitu, tolong aku ya!" mohon Elkan memelas.
"Iya, iya, dasar parasit! Baru juga duduk sudah disuruh pergi lagi." geram Beno sembari bangkit dari duduknya.
"Duduknya disambung nanti, cariin dulu!" desak Elkan.
"Iya bawel." Beno menghentakkan kakinya dan berlalu meninggalkan ruangan.
Setelah Beno menghilang, Elkan kembali berbaring di samping Yuna. Sementara Beno, dia tengah berkeliling menyusuri jalanan.
"Kemana aku harus mencari mangga muda untuknya?" gumam Beno sembari fokus menatap ke kiri dan ke kanan secara bergantian. Namun tangannya masih fokus pada stir.
Satu jam, dua jam, mata Beno akhirnya menangkap keberadaan pohon mangga di pekarangan rumah yang ada di jalanan kecil.
"Nah, ketemu kau." gumam Beno sembari tersenyum kecil.
Beno segera menepikan mobilnya di sisi jalanan yang cukup lapang. Setelah mematikan mesin mobil, Beno turun dan melenggang mendekati pohon mangga tersebut. Kebetulan pohonnya tengah berbuah dengan lebat, buahnya pun besar-besar.
"Minta atau nyolong aja ya?" pikir Beno sembari mengetok ngetok jidatnya.
Setelah berdebat dengan pikirannya sendiri, Beno memutuskan untuk memintanya terlebih dahulu. Jika harus membeli juga gak papa, asal jangan nyolong karena hal itu merupakan perbuatan tidak terpuji.
"Permisi," teriak Beno yang sudah berdiri di depan pagar. Sayangnya suasana rumah nampak sepi, tak ada kehidupan di dalam sana.
"Permisi, ada orang kah?" teriak Beno lagi.
Tiba-tiba seorang anak kecil mendekat dan berkata. "Ngapain Om?"
Tubuh kecil bontot dengan perut buncit. Memakai kaos hitam dan celana jeans pendek, lengkap dengan topi menghadap belakang. Berdiri sembari berkacak pinggang dan sedikit senyuman nakal. Persis seperti preman pasar yang sedang memalak uang keamanan.
__ADS_1
Bersambung...