Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 92.


__ADS_3

Beno keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Sementara Reni sendiri sudah berbaring lebih dulu di atas kasur dengan sebagian tubuh tertutup selimut. Dia berusaha mengatur nafas saat mendengar derap langkah kaki Beno yang tengah berjalan menuju ranjang.


"Ya Tuhan, tolong kuatkan aku! Jantungku rasanya ingin keluar detik ini juga," batin Reni sembari meremas jari jemarinya, tarikan nafasnya terdengar tercekat saking gugupnya.


Beno mengukir senyum saat bokongnya menyentuh sisi ranjang, sedetik kemudian handuk yang melilit di pinggangnya sudah terlepas dan terbang entah kemana. Segera Beno menaiki ranjang dan berbaring di belakang Reni yang tengah tidur dalam posisi miring.


Reni memicingkan matanya saat tangan Beno masuk ke dalam selimut dan mulai menggerayangi tubuhnya. Sekuat hati Reni berusaha menahan diri, sekuat itu pula jantungnya berdetak tak tentu arah.


Beno menyibakkan rambut Reni yang menutupi sebagian wajahnya, kemudian mengecup tengkuk Reni dengan lembut. Nafas Beno mulai memburu menahan gejolak hasrat yang sudah berkecamuk di dirinya. Apalagi saat tangannya berlabuh di dada kenyal milik Reni yang selalu membuatnya candu. Beno meremas keduanya bergiliran hingga de*sahan manja lolos dari mulut istrinya itu.


"Aughhhh..."


De*sahan Reni seakan menjadi daya tarik tersendiri bagi Beno, suara itu membuat sekujur tubuhnya meremang hingga bulu-bulu halus di setiap kulitnya berdiri tegak seketika itu juga.


Beno yang sudah tak tahan ingin menjelajahi tubuh Reni segera bangkit dan menindihnya di bawah kungkungan nya. Mata Reni membulat sempurna saat mendapati tubuh Beno yang polos tanpa sehelai benang pun.


"Beno, apa kamu gak malu?" gumam Reni dengan suara seraknya.


Beno mengukir senyum yang membuat Reni terpesona. Reni tak menyangka ternyata suaminya itu sangat tampan dengan senyuman manis di bibirnya. Mata elang yang sangat tajam dengan rahang yang terpahat jelas membuat ketampanan suaminya itu kian memancar, apalagi saat Beno tersenyum memperlihatkan barisan giginya yang putih dan rapi, membuat Reni klepek-klepek dengan dada berdenyut ngilu, darahnya mengalir deras berpacu dengan detak jantungnya yang berdegup semakin kencang.


"Kenapa menatapku seperti itu? Kamu baru sadar bahwa suamimu ini sangat tampan," seloroh Beno yang mulai gemas melihat air muka polos istrinya yang menggemaskan.


"Mana ada, kamu terlihat jelek banget seperti ini." jawab Reni yang sengaja menyembunyikan kekagumannya agar Beno tidak merasa di atas angin.


"Wow, benarkah? Lalu kenapa kamu mau menikah dengan pria jelek ini?" tanya Beno sembari mengedipkan sebelah matanya.


"Entahlah, mungkin kasihan karena kamu gak laku-laku. Apalagi kerjaannya gangguin aku terus," jawab Reni dengan entengnya hingga membuat Beno naik pitam.


"Kasihan katamu? Baiklah, akan ku buktikan semua ucapan mu itu. Jangan sebut namaku Beno kalau gak bisa membuatmu nangis kali ini!"


Tanpa permisi, Beno langsung saja membungkam mulut Reni dan mengesap nya dalam. Beno melu*matnya tanpa ampun hingga membuat Reni kesulitan mencuri nafas. Meski sesak sekalipun, Beno masih tak ingin melepaskan pagutan nya. Lidahnya semakin lihai menyelami rongga mulut Reni dan membelit lidah istrinya itu. Apalah daya Reni tak bisa mengelak selain mengimbangi permainan suaminya. Beno bahkan dengan santainya menyedot liur mereka yang sudah membaur jadi satu.


Puas mengobrak-abrik mulut Reni, Beno turun dan mengecup setiap inci leher jenjang putih mulus itu tanpa ampun, menjilatinya dan menggigitnya hingga menyisakan tanda-tanda kepemilikan yang tak terhitung banyaknya. Reni lagi-lagi tak bisa mengelak, lenguhan manjanya seketika membuat tubuh Beno meremang.


Beno menghentikan aksinya sejenak, kemudian menatap manik mata Reni dengan intim. Dia bisa melihat bagaimana reaksi Reni menerima sentuhannya, pipi istrinya bersemu merah dengan nafas kian tersengal. Segera Beno melucuti pakaian Reni hingga menyisakan ********** saja.


Kini tangan Beno mulai gentayangan di dada Reni, nafasnya kian memburu saat mengitari pucuk dada istrinya dengan lidah. Semakin Beno menghisapnya, semakin bergairah pula Reni dibuatnya. Kali ini Reni tak akan bisa menolak lagi, tubuhnya sangat menginginkan sentuhan Beno. Berkali-kali dia dibuat mende*sah sembari mengangkat punggungnya menikmati rasa yang entah.


"Beno... Aughhhh..."


Reni memicingkan mata sembari menggigit bibir bawahnya.


Melihat istrinya yang begitu, Beno pun tak kuat lagi menahan li*bido nya yang sudah di ujung tanduk. Ular bontot miliknya kian mengeras hingga menonjolkan urat-urat nya. Segera Beno turun dan menarik segitiga yang masih melekat diantara sepasang paha Reni.


Reni kembali mende*sah saat lidah Beno menari-nari di permukaan intinya yang merekah. Seketika sekujur tubuhnya merinding merasakan kenikmatan yang sungguh luar biasa. Berkali-kali Reni menggeliat hingga mengangkat bokongnya, berkali-kali pula Beno mempercepat gerakan lidahnya hingga membuat Reni menjerit merasakan sesuatu yang entah, bahkan kakinya dibuat bergetar saat merasakan ada sesuatu yang mengalir dari intinya.


"Aahhhhhh... Beno..."

__ADS_1


Reni meremas rambut Beno dan menekan kepala suaminya itu hingga menempel di intinya. Beno tersenyum sumringah dan menyedot cairan bening itu tanpa jijik sedikitpun.


Beno kembali bangkit dan mengesap bibir Reni penuh kelembutan, lalu mengitari lidahnya di pucuk dada Reni dan menggigit kecil hingga manik mata Reni menghilang dari tempatnya.


"Kenapa sayang? Udah ya, biar aku pasangin celananya lagi." goda Beno sembari tersenyum kecil.


"Belum," gumam Reni dengan nafas tersengal.


"Apa lagi? Kan udah basah," seloroh Beno yang tak hentinya menggoda Reni. Dia suka sekali melihat air muka Reni yang begitu menggemaskan menurutnya.


"Beno... Jangan bercanda terus! Ayo cepat!" rengek Reni yang sudah tak sabar ingin dimasuki oleh suaminya itu.


"Kamu yakin? Sakit loh sayang," bisik Beno tepat di telinga Reni, lalu menggigit kecil telinga istrinya itu.


"Ya udah kalau kamu gak mau. Aku pikir kamu benar-benar menginginkan aku, ternyata kamu hanya ingin mempermainkan aku aja. Jahat kamu," Reni mendorong dada Beno dan berlari ke kamar mandi dalam keadaan polos.


Beno menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali, kemudian menyusul Reni dalam keadaan yang sama.


Saat Reni hendak menyalakan shower, Beno segera menangkap tangannya dan menggendong tubuh istrinya itu kembali ke ranjang lalu merebahkan Reni dengan posisi kaki terjuntai ke lantai.


"Katanya gak mau," gumam Reni dengan bibir mengerucut.


"Siapa bilang gak mau? Gemes aja liat wajah istriku kalau lagi kesal."


Beno membungkukkan punggungnya dan melu*mat bibir Reni dengan lembut sembari meremas sebelah gundukan kenyal milik istrinya itu, sementara tangan yang lain mencoba menuntun ular bontotnya memasuki sarang yang sudah basah di bawah sana.


Beno menekuk kedua kaki Reni dan kembali menjilati inti istrinya itu. Lagi-lagi Reni mende*sah merasakan sensasi yang entah.


"Tahan ya sayang, sakitnya bentar doang kok. Kalau udah masuk pasti rasanya enak,"


Kembali Beno mengarahkan ular bontotnya ke inti Reni. Satu kali Reni merengek, dua kali Reni kembali merengek, tiga kali akhirnya Reni menjerit saat ular bontot suaminya masuk dengan sempurna.


"Aahhhhhh... Sakit Beno," pekik Reni dengan butiran bening yang mengalir di sudut matanya.


Beno mengecup mata Reni dengan sayang, kemudian melu*mat bibir ranum istrinya itu dengan lembut. "Maafin suamimu ini ya," lirih Beno yang sebenarnya kasihan melihat air muka Reni yang menyedihkan.


Reni mengangguk lemah dengan bibir mengerucut. "Gak papa, sekarang gak sakit lagi kan?" tanya Reni dengan polosnya.


"Gak sakit kok sayang. Perih dikit gak papa ya, namanya juga masih baru. Lama-lama pasti enak, kamu akan ketagihan hingga minta lagi dan lagi." jelas Beno yang membuat pipi Reni merona merah menahan malu.


Beno mulai mengayunkan pinggulnya sembari menahan kaki Reni yang masih menganga. Gerakan yang awalnya pelan berangsur cepat hingga membuat Reni memicingkan mata merasakan sesuatu yang aneh dengan tubuhnya.


"Beno... Aughhhh..." De*sah Reni dengan manja.


"Kenapa sayang?" tanya Beno yang semakin gencar menekan inti Reni bertubi-tubi.


"Lebih cepat Beno! Rasanya enak banget, kamu membuatku merinding. Aughhhh..."

__ADS_1


Reni terus meracau meminta Beno mengayun pinggulnya dengan cepat. Rasa sakit tak lagi ada, yang ada hanya nikmat tiada tara. Apalagi saat ibu jari Beno merayap mengitari bagian luar intinya, membuat sekujur tubuh Reni bergetar tak menentu.


"Aughhhh... Aughhhh..."


"Cepat Beno, aku gak kuat lagi. Aughhhh..."


Reni menjerit dengan manik mata yang menghilang dari tempatnya. Kakinya bergetar hebat saat menikmati pencapaiannya yang entah ke berapa kali.


Beno yang melihat itu semakin gencar menggempur milik Reni tanpa henti. Mulutnya mengerang dahsyat saat mencapai puncaknya dan menyemburkan lahar panas miliknya di dalam inti istrinya.


"Aahhhh..." Beno tersungkur lemas di atas tubuh Reni. Satu jam berjibaku membuat kakinya bergetar hebat dengan peluh mengucur deras. Beno meremas dada Reni dan melu*mat bibir istrinya penuh kelembutan.


"I love you istriku sayang," gumam Beno, lalu mengecup kening Reni beberapa detik.


"I love you to," sahut Reni sembari memeluk Beno dengan erat.


Setelah nafasnya kembali stabil, Beno menarik diri dari tubuh Reni lalu menggendong istrinya ke kamar mandi. Beno membantu Reni membersihkan intinya, kemudian membersihkan dirinya sendiri.


Beno tersenyum sumringah saat mendapati bercak merah yang menempel di pangkal ular bontot miliknya. Itu menandakan bahwa dirinya lah yang sudah mendapatkan kesucian istrinya. Dari awal Beno memang tidak pernah meragukan istrinya sedikitpun, karena itulah dia nekat menikahi Reni dalam waktu yang begitu singkat.


Beno kembali menggendong Reni menuju ranjang, keduanya berbaring di atas kasur dan saling berpelukan di dalam satu selimut.


"Beno, pakai baju dulu yuk!" ajak Reni yang merasa tidak nyaman dengan keadaannya saat ini.


"Nanti aja sayang, repot buka pasang mulu. Aku masih ingin, istirahat dulu sebentar. Malam ini aku akan membuatmu melayang terus hingga tak sanggup lagi berdiri."


"Kejam banget sih, masa' sampai segitunya?"


"Tapi kamu suka kan?"


"Suka,"


"Kalau begitu jangan cerewet, ikuti aja kemauan suamimu ini!"


"Dasar mesum!"


"Mesum sama istri sendiri gak dosa tau, malahan berpahala."


"Alasan, bilang aja ketagihan."


"Abisnya kamu itu enak sih,"


"Lebay,"


"Hehehe,,," Beno mempererat pelukannya hingga wajah Reni tenggelam di dadanya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2