Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 185.


__ADS_3

Setelah memarkirkan mobil, Elkan turun dan berlari kecil memasuki lobby lalu melanjutkan langkahnya menuju ruangan Elena yang ada di kamar VIP.


"Tok Tok Tok"


Elkan mengetuk pintu. Tidak lama, Edward muncul membukakannya.


"Kak Elkan, ayo masuk!" ajak Edward, lalu membuka pintu dengan lebar.


Elkan melangkah masuk dan berjalan menghampiri brankar. Elena yang masih terbaring lemah tersenyum menyambut kedatangannya.


"Elkan, kamu datang Nak." lirih Elena. Dia mengulurkan tangan, mau tidak mau Elkan terpaksa meraih tangannya.


"Terima kasih sudah mau datang menjenguk Mama, Mama senang sekali melihat kalian berdua ada di sini." imbuh Elena.


"Tidak masalah, aku melakukan ini demi Edward. Tidak usah dibesar-besarkan!" jawab Elkan datar. Sebenarnya dia malas sekali berbasa-basi seperti itu, tapi demi Edward dia terpaksa menahan ego.


Edward menghampiri keduanya setelah menutup pintu, lalu berdiri di samping Elkan.


Elkan memutar leher dan menatap Edward dengan intens.


"Hal penting apa yang ingin kalian bicarakan? Katakan saja! Aku tidak bisa berlama-lama, istri dan anakku menunggu di rumah." tanya Elkan langsung pada intinya.


"Aku tidak tau Kak, tadi Mama hanya bilang ingin bertemu dengan Kak Elkan." jawab Edward.


Elena memang tidak mengatakan apa-apa pada Edward selain memintanya menghubungi Elkan. Edward sendiri bingung memikirkan apa yang ingin dikatakan Elena pada Elkan, dia sama sekali tidak tau.


"Elkan..." panggil Elena.


Elkan kembali memutar leher, lalu mematut Elena dengan mata menyipit.


"Elkan, sebelumnya Mama minta maaf ya Nak. Mama memang sengaja tidak memberitahu Edward. Jika Edward tau, dia tidak akan mengizinkan Mama bertemu kamu." jelas Elena.


Mendengar itu, Elkan dan Edward sama-sama mengerutkan kening. Tatapan keduanya saling bertemu untuk sesaat, lalu memutusnya kembali.


"Apa maksud Mama?" tanya Edward penasaran.


Elena menghela nafas dalam-dalam, lalu membuangnya perlahan.


"Elkan, Edward, umur Mama tidak akan lama lagi. Mama ingin menghabiskan sisa umur Mama bersama kalian berdua. Kalian bisa kan mengabulkan keinginan Mama? Anggap saja ini permintaan Mama yang terakhir." pinta Elena.


Lagi-lagi kening Elkan dan Edward mengerut bersamaan. Permintaan Elena terasa aneh di telinga keduanya.


"Ma, jangan meminta sesuatu yang tidak jelas! Kak Elkan sudah memiliki keluarga sendiri, tidak mungkin Kak Elkan tinggal bersama kita. Itu mustahil," ucap Edward.


"Mama tau, Mama juga tau kakakmu sudah memiliki istri dan anak. Mama tidak mungkin mengajak kakakmu untuk tinggal bersama kita, tapi kita yang akan tinggal di sana. Boleh kan Elkan?"

__ADS_1


Tiba-tiba hening sejenak. Tanpa sadar tangan Elkan mengepal di atas lutut.


"Mama ingin merasakan keluarga yang utuh sebelum Mama pergi. Mama ingin berkumpul dengan anak, menantu dan cucu Mama. Kamu pasti tidak keberatan kan?" imbuh Elena.


Edward mengerutkan kening saat menatap wajah Elena, lalu mengalihkan pandangan ke arah Elkan yang hanya diam seribu bahasa.


"Ma, ini benar-benar tidak masuk akal. Jangan mengganggu kenyamanan rumah yang bukan milik kita! Mama ada aku, Mama tinggal sama aku saja! Kalau Mama ingin keluarga yang lengkap, aku akan menikah secepatnya dan memberikan cucu untuk Mama."


Asal kehidupan Elkan tidak terusik, Edward rela melakukan apa saja agar Elena tidak mengganggu sang kakak. Jujur, Edward masih belum percaya sepenuhnya pada Elena. Edward ragu, dia merasa ada sesuatu yang direncanakan Elena di belakang.


"Berapa lama Mama harus menunggu? Menikah dan punya anak itu membutuhkan waktu yang lama, Edward. Enak kalau istrimu langsung hamil, kalau tidak bagaimana? Sisa umur Mama tidak selama itu." ucap Elena.


"Tapi Ma-"


"Cukup Edward, biarkan Mama bicara dulu dengan kakakmu!" potong Elena.


"Maaf, aku tidak bisa memutuskan ini sendirian. Biarkan aku mendiskusikan ini dengan istriku terlebih dahulu! Kalau begitu aku pamit,"


Tanpa menunggu jawaban dari Elena maupun Edward, Elkan langsung berjalan meninggalkan ruangan. Dia bahkan tidak mau berbalik saat Elena memanggilnya.


"Apa yang sedang kau rencanakan?" batin Elkan saat berjalan menuju parkiran.


Sama seperti Edward, Elkan juga tidak percaya dengan alasan yang dituturkan Elena di ruangan tadi. Sepertinya ada sesuatu dibalik permintaan itu, tapi Elkan tidak mau berburuk sangka sebelum tau kebenarannya.


Dalam pemikiran yang agak mengganggu otak, Elkan masuk ke dalam mobil dan melesat pergi meninggalkan gerbang rumah sakit.


Elkan : "Sayang, sudah tidur belum?"


Yuna : "Belum, ini lagi nyusuin Elga."


Elkan : "Mau dong,"


Yuna : "Apaan sih?"


Elkan : "Hehehe... Jangan tidur dulu ya! Abang lagi beli martabak untuk kita semua, bilangin sama yang lain!"


Yuna : "Tumben???"


Elkan : "Kok gitu sih sayang? Hargai dong! Biasanya Abang mana pernah keluar malam seperti ini."


Yuna : "Iya tau, jangan nakal!"


Elkan : "Nakal sama siapa? Ini Abang nungguin martabaknya di dalam mobil loh. Kalau Yuna tidak percaya, kita VC sekarang!"


Segera Elkan menghentikan chat nya dan menekan simbol berbentuk kamera.

__ADS_1


"Hmm..." jawab Yuna.


"Kok jawabnya gitu sih?" Elkan mengerutkan kening.


"Iya Abangku sayang," Yuna mengulum senyum.


"Ngejek," Elkan mencebik.


"Astaga Abang, maunya apa sih?" Yuna membulatkan mata.


"Mau itu," Elkan memajukan bibir.


"Gila," Yuna senyum-senyum sendiri.


"Biarin," Elkan ikut tersenyum.


"Sudahlah, Yuna mau menidurkan si kembar dulu!"


"Tunggu sayang, lihat dulu Abang dimana sekarang!"


Elkan menyalakan kamera belakang, lalu memutar iPhone nya ke segala arah.


"Iya, iya, Yuna tau kok. Sudah dulu ya, bye."


Elkan mengerutkan kening saat panggilan mereka tiba-tiba terputus.


"Astaga sayang, main putusin saja." gumam Elkan sembari mengacak rambutnya hingga berantakan. Geram, begitulah yang dirasakan Elkan saat ini. Dia ingin cepat-cepat sampai rumah dan memberi pelajaran untuk istrinya itu.


Tidak lama, kaca mobil diketuk oleh seseorang. Elkan pun menurunkan kaca dengan segera.


"Ini Nak martabak nya." ucap seorang pria paruh baya sembari menyodorkan tiga kantong kresek berisi box martabak ke tangan Elkan.


"Berapa Pak?" tanya Elkan, lalu mengambil alih kantong itu dan menaruhnya di jok samping.


"Dua ratus sepuluh ribu Nak," jawab bapak itu.


Elkan merogoh kantong celana belakang dan mengeluarkan sebuah dompet, lalu mengambil uang pecahan lima puluh ribu sebanyak lima lembar.


"Ini Pak, kembaliannya ambil saja!" ucap Elkan sembari menyodorkan uang itu ke tangan si bapak.


"Terima kasih Nak, semoga rejekinya lancar." sahut bapak itu.


"Aamiin,"


Setelah si bapak kembali ke lapaknya, Elkan menutup kaca mobil dan menginjak pedal gas. Mobil mewah itu melesat cepat menyusuri jalan raya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2