
**Hai kak, salam kenal dari Author Kopii Hitam
Meskipun hitam, tetap manis seperti reader yang membaca novel ini kan**
**Jangan lupa tinggalkan jejak petualangannya ya
Happy Reading**
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi hari, Yuna terbangun saat sinar mentari menyelinap masuk melalui sela-sela jendela kamar.
Yuna membuka matanya perlahan, kemudian tersenyum melihat Elkan yang masih terlelap di sampingnya.
Mengingat matahari yang semakin naik, Yuna bergegas bangkit dari pembaringannya, dia berniat menyiapkan sarapan untuk Elkan seperti biasanya.
Saat hendak turun dari ranjang, Elkan meraih tangan Yuna dan menariknya. Karena kaget, tubuh Yuna pun terpental di atas dada Elkan.
"Elkan, apa yang kamu lakukan? Cepat lepaskan aku!" pinta Yuna sembari menarik tangannya dari genggaman Elkan.
"Mau kemana?" tanya Elkan dengan mata separuh terbuka.
"Ini sudah pagi Elkan, aku mau ke dapur menyiapkan sarapan untukmu." sahut Yuna.
"Tidak perlu, kan ada Diah dan Lili. Kamu di sini saja!" pinta Elkan, lalu melingkarkan tangannya di pinggang Yuna.
"Tapi semua itu adalah tugasku, kamu lupa?" ucap Yuna mengingatkan Elkan.
"Sekarang tidak lagi, tugasmu cukup menemaniku di kamar ini. Kamu tidak boleh melakukan pekerjaan dapur!" jelas Elkan yang tidak ingin memperlakukan Yuna seperti sebelumnya.
"Loh, sejak kapan tugasku dialihkan?" tanya Yuna sembari menautkan alisnya.
"Sejak kamu menetap di hati ini. Sebenarnya sudah lama, aku saja yang terlambat menyadarinya." ungkap Elkan dengan tatapan yang sulit dimengerti.
"Terlambat menyadari atau takut dikhianati?" tanya Yuna sembari tersenyum kecil.
"Pertanyaan macam apa itu?" tanya Elkan balik.
"Tidak perlu menutupi masa lalu mu dariku! Aku sudah tau, kamu takut kecewa untuk yang kedua kalinya kan?" ucap Yuna dengan tatapan yang tak biasa.
"Siapa yang memberitahumu?" tanya Elkan dengan kening sedikit mengkerut.
"Tidak ada, aku mendengarnya sendiri dari mulutmu. Apa wanita itu sangat berarti dalam hidupmu?" jawab Yuna dengan pertanyaan pula.
__ADS_1
"Tidak perlu membahas hal yang tidak penting seperti ini! Semua itu hanya masa lalu dan sudah terkubur seiring berjalannya waktu." jelas Elkan, raut wajahnya seketika berubah setelah mendengar pertanyaan Yuna.
"Bagaimana jika wanita itu kembali? Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Yuna berandai-andai.
"Ngomong apa sih? Wanita itu tidak akan pernah kembali, dia sudah menikah." jelas Elkan, kemudian menghela nafas berat.
"Aku tau, tapi jika dia kembali bagaimana? Bukankah kamu sangat mencintainya?" tanya Yuna yang tak sengaja memojokkan Elkan, dia ingin tau bagaimana perasaan Elkan saat ini.
"Cukup Yuna! Untuk apa membahas ini?" Elkan mulai kelimpungan menjawab pertanyaan Yuna.
Melihat gerak gerik Elkan yang aneh, dada Yuna seketika berdenyut nyeri. Bukan tak percaya pada Elkan, tapi dia takut masa lalu Elkan akan menjadi boomerang untuk hubungan mereka yang baru seumur jagung.
"Aku mengerti, kata orang cinta pertama sangat sulit untuk dilupakan."
Yuna menekuk wajahnya, kemudian membuka tangan Elkan yang masih melingkar di pinggangnya.
Setelah berhasil melepaskan diri, Yuna segera turun dari ranjang. Entah kenapa, dia mulai meragukan ketulusan cinta Elkan pada dirinya. Elkan bahkan tak mengatakan apa-apa padanya.
Di dalam kamar mandi, Yuna meluapkan segala emosinya. Air matanya berguguran membasahi pipi. Ketakutan itu tiba-tiba muncul menggerogoti relung hatinya.
Tidak berselang lama, Elkan turun dari ranjang dan menyusul Yuna ke dalam kamar mandi. Kebetulan Yuna tak mengunci pintu, jadi Elkan bisa leluasa masuk tanpa mengetuk.
Sadar akan kedatangan Elkan, Yuna bergegas menyeka pipinya, kemudian menyalakan kran dan membasuh wajahnya. Dia tidak ingin Elkan melihat dirinya dalam keadaan menangis.
"Aku baik-baik aja kok, kamu mau mandi ya? Aku akan menyiapkan air untukmu!"
Yuna berbalik dan melempar pandangannya ke arah kran, kemudian bergegas mengisi bathtub dengan air hangat.
"Mandilah, aku akan menyiapkan pakaian untukmu!" Yuna menekuk wajahnya dan melangkah menuju pintu. Saat ingin keluar, Elkan tiba-tiba memeluknya dari belakang.
Seketika, air mata Yuna kembali menetes saat merasakan sentuhan tangan suaminya. Suhu tubuh Elkan yang hangat membuatnya tak kuasa menahan diri. Tangisan Yuna pecah hingga terisak di dalam pelukan Elkan.
"Aku mencintaimu Yuna, jangan berpikir yang aneh-aneh! Aku hanya ingin bersamamu," bisik Elkan tepat di telinga Yuna.
Mendengar itu, Yuna semakin tak kuasa menahan diri. Hatinya terenyuh, namun juga sedih karena takut akan pemikirannya sendiri.
Yuna berbalik dan memeluk Elkan dengan erat. Seumur hidup baru kali ini dia mencintai seseorang, apa salah jika pikirannya sedikit bergeser pada hal negatif?
"Jangan menangis! Aku hanya mencintai kamu seorang, wanita itu hanya masa lalu bagiku. Kini, kamu adalah masa depanku, wanita yang akan selalu berada di sisiku." jelas Elkan meyakinkan Yuna.
"Aku takut, bagaimana jika suatu hari nanti perasaanmu berubah padaku? Apa yang harus ku lakukan?" isak Yuna di dalam dekapan Elkan.
"Itu tidak akan terjadi, aku janji. Apapun yang terjadi, aku akan tetap di sisimu, percayalah padaku!" Elkan kembali meyakinkan Yuna.
__ADS_1
Mendengar itu, isak Yuna kembali pecah. Dia sungguh tak bisa menahan diri untuk tidak menangis di depan Elkan.
"Hiks Hiks"
"Cukup sayang, jangan menangis lagi!" bujuk Elkan dengan kata dan nada yang mengalun indah di telinga Yuna.
Yuna melepaskan pelukannya, lalu menyeka wajahnya dengan telapak tangan. Matanya yang sembab mengisyaratkan kalau dirinya sangat takut kehilangan Elkan yang merupakan cinta pertamanya.
Elkan mengecup kening Yuna dengan sayang, dia sangat mengerti bagaimana perasaan Yuna saat ini. Dia juga bisa merasakan bagaimana dalamnya cinta Yuna terhadap dirinya.
"Jangan sedih lagi, buang jauh-jauh pemikiran negatif itu dari pikiranmu! Sekarang aku milikmu, jangan takut!" ucap Elkan penuh kelembutan.
Seulas senyum terpahat indah di wajah Yuna, dia kembali memeluk Elkan dengan erat untuk beberapa saat. Bahkan dia sangat enggan melepaskan pelukannya.
"Mau mandi bersamaku?" bisik Elkan sembari mengusap punggung Yuna.
"Gak mau," gumam Yuna, lalu melepaskan pelukannya.
"Kenapa tidak mau?" tanya Elkan sembari mengulum senyumannya.
"Dasar otak mesum, mandi aja sendiri!" ketus Yuna dengan tatapan mematikan.
"Jangan menatapku seperti itu! Matamu membuatku tergoda," ucap Elkan sembari tersenyum kecil.
"Tergoda apanya? Dasar otak kamu aja yang kotor!" geram Yuna, kemudian mengalihkan pandangannya.
Saat hendak melangkah pergi, Elkan kembali menarik tangan Yuna dan mendorongnya hingga tersandar di pintu.
Tanpa permisi, Elkan mengecup bibir tebal Yuna dan melu*matnya tanpa ampun. Kedua tangannya menggenggam tangan Yuna dan menumpukan nya pada permukaan dinding.
Sesaat, pagutan mereka nampak memanas. Keduanya saling melu*mat tanpa canggung sedikitpun, kini keduanya tengah asik membelit lidah.
Elkan mulai merasa gerah, bahkan bagian bawahnya terasa sempit menyesakkan dada. Si Jono miliknya seketika menegang hingga kakinya mulai bergetar.
Ingin sekali Elkan membawa Yuna melayang menggapai surga dunia yang belum pernah dia rasakan sebelumnya, namun dia kembali tersadar kalau Yuna belum siap melakukannya.
Elkan melepaskan pagutannya, kemudian mengecup kening Yuna dengan sayang, lalu membawa Yuna ke dalam dekapan dadanya.
"Terima kasih sudah memberiku kesempatan menjadi suamimu lagi, aku sangat mencintaimu." Elkan semakin mempererat pelukannya dan mengusap punggung Yuna.
Yuna hanya bisa tersenyum mendengar ucapan Elkan, kemudian melingkarkan tangannya di pinggang Elkan. "Aku juga mencintaimu, berjanjilah untuk tetap di sisiku!"
"Aku janji," Elkan tersenyum bahagia, kali ini dia tidak akan pernah mengulangi kesalahan yang sama. Yuna sudah berhasil mengubah pemikiran sempitnya.
__ADS_1
Bersambung...