
Saat jam makan siang tiba, Beno dan Reni keluar dari kamar mereka dengan tubuh yang lebih segar dari sebelumnya. Keduanya berjalan menghampiri si kembar yang tengah bermain di atas kasur santai dengan banyaknya mainan yang dibelikan Elkan beberapa hari yang lalu.
Beno mencium pipi gembul Elga dan Edgar secara bergantian, begitu juga dengan Reni. Lalu keduanya menggendong bayi mungil itu, Beno menggendong Edgar sementara Reni menggendong Elga di pelukannya. Sepuluh hari tak bertemu membuat mereka rindu sekali dengan keduanya.
"Gemesin banget sih kalian berdua ini, beda sekali sama papa yang sangat menjengkelkan." seloroh Beno sambil melirik ke arah Elkan dengan senyuman menyindir.
"Huhhh... Apa bedanya sama yang bicara? Kau bahkan lebih menjengkelkan dari pada aku." jawab Elkan membalas sindiran Beno barusan.
"Mulai lagi kan? Kalian ini benar-benar ya," Yuna menggembungkan pipinya.
Yuna mulai pusing melihat kelakuan kedua pria itu, tidak ada yang mau mengalah diantara keduanya. Dia akhirnya memilih pergi dari ruangan itu dan masuk ke dalam dapur untuk membantu Diah dan Lili menyiapkan makan siang.
"Mas, sudah dong. Jangan cari gara-gara terus!" Reni menarik ujung baju yang dikenakan Beno.
Beno meliriknya. "Sssttt... Kamu diam saja, sayang! Ini urusan laki-laki,"
"Ya sudah, aku diam. Terserah Mas mau ngapain, aku tidak akan ikut campur lagi!"
Reni memajukan bibirnya. Dia bangkit dari duduknya dan membawa Elga ke dapur menyusul Yuna yang sudah lebih dulu sampai di sana.
"Hahahaha..."
Elkan tertawa terbahak-bahak melihat Reni yang terlihat kesal pada Beno.
"Hati-hati, biasanya istri yang lagi marah seperti itu ujung-ujungnya tidak mau ngasih jatah. Tau rasa kau," seloroh Elkan dengan senyum penuh kemenangan.
"Aish, jangan sok tau! Mana mungkin Reni tega melakukan itu padaku? Kau saja kali," Mendadak pipi Beno memerah mendengar itu.
"Aku?" Elkan tersenyum kecut. "Kau jangan meremehkan aku! Aku tiap hari absen terus, tidak pernah bolong." ucap Elkan memanasi Beno.
"Hah?" Mata Beno membulat mendengar itu. "Apa kau sudah gila? Istrimu itu baru saja melahirkan, apa kau tidak kasihan?"
"Justru itu, rasanya lebih nikmat saat seorang istri sudah menjadi ibu. Sensasinya sungguh luar biasa, makanya cepat buntingin istrimu itu!" Elkan semakin bersemangat memanasi Beno.
__ADS_1
"Jangan aneh-aneh, hamil itu rejeki. Kalau dikasih cepat syukur, kalau belum mau diapain. Aku juga lagi berusaha," jelas Beno.
"Usaha terus sampai jadi, aku saja pengen nambah lagi. Sayangnya Yuna belum mau, kasihan si kembar katanya." ucap Elkan.
"Ya iya lah kasihan, mereka masih terlalu kecil. Kau pikir melahirkan itu gampang, kau tidak ingat bagaimana menderitanya Yuna saat mengandung si kembar waktu itu? Kalau aku yang jadi kau, aku tidak akan memaksa Yuna untuk mengandung lagi. Aku tidak tega melihatnya," ungkap Beno.
"Kau ini, siapa yang maksa? Aku cuma bilang pengen," Elkan mengerutkan keningnya. "Aku ingin rumah ini penuh dengan suara tangisan dan tawa anak-anak kita. Kau tau sendiri kan bagaimana rasanya tidak punya saudara, akupun begitu. Untungnya kita disatukan oleh kakek."
"Iya juga sih, dulu kita berdua sama-sama kesepian. Hanya ada kau, aku dan kakek."
Mendadak wajah Beno berubah sendu mengingat besarnya jasa sang kakek pada dirinya. Tanpa beliau, Beno tidak akan mungkin jadi orang seperti saat ini.
"Hmm... Untungnya ada kakek, kalau tidak-"
"Ah, sudahlah. Jangan bahas itu lagi, aku tidak kuat. Apa kau sengaja ingin membuatku menangis?" potong Beno.
"Kakek Bram sudah memberikan yang terbaik untuk kita berdua, aku bersalah karena sempat meragukan beliau waktu itu. Aku pikir beliau sengaja memisahkan aku dan ibuku, nyatanya wanita itu memang tidak layak dipanggil ibu." Kini giliran air muka Elkan yang berubah sendu.
"Kenapa membahas ibumu lagi?" Beno mengerutkan keningnya.
"Maksudmu?" Mata Beno membulat dengan sempurna.
"Beberapa hari yang lalu perusahaan mengalami kerugian yang cukup besar. Kita hampir saja membuat kesalahan, untungnya bagian produksi sangat jeli. Mereka menemukan zat kimia berbahaya di dalam produk yang sudah dikemas, kita bahkan hampir saja mendistribusikannya."
"Kenapa bisa begitu?" Beno lagi-lagi mengerutkan keningnya.
"Ada penyusup yang masuk ke ruangan produksi dan memasukkan zat kimia itu ke dalam mesin, setelah diselidiki ternyata orang itu adalah suruhannya." Elkan menghela nafas berat.
"Astaga, apa ibumu itu sudah gila? Tega sekali dia menghancurkan anaknya sendiri," Beno tak habis pikir kenapa ada seorang ibu sejahat itu pada putranya sendiri.
"Entahlah. Jika aku boleh memilih, aku tidak ingin dilahirkan dari rahim wanita itu. Tapi apa yang bisa ku lakukan, ini sudah takdir hidupku." lirih Elkan sambil memijit pelipis dahinya.
"Kau harus kuat, anggap saja ini ujian kenaikan kelas! Kita akan menghadapi ujian ini sama-sama." ucap Beno memberikan semangat.
__ADS_1
Elkan menyipitkan matanya. "Apa kau sudah gila? Mana boleh menghadapi ujian kenaikan kelas sama-sama? Itu nyontek namanya,"
"Hahahaha..."
Tiba-tiba suara tawa Amit pecah dari arah belakang. Bocah ingusan itu terpingkal-pingkal sambil berjalan menghampiri keduanya.
"Astaga, aku pikir Kak Beno itu orang yang pintar. Ternyata aku salah, Kak Beno lebih bodoh dari temanku yang selalu dapat rangking tiga puluh diantara tiga puluh siswa. Hahahaha..."
Amit benar-benar tidak kuat menahan tawanya, hal itu membuat Elkan ikut tertular hingga keduanya jungkir balik di atas sofa.
"Hahahaha... Kak Beno mu itu memang tidak pintar. Dia hanya beruntung karena mendapat kepercayaan dari kakek," ucap Elkan sambil memegangi perutnya yang terasa menggelitik.
"Cukup Elkan, jangan membuatku malu!" Beno melemparkan bantal ke muka Elkan, lalu memepet saudaranya itu dan menyikut perutnya. Wajah Beno nampak memerah seperti bara api yang tengah menyala.
"Hahahaha... Reni, lihat suamimu ini! Dia ingin membunuhku," sorak Elkan sambil memutar lehernya ke arah dapur.
"Apa lagi sih Bang? Berisik banget dari tadi," Bukan Reni tapi malah Yuna yang menyahut dari dapur sana.
"Sayang, kemarilah! Beno menyakiti suami Yuna, ini sakit loh sayang." teriak Elkan sambil tertawa terbahak-bahak.
"Lebay banget sih Bang, begitu saja pakai acara ngadu segala. Balas saja, bila perlu baku hantam di luar sana biar puas!" geram Yuna yang tidak mempedulikan ucapan suaminya sama sekali.
"Butuh pisau tidak, parang juga ada nih. Kapak juga ada, tinggal pilih saja!" timpal Reni yang juga mulai geram melihat tingkah kekanak-kanakan kedua pria itu.
"Kasih sama Mas saja sayang, biar Mas kuliti curut satu ini. Ngeselin banget jadi orang," sorak Beno dengan suaranya yang lantang.
"Kasih parangnya sama Kak Beno saja Kak, terus kapaknya kasih sama Kak Elkan. Biar Amit yang jadi wasitnya," sorak Amit yang ikut menimpali. Tawanya semakin pecah memenuhi seisi rumah.
"Diam kau!" bentak Elkan dan Beno serentak hingga membuat Amit terperanjat dan segera menutup mulutnya.
Saat bocah itu terdiam dengan wajah paniknya, kini giliran Elkan dan Beno yang tertawa melihat ekspresi wajah Amit yang membagongkan.
"Sudah, sudah, ayo makan dulu!" ajak Yuna yang sudah selesai menghidangkan makanan di atas meja makan.
__ADS_1
Bersambung...