
Tepat pukul sebelas malam, Elkan sudah berada di dalam kamar. Setelah membersihkan diri, dia langsung berbaring di samping Yuna dan memeluknya dengan erat.
Awalnya Yuna sengaja pura-pura tidur agar Elkan tidak mengganggunya, namun perkiraannya ternyata salah besar. Elkan justru asik mengecup tengkuknya hingga bulu kuduk Yuna meremang seketika.
"Hehe... Geli Elkan," gumam Yuna dengan suara yang nyaris tak terdengar.
"Kok Elkan lagi sih? Gak menghargai suami banget," rajuk Elkan sembari berbalik dan memejamkan matanya.
Yuna yang menyadari itu ikut berbalik dan mendapati punggung Elkan. "Cie, merajuk ya? Kayak anak kecil aja,"
"Biarin!" ketus Elkan dingin.
"Hahahaha... Papanya si kembar ternyata tukang rajuk. Nanti aku ceritain sama mereka biar-"
"Apaan sih sayang? Emangnya aku gak boleh merajuk? Liat tuh, Beno aja yang baru nikah beberapa hari udah dipanggil Mas sama istrinya. Kita yang udah berkarat begini kenapa masih gitu-gitu aja? Masa' kalah sih sama mereka." keluh Elkan dengan nada ketus. Dia merasa iri saat mendengar Reni memanggil Beno dengan sebutan mas.
Yuna mengikis jarak diantara mereka dan memeluk Elkan dengan erat. "Iya Abang, Abang Elkan sayang." ucap Yuna dengan suara lembutnya.
Mendadak mata Elkan kembali terbuka dengan sudut bibir yang nampak melebar, dia segera berbalik hingga tatapan keduanya saling bertemu.
"Lagi dong!" pinta Elkan dengan tatapan nakal.
"Iya Abang Elkan sayang," gumam Yuna sembari menahan tawanya.
Kesal mendengar Yuna yang seakan meledek dirinya, Elkan pun membungkam mulut Yuna dan melahap habis bibir merekah istrinya itu dengan rakus.
"Hahahaha..."
Tawa Yuna pecah saat mendorong wajah Elkan yang terlihat sangat mesum.
"Kenapa ketawa? Apa aku terlihat lucu?" cerca Elkan dengan kening mengkerut.
__ADS_1
"Gak kok, lagi pengen ketawa aja." jawab Yuna santai, lalu menenggelamkan wajahnya di dada Elkan.
Sejenak suasana menjadi hening. Baik Elkan maupun Yuna tak ada yang bersuara. Yuna mempererat pelukannya sementara Elkan asik membelai rambut istrinya.
"Elkan... Eh, Abang." panggil Yuna.
"Hmm..." gumam Elkan yang tengah terbuai dalam kehangatan pelukan Yuna.
"Kenapa mengakui si kembar sebagai darah daging Abang? Bukankah sebaiknya hal ini dirahasiakan? Aku gak papa kok dibilang hamil di luar nikah atau apapun, yang penting karir Abang gak terganggu. Abang kan seorang Ceo, semua orang tau siapa Abang. Aku gak mau reputasi Abang jadi buruk di mata masyarakat." ungkap Yuna sembari memainkan telunjuknya di dada Elkan.
"Teg!"
Sebuah sentilan keras mendarat di kening Yuna.
"Aaaaah... Sakit tau Bang," rintih Yuna sembari mengusap keningnya pelan.
"Makanya jangan bodoh! Edgar dan Elga itu anakku, buah hatiku, darah daging ku. Kamu pikir aku rela anak-anakku dikatain anak haram sama mereka. Mereka lahir dalam pernikahan yang sah, sah secara agama maupun hukum." ketus Elkan dalam mode kesalnya.
"Sssttt... Gak ada tapi tapi, besok pagi aku mau live di akun mu. Aku akan memberitahu dunia bahwa mereka berdua adalah darah daging ku dan penerus Bramasta Corp." potong Elkan.
"Hmm... Ya udah kalau gitu,"
Yuna bergeming menelaah kata-kata Elkan barusan. Elkan berkata akan memberitahu dunia bahwa si kembar adalah darah dagingnya tetapi Elkan tidak mengatakan akan memberitahu dunia bahwa Yuna adalah istrinya.
Ya sudah, Yuna mencoba memahaminya. Mungkin memang begitulah seharusnya.
Air muka Yuna mendadak keruh, walau bagaimanapun dia tetaplah seorang wanita yang butuh pengakuan dari suaminya sendiri. Tapi jika hal itu tidak memungkinkan apa boleh buat. Yuna juga tidak bisa memaksakan kehendaknya.
"Aku tidur duluan ya, selamat malam."
Setelah mengatakan itu, Yuna melepaskan pelukannya dan menjauh dari Elkan. Dia kemudian berbalik dan menggigit ujung jarinya menahan hujan yang akan segera turun dari kelopak matanya.
__ADS_1
Elkan mengukir senyum di bibirnya, dia sebenarnya tau apa yang tengah dipikirkan oleh Yuna saat ini. Dia sangat mengerti bagaimana perasaan istrinya itu tetapi untuk sekarang biarlah seperti ini sampai waktunya tiba.
Di waktu yang bersamaan, Beno tengah menceritakan apa yang terjadi sore tadi kepada Reni. Sejak kejadian itu Reni dibuat penasaran karena dia sama sekali tidak mengetahui apa-apa tentang keluarga suaminya.
Beno menjelaskan bahwa Elkan masih mempunyai seorang ibu yang sudah menelantarkannya, wanita itu tega meninggalkan Elkan diusia yang masih sangat kecil. Beno juga menceritakan bahwa dirinya hanya orang asing yang dijadikan keluarga di rumah itu.
Tapi meski sifatnya terkadang bertolak belakang dengan Elkan, dia sebenarnya sangat menyayangi saudara angkatnya itu melebihi dirinya sendiri.
Begitulah Beno, meski terkadang dia tidak suka dengan sikap Elkan tapi dia selalu mencoba bersabar menghadapinya. Dia yakin Elkan sebenarnya memiliki hati yang lembut, buktinya Elkan mampu membuat Yuna bertahan di sisinya setelah melalui begitu banyak aral yang melintang.
Beno hanya ingin melihat Elkan bahagia bersama wanita yang tepat. Wanita yang bisa menerima apapun dan bagaimanapun keadaan Elkan. Wanita yang mampu bertahan meski berada di titik terendah sekalipun.
Reni manggut-manggut pertanda dia mengerti maksud ucapan Beno. Menurutnya tidak semua hubungan harus dilandasi dengan ikatan darah, tanpa gen yang sama pun sebuah hubungan bisa bertahan jika saling menyayangi dan memahami satu sama lain.
Setelah cukup lama berbicara dalam mode serius, kini Beno kembali pada mode menjengkelkan. Dia mulai mengganggu Reni dengan berbagai macam cara hingga membuat air muka Reni menggelap saking kesalnya.
Pertempuran sengit itu pun berlangsung menggetarkan ranjang yang mereka tempati. Suara de*sahan sahut menyahut mengisi kehampaan kamar itu. Suhu tubuh keduanya memanas hingga AC pun seketika kehilangan harga dirinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi ini Elkan sengaja bangun lebih awal dari biasanya. Setelah membersihkan diri, dia turun dan berjalan menuju mobil yang terparkir di garasi.
Setelah membuka pintu, Elkan menurunkan dua pack paper bag dan menutup kembali pintu mobil itu. Kemudian dia masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamar si kembar.
Di sana, Elkan mendapati Yuna yang tengah duduk menyusui Elga. Tatapan keduanya saling bertemu untuk sesaat, namun sedetik kemudian Elkan mengalihkan pandangannya dan berpura-pura cuek terhadap Yuna.
Elkan menaruh paper bag tersebut di atas sofa lalu berjalan menuju kamarnya. Yuna yang melihat itu mendengus kesal dengan bibir mengerucut. Jangankan mendapatkan ciuman selamat pagi, sebuah ucapan selamat pagi saja tidak.
Begini kah rasanya menjadi seorang istri yang tidak pernah diharapkan oleh suaminya sendiri? Kadang Elkan bersikap begitu manis padanya dan kadang bersikap terlalu dingin hingga membuat Yuna merasa terabaikan.
Ah, sudahlah. Yuna tidak ingin memikirkan hal itu lagi. Biar bagaimanapun Elkan tetaplah ayah dari kedua buah hatinya. Tidak apa dia tidak diperhatikan, yang penting kedua buah hatinya mendapatkan kasih sayang yang utuh darinya dan juga Elkan.
__ADS_1
Bersambung...