
**Hai kak, salam kenal dari Author Kopii Hitam
Meskipun hitam, tetap manis seperti reader yang membaca novel ini kan**
**Jangan lupa tinggalkan jejak petualangannya ya
Happy Reading**
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kini, keduanya sudah tiba di ruangan Elkan. Seketika, mata Yuna terbuka lebar menyaksikan setiap sudut, penataan di ruangan itupun nampak begitu apik.
"Ini ruangan kamu?" tanya Yuna penuh kekaguman.
"Iya, kenapa emangnya?" tanya Elkan balik.
"Gak apa-apa, ruangannya terlihat nyaman dan rapi. Siapa yang menata semua ini?" tanya Yuna penasaran.
"Aku sendiri, aku tidak suka orang lain masuk dan menyentuh barang-barang ku seenaknya." sahut Elkan.
"Oh, begitu ya. Aku mengerti," Yuna menekuk kakinya di sofa. Bola matanya berguling liar memperhatikan ruangan yang sangat lapang itu.
Melihat Yuna yang masih bengong memperhatikan ruangannya, Elkan pun ikut duduk di sampingnya.
"Aku ada rapat mendadak, kamu gak apa-apa kan aku tinggal sebentar?" tanya Elkan sembari menatap lekat wajah Yuna.
"Gak apa-apa, pergilah!" jawab Yuna sembari tersenyum kecil.
Elkan beringsut dan merapatkan tubuh mereka, lalu melingkarkan tangannya di pinggang Yuna.
"Makasih untuk pengertiannya, aku gak lama kok. Setelah rapat selesai, aku segera kembali."
Elkan mengecup kening Yuna dengan sayang, kemudian membawa Yuna menuju ruangan pribadinya.
Setelah membuka pintu, Yuna membulatkan matanya dengan mulut sedikit menganga. Dia tak menyangka bahwa di ruangan itu ada kamar lain yang tersembunyi.
"Jangan bengong aja, masuklah!" ajak Elkan sembari menarik tangan Yuna.
"Elkan, ini kamar kamu?" tanya Yuna sembari menautkan alisnya, ruangan itu tertata dengan sangat apik. Perabotan di dalam sana nampak mewah, tak kalah dengan kamar mereka yang ada di rumah.
"Iya sayang, tapi aku jarang sekali menggunakan kamar ini. Sekarang, kamar ini akan menjadi milik kita." jelas Elkan, kemudian mendudukkan Yuna di sisi ranjang.
"Enak banget ya hidup kamu, di kantor pun masih bisa beristirahat dengan nyaman." gumam Yuna dengan bola mata menggelinding mematut setiap sudut.
"Biasa aja kok sayang, kamar ini hanya untuk berjaga-jaga kalau aku lelah." Elkan menjeda ucapannya, lalu mengacak rambut Yuna hingga berantakan.
"Kamu istirahat di sini dulu ya, aku akan kembali secepatnya!"
__ADS_1
Yuna mengangguk kecil dengan senyum yang sangat manis. Elkan yang melihat itu seketika merasa gemas, kemudian mengesap bibir Yuna dengan lahap, lalu melu*matnya penuh kelembutan.
Setelah melepaskan pagutannya, Elkan melayangkan kecupan sayang di kening Yuna. Setelah itu berlalu meninggalkan kamar pribadinya.
Yuna hanya bisa tersenyum menatap kepergian Elkan, hatinya berbunga-bunga mendapatkan perhatian lebih dari suaminya. Dia masih tak menyangka bahwa Elkan bisa selembut ini padanya. Berbanding terbalik dengan sikap Elkan sebelumnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pukul 1 siang, Elkan dan Beno keluar dari ruang rapat. Elkan nampak terburu-buru dengan langkah panjangnya, membuat Beno kebingungan sembari mengerutkan keningnya.
"Hei, kenapa jalanmu cepat sekali? Apa ada masalah?" tanya Beno yang sudah tertinggal beberapa langkah dari Elkan.
Elkan menghentikan langkahnya, kemudian berbalik sembari tersenyum kecil. "Ada Yuna di kamar, kamu tau sendiri kan kalau kami baru saja berbaikan."
Mendengar itu, Beno pun terkekeh dengan sendirinya. "Yaelah Elkan, aku pikir ada apa?"
"Kau akan mengerti saat menemukan wanita yang tepat untukmu." Elkan menepuk pundak Beno.
"Apa kau sudah menerima Yuna sepenuhnya?" tanya Beno penasaran.
"Kurang lebih seperti itu, dia sudah membuatku tergila-gila. Apa lagi yang bisa ku lakukan?" sahut Elkan sembari tersenyum lebar.
"Alah, sekarang berani ngomong tergila-gila, kemaren kemaren kemana aja?" sindir Beno sambil tersenyum miring.
"Hahahaha, lanjutkan saja pekerjaanmu! Aku pergi dulu," Elkan berbalik dengan tawa yang begitu lepas.
Kini Beno bisa bernafas lega, berharap rumah tangga Elkan akan berakhir bahagia sesuai keinginan sang kakek yang sudah menitipkan Elkan padanya.
"Kakek bisa melihat ini kan? Cucu kesayangan Kakek sudah menemukan wanita yang tepat. Sekarang, Kakek bisa beristirahat dengan tenang." batin Beno sembari menengadahkan kepalanya menghadap langit-langit.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Elkan sudah tiba di ruangannya, dia membuka jas yang melekat di tubuhnya lalu melemparnya ke sofa. Sembari melangkah menuju kamar pribadinya, Elkan menyingsingkan lengan kemejanya dan membuka 3 biji kancing kemejanya.
Sesampainya di depan kamar, Elkan meraih kenop pintu lalu mendorongnya, kemudian menutupnya kembali.
Seulas senyum terpahat indah di wajah Elkan saat mendapati Yuna yang tengah tertidur di atas kasur. Elkan mendekat dan menekuk kakinya di sisi ranjang, kemudian mengusap kepala Yuna.
"Sayang, suamimu sudah kembali." gumam Elkan dengan tatapan tak biasa.
Saking pulas nya, Yuna tak merespon kedatangan Elkan sama sekali. Hal itu membuat Elkan tersenyum, kemudian melepaskan sepatunya.
Elkan membaringkan tubuhnya di samping Yuna, tangannya melingkar erat di pinggang istrinya. Entah mengapa, jantung Elkan tiba-tiba berdegup kencang melihat wajah polos istrinya.
"Kenapa jantungku selalu berdebar saat bersamamu? Apa ini yang dinamakan cinta? Aku belum pernah merasakan ini sebelumnya," gumam Elkan sembari menatap lekat wajah Yuna dan mengelus pipi istrinya.
Yuna menggeliat saat merasakan hangatnya sentuhan Elkan. Perlahan, matanya mulai terbuka, senyuman tipis pun terukir jelas di wajahnya saat menyaksikan wajah Elkan yang begitu dekat.
__ADS_1
"Elkan, kamu sudah kembali?" gumam Yuna sembari mengucek matanya.
Elkan mengukir senyum, "Nyenyak banget tidurnya, suami kembali aja gak tau."
"Maaf Elkan, aku ketiduran." Yuna mencoba bangkit dari pembaringannya, namun Elkan dengan cepat menahannya.
"Gak usah bangun, tidur lagi aja!" ucap Elkan sembari memeluk Yuna dengan erat.
Yuna tertegun merasakan hangatnya pelukan Elkan, dadanya berdenyut ngilu saat hembusan nafas Elkan menerpa wajahnya. Bola matanya menilik mata Elkan tanpa kedip.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Elkan dengan tatapan genit.
"Gak apa-apa, aku belum terbiasa aja diperlakukan selembut ini olehmu." Yuna menundukkan pandangannya, rasanya seperti mimpi yang datang begitu saja.
Ucapan Yuna barusan membuat dada Elkan bergemuruh, seketika matanya berbinar menahan butiran bening yang hendak berjatuhan.
Elkan menempelkan pipinya pada pucuk kepala Yuna, lalu merengkuh pundak Yuna dengan erat.
"Untuk kesekian kalinya, aku minta maaf atas segala salah dan khilaf ku padamu. Aku tau hatimu sangat terluka karena perlakuanku selama ini. Beribu kali pun aku minta maaf, tidak akan cukup untuk menebus segala kesalahanku." ucap Elkan, satu persatu air matanya mulai berjatuhan di kening Yuna.
"Jangan bicara seperti itu! Aku sudah memaafkan mu, aku hanya butuh waktu untuk menyesuaikan diri." lirih Yuna sembari mendongakkan kepalanya, lalu menyeka pipi Elkan dengan jemarinya.
Elkan meraih tangan Yuna dan menggenggamnya erat, mengecupnya dan meletakkannya di pipinya.
"Jangan sedih lagi, aku sudah mengikhlaskan semua yang terjadi. Kita mulai dari awal lagi ya!" lirih Yuna dengan tatapan sendu.
Elkan tak kuasa menahan diri, tangisannya pecah menyesali sikap kasarnya selama ini. Elkan memeluk Yuna seeratnya seakan tak mau lagi melepasnya.
"Pelan-pelan Elkan, pelukanmu membuatku sesak." gumam Yuna yang kesulitan mencuri nafas.
Elkan merenggangkan pelukannya. "Maaf sayang, aku gak bisa mengendalikan diri."
"Hehehe, cengeng." Yuna tertawa lepas sembari menyeka kembali wajah Elkan yang sudah basah, lalu memeluknya.
Sesaat, suasana di kamar itu menjadi hening. Baik Yuna maupun Elkan nampak menikmati sekali pelukan mereka.
"Elkan," panggil Yuna.
"Hmm," gumam Elkan.
"Aku lapar," ucap Yuna dengan perut yang sudah keroncongan.
"Astaga sayang, maaf ya. Aku sampai lupa, ini sudah lewat jam makan siang." sahut Elkan sembari melepaskan pelukannya, kemudian segera bangkit dari tidurnya.
"Ayo bangun!" Elkan meraih tangan Yuna dan membantunya berdiri.
Bersambung...
__ADS_1