Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 190.


__ADS_3

Pukul empat sore mobil yang dikendarai Beno sudah tiba di depan kediaman Bramasta. Ketiga pria itu turun berbarengan, Elkan menenteng satu baby walker di setiap tangan dan membawanya masuk ke dalam rumah.


"Sore sayang Papa," seru Elkan dengan suara bariton nya. Yuna memutar leher dan menyipitkan mata melihat sang suami menenteng sesuatu di tangan.


"Bawa apaan Bang?" tanya Yuna.


"Yuna lihat saja sendiri!" Elkan menaruh dua baby walker itu di hadapan Yuna.


"Wah, kereta dorong. Pasti buat si kembar," ucap Yuna sambil tersenyum.


"Ya iyalah untuk si kembar, masa' untuk Yuna. Emang muat?" Elkan mengulum senyum sambil mengacak rambut Yuna.


"Mana muat, yang ada malah patah nanti. Lagian Abang aneh sih, orang nanya baik-baik jawabnya gitu banget." Yuna mengerucutkan bibir dan meninggalkan ruang tengah.


Selepas kepergian Yuna, Elkan mengeluarkan baby walker itu dari dalam plastik lalu menaruh si kembar di atasnya. Punya Edgar berwarna biru sedangkan punya Elga berwarna pink. Kedua bayi bontot itu tertawa kegirangan saat memainkan kerincing dan musik yang ada di depan wajah mereka. Keduanya berlarian hingga sesekali saling menabrak.


"Sari, jagain si kembar bentar ya. Jangan sampai mereka jauh dari pandangan kamu, takutnya jatuh." seru Elkan sebelum beranjak menuju anak tangga.


"Iya Kak," angguk Sari. Tidak hanya Sari di sana juga ada Reni, Diah dan Lili. Tentu saja mereka semua tidak akan membiarkan sesuatu terjadi pada si kembar.


Sebelum Elkan sempat mengayunkan kakinya, tiba-tiba Pak Agung datang memberitahukan kedatangan Elena. Elkan tidak mau menyambutnya, dia menyuruh Diah dan Lili menemui wanita itu dan memintanya mengantar ke kamar yang sudah disiapkan di lantai bawah.


"Selamat datang Bu, Tuan, silahkan masuk!" sapa Diah dan Lili yang sudah berdiri di depan pintu, keduanya membungkukkan punggung.


"Terima kasih," sahut Edward sambil tersenyum, tidak dengan Elena yang hanya diam memandangi setiap sudut rumah.


Air mata Elena tiba-tiba menetes mengingat kenangan yang pernah dia lalui bersama pria yang pernah dia khianati. Dia seperti mendapat bisikan seseorang dari alam bawah sadarnya.


Elena tidak berbohong, hidupnya memang sudah tidak lama lagi. Dia hanya ingin menghabiskan sisa-sisa umurnya bersama anak, menantu dan cucunya.


Enam Bulan Kemudian...


Selama enam bulan terakhir tidak ada yang aneh dengan tingkah Elena. Semuanya terlihat normal, tidak ada yang mencurigakan dari gerak gerik kesehariannya. Dia juga sering memasak makanan yang selama ini dirindukan oleh Elkan yaitu masakan seorang ibu. Bahkan dia sering kali mengajak si kembar bermain dan menceritakan dongeng-dongeng lucu.

__ADS_1


Sekarang Edgar dan Elga sudah berusia satu tahun lebih, keduanya sudah bisa berjalan bahkan bicara sepatah dua patah kata dengan cadelnya mereka. Sangat cerewet seperti Yuna dulu, apalagi Elga yang tumbuh menjadi gadis cantik dan imut. Keduanya kadang sering berantem memperebutkan mainan.


Siang itu para wanita berkumpul di ruang keluarga. Tiba-tiba saja Reni mengeluh merasakan mulas di perutnya.


Ya, usia kandungan Reni sudah memasuki bulannya, kata dokter tinggal menunggu hari saja.


"Kak Yuna, tolong Kak! Perutku mulas banget, sakit Kak." lirih Reni. Dia tersandar lesu di kepala sofa sambil mengusap perutnya yang semakin mulas tak menentu.


Yuna yang melihat itu langsung terperanjat, dia yakin sudah waktunya Reni melahirkan.


"Diah, Lili, tolong panggil Pak Zul cepat! Kita harus ke rumah sakit, Reni sepertinya sudah mau melahirkan."


Panik, sangat panik. Yuna tidak tau harus berbuat apa. Meski sudah menjadi seorang ibu, tapi ini pengalaman pertama baginya melihat seorang wanita kesakitan seperti yang dialami Reni.


Ya, dulu Yuna tidak mengetahui apa-apa tentang kehamilannya, tau-tau dia sudah punya baby twins saja saat bangun dari tidur panjangnya.


Tidak lama, Pak Zul datang tergesa-gesa. Yuna dan Diah memapah Reni menuju mobil yang sudah disiapkan Pak Zul di depan pintu utama.


"Lili, kamu di rumah jagain si kembar ya." ucap Yuna.


"Ma, Yuna titip si kembar ya." imbuh Yuna pada Elena.


"Iya, pergilah!" sahut Elena yang juga terlihat cemas memikirkan keadaan Reni.


Meski Reni bukan putrinya, tapi kebersamaan mereka enam bulan ini sudah membuka pikiran Elena tentang betapa pentingnya hubungan sebuah keluarga. Elena merasa tenang berada di tengah-tengah mereka. Hanya Elkan saja yang masih dingin terhadap dirinya.


Setelah Yuna masuk ke dalam mobil, Pak Zul segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


"Kak Yuna, sakit Kak. Aku tidak kuat lagi," rengek Reni bercucuran keringat, perutnya semakin mulas serasa ingin buang air besar.


"Reni, kamu yang kuat ya. Tahan sebentar, kita akan segera sampai." Yuna mengelus perut Reni dengan pelan. "Anak Mama jangan nakal ya, tunggu sebentar lagi. Kamu akan bertemu kami semua, kasihan Mama Reni."


Sambil mengelus perut Reni, Yuna menyalakan ponselnya. Dia segera menghubungi Beno dan memintanya langsung ke rumah sakit menyusul mereka.

__ADS_1


Seperempat jam berlalu, mobil yang dikendarai Pa Zul masuk ke gerbang rumah sakit. Pak Zul turun lebih dulu dan memanggil suster untuk membantunya.


"Elkan, Reni mau melahirkan. Aku harus ke rumah sakit," Tanpa menunggu jawaban, Beno langsung berlari menuju lift. Air mukanya nampak panik, sesekali dia mengusap wajah dengan kasar dan menghela nafas berat. "Sabar sayang, kamu harus kuat. Tunggu Mas!"


Di rumah sakit, Reni sudah dibawa masuk ke ruang bersalin. Yuna, Diah dan Pak Zul menunggu di luar dalam keadaan gelisah. Mereka bertiga hanya bisa berdoa agar ibu dan anak itu selamat dan sehat.


"Yuna, dimana Reni?" seru Beno yang baru saja tiba di rumah sakit. Perjalanan yang harusnya ditempuh dalam waktu sepuluh menit, menjadi lima menit saja bagi Beno.


Langkahnya tergopoh-gopoh, detak jantungnya meningkat drastis dengan nafas tersengal.


"Masih di dalam, kamu masuklah! Tadi dokter sudah berpesan," sahut Yuna.


"Terima kasih, terima kasih karena sudah-"


"Bicara apa sih? Masuk saja cepat! Reni butuh kamu, jangan menunda lagi!" Yuna mendorong punggung Beno ke arah pintu.


Tanpa pikir Beno langsung menggeser pintu dan menghilang dari pandangan Yuna dan yang lainnya.


"Nyonya, aku takut." lirih Diah sambil menggenggam tangan Yuna.


"Tidak apa-apa, Reni pasti kuat. Kita bantu doa ya!" Yuna mendekap lengan Diah dan mengusapnya perlahan.


Di dalam sana, Reni masih berjuang mempertaruhkan nyawanya. Kedatangan Beno seperti memberi kekuatan tersendiri untuknya.


"Mas..." lirih Reni yang sudah mandi keringat.


Beno langsung berhamburan ke sisi kanan brankar, dia menggenggam tangan Reni dengan erat dan mengecup keningnya. "Kuat ya sayang, Mas di sini!"


"Syukurlah, Bapaknya sudah datang. Kita coba sekali lagi ya!" seru dokter Siska.


Dokter Siska memandu Reni untuk mengatur nafas. Dalam hitungan ketiga, suara tangisan bayi memenuhi seisi ruangan. Reni terkulai lemas, sementara Beno tak sanggup berkata-kata. Sekujur tubuhnya berguncang hebat melihat perjuangan istrinya, belum lagi suara tangisan baby yang meruntuhkan sekerat raganya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2