Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 81.


__ADS_3

Pukul 5 sore, mobil Beno tiba di depan gang sempit menuju rumah Reni. Dia sengaja tidak turun dan memilih menunggu gadis itu di dalam mobil.


Sepuluh menit kemudian, Reni muncul sembari menenteng sebuah rantang di tangannya. Saat gadis itu hendak menyetop taksi, Beno segera turun dan meraih tangannya. Reni terperanjat dan menoleh ke arah Beno.


"Lepasin! Enak aja pegang-pegang. Nanti kulit Bapak yang suci itu bisa ternodai gara-gara tangan kotorku ini." ketus Reni sembari menyentak kan tangannya hingga terlepas dari genggaman Beno.


Beno mengukir senyum di bibirnya. "Ayo, ikut aku!" ajak Beno, dia kembali menggenggam tangan Reni dan menariknya menuju mobil.


"Lepasin! Aku gak mau ikut Bapak, aku bisa pulang dengan taksi." Reni menarik tangannya dan berlari menjauhi Beno.


"Reni, jangan menguji kesabaran ku!" teriak Beno dengan lantang, lalu berlari menyusul gadis itu.


Reni tak mengindahkan ucapan Beno, dia terus berlari dan menaiki ojek yang mangkal di pinggir jalan.


"Jalan Bang!" pinta Reni setelah duduk di jok belakang.


Saat abang ojek melajukan motornya, Beno segera menghadang hingga nyaris saja tubuhnya tertabrak.


"Turun!" bentak Beno dengan tatapan membunuhnya.


"Gak mau, ayo jalan Bang!" desak Reni kepada abang ojek.


Beno dengan cepat mengeluarkan dompetnya dan mengambil beberapa lembar uang ratusan. "Ambil ini, turunkan dia!"


Siapa yang tidak mau dibayar percuma seperti itu. Abang ojek mengambil uang yang disodorkan Beno dan meminta Reni turun dari motornya. "Maaf Mbak, silahkan turun!"


Dengan penuh kekesalan, Reni terpaksa turun dan menjauh dari Beno. "Orang kaya gak tau diri,"


Beno tersenyum licik penuh kemenangan, kemudian meraih tangan Reni dan membawanya masuk ke dalam mobil. Mau tidak mau Reni terpaksa menurut meski amarahnya sudah memuncak hingga ubun-ubun.


Mobil yang dikendarai Beno melaju menyusuri jalan raya. Reni bergeming dalam mode kesal dan hanya fokus menatap jalanan. Dosa apa yang sudah dia perbuat hingga selalu saja dihadapkan dengan pria menjengkelkan seperti Beno.


Reni menautkan alisnya saat menyadari jalanan yang mereka lalui bukanlah jalan menuju arah pulang. Kesalnya semakin menjadi-jadi merutuki perangai Beno yang semena-mena terhadap dirinya. Apa orang kaya selalu begini kepada si miskin sepertinya?

__ADS_1


"Berhenti di sini! Kalau gak, aku pastikan Bapak tidak akan melihatku lagi setelah ini." ancam Reni sembari meraih kenop pintu mobil itu.


"Jangan gila! Apa yang ingin kau lakukan?" sela Beno sembari menoleh ke arah Reni.


"Berhenti, atau aku akan loncat sekarang juga!" Reni sepertinya tidak main-main dengan ucapannya. Pintu mobil itu bahkan sudah merenggang beberapa senti.


Beno menahan nafas dan segera menepikan mobilnya di tempat yang cukup lapang. Saat Reni hendak turun, Beno meraih tangannya hingga posisi wajah keduanya nyaris tanpa jarak.


Reni membulatkan matanya dengan sempurna, dia bisa merasakan hangatnya nafas Beno menyentuh wajahnya. Mendadak jantung Reni bergemuruh begitu kencang, ada perasaan aneh menggelitik hatinya seketika itu juga.


Beno menatap manik mata Reni dengan intim, hembusan nafas gadis itu membuat dadanya berdenyut nyeri. Tanpa ragu Beno menggerakkan tangannya menyentuh tengkuk bagian belakang Reni, menariknya pelan hingga bibir keduanya saling menyentuh.


Mata Reni tertutup dengan sempurna saat Beno melu*mat bibir bawahnya penuh kelembutan, lalu berlanjut melu*mat bibir atasnya. Begini kah rasanya berciuman? Hal yang tidak pernah Reni rasakan sebelumnya. Reni terhanyut menikmati halusnya permainan bibir Beno.


"Itu hukuman untukmu!" tegas Beno setelah melepaskan luma*tannya.


Reni terlonjak dan membuka matanya lebar. "Hukuman?" gumam Reni mengulangi kata itu.


"Iya, itu hukuman karena kau sudah berani menentang ku." Beno tersenyum licik penuh kemenangan. "Jangan kepedean! Itu hanya ciuman biasa, gak berarti apa-apa bagiku." imbuh Beno tanpa rasa bersalah sedikit pun.


Cairan bening di sudut mata Reni mengalir begitu saja, bodohnya dia membiarkan Beno mencuri ciuman pertamanya. Reni membuka pintu mobil dan berlari sekencangnya.


"Taksi..."


Sebelum Beno berhasil menyusul gadis itu, Reni sudah masuk lebih dulu ke dalam taksi. Tangisannya pecah, hatinya hancur berkeping-keping mengingat perkataan Beno tadi.


Pukul 7 malam, taksi yang ditumpangi Reni menepi di depan gerbang. Setelah membayar tagihan, Reni segera masuk dan langsung menuju kamar.


"Reni, kamu kenapa?" tanya Yuna yang kebetulan tengah melintas di lantai bawah. Dia sempat melihat mata Reni sembab seperti habis menangis.


"Gak papa Bu, aku bersih-bersih sebentar ya." Reni melanjutkan langkahnya memasuki kamar.


Reni tersandar lesu di daun pintu. Kecewa, tentu saja iya. Marah, apalagi. Tapi nasi sudah jadi bubur, dia sudah terlanjur memberikan ciuman pertamanya pada pria yang dianggapnya brengsek. Reni terpaksa ikhlas meski hatinya tidak rela. Tapi inilah buah dari kebodohannya sendiri.

__ADS_1


Reni mengusap wajahnya berkali-kali, mencoba meredam emosinya dan berusaha menenangkan diri. Reni bangkit dan masuk ke kamar mandi membersihkan diri. Dia merasa tidak enak terhadap Yuna, harusnya dia kembali sore tadi tapi nyatanya dia terlambat beberapa jam.


Usai mandi dan mengenakan pakaian, Reni meninggalkan kamar dan segera menemui si kembar di kamar mereka.


"Maaf Bu, aku pulang terlambat. Tadi-"


"Gak papa, makan dulu gih!" potong Yuna.


"Nanti aja Bu, aku belum lapar." tolak Reni dengan sopan.


Yuna menatap gadis itu dengan intim, ada sesuatu yang mencurigakan yang dia tangkap dari gelagat aneh Reni. Entah apa Yuna sendiri tidak tau.


"Bagaimana keadaan kedua adikmu?" tanya Yuna ingin tau.


"Keduanya baik Bu, mereka titip salam buat Ibu dan juga Bapak. Katanya terimakasih untuk makanannya," jawab Reni menyampaikan pesan adiknya.


"Salam diterima, kapan-kapan ajak aja mereka main ke sini." pinta Yuna dengan seulas senyum di bibirnya.


"Iya Bu, tapi sekarang mereka masih sibuk dengan sekolah." sahut Reni.


Di tengah-tengah pembicaraan Yuna dan Reni yang mulai serius, terdengar derap langkah kaki dari arah luar.


"Serius banget ngobrolnya, ngomongin apa?" seru Elkan yang tiba-tiba datang mengganggu obrolan mereka.


"Pengen tau aja, ini obrolan wanita. Pria gak boleh ikut-ikutan!" sahut Yuna dengan bibir mengerucut.


"Reni, kamu turun aja istirahat. Si kembar udah pada tidur, ceritanya dilanjutin besok pagi aja. Pinjam istriku dulu!" seloroh Elkan yang sudah sedari tadi ingin berduaan dengan istrinya.


"Apaan sih Elkan? Ini baru jam 8, kalau mau tidur duluan aja!" gerutu Yuna dengan tatapan horor.


"Gak papa Bu, aku emang mau istirahat. Kalau begitu aku permisi dulu,"


Reni meninggalkan kamar si kembar dan memilih masuk ke kamarnya. Lebih baik dia tidur daripada memikirkan kejadian tadi. Jika ciuman itu adalah sebuah hukuman, maka biarkan saja seperti itu. Anggap saja hal itu tidak pernah terjadi dan anggaplah hal itu sebuah mimpi. Esok pagi semua akan kembali seperti semula.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2