
Selagi Yuna tengah asik menyusui putrinya, Elkan segera menghubungi rumah dan meminta Diah membuat masakan yang bisa memancing ASI istrinya agar cepat keluar, paling tepatnya agar banjir karena Yuna harus menyusui dua bayi sekaligus.
Elkan ingin asupan nutrisi, gizi dan vitamin untuk si kembar terpenuhi karena semasa di dalam kandungan keduanya tak bisa mendapatkan itu semua.
Diah yang sudah mengetahui keadaan Yuna bergegas mengiyakannya. Segera dia meminta Lili pergi ke pasar untuk membeli bahan-bahan yang dia perlukan.
Sungguh bahagia Diah dan Lili mendengar kabar baik itu, mereka berharap Yuna bisa lekas sembuh dan kembali ke rumah membawa dua malaikat kecil itu.
Sementara di rumah sakit, Yuna baru saja selesai menyusui kedua buah hatinya. Meskipun ASI nya masih sedikit, tapi cukup membuat kedua bayinya kenyang hingga tertidur dengan pulas.
Elkan meletakkan kedua bayinya di tengah-tengah ranjang, lalu ikut berbaring di pinggirnya. Sementara Yuna berbaring di pinggir satunya.
"Sayang, putra kita mirip kamu ya." ucap Elkan sembari mengelus pipi putranya dengan lembut.
"Iya, tapi hidungnya mirip kamu." sahut Yuna sembari menatap kedua bayinya secara bergantian.
"He'eh, kamu benar. Tapi putri kita mirip aku loh," imbuh Elkan sembari tersenyum kecil.
"Iya, kamu kan Papanya. Wajarlah mereka mirip kamu, kalau mirip Pak Usup baru aneh." seloroh Yuna sembari tersenyum lebar.
Yuna masih tak menyangka bahwa sekarang dirinya sudah menjadi seorang ibu. Mustahil memang jika dikaji dengan logika, Yuna mampu berjuang dalam ketidakberdayaannya. Mengandung dan melahirkan dalam keadaan yang tidak memungkinkan, namun Tuhan terlalu baik padanya. Padahal separuh nyawanya sudah kembali kepada Sang Pencipta.
Lama termenung dalam pemikirannya sendiri, Yuna terperanjat saat mendengar suara ketukan pintu dari arah luar.
"Tok Tok Tok"
"Elkan, siapa itu?" gumam Yuna.
"Tunggu ya, biar aku liat dulu!" Elkan bangkit dari tidurnya dan berjalan menuju pintu, lalu membukanya.
"Ayah,"
Segera Elkan membungkukkan punggungnya, menyalami tangan Aditama yang tengah duduk di kursi roda, lalu mencium punggung tangan mertuanya itu.
"Ayah, Reynold, silahkan masuk!" Elkan menepi, memberi ruang untuk Reynold masuk ke dalam ruangan.
"Makasih," Reynold melangkah masuk sembari mendorong kursi roda yang diduduki Aditama.
Yuna lagi-lagi terperanjat saat menangkap kedatangan ayahnya. Namun matanya mendadak berkaca ketika melihat tubuh renta itu terduduk lemah di atas kursi roda.
__ADS_1
"Ayah, apa yang terjadi? Ayah sakit?" Yuna bersiap untuk bangkit, namun Aditama dengan cepat melarangnya.
"Di sana saja sayang, jangan banyak bergerak dulu!" seru Aditama.
Reynold mendorong kursi roda Aditama dan meletakkannya tepat di samping ranjang Yuna.
"Ayah, Ayah kenapa?" lirih Yuna dengan suara tertahan.
Segera Elkan berjalan menghampiri Yuna dan membantunya duduk. Sementara Aditama sendiri berpindah ke sisi ranjang dan memeluk putrinya dengan erat.
"Tidak perlu memikirkan keadaan Ayah, Ayah baik-baik saja! Ayah kangen kamu sayang, Ayah pikir kamu tidak akan bangun lagi."
Tak terbilang betapa besarnya kasih sayang dan kebahagiaan yang tengah dirasakan Aditama saat ini. Bukan materi yang dia dambakan, namun senyuman manis putrinya yang tak ternilai harganya.
Yuna terisak di dalam dekapan Aditama, dia juga sangat merindukan ayahnya. Lama sekali rasanya tak melihat dan merasakan pelukan hangat dari pria yang sudah membesarkan dirinya dengan segenap jiwa dan raga. Memberi kasih sayang berlimpah sebagai seorang ayah sekaligus ibu untuknya.
"Ayah, Yuna juga kangen sama Ayah. Maafin Yuna ya," isak Yuna.
"Sssttt... Jangan banyak bicara dulu, apalagi menangis! Ibu yang baru melahirkan tidak boleh stres, nanti berdampak pada kesehatan kamu!"
Aditama melepaskan pelukannya dan menyeka pipi Yuna dengan tangannya yang mulai keriput. Yuna pun mengangguk dan menyentuh pipi ayahnya dengan sayang, lalu memutar lehernya beberapa derajat.
"Sehari sebelum kamu melahirkan, cepat sembuh ya!" Reynold menghampiri Yuna, kemudian memeluknya dengan erat.
Sebenarnya Reynold sangat terharu melihat pemandangan itu, dia ingin sekali menangis namun tak mau meluapkannya di hadapan Yuna. Dia tidak ingin Yuna sedih, yang penting baginya Yuna sudah sadar dan kembali tersenyum seperti sebelumnya.
"Selamat ya, sekarang udah resmi jadi Emak. Jangan cengeng lagi, malu sama bayimu!" seloroh Reynold sembari mengacak rambut Yuna hingga berantakan.
"Rey, apaan sih?" Yuna menepis tangan Reynold dan kembali merapikan rambutnya. Sementara Elkan masih saja terpaku menyaksikan pemandangan itu.
Sesaat, Elkan terdiam dalam pemikirannya sendiri. Yuna begitu cantik, lembut, banyak yang menyayangi istrinya itu, termasuk Beno, para pelayan di rumah, belum lagi karyawan di kantor.
Tapi kenapa justru dia sendiri yang sering menyakiti istrinya? Padahal dia lah yang seharusnya menjaga Yuna, melindunginya dari bahaya apapun. Bukan malah terus-terusan melukai istrinya.
Aditama menoleh ke arah Elkan, dia sadar ada yang aneh dengan sorot mata menantunya itu. "Elkan, kamu kenapa Nak?"
Elkan terperanjat dan segera mengusap wajahnya, hembusan nafasnya terdengar berat. "Tidak apa-apa Yah,"
Yuna ikut menoleh ke arah suaminya dengan kening sedikit mengkerut. "Elkan, kamu kenapa?"
__ADS_1
"Gak papa sayang," Elkan pun mengusap kepala Yuna penuh cinta. Dia sadar bahwa kesalahan ada pada dirinya, bukan Yuna.
Ruangan menjadi hiruk saat Aditama dan Reynold sibuk merayu kedua bayi mungil itu. Aditama menggendong cucu laki-lakinya, sementara Reynold menggendong keponakan perempuannya.
"Si cantik ini mirip Yuna waktu kecil gak sih Yah?" tanya Reynold kepada Aditama.
"Iya, tapi lebih mirip sama Elkan. Justru pangeran tampan ini yang mirip dengan Yuna." sahut Aditama penuh suka cita. Dia sama sekali tak menyangka ternyata usianya sudah semakin tua, buktinya mulai hari ini dia akan dipanggil dengan sebutan kakek.
Masih dalam suasana hiruk, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari arah luar. Elkan segera bangkit dari duduknya dan melangkah menuju pintu.
Kali ini giliran Diah yang datang bersama Lili. Keduanya membawa rantang di tangan masing-masing.
"Siang Tuan," sapa Diah dan Lili secara bersamaan.
"Kalian, silahkan masuk!" sahut Elkan sembari berbalik dan berjalan menuju ranjang.
Diah dan Lili menyusul masuk. "Siang Nyonya," sapa keduanya.
"Diah, Lili, kalian datang?" Yuna tersenyum menyambut kedatangan kedua wanita itu.
"Maaf kalau kedatangan kami mengganggu, kami hanya ingin mengantarkan makanan ini untuk Nyonya, sekalian ingin melihat dua malaikat kecil itu." jelas Diah.
"Gak papa, kemarilah!" Yuna sama sekali tidak merasa terganggu dengan kedatangan mereka, dia justru sangat senang karena keduanya sudah mau menyempatkan diri untuk datang menjenguknya.
Diah menaruh rantang yang dia bawa di atas meja, kemudian menyajikannya. "Tuan, Nyonya. Silahkan di makan dulu, mumpung masih panas! Biar kami saja yang menjaga si kembar!"
Elkan mengangguk, lalu memutar lehernya ke arah Aditama dan Reynold. "Ayah, Reynold, kita makan dulu yuk!"
"Gak usah, kalian saja!" tolak Reynold dengan sopan.
"Gak boleh nolak, sayang loh makanannya." timpal Yuna dengan mata melotot tajam.
Mau tidak mau, Reynold akhirnya mengangguk lalu memberikan malaikat kecil itu kepada Diah. Aditama pun ikut memberikan cucunya kepada Lili.
Setelah ketiga pria itu berpindah ke sofa, Elkan pun mengisi nasi dan sayuran yang banyak ke dalam piring. "Ayah sama Reynold makan duluan aja, Elkan mau nyuapin Yuna dulu!"
Elkan membawa piringnya ke arah Yuna dan duduk di sisi ranjang. "Makan dulu ya, biar ASI nya banyak!"
Yuna mengangguk sembari tersenyum kecil, tak disangka Elkan begitu perhatian terhadap dirinya. Dia mulai menganga saat Elkan mengarahkan sendok ke mulutnya.
__ADS_1
Bersambung...