Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 120.


__ADS_3

Usai sarapan bersama, Amit dan Sari berpamitan kepada Aditama dan yang lainnya. Setelah menyalami dan mencium punggung tangan mereka satu persatu, keduanya langsung masuk ke dalam mobil dan diantar oleh Pak Zul ke sekolah.


Setengah jam berlalu, mobil yang dikendarai Pak Zul tiba di depan gerbang sekolah. Keduanya langsung menyalami Pak Zul dan turun dari mobil.


Setelah mereka berdua masuk ke gerbang sekolah, seorang gadis bernama Ayu menghampiri. Dia adalah satu-satunya gadis kaya yang mau berteman dengan Sari. Tidak seperti gadis kaya lainnya yang suka membully Sari karena miskin.


Ayu sebenarnya menyukai Amit, tapi hingga detik ini dia tidak berani mengungkapkan perasaannya karena takut ditolak. Ayu tau Amit tidak menyukai gadis kaya karena menurut Amit orang kaya itu sombong dan suka menghina adiknya. Amit bukannya tidak tau kalau adiknya sering dihina, tapi dia terpaksa diam karena tidak mau membuat keributan.


Selama ini mereka bertahan di sekolah itu semata-mata untuk belajar agar kedepannya bisa menjadi orang yang sukses dan membanggakan kakak mereka yang tak lain adalah Reni. Wanita tangguh yang sudah menjadi tulang punggung keluarga sejak berumur lima belas tahun.


Sebelum lonceng berbunyi, Ayu dan Sari duduk di taman sekolah. Ayu kemudian membuka ponselnya dan memperlihatkan postingan terakhir Yuna kepada Sari.


"Sari, lihat deh! Kemarin Kak Yuna mengadakan syukuran kedua anaknya. Cantik banget kan? Kapan ya aku bisa ketemu sama dia?"


Tanpa menjawab, Sari juga membuka ponselnya dan memperlihatkan fotonya dan Yuna kepada Ayu. "Begini maksud kamu?"


Mata Ayu seketika membulat dengan sempurna. Kenapa bisa temannya itu foto bareng dengan selebgram cantik itu? "Kamu diundang?"


"Gak," jawab Sari singkat.


"Lalu kenapa kamu bisa foto bareng sama Kak Yuna?" tanya Ayu penasaran.


"Hehe... Kalau aku ceritain, pasti kamu gak akan percaya." jawab Sari enteng.


"Percaya lah, masa' enggak." balas Ayu.


Sari tersenyum kecil, lalu merangkul pundak Ayu hingga posisi keduanya semakin dekat. Kemudian Sari menceritakan semuanya hingga membuat Ayu tercengang dengan bibir terbuka lebar.


Awalnya Ayu sama sekali tidak percaya, tapi setelah Sari menceritakan detailnya barulah gadis itu manggut-manggut. Dia baru menyadari kenapa akhir-akhir ini Sari selalu diantar jemput dengan mobil mewah. Bahkan Sari tidak pernah kekurangan uang jajan lagi seperti dulu. Yang mana biasanya dialah yang sering mentraktir Sari saat jam istirahat tiba.


"Sari, aku mau dong ketemu Kak Yuna. Boleh kan?" pinta Ayu dengan air muka memelas.


Sari tentu saja tidak langsung mengiyakannya, mana mungkin dia berani mengambil keputusan tanpa meminta izin kepada orangnya terlebih dahulu. "Aku gak bisa janji ya, nanti aku tanya Kak Yuna dulu."

__ADS_1


"Iya, aku ngerti. Tapi usahain ya, aku pengen banget ketemu dia." pinta Ayu.


"Oke, aku akan usahain. Lagian aku kesal sama anak-anak lain yang selalu sok-sokan dan berkata sudah bertemu Kak Yuna. Bertemu apanya?" geram Sari.


"Biarin aja, mereka mah memang begitu. Itu namanya fans abal-abal, hehe..." timpal Ayu.


Setelah berbicara panjang lebar, lonceng pun berbunyi. Keduanya langsung masuk ke dalam kelas untuk mengikuti pelajaran.


Di kediaman Bramasta, canda tawa masih bergemuruh di ruang keluarga. Hari ini Reynold sengaja tidak ke kantor karena ingin menghabiskan waktunya bersama si kembar. Bocah lucu yang sekarang sudah bisa tertawa saat dirayu oleh siapa saja.


Saat tengah asik bermain dengan Elga dan Edgar, ponsel Reynold tiba-tiba berdering. Dia mendapat kabar dari perusahaan cabang bahwa Laura akan dikirim hari ini ke perusahaan pusat. Sebenarnya Reynold sendiri masing bimbang setelah mendengar pengakuan Elkan dan Beno tadi malam, tapi mau bagaimana lagi, dia sudah terlanjur mengambil keputusan.


Setelah sambungan telepon itu terputus, air muka Reynold tiba-tiba berubah gelap. Dia menghela nafas berat dan membuangnya dengan kasar. Hal itu menimbulkan rasa curiga di hati Yuna.


"Ada apa Rey? Siapa yang menelepon?" tanya Yuna penasaran.


"Perusahaan cabang," jawab Reynold singkat.


"Kenapa? Apa ada masalah?" tanya Yuna lagi sambil menautkan alisnya.


"Tapi apa?" desak Yuna dengan nada penuh penekanan.


Reynold mengusap wajahnya kasar, lalu menghirup udara sebanyak-banyaknya.


"Apa ini ada kaitannya dengan wanita itu?" tanya Yuna dengan air muka memerah penuh kekesalan.


Reynold yang tidak pernah berbohong akhirnya menganggukkan kepala, tentu saja hal itu membuat Yuna meradang dan menatapnya seperti serigala kelaparan.


"Ada apa dengan kalian berdua?" Aditama menimpali, dia kebingungan melihat kedua anaknya itu.


"Yah, bilang sama anak Ayah itu. Dia boleh menjalin hubungan dengan wanita mana aja, tapi jangan dengan wanita itu. Yuna gak rela,"


"Wanita siapa?" Aditama mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Ayah tanya aja sendiri, dia yang lebih tau." kesal Yuna dengan bibir mengerucut.


"Rey..." Aditama menilik wajah Reynold dengan intens.


Reynold tak berani bersuara, dia tau Yuna akan tetap bersikeras dengan pendiriannya. Tapi apakah Reynold salah menaruh hati pada wanita itu? Laura memiliki kepribadian yang baik, rajin dan juga cantik. Perihal masa lalu menurut Reynold tidaklah penting karena setiap orang memiliki masa lalunya sendiri.


Elkan yang melihat ketegangan itu langsung menggenggam tangan Yuna dan membawanya menjauh dari semua orang. Hal itu semakin membuat Aditama kebingungan lalu mengalihkan pandangannya ke arah Beno.


Beno yang tadinya terlihat santai, kini nampak canggung setelah menyadari tatapan Aditama yang mengarah pada dirinya.


"Beno..." seru Aditama hingga membuat jantung pria itu berdetak kencang.


"Maaf Yah, ini hanya persoalan kecil. Yuna aja yang belum siap menerimanya." sahut Beno sambil tersenyum kecut.


"Persoalan kecil apa? Katakan pada Ayah!" pinta Aditama menuntut penjelasan.


"Biar Rey saja yang menjelaskannya!" timpal Reynold, dia tidak ingin Beno ikut dibawa-bawa dalam masalah ini.


Lalu Reynold menceritakan apa yang terjadi sebenarnya, Reynold sendiri tidak tau bahwa wanita yang disukainya itu adalah mantan kekasih Elkan yang tak lain adalah adik iparnya sendiri.


Selama seminggu di perusahaan cabang, Reynold tidak melihat ada yang janggal dengan wanita itu. Kepribadiannya sangat baik, tutur katanya juga lembut dan sopan. Wanita itu juga tidak terlihat dekat dengan pria manapun. Semua karyawan sama saja bagi Laura karena memang tujuannya hanya untuk bekerja bukan yang lain.


Lalu dimana salahnya jika Reynold tertarik pada wanita itu? Mantan tetaplah mantan dan itu hanya masa lalu yang sudah terlewatkan, lagian Elkan dan Laura tidak pernah melakukan hal-hal diluar batas kewajaran.


Aditama mengusap wajahnya berkali-kali, kini dia mengerti kenapa Yuna bertingkah seperti tadi.


Apa Yuna cemburu?


Bisa jadi, Yuna pastinya tidak mau masa lalu Elkan kembali muncul di depan matanya. Terakhir kali wanita itu datang, Yuna malah celaka karena tak sanggup menahan kekecewaan di hatinya.


Walaupun Elkan sudah menjelaskan bahwa dia tidak punya perasaan apa-apa lagi terhadap wanita itu, tetap saja Yuna tidak bisa menerimanya. Yuna takut kehadiran wanita itu malah membuat rumah tangganya hancur.


Katakanlah Elkan sudah tidak mencintainya lagi, lalu bagaimana dengan wanita itu? Siapa yang tau isi hatinya?

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2