Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 184.


__ADS_3

"Kak Yuna, coba tebak! Tadi saat di rumah sakit kami bertemu siapa hayo?" tanya Reni saat menikmati makan malam bersama.


"Tidak tau, memangnya kamu bertemu siapa?" jawab Yuna sembari mengangkat bahu.


"Tebak dulu Kak!" rengek Reni dengan manja, hal itu membuat semua orang mengernyit, apalagi Beno yang merasa aneh dengan sikap istrinya. Apa kehamilan ini sudah mengubah Reni? Tapi tidak apa-apa, lebih baik berubah manja dari pada jadi pemarah. Bukankah katanya pembawaan wanita hamil itu beda-beda?


"Mantan pacar kamu?" jawab Yuna asal sambil menautkan alis.


"Eh... Kok mantan pacar sih? Aku kan tidak pernah pacaran," Reni mengerucutkan bibir hingga membuat Beno gemas dan menarik bibir istrinya.


"Loh, tadi katanya disuruh nebak." Yuna lagi-lagi menautkan alis.


"Sudah sayang, bilang saja apa susahnya sih! Kenapa harus main tebak-tebakan begini?" timpal Beno pada istrinya.


Sejenak suasana menjadi hening.


"Kami tadi bertemu Kak Rey sama Laura," Akhirnya Reni memecah ketegangan diantara mereka.


"Oalah, bilang kek dari tadi! Kirain bertemu siapa," Yuna tertawa kecil. "Pasti mereka lagi memeriksakan kaki Laura. Kemarin kata Ayah Laura sudah bisa jalan walaupun masih belum sempurna." imbuh Yuna.


"Hehehe... Kak Yuna salah, mereka ke rumah sakit bukan untuk memeriksakan kaki Laura tapi... Mereka juga menemui dokter kandungan, Laura hamil." ungkap Reni.


"Hah? Benarkah?" Mata Yuna membesar dengan mulut sedikit menganga.


"Benar dong Kak, masa' aku bohong sih. Usia kandungan Laura sudah memasuki tujuh minggu, beda tiga minggu sama aku. Aku sepuluh minggu," terang Reni yang terlihat sangat antusias.


"Ngeselin si Rey, kok dia tidak menghubungi aku ya buat ngasih tau kabar bahagia ini?" Yuna mencebik merasa kesal pada Reynold.


"Tidak mungkin segala sesuatu harus dikasih tau sama Yuna, mereka juga punya privasi. Lagian ngapain ngurusin orang sampai segitunya?" Elkan yang sedari tadi diam akhirnya ikut bicara.


Yuna memutar leher beberapa derajat menghadap Elkan, tatapannya nampak tajam menusuk dada. "Orang apa maksud Abang? Rey itu bukan orang lain, dia kakak Yuna."


"Iya Abang tau, tapi biasa saja kali. Kalau dikasih tau untung, kalau tidak santai saja. Jangan terlalu berlebihan!" sahut Elkan.


"Berlebihan gimana? Perasaan biasa saja kok, Abang mungkin yang tidak senang mendengar kehamilan Laura. Kenapa? Cemburu karena Laura mengandung benih pria lain, basi!"

__ADS_1


Yuna menggebrak meja dengan kesal, matanya memerah saking jengkelnya mendengar ucapan Elkan lalu meninggalkan meja makan dan berlari menaiki anak tangga.


Melihat reaksi Yuna yang diluar perkiraan, Elkan menghela nafas dalam-dalam lalu ikut meninggalkan meja dan berlari menyusul Yuna. Aksi kejar-kejaran pun terjadi.


Saat Yuna berhasil meraih pintu dan hendak menutupnya, Elkan dengan sigap menahannya.


"Buka sayang, jangan seperti anak kecil gini dong!" keluh Elkan menahan pintu dengan tangan dan kakinya.


"Pergi sana, kembali sekalian sama Laura kalau Abang masih tidak rela melepaskannya!" Yuna mendorong pintu sekuat tenaga tapi sayang kekuatannya kalah besar dari Elkan. Elkan berhasil menyelip hingga keduanya saling berhadapan.


"Jangan bodoh kenapa sih, tidak semua harus diselesaikan dengan emosi. Malu sama anak, sudah emak-emak juga." geram Elkan dengan tatapan mengintimidasi.


"Ya, Abang benar. Yuna memang bodoh, Yuna kekanak-kanakan. Apa lagi?" pekik Yuna memecah gendang telinga, lalu berbalik dan tiduran di atas kasur dengan posisi membelakangi Elkan.


Kening Elkan mengernyit, dia menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali. Marah iya, geram iya, gemas juga iya melihat kelakuan istri bohay nya itu.


Pelan-pelan Elkan menutup pintu dan menguncinya, lalu berjalan menghampiri Yuna dan berbaring di belakangnya.


Tangan Elkan melingkar di pinggang istrinya sementara kakinya membelit erat paha Yuna, persis seperti guling.


"Kalau Abang tidak mau, Yuna mau apa?" Elkan mengulum senyum dan mempererat pelukannya.


"Kalau membunuh tidak berdosa dan tidak akan dipenjara, rasanya Yuna mau bunuh orang detik ini juga." ketus Yuna.


"Ya sudah, bunuh saja kalau gitu! Nanti Abang tinggalin surat wasiat agar Yuna tidak dipenjara. Setelah Abang berada di sisi Tuhan, akan Abang sampaikan kalau Yuna tidak berdosa. Dosanya buat Abang saja." ucap Elkan.


Mendengar itu, sekujur tubuh Yuna tiba-tiba merinding. Matanya berkaca dengan bibir mengerucut. "Bang..." lirih Yuna.


"Iya sayang, kenapa? Mau bunuh sekarang?" sahut Elkan menahan tawa.


"Bunuh bunuh apa sih? Abang mau ninggalin Yuna sendirian?" Yuna berbalik dan menggigit pundak Elkan sekuat hati.


"Aaaa... Aw... Sakit sayang," rintih Elkan dengan mata berkaca.


"Makanya jangan ngomong sembarangan!" Yuna mengikis jarak dan masuk ke dalam dekapan dada Elkan.

__ADS_1


"Loh, tadi katanya Yuna sendiri yang mau bunuh Abang?" Elkan mengulum senyum, dia tau Yuna tidak akan sanggup kehilangan dirinya.


"Itu karena hati Abang tidak sepenuhnya untuk Yuna, Abang masih terikat dengan masa lalu. Abang masih mencintai Laura, Yuna tau." Yuna menyembunyikan wajahnya di dada Elkan, air mata itu mengalir tanpa diminta.


"Jangan asal tuduh, dosa tau! Yuna harusnya beruntung punya suami seperti Abang, tidak ada kata mendua jika hati ini sudah memilih." ucap Elkan yang tanpa sengaja memuji dirinya sendiri.


"Kepedean, hiks..." Yuna tertawa dalam tangisnya.


"Bukan kepedean, tapi fakta sayang. Jika Abang seperti itu, kenapa harus nikah kontrak sama Yuna? Pikir dulu! Di luar sana banyak yang menginginkan Abang. Kenapa harus jomblo lima tahun?" terang Elkan.


"Itu karena Abang masih mengharapkan Laura, Abang masih menunggunya kembali. Bahkan hingga detik ini," tuduh Yuna.


"Teg!"


Saking jengkelnya, Elkan pun menyentil dahi Yuna. Yuna merintih kesakitan. "Aww..."


"Nah, sakit kan? Hati Abang lebih sakit dituduh terus-terusan begini. Kalau Yuna tidak percaya, lebih baik diam saja!" Elkan merenggangkan pelukannya dan menghirup udara sebanyak-banyaknya.


Sesaat suasana di kamar itu menjadi hening tak bersuara, sepi layaknya kuburan. Baik Elkan maupun Yuna sama-sama larut dalam diam mengarungi pikiran di benak masing-masing.


"Drrrt... Drrrt..."


Tiba-tiba Elkan tersadar saat ponselnya bergetar. Elkan sedikit beringsut dan meraih iPhone miliknya yang terletak di atas nakas.


"Edward?" Elkan mengernyit dan segera mengangkatnya.


Sekitar sepuluh menit berbicara, panggilan itu berakhir. Elkan bangkit dari pembaringannya dan segera mengganti pakaian.


"Sayang, Abang ke rumah sakit bentar ya. Yuna tidak marah kan Abang tinggal?" ucap Elkan sambil membungkukkan punggung dan mengusap kepala Yuna.


"Hmm... Pergilah!" sahut Yuna singkat.


Setelah mendapat izin dan mengecup pucuk kepala Yuna, Elkan berjalan meninggalkan kamar dan turun ke bawah. Sebelum pergi, Elkan pamit dulu sama si kembar yang berada di ruang keluarga bersama Amit dan Sari.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2