Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 122.


__ADS_3

Sekitar pukul tujuh malam pesawat yang ditumpangi Laura sudah mendarat di bandara Soekarno-Hatta. Dia turun bersama seorang pria yang merupakan staf kepercayaan perusahaan cabang yang ditugaskan Reynold mengantarnya langsung sampai apartemen.


Mungkin terlihat berlebihan di mata Laura, tapi tidak untuk Reynold yang sengaja memberikan fasilitas terbaik untuk gadis itu. Dia tau Laura sekarang hanya sebatang kara setelah kematian ayahnya sekitar satu setengah tahun yang lalu.


Hal itulah yang membuat Laura sempat mendatangi Elkan beberapa waktu yang lalu, tapi sayangnya dia terlambat dan Elkan sudah menikah dengan wanita lain. Hal itu juga yang membuat Laura akhirnya pindah ke luar kota, dia tidak mau dicap sebagai wanita perusak rumah tangga orang.


Tak disangka, kini Laura harus kembali ke ibukota demi pekerjaan yang selama ini dia dambakan. Tentunya tidak mudah mendapatkan posisi ini mengingat pengalaman kerjanya yang sangat minim, tapi kegigihan dan kerja kerasnya lah yang membawanya sampai ke titik ini.


Mungkin inilah yang dimaksud sang ayah waktu itu sehingga memisahkannya dengan Elkan dan mengirimnya melanjutkan studi ke luar negeri. Sekilas memang terlihat egois, tapi sang ayah pasti sudah mempertimbangkannya dengan sangat matang.


Jika saat itu Laura dan Elkan menikah, belum tentu juga rumah tangga mereka akan berjalan mulus meski keduanya saling mencintai. Apalagi saat itu keduanya baru lulus SMA, Laura belum memiliki keterampilan apa-apa. Jika sampai rumah tangganya gagal, tentu saja Laura akan menghadapi kesulitan di masa depan.


Sebab itulah sang ayah mengambil keputusan sepihak dan mengatakan kalau Laura sudah menikah dengan orang kaya agar Elkan tak lagi mengharapkannya. Saat itu sang ayah juga sudah sakit-sakitan sehingga harta yang dia miliki habis untuk biaya pengobatan.


Laura dan Yusri tiba di sebuah apartemen mewah milik Reynold. Setelah mengantarkan Laura sampai pintu, Yusri langsung berpamitan karena harus melakukan tugasnya yang lain.


Seorang wanita paruh baya membukakan pintu dan mempersilahkan Laura masuk.


"Silahkan masuk, Non! Kenalkan, nama saya Mbok Ati. Saya di sini untuk membantu menyiapkan semua keperluan Non. Setelah memasak makan malam, saya akan pulang dan kembali lagi besok pagi. Semoga Non betah ya di sini." ucap Mbok Ati ramah.


Dia adalah wanita yang sengaja diutus Reynold untuk membantu Laura di apartemen itu. Apartemen yang tidak terlalu besar, tapi cukup mewah dan nyaman untuk ditempati.


"Makasih Mbok, kenalkan nama aku Laura." jawabnya tak kalah ramah.


Laura masih kebingungan menatap setiap sudut apartemen itu, manik matanya berguling liar saat merasakan ada kejanggalan. Padahal dia baru dipindahkan dari perusahaan cabang, tapi sudah disediakan tempat seperti itu. Apa bos tempatnya bekerja sudah salah memberi fasilitas?

__ADS_1


Mbok Ati tersenyum lebar dan mengambil alih koper yang dibawa Laura, lalu menariknya ke dalam kamar. Laura pun mengikutinya dari belakang.


"Mbok, apa ini apartemen yang disediakan perusahaan untukku? Sepertinya ada kesalahan, aku hanya karyawan biasa dan belum memiliki pengalaman apa-apa. Kenapa dikasih fasilitas seperti ini?" ucap Laura yang masih saja tak percaya dengan apa yang dia lihat.


"Kalau masalah itu Mbok juga tidak tau Non, Mbok hanya menjalankan perintah dari Bapak." jawab Mbok Ati.


"Bapak?" Laura menautkan alisnya.


"Iya, pemilik perusahaan tempat Non bekerja dan juga pemilik apartemen ini. Kali aja dia naksir sama Non," sahut Mbok Ati enteng.


Laura melotot kan matanya. "Mbok jangan nakut-nakuti aku dong! Mana mungkin seorang bos besar bisa naksir sama bawahannya? Bagaimana kalau dia sudah menikah?" Laura bergidik ngeri mempertanyakan itu.


"Iya, dia pasti sudah menikah. Pasti bos itu seorang hidung belang. Kalau tidak, mana mungkin aku diberi fasilitas seperti ini? Aku gak mau di sini Mbok, aku mau pindah saja ke kontrakan." seru Laura ketakutan.


"Hah..." Mata Laura membulat sempurna dengan mulut sedikit menganga. "Maksud Mbok dia sudah punya tiga istri? Apa aku mau dijadikan yang keempat?"


"Apa salahnya? Yang penting dia bisa berlaku adil dan memenuhi tanggung jawab kepada semua istrinya." jawab Mbok Ati sambil mengulum senyumannya.


Mendadak sekujur tubuh Laura menjadi lemas, kakinya bergetar hingga terduduk di sisi ranjang. Kalau yang dikatakan Mbok Ati itu benar, tamat sudah riwayatnya. Jadi istri kedua saja dia tidak mau apalagi jadi yang keempat. Bolehkah Laura meraung sejadi-jadinya dan pergi dari tempat itu saat ini juga?


"Ya sudah, Non tidak usah mikir aneh-aneh. Harusnya Non senang jika benar bos kaya itu mau memperistri Non. Bukankah itu lebih baik, hidup Non akan terjamin nantinya." Mbok Ati terus saja mengerjai Laura hingga mata gadis itu memerah dan berkaca.


"Mbok pamit dulu ya, besok pagi Mbok akan ke sini untuk menyiapkan sarapan. Non mandilah dulu, makan malam sudah Mbok siapkan di atas meja! Jangan pernah berpikir untuk kabur dari sini, bos besar bisa melakukan apa saja termasuk menghabisi nyawa seseorang!"


Setelah mengatakan itu, Mbok Ati berjalan meninggalkan kamar dan langsung menuju pintu utama. Sesampainya di luar, wanita paruh baya itu melepaskan tawanya hingga terpingkal-pingkal.

__ADS_1


Tidak lama, tawanya terhenti saat ponsel yang ada di saku celananya berdering.


"Iya Pak Reynold," sapa Mbok Ati dari balik telepon yang sudah terhubung.


"Bagaimana Mbok? Apa Laura sudah di apartemen?" tanya Reynold memastikan. Sebenarnya dia sudah menerima kabar dari Yusri, tapi entah kenapa dia ingin bertanya langsung pada Mbok Ati.


"Sudah Pak, Non Laura lagi di kamar. Mbok juga sudah menyiapkan makan malam untuknya, Mbok pulang dulu." jawabnya.


"Oke, kalau gitu makasih ya Mbok." Setelah mengatakan itu, Reynold langsung mematikan sambungan teleponnya.


Di kamar mandi, Laura menekuk kakinya di bawah guyuran air. Dia tidak pernah berpikir kalau nasibnya akan berakhir seperti ini. Jika dia mau menikahi suami orang, bukan bos kaya itu yang ingin dia nikahi tapi Elkan.


Sayangnya itu tidak mungkin terjadi. Dia sudah ikhlas menerima kenyataan, dia tidak ingin berhubungan dengan suami orang apalagi sampai menghancurkan rumah tangga orang. Sebagai seorang wanita dia tidak akan sanggup mematahkan hati wanita lain.


Usai mandi, Laura segera mengenakan pakaian tidur. Namun sebelum berbaring dia ingin makan terlebih dahulu, perutnya memang sudah lapar dan tak berhenti berbunyi sejak tadi.


Dengan wajah lesu Laura berjalan menuju meja makan. Di atas meja sudah tersedia nasi putih dan aneka lauk yang masih panas. Segera Laura duduk dan menyantapnya dengan sangat lahap.


Usai mengisi perut, Laura merapikan kembali meja makan dan mencuci piring kotor. Setelah itu dia mematikan lampu ruangan dan masuk ke dalam kamar untuk beristirahat.


Rasanya benar-benar aneh, mendadak semua kebutuhannya sudah dilayani oleh orang yang tak dia kenal sama sekali. Apa benar orang itu menyukainya? Tapi kenapa harus dia? Padahal masih banyak gadis lain yang lebih cantik darinya di luar sana.


Dalam pemikiran yang tengah berkecamuk di hatinya, Laura akhirnya tertidur hingga tak menyadari ada seseorang yang masuk ke dalam apartemen tersebut.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2