Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 114.


__ADS_3

Tepat pukul 7 malam mobil yang dikendarai Elkan sudah terparkir di garasi. Halaman rumah sudah dihias meski baru selesai lima puluh persen. Sisanya akan diselesaikan esok hari. Tentu saja Yuna sangat senang melihatnya, pemandangan itu nampak begitu indah di matanya walau belum selesai sepenuhnya.


Karena saat ini Yuna masih jengkel terhadap Elkan, dia pun berpura-pura tidak melihat dan sengaja mengabaikannya. Dia segera menggandeng tangan Aditama dan membawanya masuk ke dalam rumah. Sementara Elkan sendiri hanya bisa tersenyum melihat air muka Yuna yang jelas sekali menyembunyikan kekagumannya.


Di dalam rumah, kedatangan mereka langsung di sambut oleh Reni dan juga Beno. Keduanya menggendong si kembar di pelukan mereka.


"Mama udah pulang?" seru Reni menirukan suara anak kecil dan mengangkat tangan Elga, lalu melambaikannya di udara.


Yuna menanggapinya dengan seringai tipis di bibirnya. "Halo sayang, maaf ya Mama agak telat pulangnya."


"Gak apa-apa Mama, kan ada Tante Reni sama Om Beno yang jagain." balas Reni sambil tersenyum.


"Hehe... Rewel gak mereka?" tanya Yuna.


"Gak kok, keduanya malah anteng. Tadi pas haus dibikinin susu formula. Satu dot penuh habis sama mereka berdua." jawab Reni, lalu tertawa kecil.


"Cucu Kakek memang pintar," timpal Aditama, kemudian mengambil Elga dari gendongan Reni. Setelah itu, Aditama segera duduk di sofa. "Beno, sini Edgar nya!" pinta Aditama yang ingin memangku kedua cucunya bersamaan.


Nampaknya kehadiran si kembar menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Aditama. Dia bahkan sudah jarang sakit-sakitan sejak kehadiran kedua malaikat kecil itu. Senyum keduanya ibarat obat hingga membuat tubuh Aditama lebih bugar dari sebelumnya.


"Reni, ini Ayah aku." Yuna mengenalkan ayahnya pada Reni. "Ayah, ini Reni istrinya Beno. Mereka baru saja menikah beberapa hari yang lalu." imbuh Yuna memperkenalkan Reni pada ayahnya.


Reni dan Aditama saling menatap untuk beberapa saat, lalu Reni mendekat dan menyalami serta mencium punggung tangan Aditama.


"Reni Om," ucapnya.


"Aditama, Ayahnya Yuna. Selamat ya atas pernikahan kalian. Kok gak ngundang-ngundang sih?" Pertanyaan Aditama itu seketika membuat Beno terperanjat.


"Gak sempat ngundang Yah, orang Beno nya udah ngebet banget pengen kawin. Saat dia ingin, hari itu juga dia nikahi. Kami aja gak sempat datang menyaksikan pernikahan mereka, terlalu mendadak." jawab Elkan yang baru saja tiba di tengah-tengah mereka.


"Apaan sih? Lebay..." keluh Beno dengan tatapan kesal, pipinya memerah dengan bibir mengerucut.

__ADS_1


Seketika ekspresi Beno itu mengundang gelak tawa hingga ruangan itu menjadi gaduh untuk beberapa saat.


"Yah, Yuna ke atas dulu ya. Mau bersih-bersih sebentar. Ayah mau di sini dulu apa mau ke kamar?" tanya Yuna dengan ciri khasnya yang lembut. Barangkali Aditama capek dan ingin beristirahat untuk sejenak.


"Kamu pergi aja, Ayah mau di sini dulu main sama si kembar." Aditama sangat enggan melepaskan kedua cucu kesayangannya yang kini masih berada di atas pangkuannya itu.


Yuna sangat mengerti bagaimana perasaan ayahnya saat ini. Sejak si kembar hadir di hidupnya, Aditama memang terlihat lebih bersemangat menjalani hari-harinya. Mungkin benar kata orang, sesayang sayangnya orang tua pada anaknya, lebih sayang lagi mereka kepada cucu-cucunya.


Yuna pun meninggalkan semua orang dan berjalan menaiki anak tangga menuju lantai atas.


"Lili... Tolong rapikan kamar buat Ayah! Bawa juga tas ini, susun di dalam lemari dengan rapi!" titah Elkan sembari menyodorkan tas Aditama ke tangan Lili.


"Baik Tuan," Lili mengambil alih tas itu dan berlalu menuju kamar yang ada di sebelah kamar Beno.


Setelah memberikan tas itu kepada Lili, Elkan pun ikut pamit dan meninggalkan semua orang di bawah sana. Tubuhnya terasa gerah setelah bolak-balik menjemput Aditama tadi.


"Om mau minum kopi?" tanya Reni yang masih tinggal menemani Aditama dan Beno. Keduanya mulai mengobrol sambil mengasuh si kembar.


"I-Iya Ayah..." ucap Reni ragu-ragu.


"Nah, gitu dong." Aditama mengukir senyum di bibirnya.


"Apa Ayah mau minum kopi?" tanya Reni lagi untuk memastikan.


"Gak usah, Ayah udah lama gak minum kopi. Jantung Ayah udah gak sekuat dulu lagi, Ayah minta air putih hangat aja ya!" jawab Aditama.


Mendengar itu, Reni langsung mengangguk dan berlalu menuju dapur. Tidak lama, Reni kembali dan meletakkan segelas air putih hangat di atas meja. "Minum dulu Yah!"


"Makasih," Aditama mengukir senyum di bibirnya.


Di atas sana, Yuna masuk ke dalam kamar mandi setelah mencopot pakaiannya. Saat hendak menutup pintu, Elkan dengan cepat menahannya dan menyelinap masuk menyusul Yuna.

__ADS_1


"Mau ngapain?" ketus Yuna dengan tatapan membunuhnya. Kejadian di rumah Reynold tadi masih menyisakan rasa kesal di hatinya.


Elkan mengulum senyumannya. "Ngapain lagi sayang? Ya mandi lah,"


"Gantian kan bisa, main nyelonong aja." geram Yuna dingin.


"Malas, Abang maunya mandi bareng sama Yuna." jawab Elkan enteng, kemudian membuka pakaiannya hingga tak bersisa.


"Aaaaaa... Malu dikit bisa gak Bang? Pakai penutup kek, masa' polosan gini sih?" keluh Yuna sembari berbalik dan menjauh dari Elkan.


"Buat apa malu? Bukankah ini milik Yuna?" goda Elkan dengan senyuman nakalnya, lalu mendekati Yuna dan memeluknya dari belakang.


"Huuuu... Jangan sekarang ya Bang! Please..." tolak Yuna dengan sopan.


Tidak mungkin mereka melakukan itu sekarang, butuh waktu yang lama bagi Elkan untuk sampai pada puncaknya. Sementara di bawah sana ada Aditama, lagian sudah waktunya bagi mereka untuk makan malam. Yuna tidak mau membuat ayahnya dan yang lain menunggu lama.


"Kalau gak sekarang kapan dong?" tanya Elkan dengan nada merayu.


"Nanti ya Bang, sekarang mandi aja dulu. Mereka pasti nungguin kita untuk makan malam." bujuk Yuna.


"Hmm... Boleh juga, tapi nanti tiga ronde ya." tawar Elkan dengan senyuman licik.


"Jangan dong Bang! Satu ronde aja, besok masih ada acara. Nanti tenaganya gak kuat menyambut para tamu. Lagian acara kita sampai malam kan," terang Yuna.


"Hmm... Oke lah kalau begitu," Terpaksa Elkan mengiyakannya, dia juga tidak mau semangatnya berkurang di acara esok hari. Dia harus menyambut para tamu dengan tubuh yang fit tentunya.


Elkan melepaskan pelukannya dan membiarkan Yuna membersihkan diri di depan matanya. Sebenarnya hal itu membuat Elkan tersiksa, tapi apa boleh buat. Dia juga tidak ingin orang-orang di bawah sana merasa curiga terhadapnya. Apalagi ketika mengingat Beno si tukang kompor dan mulut ember yang suka sekali mencari gara-gara.


Usai keduanya membersihkan diri dan mengenakan pakaian, mereka langsung turun dengan tubuh yang lebih segar dari sebelumnya. Yuna memindahkan Edgar dan Elga ke dalam box, lalu menggandeng tangan Aditama menuju ruang makan. Kali ini makan malam mereka terasa lebih hangat dari sebelumnya karena ada tetua diantara mereka.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2