
**Hai kak, salam kenal dari Author Kopii Hitam
Meskipun hitam, tetap manis seperti reader yang membaca novel ini kan**
**Jangan lupa tinggalkan jejak petualangannya ya
Happy Reading**
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah mobil yang dikendarai Pak Zul memasuki pusat kota, Elkan membangunkan Yuna yang masih terlelap di dadanya.
"Yuna, ayo bangun! Kita sudah sampai," ucap Elkan sembari menepuk pipi Yuna pelan.
Yuna menggeliat dan membuka matanya perlahan. Melihat wajah Elkan yang begitu dekat, Yuna tersenyum lalu memeluk suaminya dengan erat. Rasanya begitu nyaman berada di dalam dekapan Elkan.
Elkan membalas senyuman Yuna. "Katakan padaku! Dimana alamat rumah Reynold?" tanya Elkan yang bermaksud mengantarkan Yuna ke rumah kekasihnya itu.
"Untuk apa menanyakan alamat rumah Reynold?" tanya Yuna sembari menengadahkan kepalanya, lalu menatap Elkan dengan intim.
"Aku akan mengantarmu ke sana, dia pasti sangat mencemaskan keadaanmu." sahut Elkan dengan tatapan tak biasa, seketika hatinya kembali teriris sebab harus merelakan istrinya untuk pria lain.
Yuna menyentuh wajah Elkan dengan tangannya yang lembut, kemudian menatap mata Elkan yang mulai berkaca-kaca.
Setelah menyebutkan alamat rumah Reynold, Elkan meminta Pak Zul memutar stir mobilnya ke alamat tersebut.
Sekitar 10 menit berlalu, tibalah mereka di depan rumah Reynold yang tak kalah mewahnya dengan rumah Elkan.
Di depan gerbang, Elkan turun lebih dulu, kemudian membantu Yuna turun.
"Masuklah!" ucap Elkan dengan senyuman sedikit pahit, kemudian mengacak rambut Yuna untuk menghilangkan ketakutannya.
"Elkan," lirih Yuna.
"Masuk saja! Aku tidak apa-apa," ucap Elkan dengan mata yang sudah memerah, dia berusaha keras agar air matanya tidak jatuh di depan Yuna.
Melihat kesedihan yang begitu mendalam di mata Elkan, Yuna pun menitikkan air matanya, kemudian memeluk Elkan sangat erat.
"Jangan pergi!" lirih Yuna berderai air mata.
Elkan menggigit bibirnya menahan isak yang mulai mengalun dari mulutnya, dadanya terasa sesak mendengar permintaan Yuna barusan.
"Masuklah bersamaku! Di dalam ada Ayah," ajak Yuna yang tak mau berpisah dengan suaminya.
"Aku tidak bisa, tolong sampaikan permohonan maaf ku pada Ayah. Aku harus pergi," tolak Elkan, dia sungguh tak sanggup menginjakkan kakinya di rumah itu.
__ADS_1
Elkan berusaha keras menguatkan dirinya, kemudian mendorong lengan Yuna hingga pelukan keduanya terlepas.
"Jaga dirimu baik-baik!" Elkan berbalik dan masuk ke dalam mobil. Setelah menutup pintu, tangisannya pecah tak terkendali. Begitupun dengan Yuna yang terisak melepas kepergian Elkan.
Saat Pak Zul hendak melajukan mobilnya, tiba-tiba sebuah mobil sedan mewah menghadang dan berhenti tepat di depan mobilnya.
"Kenapa berhenti Pak?" tanya Elkan yang masih larut dalam kesedihannya.
"Ada mobil yang berhenti di depan sana," sahut Pak Zul.
Pada saat yang bersamaan, Elkan dan Reynold terlihat turun dari mobil masing-masing. Seketika, tatapan keduanya saling bertemu, tajam dan menyala.
Melihat Yuna yang tengah terisak, Reynold mendekatinya, kemudian memeluknya dengan erat.
"Apa yang terjadi?" tanya Reynold sembari mengusap punggung Yuna, berniat menenangkannya.
Elkan yang melihat itu segera mengalihkan pandangannya, dia tak sanggup menyaksikan istrinya disentuh pria lain. Sekujur tubuhnya terasa remuk bak ditikam beribu pedang.
"Rey, tolong katakan padanya! Aku tidak mau berpisah dengannya, aku mencintainya Rey." isak Yuna pecah di dada Reynold.
Mendengar permintaan Yuna yang begitu, hati Reynold terasa sakit. Bagaimana mungkin Elkan sanggup menceraikan istri yang sangat mencintai dirinya. Rahang Reynold tiba-tiba mengerat saking geramnya.
Reynold melepaskan pelukannya, kemudian menghampiri Elkan yang masih berdiri di samping mobilnya.
"Bruuuk"
"Rey, apa yang kau lakukan?" Yuna berteriak histeris, kemudian berlari menyusul Elkan yang masih berdiri di hadapan Reynold, kemudian memeluk suaminya dengan erat.
"Menyingkir lah Yuna!" teriak Reynold yang sudah dikuasai amarahnya.
"Tidak akan, pukul saja aku jika kau mau!" bentak Yuna yang sengaja menghalangi Reynold agar tidak memukul Elkan lagi.
"Pergilah Yuna, biarkan dia memukulku sepuas hatinya! Aku memang pantas menerima ini," ucap Elkan yang tak ingin Yuna menghalangi tindakan Reynold terhadap dirinya.
"Tidak mau," rengek Yuna sembari mendongakkan kepalanya. Hatinya ikut perih melihat darah yang mengalir di bibir Elkan.
Yuna menyeka darah tersebut dengan jemarinya, kemudian meniupnya perlahan agar Elkan tidak merasakan sakit yang berlebih.
Melihat sikap istrinya yang seperti itu, hati Elkan seketika terasa perih. Lebih perih dari luka yang disebabkan lukisan tangan Reynold barusan.
"Untuk apa mengasihani dia? Dia saja tidak peduli padamu," tanya Reynold dengan tatapan mematikan, senyuman sinis terukir jelas di wajahnya.
"Cukup Rey! Kau lupa siapa dia?" ketus Yuna dengan tatapan tak kalah mematikan.
"Bawa dia masuk, obati lukanya di dalam!" ucap Reynold sembari tersenyum puas, lalu berbalik tanpa rasa bersalah sedikitpun.
__ADS_1
Setelah Reynold menghilang dari pandangan keduanya, Yuna menggenggam tangan Elkan dengan erat, kemudian menariknya memasuki gerbang.
Sementara Elkan sendiri nampak kebingungan melihat reaksi Reynold barusan, apalagi saat Reynold menyuruh Yuna mengajaknya masuk ke dalam.
Setibanya di dalam rumah, Yuna mendudukkan Elkan di sofa ruang tamu, kemudian berlari menuju dapur.
Tidak lama, Yuna kembali membawa sebuah kotak di tangannya. Dengan sangat hati-hati, Yuna membersihkan luka Elkan dengan alkohol, kemudian menempelkan plester pada induk lukanya.
"Maafkan sikap Reynold tadi ya! Pasti rasanya sangat sakit," ucap Yuna dengan wajah sendu, kemudian mengusap pipi Elkan dengan jemarinya.
"Tidak apa-apa, luka ini tidak sebanding dengan luka yang sudah aku torehkan di hatimu. Aku pantas menerima ini," sahut Elkan sembari mengusap kepala Yuna.
Yuna melingkarkan tangannya di pinggang Elkan, kemudian menenggelamkan wajahnya di dada suaminya.
Seketika, suasana di ruang tamu menjadi hening. Elkan hanya diam menikmati hangatnya pelukan wanita yang sangat dicintainya itu.
"Terima kasih sudah mengobati lukaku, aku pamit dulu ya!" ucap Elkan sembari mengusap punggung Yuna, kemudian mendorong lengan Yuna hingga pelukan keduanya terlepas.
"Apa kau tidak ingin membawaku bersamamu?" tanya Yuna penuh harap, matanya berkaca-kaca menanyakan itu.
"Meskipun aku ingin, tapi aku tidak punya hak untuk itu. Tempatmu sudah tepat di rumah ini," jawab Elkan dengan tatapan sendu.
"Tapi aku ingin pulang ke rumahmu sebagai istrimu, apa aku tidak punya hak untuk itu?" tanya Yuna.
"A_aku...,"
Belum selesai Elkan berbicara, Reynold tiba-tiba muncul bersama Aditama. Keduanya duduk di hadapan Elkan dan Yuna.
"Elkan, kapan kamu datang Nak?" tanya Aditama dengan kening sedikit mengkerut.
"Baru saja Yah, bagaimana kabar Ayah?" jawab Elkan dengan pertanyaan pula, kemudian menyalami dan mencium tangan Aditama.
"Ayah baik, kenapa dengan bibirmu?" tanya Aditama bingung.
"Biasa Yah, namanya juga pria sejati. Baku hantam dikit itu sudah biasa," potong Reynold.
Melihat kedekatan diantara Reynold dan Aditama, Elkan semakin kebingungan. Sulit baginya memahami apa yang terjadi sebenarnya.
"Udah jam makan siang, ayo kita makan dulu!" ajak Aditama, kebetulan sekali dia bisa makan bersama dengan anak dan menantunya.
"Tidak usah Yah, kalian makan saja! Kebetulan Elkan mau pamit," tolak Elkan dengan sopan, dia tak ingin menjadi benalu di dalam keluarga tersebut.
"Yuna, ajak suamimu makan dulu!" sambung Reynold, kemudian meninggalkan ruang tamu lebih dulu bersama Aditama.
Karena Yuna memaksa, Elkan pun terpaksa mengikuti permintaan istrinya. Keduanya menyusul menuju meja makan, lalu menikmati makan siang bersama.
__ADS_1
Bersambung...