
Malam berlalu begitu cepat, matahari pagi mulai menyingsing menerangi seluruh alam. Kicauan burung bernyanyi merdu di telinga setiap insan manusia yang akhirnya terbangun dari tidur lelap mereka.
Di luar sana, Elkan dan Yuna sudah duduk di pekarangan rumah membawa si kembar menikmati pemandangan rumah kakek mereka yang cukup luas dan sejuk.
"Pagi sayangnya kakek yang tampan dan cantik, lagi berjemur ya?" sapa Aditama yang sudah standby dengan pakaian olahraganya.
"Pagi juga Kek, tumben sudah rapi." sahut Yuna sambil tersenyum.
"Kakek mau lari pagi keliling komplek, kalian mau ikut tidak?" tawar Aditama.
"Bang, ikut yuk! Yuna sudah lama sekali tidak olahraga pagi." ajak Yuna.
"Si kembar bagaimana sayang?" Elkan mengerutkan keningnya.
"Bawa saja Bang, tinggal dorong apa susahnya sih?" jawab Yuna.
"Ya sudah, ganti baju dulu ke dalam!" suruh Elkan.
"Yeay, mmuach..." Yuna bersorak kegirangan dan mengecup pipi Elkan di depan sang ayah. Aditama yang melihat itu hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala. "Yah, titip si kembar sebentar ya!"
"Iya, pergilah!" sahut Aditama.
Tidak lama setelah Elkan dan Yuna masuk ke dalam rumah, Beno dan Reni menyusul keluar dari kamar yang mereka tempati.
"Pagi Yah," sapa Beno dan Reni bersamaan.
"Pagi juga, kalian mau kemana?" tanya Aditama sambil mengerutkan kening melihat Beno dan Reni yang sudah rapi dengan pakaian olahraga yang melekat di tubuh masing-masing.
"Mau keliling komplek Yah, sudah lama tidak lari pagi." jawab Beno.
"Barengan saja, Ayah juga mau olahraga. Ini lagi nungguin Elkan sama Yuna," ajak Aditama.
"Kebetulan sekali, ya sudah kalau begitu." Beno tersenyum kecil.
"Elga dan Edgar ikut juga ya Nak?" Reni berjongkok di depan stroller si kembar dan mengecup pipi keduanya secara bergantian.
"Mau kemana kau Ben?" tanya Elkan yang tiba-tiba muncul dari balik pintu bersama Yuna.
"Mau lari pagi, sama seperti kalian." jawab Beno.
"Ya sudah, tunggu apa lagi. Ayo jalan, nanti keburu siang!" seru Aditama dan berjalan lebih dulu menuju gerbang, lalu yang lainnya menyusul dari belakang.
Sementara semua orang sudah pergi meninggalkan rumah, di kamar sana Reynold baru saja terbangun dari tidurnya. Dia mengerang hebat saat memegangi kepalanya yang terasa sangat pusing.
"Aahh..."
"Astaga, kenapa aku bisa tidur di sofa begini?" gumam Reynold kebingungan sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
"Mas sudah bangun?" sapa Laura yang tengah duduk di kursi roda.
Reynold mendongakkan kepalanya ke arah Laura yang berjarak satu meter saja darinya. "Hmm..." Reynold hanya bergumam dan segera bangkit dari duduknya, lalu berjalan memasuki kamar mandi dengan tubuh sempoyongan.
Laura yang melihat itu hanya bisa tersenyum sambil menggerakkan kursi rodanya menuju pintu lemari, lalu menyiapkan pakaian yang akan dikenakan Reynold pagi ini.
Setengah jam kemudian, Reynold keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar di pinggangnya. Laura mendekatinya dan memberikan pakaian yang dia ambil tadi ke tangan Reynold. "Ini Mas,"
Reynold mengambilnya sembari menatap Laura dengan intens, lalu berkata dengan dingin. "Lain kali tidak usah repot-repot mengurusku, aku bisa mengambilnya sendiri!"
"Mas..."
__ADS_1
Laura meraih lengan Reynold dan mencengkram nya dengan erat, lalu berusaha bangkit dari kursi roda yang dia duduki.
"Aaww..."
Laura meringis kesakitan dan memeluk Reynold dengan erat.
"Duduk saja! Untuk apa berdiri?" ucap Reynold dengan wajah datar tanpa ekspresi.
"Tidak mau," lirih Laura sambil mempererat pelukannya.
"Kakimu masih sakit, ayo duduk lagi! Nanti sembuhnya lama," imbuh Reynold.
"Biar saja, aku tidak mau sembuh!" ketus Laura dengan bibir mengerucut.
"Kenapa?" Reynold mengerutkan keningnya.
"Karena aku tidak mau pisah sama Mas," gumam Laura dengan suara yang nyaris menghilang.
"Kenapa tidak mau? Bukankah kamu mencintai orang lain? Untuk apa bertahan denganku?" Reynold lagi-lagi mengerutkan keningnya.
Laura menggelengkan kepalanya, lalu menenggelamkan bibirnya di leher Reynold. Hembusan nafasnya yang hangat membuat Reynold kesulitan mengendalikan diri, sekujur tubuhnya meremang seketika itu juga.
"Laura, lepasin aku! Jangan seperti ini!" Reynold berusaha mendorong pundak Laura tapi pelukan istrinya malah semakin erat.
"Mas harus janji dulu!" pinta Laura dengan manja.
"Janji apa?" tanya Reynold bingung.
"Janji untuk tidak mengakhiri pernikahan ini. Aku tidak mau pisah dengan Mas," lirih Laura penuh harap.
"Kenapa?" Reynold lagi-lagi mengerutkan keningnya.
"Kenapa tidak mau?" desak Reynold.
"Pokoknya aku tidak mau pisah, titik."
Setelah menegaskan itu, Laura menggigit leher Reynold sekuat hatinya hingga menyisakan darah beku berwarna merah pekat.
"Aaww..."
Reynold meringis menahan sakit saking tajamnya gigi istrinya itu. "Apa kau sudah gila? Kenapa menggigit ku?" geram Reynold sembari mendorong kepala Laura dan menajamkan tatapannya.
"Hehehehe... Mau lagi?" tawar Laura sambil tertawa.
"Dasar stres!" Reynold mencengkram lengan Laura dan mendudukkannya kembali di atas kursi roda.
"Mas..."
"Diam, atau aku akan-"
"Akan apa?" Laura tersenyum kecil. "Mas mau?" imbuhnya menggoda Reynold sambil tertawa cekikikan.
"Cukup Laura, jangan menguji kesabaranku lagi!" bentak Reynold yang mulai tersulut emosi.
"Mas..."
"Diam Laura!" geram Reynold dengan gigi menggertak kuat.
"Kenapa aku disuruh diam terus sih Mas, aku bukan patung. Aku-"
__ADS_1
"Mmm..."
Karena Laura tidak mau diam, Reynold pun membungkukkan punggungnya. Dia membungkam mulut istrinya itu dan mengesap nya dengan rakus. Sedikit memaksa tapi penuh dengan kelembutan, Laura benar-benar terhanyut dibuatnya.
Apalagi selama Laura sakit Reynold tidak pernah menyentuhnya seperti ini. Sebagai seorang wanita yang pernah merasakan hubungan suami istri, Laura tentunya punya keinginan untuk itu.
"Mas..."
"Apa lagi?" ketus Reynold setelah puas melu*mat bibir istrinya itu.
"Aku..."
"Aku apa?" potong Reynold.
"Aku ingin, bolehkah aku memintanya?" gumam Laura dengan suara tertahan, pipinya memerah mengatakan itu.
"Sssttt... Jangan main-main, kamu masih sakit." selang Reynold.
"Yang sakit kakiku Mas, bukan yang itu. Apa aku tidak boleh memintanya? Aku ini istri kamu Mas," terang Laura.
"Sudahlah, jangan berpikir aneh-aneh! Fokus saja pada kesembuhan mu terlebih dahulu!"
Reynold menjauhi Laura dan segera mengenakan pakaiannya. Hal itu sontak membuat Laura terperangah dengan air muka penuh kekecewaan.
"Bukan aku yang aneh, tapi kamu Mas. Kamu menuduhku mencintai orang lain sementara kamu sendiri tidak menginginkan aku. Kalau begitu untuk apa menunggu kakiku sembuh? Talak aku sekarang saja!" Laura menekuk wajahnya, air matanya mengalir deras begitu saja.
"Deg!"
Reynold terperanjat dan berbalik dengan cepat. Meski sebelumnya dia sendiri yang mengatakan itu, tapi tetap saja dia tidak rela melepaskan Laura dari hidupnya. "Apa yang kamu katakan?" Reynold meninggikan suaranya.
"Aku hanya menuruti keinginanmu," Laura menyapu wajahnya dengan kasar, lalu memutar kursi rodanya dan melajukan nya menuju pintu. "Maafkan aku karena tidak bisa menjadi istri yang sempurna untukmu."
Laura meraih kenop pintu dan membukanya perlahan, dia keluar dari kamar itu dan melajukan kursi rodanya menuju tangga lalu berusaha turun dan menopang tangannya pada pagar.
"Laura, apa yang kamu lakukan?" Reynold mengejarnya dan segera menggendongnya.
"Turunkan aku Mas, biarkan aku pergi!" lirih Laura menumpahkan air matanya.
"Jangan bodoh! Kemana kamu akan pergi dalam keadaan seperti ini?" Reynold menajamkan tatapannya.
"Kemana saja, asal tidak menyusahkan orang lain lagi." isak Laura sesegukan.
"Orang lain siapa? Ingat, aku ini suamimu!" geram Reynold yang mulai kehabisan kata-kata.
"Suami apanya? Sekarang kakiku sudah sembuh, bukankah sudah waktunya melepaskan aku?" Laura meluapkan kekecewaannya dan menangis sejadi-jadinya. "Kamu jahat Mas, kamu kejam. Aku benci sama kamu, kamu pembohong. Kamu tidak pernah mencintaiku, kamu tidak pernah menginginkan aku."
"Laura..."
Reynold mengeratkan rahangnya dan membopong istrinya itu ke dalam kamar. "Siapa bilang aku tidak mencintaimu? Siapa bilang aku tidak menginginkanmu?"
Reynold membaringkan Laura di atas kasur dan kembali ke pintu untuk menguncinya.
Setelah itu dia kembali menghampiri Laura dan merangkak naik ke atas tubuhnya. "Jangan salahkan aku jika kamu semakin terjerat dalam pernikahan ini! Aku tidak akan melepas mu setelah ini!"
Usai mengatakan itu, Reynold mengesap bibir Laura dan turun menguasai leher jenjangnya. Tidak hanya mengecupnya, Reynold juga meninggalkan jejak kepemilikan di sana.
Lalu Reynold semakin turun dan turun hingga akhirnya memasuki liang hangat milik istrinya. Deru nafas keduanya berpacu dengan irama gerakan yang semakin lama semakin bergerak dengan cepat.
Bersambung...
__ADS_1