
"Kak Elkan, untuk apa aku dibawa ke sini? Kalau hanya sekedar duduk, lebih baik aku di rumah saja. Aku bisa membantu Kak Yuna menjaga si kembar." ucap Amit yang kini tengah duduk di sofa.
Dia nampak bingung sambil memandangi setiap sudut ruangan Elkan. Seumur-umur baru kali ini dia masuk ke dalam sebuah kantor yang mewahnya tak kalah dengan hotel bintang lima, bahkan ada kamar pribadi di dalamnya.
"Bodoh, menjaga si kembar itu bukan tugas laki-laki. Apa kau tidak bosan di rumah terus seperti ibu rumah tangga?" sahut Elkan dengan entengnya.
"Bukan begitu Kak, maksudku selama libur saja. Nanti kalau aku dinyatakan lulus, aku akan mengajukan permohonan beasiswa di beberapa universitas dan mencari pekerjaan paruh waktu." jelas Amit.
"Kenapa harus mengajukan beasiswa?" Elkan mengerutkan keningnya.
"Karena aku tidak punya uang, masuk universitas itu mahal Kak." jawab Amit dengan polosnya.
"Lalu untuk apa memiliki kakak ipar kaya kalau ujung-ujungnya harus berjuang sendiri?" Lagi-lagi Elkan mengerutkan keningnya.
"Aku tidak mau merepotkan orang lain. Selagi aku mampu, aku akan berusaha. Dulu Kak Reni juga mendapatkan beasiswa hingga bisa menjadi perawat, aku juga harus bisa seperti Kak Reni." jelas Amit.
Seringai tipis melengkung di sudut bibir Elkan saat mendengar itu, dari sini Elkan sudah bisa menyimpulkan bahwa anak itu memiliki semangat juang yang tinggi. Dia lebih mengandalkan kemampuannya sendiri dari pada memanfaatkan keadaan yang ada.
"Kalau begitu jadi asisten Kak Elkan saja. Selama libur, kau masuk seperti yang lainnya. Nanti kalau sudah kuliah, kau bisa kerja paruh waktu. Dengan begitu kau tidak perlu mengandalkan beasiswa, kau bisa membayar biaya kuliahmu sendiri." tawar Elkan.
"Hah...?" Amit membuka matanya lebar. "Maksud Kak Elkan aku kerja di kantor ini?" imbuh Amit.
"Iya, apa kau keberatan?" Elkan menilik mata Amit menunggu jawaban.
"Tidak, tentu saja aku mau. Tapi aku tidak memiliki pengalaman apa-apa, Kak." jawab Amit.
"Tidak masalah, kau bisa belajar dari nol dulu. Semua butuh proses," sahut Elkan.
"Kak Elkan yakin?" Amit mengerutkan keningnya.
"Iya," Elkan bangkit dari duduknya dan mengambil sebuah dokumen yang ada di atas meja kerjanya. "Ini, kau coba pelajari dokumen ini dulu. Kak Elkan ingin melihat kemampuanmu."
__ADS_1
Setelah memberikan dokumen itu ke tangan Amit, Elkan kembali ke mejanya dan mulai membuka dokumen lainnya.
"Kak, ini hanyalah dokumen biasa. Kalau cuma untuk mengatur jadwal seperti ini aku rasa aku bisa." ucap Amit setelah membuka dokumen tersebut.
Elkan mengukir senyum di bibirnya. "Kira-kira apa yang bisa kau pelajari selain itu,"
"Aku penasaran dengan CCTV yang katanya eror waktu itu. Kalau diizinkan, aku ingin memeriksanya kembali. Aku mungkin bisa melacaknya," ucap Amit dengan yakin.
"Kak Elkan rasa itu akan sulit bagimu, hanya orang tertentu yang bisa melakukannya." sahut Elkan.
"Apa salahnya di coba dulu," balas Amit.
Melihat keyakinan yang begitu besar di diri Amit, Elkan pun mengangguk setuju. Dia bangkit dari duduknya dan mengajak Amit turun ke lantai dasar. Keduanya masuk ke ruang khusus monitor CCTV dan memberi kesempatan bagi Amit untuk memeriksanya.
"Selamat datang Tuan," sapa seorang petugas.
"Hmm... Bagaimana? Apa kau bisa memperbaiki rekaman itu?" tanya Elkan.
"Belum Tuan, ini masih diusahakan." jawab petugas itu.
Setelah memberikan perintah, petugas itu mengangguk dan meninggalkan ruangan itu. Amit langsung duduk mengambil alih tugas itu.
"Mereka menyebar virus sehingga CCTV ini tidak bisa di akses. Sepertinya mereka bukan orang sembarangan," ucap Amit sambil memainkan jarinya pada keyboard yang menganga di depan matanya.
Elkan yang melihat itu hanya tertegun sambil melipat tangannya di dada. Dia penasaran dengan kemampuan yang dimiliki Amit. Sepertinya dia terlalu meremehkan kemampuan bocah ingusan itu.
Amit terus saja mengotak atik keyboard tersebut, saat menekan tombol enter dia terdiam untuk sesaat menunggu layar monitor yang tengah loading.
"Pembaharuan sukses."
"Nah, selesai." ucap Amit sambil mendongakkan kepalanya.
__ADS_1
"Kak Elkan periksa sendiri, aku tidak yakin dengan hasilnya tapi lihat saja dulu!" Amit bangkit dari duduknya dan memberi ruang agar Elkan mengambil alih tempatnya.
Elkan manggut-manggut sambil memposisikan dirinya duduk di depan layar monitor yang masih menyala lalu membuka kembali rekaman CCTV pada saat malam kejadian.
Benar saja, ternyata dia terlalu meremehkan kemampuan Amit. Sekarang rekaman itu bisa dibuka dengan jelas setelah Amit membersihkan virus yang tertanam dan mengaktifkan anti virus ciptaannya. Amit bahkan menambahkan keamanan yang nantinya tidak akan mudah dilacak orang lain.
"Amit..." Mata Elkan membulat dengan sempurna saat menatap wajah polos anak itu.
Amit hanya membalasnya dengan senyuman lalu mengangkat bahunya.
"Sejak kapan kau memiliki kemampuan di bidang IT seperti ini, Kak Elkan sendiri tidak mengerti dengan ini." tanya Elkan penasaran.
"Tidak tau, awalnya hanya iseng-iseng saja dengan teman-teman saat akunnya menghilang. Lalu kami berhasil mengembalikannya, bahkan kami sering menjahili teman-teman lainnya dan meng hack akun mereka. Tapi akhirnya kami mengembalikannya." jawab Amit enteng.
"Bodoh, ini sudah profesional namanya. Kalau begini, kau bisa menjadi hacker." ucap Elkan penuh kekaguman.
"Hahaha... Sudah aku bilang hanya iseng saja, aku tidak berminat jadi hacker. Aku hanya ingin bekerja sesuai kemampuanku saja." jawab Amit.
Elkan manggut-manggut mendengar itu, benar juga yang dikatakan Amit. Untuk apa jadi hacker, lebih baik memanfaatkan kemampuan itu untuk hal yang lebih berguna.
Elkan kemudian menyalin rekaman CCTV yang sudah berhasil dibuka itu ke ponselnya. Lalu meminta bagian keamanan untuk menyelidikinya. Setelah itu mereka berdua meninggalkan ruangan itu dan kembali ke lantai lima belas.
"Apa kau bisa mengamankan data-data yang tersimpan di laptop Kak Elkan? Kakak khawatir setelah ini mereka akan menyerang data penting perusahaan." tanya Elkan setelah mereka berdua tiba di ruangan.
"Aku coba dulu," Amit menduduki kursi kebesaran Elkan dan kembali bermain dengan kecepatan tangannya.
Sesuai permintaan Elkan, dia berhasil memasang anti virus buatannya dan mengamankan data tersebut sesuai kemampuannya. "Aku rasa sudah cukup aman, kita lihat saja perkembangannya selama beberapa hari ini." ucap Amit, kemudian meninggalkan kursi Elkan dan duduk di sofa.
"Bagus, jika data itu tidak berhasil dicolong, Kak Elkan akan memberimu bonus. Mulai hari ini kau resmi menjadi asisten Kak Elkan dan pelajari semua tugasmu dengan baik!"
Setelah mengatakan itu, Elkan kembali duduk di kursinya dan segera menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda seminggu ini. Sementara Amit sendiri masih asik mempelajari beberapa dokumen penting yang akan menjadi tanggung jawabnya setelah ini.
__ADS_1
Kemudian Amit meninggalkan ruangan dan menemui Andin, keduanya berinteraksi mengenai semua jadwal yang harus Amit susun kembali setelah ini.
Bersambung...