Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 133.


__ADS_3

Malam berlalu begitu hangat, pagi hari kedua insan manusia itu bangun dengan posisi saling berpelukan. Reynold menatap Laura sambil tersenyum lalu mengecup kening istrinya itu dengan sayang.


Setelah membersihkan diri di kamar mandi, Reynold kemudian mengelap wajah Laura dengan handuk basah. Dia merawatnya dengan sabar dan telaten. Hal itu membuat Laura terenyuh, baru kali ini dia merasa begitu berharga di mata seorang pria. Pria yang tak lain adalah suaminya sendiri, suami dadakan yang datang tanpa diduga.


"Makasih ya Mas," ucap Laura dengan mata berkaca, seringai tipis melengkung di sudut bibirnya.


Reynold tersenyum sumringah hingga menampakkan barisan giginya yang sangat rapi. "Tidak perlu berterima kasih, ini sudah menjadi tanggung jawab Mas. Mas janji akan merawat kamu sampai sembuh, tapi kamu juga harus janji tidak akan pergi lagi dari Mas!"


Laura menganggukkan kepalanya, mungkin Reynold memang sudah ditakdirkan untuknya. Dia berjanji akan berdamai dengan keadaan dan belajar mencintai Reynold setulus hati. Tidak ada alasan lagi baginya untuk menolak.


Tidak lama berselang, seorang dokter masuk untuk memeriksa keadaan Laura. Seorang suster menyusul dari belakang membawa sebuah nampan lalu menaruhnya di atas meja.


"Pagi Bu, bagaimana keadaannya? Apa ada yang sakit?" tanya dokter itu.


"Baik Dok, cuma masih terasa ngilu di bagian kaki sebelah kiri." jawab Laura.


"Kalau begitu saya periksa dulu ya," balas dokter itu.


Reynold segera bangkit dari duduknya dan memberi ruang agar dokter itu bisa leluasa memeriksa keadaan Laura. Dia berdiri di ujung ranjang dengan tangan terlipat di dada lalu memperhatikan pergerakan dokter itu saat melihat keadaan kaki istrinya.


"Hanya cedera kecil, secepatnya akan membaik. Jangan lupa minum obatnya secara rutin, sesekali coba digerakkan agar kakinya tidak kaku!" ucap dokter itu.


Reynold yang mendengar itu langsung mengusap wajahnya dengan kasar, akhirnya dia bisa bernafas dengan lega karena kondisi Laura tidak seburuk yang dia pikirkan. Seringai tipis melengkung di sudut bibirnya.


"Syukurlah," gumam Reynold sambil menghela nafas.


Setelah dokter itu meninggalkan ruangan, suster tadi kemudian mengganti infus Laura yang sudah hampir habis. Lalu menyuruhnya sarapan dan meminum obat.


Reynold kembali tersenyum setelah mengucapkan terima kasih dan menatap punggung suster itu saat meninggalkan ruangan.

__ADS_1


Lalu Reynold melangkah ke samping ranjang dan membantu Laura mengangkat punggungnya.


Kini posisi Laura sudah setengah duduk, Reynold segera mengambil nampan yang dibawa suster tadi dan duduk di sisi ranjang.


"Makan dulu ya, biar Mas suapi!" ucap Reynold dengan suara lembutnya.


Laura mengukir senyum di bibirnya lalu menganggukkan kepalanya. Dia mulai membuka mulut menikmati suapan demi suapan yang disuguhkan Reynold ke mulutnya. Setelah makanannya habis, Reynold membantu Laura meminum obat dan meneguk segelas air putih.


"Mas tidak lapar?" tanya Laura sambil menautkan alisnya.


"Mas sudah kenyang lihat kamu," jawab Reynold yang membuat pipi Laura bersemu merah.


"Apaan sih Mas, tidak lucu." ketus Laura dengan bibir mengerucut.


"Hehe... Kamu tidak usah mikirin Mas. Mas tadi sudah pesan dari kantin rumah sakit, sebentar lagi juga datang." ucap Reynold sambil tersenyum.


Di waktu yang bersamaan, Elkan dan anggota keluarga lain juga tengah menikmati sarapan mereka di meja makan.


Usai sarapan, Beno dan Reni berpamitan kepada Elkan dan Yuna. Setelah saling berpelukan, mereka masuk ke dalam mobil yang akan membawa keduanya ke bandara. Seperti biasa Pak Zul lah yang menjadi petugas paling siaga mengantar mereka.


Setelah mobil itu menghilang dari pandangannya, Yuna memasuki rumah dengan air muka sedikit cemberut. Terkadang dia merasa iri menyaksikan pasangan lain yang selalu terlihat intim dengan pasangan mereka. Berbeda dengan dirinya yang begitu-begitu saja setiap harinya.


Tidak ada keromantisan yang tercipta diantara dia dan Elkan, tidak ada momen indah di dalam rumah tangga mereka. Semua mengalir begitu saja hingga memiliki anak pun seperti mendapatkan doorprize yang tak disangka.


Melihat Yuna yang begitu, Elkan langsung menyusulnya ke dalam. Ada apa lagi dengan istrinya itu? Tiap hari ada-ada saja yang membuatnya tiba-tiba bersikap dingin terhadap Elkan. Elkan sendiri jadi bingung dan serba salah dibuatnya. Apa dia yang tidak peka dengan istrinya?


Sebelum Yuna masuk ke kamar si kembar, Elkan menarik tangan Yuna hingga langkahnya terhenti di depan pintu.


"Ada apa lagi sayang? Kenapa tiba-tiba wajahnya jadi kusut gini?" tanya Elkan sambil mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Gak ada apa-apa, aku hanya lelah." jawab Yuna asal, namun air mukanya tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.


"Jangan bohong, Abang gak suka. Kalau ada apa-apa tolong dibicarakan, jangan dipendam sendiri! Berapa kali Abang harus mengingatkan Yuna?" balas Elkan dengan tatapan menuntut penjelasan.


"Yuna capek Bang, Yuna pengen tidur." jawabnya.


Elkan melepaskan tangan Yuna dan menghirup udara sebanyak-banyaknya. Sulit sekali meyakinkan istrinya itu agar berbicara padanya.


Setelah Yuna melanjutkan langkahnya, Elkan turun dan masuk ke ruangan kerjanya. Dia mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan menghubungi seseorang. Entah siapa yang Elkan hubungi author juga tidak tau.


Lama Elkan berbicara dengan orang tersebut hingga akhirnya Elkan mematikan sambungan teleponnya, lalu Elkan tersenyum seperti tengah merencanakan sesuatu yang membuatnya terlihat begitu bahagia.


Sementara di kamar si kembar sana, Yuna merebahkan diri di atas sofa lalu membuka ponselnya. Dia membuka google dan mencari tau bagaimana cara membuat seorang suami yang dingin berubah menjadi lebih hangat.


Setengah jam berlalu, Yuna akhirnya tertidur dengan ponsel yang masih menyala di tangannya. Saat itu juga Elkan datang dan menghampirinya.


Elkan mengambil ponsel Yuna, seketika itu juga keningnya mengerut dengan mata menyipit.


"Cara agar merubah suami dingin menjadi hangat."


Elkan membaca judul artikel tersebut hingga akhirnya tertawa melihat kepolosan istrinya itu. Bukannya bicara pada suaminya yang jelas-jelas selalu ada di dekatnya, Yuna malah mencari tau hal tersebut di media sosial.


Elkan kemudian menaruh ponsel Yuna di atas meja. Dia duduk di sisi sofa dan mengusap pucuk kepala istrinya itu dengan sayang.


"Apa selama ini Abang kurang hangat sama Yuna? Yuna mau kehangatan yang bagaimana lagi?" gumam Elkan yang masih saja tertawa melihat kebodohan istrinya itu.


Yuna mungkin saja masih berkaca pada hubungan awal mereka yang dulunya dingin dan kaku. Belum sempat merasakan cinta yang sesungguhnya dari sang suami, dia malah harus terjebak dalam situasi yang sangat sulit saat itu.


Elkan sendiri menyadari itu. Dia sadar dengan kekurangannya, apalagi dia sempat membuat Yuna seperti berada di dalam neraka saat itu. Harusnya Elkan tidak memanfaatkan Yuna kala itu, tapi jika hal itu tidak terjadi, mana mungkin detik ini mereka berdua bisa berada di titik ini. Saling mencintai hingga takut kehilangan diantara satu dengan yang lainnya. Elkan kemudian mengecup kening Yuna dengan lembut. Dia berjanji akan membuat istrinya itu tersenyum setiap saat.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2