Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 37.


__ADS_3

**Hai kak, salam kenal dari Author Kopii Hitam


Meskipun hitam, tetap manis seperti reader yang membaca novel ini kan**


**Jangan lupa tinggalkan jejak petualangannya ya


Happy Reading**


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Saat makan siang berlangsung, Aditama mengenalkan Reynold kepada Elkan. Dia menjelaskan semua tentang Reynold, siapa dia dan bagaimana hubungan mereka.


Elkan yang mendengar itu tiba-tiba tersedak, tenggorokannya terasa penuh hingga menyesakkan dada. Dia menoleh ke arah Yuna, hanya seulas senyum yang dia dapatkan sebagai jawaban.


Usai makan siang, Elkan mengikuti Yuna masuk ke kamarnya. Keduanya duduk di sisi ranjang, namun tatapan Elkan nampak tajam bak serigala yang siap menerkam mangsanya.


Di sana, Yuna menjelaskan segalanya. Kenapa dan alasan apa yang membuat Yuna memainkan akting tersebut untuk mengelabui Elkan.


Elkan hanya tertegun mendengar istrinya berbicara, dia tak menyangka Yuna setega ini mempermainkan perasaannya. Kesal memang kesal, namun Elkan tak bisa marah setelah mengetahui kebenarannya.


Saat Yuna hendak melangkah ke kamar mandi, Elkan dengan cepat meraih tangannya, kemudian menariknya hingga tubuh keduanya saling menempel.


"Kenapa tega sekali mempermainkan hatiku? Begini kah caramu balas dendam padaku?" geram Elkan dengan tatapan yang sulit dimengerti, dia rasanya ingin sekali memakan Yuna hingga tak bersisa.


Mendengar itu, seulas senyum terukir indah di wajah Yuna, tak ada rasa bersalah sedikitpun.


Melihat senyuman di wajah istrinya, hati Elkan menjadi gelisah tak menentu. Tanpa permisi, Elkan dengan cepat mengecup bibir tebal Yuna, kemudian melu*matnya tanpa ampun.


Yuna mengalungkan tangannya di leher Elkan, pagutan mereka semakin memanas saat Yuna membalas luma*tan suaminya. Bahkan kini keduanya nampak leluasa membelit lidah.


Saking tak kuasa menahan diri, Elkan mengangkat tubuh Yuna lalu membaringkannya di atas kasur, kemudian merangkak naik mengukung tubuh istrinya.


"Jangan sekarang!" tolak Yuna sambil menahan dada Elkan.


Elkan tersenyum kecil, kemudian melu*mat kembali bibir istrinya dengan rakus. Deru nafas keduanya berpacu seiring detak jantung yang berdegup semakin kencang.


Puas mencicipi bibir istrinya yang menggoda, Elkan membaringkan tubuhnya di samping Yuna, kemudian membawa Yuna ke dalam dekapan dadanya.


"Aku mencintaimu Yuna, sangat mencintaimu." ucap Elkan mengakui perasaan yang selama ini dia pendam, dia pun mengecup kening Yuna dengan sayang.


Yuna tersenyum sumringah, dia sungguh bahagia mendengar pengakuan Elkan. Kata-kata itulah yang selama ini ingin dia dengar.


Yuna membalas pelukan Elkan. "Aku juga mencintaimu Elkan, berjanjilah untuk selalu berada di sisiku dan menjadi suami yang baik untukku!" pinta Yuna penuh pengharapan.


"Aku janji, mulai detik ini aku tidak akan pernah menyakitimu. Aku akan menjadi suami terbaik untukmu, tolong jangan pergi lagi dariku!"

__ADS_1


Elkan mengusap pucuk kepala Yuna, lalu mengecupnya dengan sayang. Tidak pernah terbersit di pikirannya akan sebahagia ini sebelumnya. Jiwa yang tadinya mati, kini hidup dan bergairah kembali.


Sejak 5 tahun lalu, Elkan menutup diri dari cinta. Bukan karena tak berselera dengan wanita, tapi kegagalan lah yang membuatnya takut membuka hati.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Usai makan malam, Elkan mengutarakan niatnya untuk membawa Yuna pulang ke kediamannya. Elkan juga mengatakan bahwa dirinya akan menjadi suami yang baik untuk Yuna.


Aditama dan Reynold saling melempar senyum, keduanya nampak bahagia mendengar pernyataan Elkan barusan.


Pukul 10 malam, Elkan dan Yuna tiba di kediaman mereka. Kali ini raut wajah Elkan nampak berseri, bahagia karena cintanya ternyata tak bertepuk sebelah tangan.


Setelah mengganti pakaian, keduanya berbaring di atas kasur. Senyuman Elkan tak hilang dari wajah tampannya, membuat Yuna ikut tersenyum melihat perubahan suaminya.


Elkan melingkarkan sebelah tangannya di pinggang Yuna, tatapannya nampak tajam seperti menuntut sesuatu.


Yuna yang melihat itu hanya bisa tersenyum, lalu menundukkan pandangannya ke arah lain. "Jangan melihatku seperti itu!"


Wajah Yuna tiba-tiba memerah, ada rasa canggung sekaligus takut melihat tatapan Elkan yang begitu. Bahkan irama detak jantungnya mulai tak beraturan.


"Jangan takut! Bukankah kita ini suami istri?" ucap Elkan sembari mengangkat dagu Yuna, kini tatapan keduanya saling bertemu untuk sesaat.


"Bukannya takut, tapi semua ini serasa mimpi bagiku. Bagaimana bisa pria yang dulunya sangat membenciku, kini malah berbalik mencintaiku?" Mata Yuna berkaca-kaca mengatakan itu.


"Kenapa bertanya seperti itu? Apa kamu masih ragu padaku?" tanya Elkan dengan tatapan yang sulit dimengerti.


"Mmm," Belum selesai Yuna berbicara, Elkan sudah lebih dulu membungkam bibir istrinya.


Elkan melu*mat bibir Yuna penuh hasrat, deru nafasnya terdengar kian memburu menikmati setiap inci bibir Yuna yang menggoda. Sepertinya Elkan mulai candu mengesap bibir tebal Yuna yang begitu kenyal, bahkan lidahnya tak segan menerobos masuk menjelajahi rongga mulut istrinya.


Semakin Elkan memainkan lidahnya di dalam sana, semakin sesak pula Yuna dibuatnya.


"Cukup Elkan!" gumam Yuna setelah mendorong wajah Elkan hingga pagutan mereka terlepas.


Yuna menghela nafas panjang, lalu membuangnya perlahan. Seulas senyum terpahat indah di wajahnya.


"Maafkan aku, aku terbawa suasana. Tolong jangan marah!" ucap Elkan dengan wajah sedikit kusut, dia takut Yuna tak rela menerima sentuhan darinya. Bagaimanapun dia sadar sudah terlalu sering menyakiti hati Yuna.


Elkan beringsut hingga tubuh keduanya merenggang, kemudian melipat tangannya di bawah kepala.


"Aku tidak marah, jangan salah paham dulu!" jelas Yuna, kemudian merebahkan kepalanya di permukaan dada Elkan yang ternganga.


"Aku mengerti, tidak mudah memaafkan kesalahan yang sudah aku perbuat selama ini. Melihatmu seperti ini saja sudah membuatku bahagia. Aku tidak akan memaksamu menerimaku." ucap Elkan.


"Jangan bicara seperti itu! Aku sudah memaafkan mu, aku hanya butuh waktu untuk menyesuaikan diri." jelas Yuna, kemudian melingkarkan tangannya di dada Elkan.

__ADS_1


"Tidak masalah, aku akan menunggu sampai kamu benar-benar siap. Sekarang tidurlah, untuk sementara biarlah aku tidur di sofa!"


Elkan mengangkat tangan Yuna dan mencoba bangkit dari tidurnya, namun Yuna dengan cepat menahan dada Elkan dan menindih sebagian tubuhnya.


"Tidur di sini saja bersamaku, biarkan aku memelukmu!" pinta Yuna dengan wajah memelas, kemudian menenggelamkan wajahnya di dada Elkan.


"Kamu yakin ingin tidur bersamaku?" tanya Elkan sembari tersenyum kecil.


Yuna tak menyahut, namun kepalanya mengangguk kecil menandakan bahwa dia ingin tidur bersama suaminya.


"Jika aku khilaf bagaimana? Aku takut kamu belum siap," ungkap Elkan menggoda Yuna, kemudian membelai rambut Yuna dengan lembut.


"Gak mungkin khilaf, kan cuma tidur doang." sahut Yuna.


"Tapi kita gak tau apa saja yang bisa terjadi disaat kita tidur, jika kamu membangunkan dia bagaimana?" goda Elkan sembari mengulum senyumannya.


"Ya sudah, kalau begitu tidur aja di sofa!" Yuna melepaskan pelukannya, kemudian beringsut dan membelakangi Elkan begitu saja.


"Kok malah marah sih? Aku kan cuma bercanda," keluh Elkan sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali.


Mendengar itu, Yuna mengulum senyumannya, lalu menarik selimut dan menutupi sebagian tubuhnya.


"Yuna, jangan tidur dulu! Aku bagaimana?" tanya Elkan sembari menautkan alisnya.


"Terserah kamu aja, tidur di manapun gak masalah kan?" jawab Yuna, lalu memejamkan matanya perlahan.


Kesal melihat Yuna yang mengacuhkan dirinya, Elkan beringsut dan masuk ke dalam selimut, lalu menutupi tubuh mereka berdua tanpa ada yang tersisa.


"Cukup mempermainkan emosiku! Jangan harap aku akan melepasmu kali ini!"


Elkan menekan tubuh Yuna di bawah kungkungannya, kemudian menggelitik ketiak Yuna tanpa ampun.


"Elkan, jangan! Ahh," Teriakan Yuna menggelegar memenuhi seisi kamar, dia tak henti tertawa sebab Elkan terus saja menggelitiknya.


"Cukup Elkan, geli!" pinta Yuna sembari menggeliat ke sana kemari.


"Masih berani mempermainkan aku?" gertak Elkan dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Tidak, ampun Elkan. Tolong lepaskan aku! Aku rasanya mau pipis di celana," keluh Yuna yang tak bisa menahan tawanya, lalu menekan bagian intinya yang terasa sedikit berdenyut.


Melihat Yuna yang begitu, Elkan pun menghentikan aksinya. Lalu mengirai selimut hingga tubuh keduanya kembali ternganga.


Yuna bergegas bangkit dari pembaringannya, kemudian berlari menuju kamar mandi.


Elkan yang melihat itu hanya bisa tersenyum, tak menyangka istrinya ternyata sangat penggeli. Banyak yang belum dia tau dari Yuna yang sudah beberapa bulan menjadi istrinya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2