
Usai membersihkan diri, Beno keluar dari kamar hanya menggunakan celana pendek saja. Dia menghampiri Reni yang baru saja selesai menyiapkan sarapan dan menatanya di atas meja.
Baru saja menempelkan bokongnya di atas kursi, Beno harus bangun lagi saat mendengar bunyi bel dari arah pintu. Segera Beno berjalan membukanya, seorang kurir sudah berdiri tepat di ambang pintu.
"Pagi Pak, mau ngantar paket." sapa kurir itu dengan ramah.
"Oh iya, berapa totalnya?" sahut Beno dengan ramah pula.
"Satu juta sembilan ratus Pak," jawab kurir itu sembari memperlihatkan resi pengiriman.
"Ok, tunggu bentar ya!" Beno kembali masuk dan berjalan ke dalam kamar untuk mengambil ponsel. Dia tidak memiliki uang cash dan harus membayar via transfer.
Setelah mendapatkan ponselnya, Beno kembali menemui kurir dan meminta nomor rekening. Segera Beno mentransfer sebanyak dua juta dan memperlihatkan bukti transfernya pada kang kurir. "Udah ya, dua juta rupiah. Sisanya ambil untukmu!"
"Makasih Pak," Kang kurir memberikan paketnya dan meninggalkan apartemen setelah melihat notifikasi pesan masuk pada ponselnya.
Seulas senyum terukir jelas di bibir Beno, dia pun menutup pintu dan kembali ke meja makan membawa paket tersebut.
"Ini, ambillah!" Beno menyodorkan paket tersebut ke tangan Reni dan duduk di kursinya.
"Apa ini Pak?" tanya Reni sembari menautkan alisnya, lalu mengambil paket tersebut dari tangan Beno.
"Pak lagi Pak lagi, aku gigit juga kamu nanti." geram Beno sembari menggertakkan giginya.
"Jangan Pak! Eh, maksud aku Beno." jawab Reni gelagapan.
"Taruh dulu paketnya! Ayo, kemarilah!"
Reni mengangguk lemah, lalu menaruh paket tersebut di atas meja dan melangkah menghampiri Beno.
"Duduk di sini!" Beno menepuk pahanya mengisyaratkan agar Reni duduk di atas pangkuannya.
Mata Reni terbuka dengan sempurna. "Kenapa aku harus duduk di sana? Di sini aja ya Pak, eh Beno." tawar Reni sembari menarik kursi.
"Kalau aku bilang duduk di sini, ya duduknya harus di sini! Mau aku hukum lagi?" gertak Beno dengan tatapan horor.
Reni memanyunkan bibirnya, sampai kapan dia harus tersiksa seperti ini. Apa yang sebenarnya diinginkan Beno darinya? Dengan air muka yang kecut, Reni pun duduk di atas pangkuan Beno.
__ADS_1
"Katanya gak ada hukuman, barusan ngancam mau hukum aku lagi. Apa sih yang sebenarnya kamu inginkan dariku?" keluh Reni sembari menekuk wajahnya.
Beno tersenyum lebar, lalu melingkarkan tangannya di perut Reni. "Makanya jangan membantah terus, ikuti aja apa yang aku mau!"
"Kenapa aku harus mengikuti kemauan mu? Apa aku ini budak mu?" cerca Reni yang mulai jengkel melihat perangai Beno yang selalu semena-mena terhadap dirinya.
"Bodoh, mana ada budak seperti ini?" Beno menyibakkan rambut Reni dan menenggelamkan wajahnya di tengkuk gadis itu lalu mengecupnya dengan lembut.
Reni memejamkan matanya saat merasakan sentuhan bibir Beno yang begitu lembut. "Lalu apa? Apa aku ini seperti wanita murahan yang bisa kamu sentuh semau mu?" lirih Reni dengan mata berkaca.
"Apaan sih Reni? Pikiranmu itu terlalu dangkal," Beno mulai gemas hingga tangannya kembali nakal menyentuh gundukan kenyal milik Reni yang membuatnya sangat candu.
Reni menahan nafas saat tangan Beno asik meremas kedua dadanya. Bokongnya sampai terangkat saat merasakan sensasi aneh di tubuhnya.
"Beno, tolong jangan seperti ini! Kamu membuatku merinding," gumam Reni dengan nafas tersengal.
"Tapi kamu suka kan?" seloroh Beno sembari tersenyum lebar, dia bahkan mengapit ujung dada Reni dengan jari saking gemasnya.
"Aauuuu..."
"Beno, kamu apa-apaan sih. Suka gak suka, yang jelas ini salah." lirih Reni yang semakin tak kuat menahan gejolak hasrat yang mulai berkecamuk di dirinya. Sentuhan Beno membuat tubuhnya melemah, ada rasa yang entah yang tak bisa diungkap dengan kata-kata.
"Pacar?" Reni mengulangi kata itu sembari menautkan alisnya.
"Meskipun aku mau, tapi gak harus kayak gini juga kan Beno." lirih Reni dengan suara serak.
"Maunya seperti apa?" tanya Beno ingin tau.
"Gak usah sentuh-sentuh, kamu bisa kan?" pinta Reni.
Beno tersenyum licik. "Maaf, aku gak bisa. Aku udah terlanjur candu, gimana dong?"
Reni menghela nafas berat, mungkin sudah takdirnya harus hidup seperti wanita murahan. Mungkin juga ini adalah harga yang harus dia bayar untuk membalas jasa Beno yang sudah menyelamatkan dirinya.
"Ya udah, terserah kamu aja. Jika ini bisa membayar hutangku karena kamu udah menyelamatkan hidupku, maka perlakukan aja aku semau mu." Reni malah berbalik agar Beno bisa lebih leluasa menjamah tubuhnya.
"Apa aku harus memberikan mahkota ku juga padamu? Anggap aja itu sebagai bayaran untukmu karena udah menyelamatkan hidupku. Tapi setelah itu, tolong lepasin aku! Biarkan aku pergi kemanapun yang aku mau!" lirih Reni menghilangkan rasa malu di dirinya.
__ADS_1
Beno membulatkan matanya dengan sempurna. Entah apa yang gadis itu pikirkan tentangnya?
"Apa kamu udah gila? Kalau pun kamu memberikan mahkota itu padaku, aku gak akan pernah melepaskanmu!" tegas Beno dengan tatapan tajam.
"Kenapa? Apa kamu belum puas juga menyiksaku?" Reni menatap Beno tak kalah tajamnya.
"Karena aku sayang sama kamu, aku ingin kamu tetap berada di sisiku." Beno mengacak rambut Reni dan mengecup bibir ranum itu dengan lembut.
"Udah lah, gak akan ada habisnya jika kita membahas ini terus. Sekarang suapi aku dulu, perutku lapar banget nih!"
Beno mengambil piring yang ada di atas meja, lalu memberikannya ke tangan Reni.
Reni tak bisa menolak, dia mengambil piring itu dan mulai menyuapi Beno dengan posisi yang masih sama.
"Kamu makan juga dong!" pinta Beno dengan mulut yang dipenuhi makanan.
"Nanti aja, takutnya makanan ini berubah rasa jika terkena mulutku." sahut Reni.
"Apanya yang berubah? Air liur mu aja udah aku telan," ungkap Beno yang membuat pipi Reni bersemu merah.
"Kenapa kamu mau menelannya? Apa kamu gak jijik?" tanya Reni sembari terus menyuapi Beno.
"Kenapa harus jijik? Rasanya sangat manis seperti orangnya," Lagi-lagi Beno membuat pipi Reni semakin memerah.
"Apa kamu sudah terbiasa seperti ini kepada wanita lain? Gak ada malunya sedikitpun," tanya Reni penasaran.
"Gak pernah, ini pengalaman pertamaku dekat dengan seorang wanita. Kamu kali," goda Beno sembari tersenyum lebar.
"Mana ada? Aku gak pernah dekat dengan pria manapun selain kamu. Kamu lah satu-satunya pria yang selalu mengusik ketenanganku hingga detik ini." ketus Reni dengan bibir mengerucut.
"Bagus dong kalau begitu," ucap Beno.
"Apanya yang bagus? Kamu udah membuatku tersiksa. Jika aku punya sayap, aku akan terbang dari sini dan gak akan kembali lagi." gerutu Reni dengan wajah cemberut nya.
"Hehe, sayangnya kamu gak akan bisa ke mana-mana. Aku akan mengikatmu dengan kuat agar kamu gak bisa lari dariku."
"Pemaksaan," ketus Reni yang semakin jengkel melihat perangai Beno.
__ADS_1
"Biarin, suka-suka aku dong." Beno mengedipkan sebelah matanya dan tertawa terbahak-bahak.
Bersambung...